Cowok Yang Pernah NAKAL Lebih Pantas Dijadikan Pasangan Hidup

Wengker.com, Realita - Selamat malam sahabat wengker.com dimanapun berada. Salam hangat untuk kita semua. Pada malam hari ini kami hadir dengan informasi yang kami kutip dari hipwee.com tentang alasan mengapa cowok nakal lebih pantas dijadikan pasangan hidup. Silahkan disimak ya..

Sebagai cowok, sifat alami yang tertanam sedari kami kecil adalah sifat penuh rasa penasaran dan tak pernah puas dengan apa yang kami punya. Cowok selalu punya keinginan untuk mendapatkan hal lebih dari yang sekarang dipunya. Jika sifat tersebut ditambah dengan sifat pemberani, maka jadilah sifat cowok ‘nakal’ yang dilandasi oleh rasa penasaran dan keberanian.

Meski kebanyakan orang-orang mengatakan bahwa kamu gak boleh jadi anak nakal, namun sebenarnya nakal itu perlu loh. Alih-alih seperti yang ditakutkan banyak orang, sebenarnya pernah ‘nakal’ itu menguntungkan loh buat cowok!

Orang-orang sering kali salah arti. Bukan cowok nakal yang harus kamu hindari, tapi cowok jahat yang jangan sampai kamu dekati

Sebenarnya, ada perbedaan yang mendasar antara jadi ‘nakal’ dan ‘jahat’. Cowok disebut nakal karena hidupnya yang tidak tau aturan atau bahkan tidak mau diatur. Baik dari segi tingkah laku, pergaulan hingga pola pikir. Cowok nakal punya kecenderungan untuk menantang hal-hal yang dia anggap tidak benar. Akan tetapi mereka juga punya batasan norma yang meski ‘nakal’, mereka tetap menaruh hormat pada tatanan yang sudah ada. Berbeda jauh dengan cowok jahat yang tak peduli dengan hal selain yang dia inginkan. Cowok jahat akan melakukan apa saja asal dia bahagia. Jika ada kasus cowok yang sampai menyakiti cewek, baik secara fisik ataupun mental, dia bukan cowok nakal tetapi lebih pantas disebut cowo jahat!

Cowok nakal memang punya pikiran yang cenderung liar. Dia tak begitu saja menerima segala hal yang dikatakan oleh orang-orang pada umumnya

Harus diakui, cowok nakal itu punya pola pikir yang sedikit berbeda dengan cowok pada umumnya. Kala orang-orang pada umumnya akan mempercayai apa yang dikatakan oleh mayoritas masyarakat, cowok nakal tidak! Mereka akan tetap menyimpan tanya dan rasa tidak percaya dengan apa yang ada. Dari situ, cowok nakal terlatih untuk tidak begitu saja percaya kepada apa yang dikatakan oleh orang. Meski yang bilang itu orangtua, tokoh masyarakat atau bahkan pihak yang berwenang, selalu saja ada rasa tak percaya yang melindungi mereka dari tindak penipuan yang sekarang marak terjadi.

Meski terlihat pergaulannya tak karuan, sebenarnya cowok nakal punya keuntungan dengan punya banyak kenalan

Kala melihat cowok-cowok nakal yang sedang bergaul dengan cowok-cowok nakal pula, sekilas mereka akan terlihat seperti orang-orang tanpa masa depan yang kerjaannya cuman nongkrong dan ngobrol-ngobrol gak jelas doang. Oke, sekilas memang mereka terlihat seperti itu. Namun sebenarnya, hal itu adalah bukti bahwa cowok-cowok nakal sebenarnya adalah cowok-cowok dengan pemikiran
terbuka yang gak masalah berteman dengan siapa saja. Dia terbukti punya pergaulan yang sangat luas. Punya banyak kenalan juga berarti dia akan punya banyak link yang bisa diandalkan kala dia meniti usaha di masa depan. Toh siapa tau teman-temannya yang mungkin juga sama-sama ‘nakal’ itu masa depannya jadi orang sukses. Punya banyak kenalan sama dengan punya banyak keuntungan!

Jangan keburu men-judge cowok ‘nakal’ sebagai cowok gak punya masa depan. Justru dia jadi lebih tahan banting dalam menghadapi masalah

Kebanyakan orang mungkin melihat cowok-cowok ‘nakal’ sebagai cowok yang nanti saat tumbuh dewasa tak akan punya masa depan yang mapan. Alasannya sederhana. Karena cowok-cowok nakal itu hidupnya gak mau tau aturan. Hidupnya acak-acakan seperti dandanan mereka yang juga kadang gak karuan. Namun, dari hidup yang acak-acakan tersebut sebenarnya mereka sudah latihan menghadapi segala tantangan hidup. Mereka sudah pernah merasakan dihina masyarakat, merasakan dikucilnya, dianggap sebelah mata hingga berjuang sedemikian rupa hanya sekadar demi membahagiakan orang-orang yang mereka cinta.
Dari sekian banyak tantangan hidup yang sudah mereka lakoni, mereka sudah terbukti tahan banting dan siap kala harus terjun ke masyarakat!

Cowok yang pernah ‘nakal’ adalah cowok yang sudah pernah mengalami banyak hal. Ia tak takut menghadapi masa depan yang belum pasti

Cowok-cowok yang pernah nakal adalah cowok-cowok yang punya banyak pengalaman. Dia pernah mengalami banyak hal mulai dari yang sedih hingga yang bahagia. Meski mengalami banyak hal sedih, dia tak pernah menyerah. Tipikal ‘nakal’-nya yang ingin selalu bisa lebih dan tak mudah pusas membuatnya selalu bangkit dan berusaha lagi meski gagal. Pun demikian saat dia bahagia. Dia tak pernah puas meski sudah bisa mendapat hasil positif dari apa yang dia kerjakan. Karena itu dia jadi tak punya rasa takut yang berlebih soal masa depan. Meski masa depannya belum pasti akan jadi sukses atau tidak, dia tak peduli. Cowok-cowok yang pernah nakal sudah merasakan bahagia dan sedih. Bagi mereka, pengalaman mereka sudah mengajarkan bahwa yang penting berusaha sekuat tenaga!

Sejatinya, semua orang akan menemukan titik balik dalam hidupnya. Meskipun dia pernah nakal atau bahkan mungkin sampai sekarang masih saja nakal, akan tiba masanya dimana dia bisa melihat dengan sudut pandangan yang lebih luas. Namun terlepas dari apakah mereka sudah gak nakal lagi atau malah mungkin masih nakal, sudut pandang dari cowok ‘nakal’ akan memberi mereka perspektif yang lebih luwes dan lebih terbuka sehingga tak mudah menyerah meski banyak cobaan mendera.

sumber : http://www.hipwee.com/

Sekian berita yang dapat kami bagikan pada malam hari ini semoga bermanfaat.Jangan lupa tinggalkan komentar ya...

Kegigihan Perempuan Dan Pendidikan

Wengker.com, Film Mars - Mendengar kata Mars, mungkin ingatan kita cepat tertuju kepada nama sebuah planet dalam tatasurya. Mars pula yang menjadi judul film pertama yang disutradarai Sahrul Gibran, dan diproduksi Multi Buana Kreasindo. Meski mengacu pada nama planet, film ini tidak akan bercerita terlalu banyak tentang planet itu. Tetapi adalah Sekar Palupi (Acha Septriasa), tokoh utama dalam film ini yang diharapkan oleh ibunya, Tupon (diperankan oleh Kinaryosih) menjadi bintang secerah Mars, yang biasa mereka lihat menggelantung di langit malam. Tupon dan Sekar menyebutnya lintang lantip (bintang yang cerdas).

Latar tempat di film ini, Gunung Kidul, Yogyakarta, diceritakan sebagai daerah yang belum mendapatkan akses listrik, serta masyarakatnya masih amat kental dengan hal-hal klenik atau mistis. Di daearah itu pula, kebanyakan orang tidak mendapatkan atau bahkan sangat jarang bisa berpendidikan hingga tingkat SMA. Mars juga mengacu pada penyingkatan dari tagline film ini yang merupakan kepanjangan dari Mimpi Ananda Raih Semesta. Mars bercerita tentang kegigihan Tupon, seorang ibu miskin, buta huruf, tidak pernah bersekolah, bahkan tidak mengenal sekolah itu seperti apa. Meski begitu, Tupon selalu memberikan semangat kepada anaknya, dan melakukan apa saja supaya anaknya bisa sekolah.

Penulis skenario film ini adalah John D’Rantau. Cerita diadaptasi dari novel karya Aishworo yang berjudul sama, dan diterbitkan Diva Press. Pengambilan gambar dilakukan di Yogyakarta dan Universitas Oxford, London, Inggris. Di London syuting dilakukan di Perpustakan Boedlein, lokasi yang juga dipakai untuk pengambilan gambar film Harry Potter. Dengan demikian Mars menjadi film Indonesia pertama dan film kedua dunia yang mendapatkan izin syuting di lokasi tersebut.

Syuting di Universitas Oxford dilakukan karena menyesuaikan kebutuhan cerita, di mana Sekar akhirnya mendapatkan beasiswa untuk berkuliah di universitas tersebut. “Film ini akan mengingatkan kita pada perjuangan ibu kita,” kata Ketua PP Fatayat NU, Anggi Ermarini saat dihubungi NU Online, Jumat (15/4). Lebih lanjut, Anggi mengungkapkan warna Islami dalam film ini juga kental. Itu bukan saja karena Sekar dewasa mengenakan kerudung, tetapi bahwa menempuh pendidikan adalah juga perintah agama.

Anggi juga menyampaikan alasan mengapa PP Fatayat sebagai gerakan perempuan yang bernaung di bawah NU mendukung film ini. Ialah karena film ini menceritakan semangat pemberdayaan perempuan dan pendidikan. Faktor lainnya, karena bulan April (tanggal 24) adalah hari lahir Fatayat NU, dan Mei adalah momen Hari Pendidikan Nasional. “Kami berdiskusi panjang lebar untuk mendukung film ini. Dari semangat itu (harlah Fatayat dan Hardiknas), kita dukung film ini. Kami terlibat sejak ide-ide pembuatan, promosi, dan bagaimana agar film ini bisa menginspirasi masyarakat,” imbuh Anggi.

Film Mars akan tayang di bioskop mulai 4 Mei 2016. Selain Acha Septrisa dan Kinaryosih, Mars juga didukung sejumlah bintang andal seperti Teuku Rifnu Wikana, Jajang C. Noor, Cholidi Asadila A, Ence Bagus, dan Chelsea Riansy. “Ini film yang inspiratif karena menceritakan kecintaan seorang ibu kepada anaknya. Kita sebagai orang tua (ibu) harus memberikan semangat dan percaya bahwa anak kita mampu melampaui—tidak hanya mencapai—mimpinya,” tambah wanita yang berpembawaan enerjik itu. (Kendi Setiawan)
Sumber NU Online

Qiyamul Lail VS Belajar

Wengker.com, Pendidikan Religi - Manakah yang lebih utama antara qiyaamul lail dengan belajar? Demikian pertanyaan yang kuterima pagi tadi via WA.
Guna menjawab pertanyaan tersebut, kita mesti mengetahui terlebih dahulu hukum masing-masing keduanya. Hukum qiyaamul lail sdh bisa dipastikan sunnah, sementara hukum belajar ada dua, adakalanya fardhu 'ain dan adakalanya fardhu kifaayah, tergantung dari materi yang dipelajari. Sehingga dari sisi perbedaan hukum keduanya dapat ditarik sebuah konklusi dan jawaban bahwa begadang untuk belajar lebih utama. Sebab perbandingannya adalah hukum sunnah vs fardhu. [Hasyiah Radd al-Mukhtaar, I/41].
Guna memperkuat jawaban ini, perhatikan hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas berikut:
تدارس العلم ساعة من الليل خير من احيائها
"Berdiskusi di waktu malam walau hanya sebentar, lebih baik dari menghidupkan malam dengan selainnya" [Muratul Miftaah li Tabrizi, II/376]
Hadis Nabi berikut lebih memperkuat lagi keutamaan belajar:
"Rasullah saw ditanya tentang dua orang laki-laki dari golongan Bani Israail, salah satu dari mereka alim dan selalu duduk untuk belajar dan mengajar yang baik kepada manusia sehabis salat maktubah. Satunya lagi selalu berpuasa dan salat malam setiap malamnya. Manakah yang lebih utama diantara keduanya? Rasulullah menjawab, "Lebih utama mereka yang alim dan selalu duduk untuk belajar mengajar yang baik kepada manusia sehabis salat maktubah dari pada mereka yang selalu berpuasa dan salat malam di setiap malamnya. Keutamaannya sama dengan keutamaanku terhadap paling rendahnya kalian". Kemudian Rasul bersabda, "Sesungguhnya Malaikat dan penduduk langit bahkan semut yang ada di lubangnya dan juga ikan di laut memohonkan ampun terhadap orang yang mengajari manusia hal-hal baik". [Sunan Darami, I/382].
Masih banyak lagi komentar-komentar lain yang lebih mengunggulkan belajar atas qiyaamul lail. Seperti Al-Ghazali misalnya pernah mengatakan, "Ilmu dan amal harus selalu ada. Namun, ilmu lebih utama daripada amal sebab ilmu adalah ruhnya segala amal perbuatan. Tidak mungkin amal ibadah kita diterima oleh Allah swt tanpa mengetahu ilmu ibadah". Sementara Imam Ahmad mengatakan, "Kebutuhan manusia akan ilmu melebihi kebutuhan manusia terhadap makan dan minum. Sebab manusia butuh makan sehari dan semalam sebanyak dua-tiga kali, sementara kebutuhan manusia terhadap ilmu adalah sebanyah hitungan nafas yang keluar....."[Faidul Qadir, IV/55, Hasyiah Jamal, II/327].
Entohpun demikian, meskipum belajar lebih utama dari pada shalat sunnah di waktu malam. Akan tetapi, muslim paripurna adalah mereka yang punya komitmen kuat dan mampu menyatukan antara ilmu dan ibadah atau amal. Sebab keduanya adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dan tidak perlu dipertentangkan. Orang bijak berkata, "Ibadah adalah buah dari pohon ilmu", al-'ibaadah hiya tdamrotul ilmi". Imam Hasan Bashri berpesan, "Carilah ilmu tanpa harus melalaikan ibadah, dan beribadahlah tanpa lalai dalam mencari ilmu". [Minhaanul 'Abidin, 16].
Walhasil, hanya ada satu natijah yang bisa dijadikan pesan moral dalam mengakhiri kajian ini, yakni: "Berilmu Amaliah dan Beramal Ilmiah".
Wallahu A'lam bi al-Shawwab...!
Oleh Bapak Ahmad Syafi'i

Pendidikan Karakter Dalam Fiqh

Wengker.com, Pendidikan - Penekanan "fiqh sebagai sikap" perlu diperkuat, karena kadang kala seorang guru terlalu menitikberatkan pembelajaran fiqh pada "fiqh sebagai produk", yang oleh karenanya keberagamaan umat bersifat formalistis. Keberagamaan yang formalistis hanya memperhatikan aspek-aspek lahir dan kurang memperhatikan aspek jiwa, sehingga terasa kering bagi bathin manusia. Salah satu metode mengajarkan fiqh sebagai sikap adalah dengan mengemukakan hikmah-hikmah dari ibadah dan hubungan ibadah dengan sikap dalam hidup sehari-hari.
Penekanan fiqh sebagai sikap juga perlu dilakukan, karena fiqh sebagai produk, bila dilaksanakan dengan kaku akan menimbulkan bentrokan dengan penganut fiqh dari madzhab lain. Di sini butuh kedewasaan dalam menanggapinya, yaitu dengan mengedepankan akhlak dan sikap toleran. Di bawah ini sebuah ilustrasi tentang itu:
Suatu malam, di bulan Ramadhan, Imam Hasan al-Banna – pendiri dan pemimpin pertama oraganisasi al-Ikhwân al-Muslimûn di Mesir - mengikuti shalat tarawih di suatu mesjid. Ternyata di sana terdapat orang-orang yang sedang bertengkar mempermasalahkan jumlah rakaat tarawih. Masing-masing
pihak bersikeras dalam memegang madzhabnya. Hampir-hampir
terjadi perpecahan di antara jamaah karenanya. Hasan al-Bannâ tampil untuk menengahi.
Ia bertanya, "Saudara-saudara, saya mau bertanya, "Sebenarnya,
apa hukum shalat tarawih menurut madzhab yang kalian anut?"
Mereka serempak menjawab, "sunnah!".
"Sekarang," kata Hasan al-Bannâ, "Menurut saudara-saudara sekalian, apa hukum pertengkaran dan perpecahan?"
Mereka menjawab, "Haram!"
"Nah," kata sang Imam, "Kalau demikian, mengapa kalian melakukan yang haram (bertengkar) untuk memperebutkan yang sunnah (jumlah rakaat tarawih)?".
Semoga kisah ini bisa meningkatkan toleransi umat di bulan yang suci.......
Sumber Bapak Ahmad Syafi'i

Apakah Cinta Harus Memiliki???

Wengker.com, Wawasan Hati - Bayangkan skenario berikut ini: Anda sangat menyukai motor sport / balap dan bermimpi untuk membelinya suatu saat. Jadi Anda mulai menabung, bahkan sampai sering lembur larut malam demi mendapatkan penghasilan lebih. Setelah cukup lama menabung akhirnya Anda bisa membeli motor yang Anda idam-idamkan.

Bayangkan perasaan Anda ketika mengendarai motor tersebut pulang ke rumah, bahagia bukan main! Anda merawat motor tersebut dengan sangat baik, mencucinya dengan hati-hati, rutin ke bengkel, tidak mengijinkan siapapun untuk mengendarainya, dan sangat emosional bila motor tersebut lecet atau menabrak sesuatu. Anda MENCINTAI motor Anda.

Satu hal yang harus disadari, Anda TIDAK MUNGKIN mencintai motor Anda sedemikian rupa apabila Anda BELUM memilikinya. Anda mencintai motor tersebut karena Anda telah menginvestasikan begitu banyak hal: waktu, tenaga, dan uang. Semua investasi tersebut hanya bisa dilakukan setelah Anda membeli dan MEMILIKI motor itu. Anda TIDAK MUNGKIN mencintai dan merawat motor yang masih berada di showroom! Kalau Anda hanya bisa melihat dari balik etalase dan berkhayal untuk memiliki motor tersebut, itu bukan cinta. Itu NGAREP!

Coba ganti skenario motor balap ini dengan gebetan Anda. Prinsipnya sama saja. Semakin besar investasi Anda pada suatu hal, semakin Anda merasakan cinta terhadap hal tersebut.

Anda mencintai orang yang SUDAH menjadi kekasih Anda. Jangan terbalik, bukan karena Anda mencintai dirinya maka Anda menjadikannya kekasih. Dalam tahap PDKT, proses yang terjadi adalah ketertarikan fisik dan interaksi sosial. Ketika Anda dan dia sudah SALING MEMILIKI dalam sebuah hubungan yang serius, akan ada banyak investasi yang Anda berikan untuk hubungan tersebut. Investasi waktu, tenaga, perasaan, emosi, dan uang. Di situlah cinta TUMBUH.

Kalimat ‘cinta tidak harus memiliki’ adalah sebuah penghiburan diri belaka bagi orang-orang yang ngarep dan hanya mampu berharap untuk memiliki. Bukan berarti cinta itu HARUS memiliki, tapi cinta ada KARENA (sudah) memiliki.

Bukan Hanya Mereka Yang Bersalah, Tapi Kita Juga Melakukan Suatu Kesalahan Juga - Intropeksi Diri

Wengker.com, Filosofi Dan Budaya - Akankah kita selalu mencaci, mencari cari kesalahan orang lain?? sampai kapan kita akan disibukkan dengan hal hal yang demikian??? Ingatlah bahwa kita juga harus bisa menerima kenyataan walau SEPAHIT APAPUN.

Bisakah luka yang teramat dalam ini nanti akan sembuh? Bisakah kekecewaan, bahkan ke-putus asa-an, yang mengiris-iris hati berpuluh-puluh juta saudara kita ini pada akhirnya nanti akan kikis?

Adakah kemungkinan kita akan bisa merangkak naik ke bumi dari jurang yang teramat curam dan dalam?
Akankah api akan berkobar-kobar lagi?

Apakah asap akan membubung lagi dan memenuhi angkasa Tanah Air?
Akankah kita semua akan bertabrakan lagi satu sama lain?

Jarah-menjarah satu sama lain dengan pengorbanan yang tidak akan terkirakan?
Adakah kemungkinan kita tahu apa yang sebenarnya sedang kita jalani?
Bersediakah kita sebenarnya untuk tahu persis apa yang sesungguhnya kita cari?
Cangkrawala yang manakah yang menjadi tujuan sebenarnya dari langkah-langkah kita?
Pernahkah kita bertanya bagaimana cara melangkah yang benar?
Pernahkah kita mencoba menyesali hal-hal yang barangkali memang perlu disesali dari perilaku-perilaku kita yang kemarin?

Bisakah kita menumbuhkan ke-rendah hati-an di balik kebanggaan-kebanggaan?
Masih tersediakah ruang di dalam dada kita dan akal kepala kita untuk sesekali berkata kepada diri sendiri?
Bahwa yang bersalah bukan hanya mereka, bahwa yang melakukan dosa bukan hanya ia, tetapi juga kita!
Masih tersediakah peluang di dalam kerendahan hati kita untuk mencari apapun saja yang kira-kira kita perlukan meskipun barangkali menyakitkan diri kita sendiri?

Mencari hal-hal yang kita benar-benar butuhkan agar supaya sakit, sakit, sakit kita ini benar-benar sembuh total.
Sekurang-kurangnya dengan perasaan santai kepada diri sendiri untuk menyadari dengan sportif bahwa yang mesti disembuhkan itu nomor satu bukan yang di luar diri kita tetapi di dalam diri kita.

Yang kita perlu utama lakukan adalah penyembuhan diri yang kita yakini bahwa harus betul-betul disembuhkan justru adalah segala sesuatu yang berlaku di dalam hati dan akal pikiran kita.
Saya ingin mengajak engkau semua memasuki dunia ilir-ilir.

Ilir-ilir…
Ilir-ilir…
Tandure wosumiler tak ijo royo-royo,
Tak sengguh temanten anyar.

Kanjeng Sunan Ampel seakan-akan baru hari ini bertutur kepada kita,
tentang kita, tentang segala sesuatu yang kita mengalaminya sendiri.
Namun, tidak kunjung sanggup kita mengerti.

Sejak lima abad silam syair itu ia telah lantunkan dan tidak ada jaminan bahwa sekarang kita sudah paham.
Padahal kata-kata beliau itu mengeja kehidupan kita ini sendiri, alfa-beta, alif, ba’, ta’, kebingungan sejarah kita dari hari ke hari.

Sejarah tentang sebuah negeri, yang puncak kerusakannya terletak pada ketidaksanggupan para penghuninya untuk mengakui betapa kerusakan itu sudah sedemikian tidak terperi.
“Menggeliatlah dari mati mu,” tutur Sang Sunan.
Siumanlah dari pingsan berpuluh-puluh tahun.

Bangkitlah dari nyenyak tidur panjangmu.

Sungguh negeri ini adalah penggalan surga.
Surga seakan-akan pernah bocor dan mencipratkan kekayaan dan keindahannya.

Dan cipratan keindahannya itu bernama INDONESIA RAYA!!

Kau bisa tanam benih kesejahtraan apa saja di atas kesuburan tanahnya yang tidak terkirakan.
Tidak mungkin kau temukan makhluk Tuhan-mu kelaparan di tengah hijau bumi kepulauan yang bergandeng-gandeng mesra ini.

Bahkan bisa engkau selenggarakan dan rayakan pengantin-pengantin pembangunan lebih dari yang bisa dicapai oleh negeri-negeri lain yang manapun.

Namun kita memang telah tidak mensyukuri rahmat sepenggal surga ini.
Kita telah memboroskan anugerah Tuhan ini melalui cocok tanam ketidakadilan dan panen-panen kerakusan.

Cah angon-cah angon,
Penekno blimbing kuwi.
Lunyu-lunyu penekno,
Kanggo mbasuh dodot iro.

Kanjeng Sunan tidak memilih figur, misalnya, Pak Jendral, juga bukan intelektual, ulama, seniman, sastrawan, atau apa pun. Tetapi cah angon-cah angon. Beliau juga menuturkan: “Penekno blimbing kuwi.” Bukan penekno pelem kuwi, bukan penekno sawo kuwi, bukan penekno buah-buah yang lain. Tapi blimbing, berkikir lima.

Terserah apa tafsirmu mengenai Lima. Yang jelas, harus ada yang memanjat pohon yang licin itu, lunyu-lunyu penekno, agar belimbing bisa kita capai bersama-sama.

Dan, yang harus memanjat adalah bocah angon, anak gembala. Tentu saja dia boleh seorang doktor, boleh seorang seniman, boleh seorang kiai, boleh seorang jendral, atau siapa pun.

Namun, ia harus memiliki daya angon, daya menggembalakan. Kesanggupan untuk ngemong semua pihak. Karakter untuk merangkul dan memesrahi siapa saja sesama saudara sebangsa. Determinasi yang menciptakan garis resultan kedamaian bersama.Pemancar kasih sayang yang dibutuhkan dan diterima oleh semua warna, semua golongan, semua kecendrungan.

Bocah angon adalah seorang pemimpin nasional, bukan tokoh golongan atau pemuka suatu gerombolan.
Selicin apapun pohon-pohon tinggi Reformasi ini, sang bocah angon harus memanjatnya, harus dipanjat sampai selamat memperoleh buahnya.

Bukan ditebang, dirobohkan, atau diperebutkan.Dan air saripati belimbing lima kikir itu diperlukan oleh bangsa ini untuk mencuci pakaian nasionalnya. Pakaian adalah akhlak.Pakaian adalah sesuatu yang menjadikan manusia bukan binatang.

Kalau engkau tidak percaya berdirilah engkau di depan pasar dan copotlah pakaianmu, maka engkau kehilangan segala macam harkatmu sebagai manusia. Pakaian ‘lah yang membuat manusia bernama manusia.

Pakaian adalah pegangan nilai, landasan moral dan sistem nilai. Sistem nilai itulah yang harus kita cuci dengan pedoman Lima.

Dodot iro-dodot iro,
Kumiter bedah ing pinggir.
Dondomono jlumetono,
Kanggo sebo mengko sore.
Mumpung padang rembulane,
Mumpung jembar kalangane.
Yo surak o, surak hiyo.

Dodot iro-dodot iro kumiter bedah ing pinggir. Pakaian kebangsaan kita, harga diri nasionalisme kita telah sobek-sobek oleh tradisi penindasan, oleh tradisi kebodohan, oleh tradisi keserakahan yang tidak habis-habis.

Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore.Harus kita jahit kembali, harus kita benahi lagi, harus kita utuhkan kembali agar supaya kita siap untuk menghadap ke masa depan.
Memang kita sudah lir-ilir, sudah ngliler, sudah terbangun dari tidur.

Sudah bangun, sudah bangkit sesudah tidur terlalu nyenyak selama 30 tahun atau mungkin lebih lama dari itu.

Kita memang sudah bangkit, beribu-ribu kaum muda berjuta-juta rakyat sudah bangkit keluar rumah dan memenuhi jalanan, membanjiri sejarah dengan semangat menguak kemerdekaan yang terlalu lama diidamkan.

Akan tetapi mungkin terlalu lama kita tidak merdeka sekarang Kita tidak begitu mengerti bagaimana mengerjakan kemerdekaan, sehingga tidak paham beda antara demokrasi dan anarki.

Terlalu lama kita tidak boleh berpikir, lantas sekarang hasil pikiran kita keliru-keliru, sehingga tidak sanggup membedakan mana asap mana api, mana emas mana loyang, mana nasi dan mana tinja.

Terlalu lama kita hidup di dalam ketidak menentuan nilai, lantas sekarang semakin kabur pandangan kita atas nilai-nilai yang berlaku di dalam diri kita sendiri.

Sehingga yang kita jadikan pedoman kebenaran hanyalah kemauan kita sendiri, nafsu kita sendiri, kepentingan kita sendiri.

Terlalu lama kita hidup dalam kegelapan sehingga kita tidak mengerti bagaimana melayani cahaya, sehingga kita tidak becus mengursi bagaimana cahaya terang, sehingga di dalam kegelapan gerhana rembulan yang membikin kita buntu sekarang.

Kita junjung-junjung penghianat dan kita buang-buang para pahlawan.

Kita bela kelicikan dan kita curigai ketulusan. Satu tembang tidak selesai ditafsirkan dengan seribu jilid buku. Satu lantunan syair tidak selesai ditafsirkan dengan waktu seribu bulan dan seribu orang melakukannya. Aku ingin mengajakmu untuk berkeliling, untuk memandang warna-warni yang bermacam-macam dengan membiarkan mereka dengan warnanya masing-masing.

Agar kita mengerti dengan hati dan ketulusan kita, apa muatan kalbu mereka mengenai ilir-ilir, mengenai ijo royo-royo, mengenai temanten anyar, mengenai bocah angon dan belimbing, mengenai mbasuh dodot iro, mengenai kumiter bedah ing pinggir, yang akan kita bicarakan tentu saja kapan saja bersama-sama.

Tapi aku ingin mengajakmu untuk mendengarkan, siapa saja diantara saudara-saudara kita tanpa perlu kita larang-larang untuk menjadi ini atau untuk menjadi itu asalkan kita bersepakat bahwa bersama-sama mereka semua kita akan menyumbangkan yang terbaik bagi semuanya bukan hanya bagi ini atau itu, bukan hanya bagi yang disini atau yang disana.

Sumber : http://t.co/jPrGsdIR4u

Cinta Tidak Pernah Datang Terlabat

wengker.com, Pendidikan Moral - Tidak akan pernah tertukar jodoh seseorang atau datang terlambat karena terlebih dahulu mampir di hati yang lain. Teka-teki jodoh masih menjadi misteri dalam kehidupan, seperti halnya kematian. Kalaupun di izinkan, ingin rasanya langsung ketemu jodoh kita. Agar tidak pernah merasakan sakitnya ditinggalkan atau perpisahan. Tapi itulah uniknya kehidupan, sekenario sempurna dari yang maha kuasa.

Cinta tidak pernah datang terlambat, dia mempertemukan yang pantas dipertemukan dan menyatukan yang pantas disatukan dengan izin-Nya. Tidak perlu galau karena masih jomblo. Tidak usah sedih ketika masih sendiri. ini adalah waktu yang harus kita gunakan semaksimal mungkin untuk mengembangkan diri, lebih mencintai keluarga, dan tentunya memperbaiki ibadah.

jodoh tidak akan pernah datang terlambat, tapi bisa saja kita yang telat untuk menjemputnya. Dengan dalih ingin mengejar karir, kuliah lagi, atau masih pengen bebas, atau banyak alasan lainnya. Jangan sampai yang kita harapkan menjadi jodoh kita, lepas dan menjadi milik orang lain karena kelalaian kita telat untuk menjemputnya.

Jodoh itu seperti sepasang sandal, yang memiliki bentuk yang sama tapi pada sisi yang berbeda. Keduanya saling melengkapi dan menguatkan. Akan terasa cantik jika berpasangan dikenakan, dan orang akan merasa bingung jika mengenakan hanya sebelah saja. Sama seperti hati seorang jomblo ( Bingung ).hehe

Yakin saja kalau hidup ini sudah diatur oleh yang maha sempurna, tapi jangan pernah menyerah untuk berusaha. Karena hasil tidak akan pernah mengingkari dari usaha yang dilakukan. Ingat selalu “ Jomblo pasti berlalu dan jodoh pasti datang “ ( udah kaya judul FTV.. hehe). semangat memperbaiki diri, untuk jodoh yang baik.
Sumber Jombloin.com

Ilmu Nasab Atau Keturunan

Wengker.com, Pengetahuan - Ilmu Silsilah atau Ilmu Nasab atau Geneologi adalah adalah kajian tentang keluarga dan penelusuran jalur keturunan serta sejarahnya. Secara singkat ilmu nasab adalah ilmu yang membahas garis keturunan / susun galur / asal-usul seseorang.
Ahli genealogi menggunakan berita dari mulut ke mulut, catatan sejarah, analisis genetik, serta rekaman lain untuk mendapatkan informasi mengenai suatu keluarga dan menunjukkan kekerabatan dan silsilah dari anggota-anggotanya. Hasilnya sering ditampilkan dalam bentuk bagan (disebut bagan silsilah) atau ditulis dalam bentuk narasi.
Beberapa ahli membedakan antara genealogi dan sejarah keluarga dan membatasi genealogi hanya pada hubungan perkerabatan, sedangkan "sejarah keluarga" merujuk pada penyediaan detail tambahan mengenai kehidupan dan konteks sejarah keluarga tersebut.
Tujuan utama ilmu nasab adalah untuk menyambungkan tali persaudaraan ** (bukan malah untuk memutuskan)
Di dunia islam kegunaan utama ilmu nasab adalah untuk kepentingan perkawinan, pewarisan dan perwalian.
Ada dua metode pencatatan nasab, catatan dzuriyah dan catatan itrah. Keduanya digunakan berdasar kepentingannya.
Metode pencatatan nasab dzuriyah : semua nasab dicatat lengkap, yang mana garis darah laki2 dan perempuan semuanya tanpa kecuali. Penggunaan nasab dzuriyah digunakan untuk masalah pewarisan dan perkawinan.
Metode pencatatan nasab Itrah, nasab dicatat hanya dari garis laki2 saja. Kegunaan utama itrah adalah untuk perwalian.
Kegunaan ilmu nasab.
Pewarisan :
- agar semua ahli waris mendapat haknya secara benar dan adil.
- agar terhindar adanya orang yg tak berhak mendapat waris tapi mendapat waris karena mengaku sebagai ahli waris
Dalam hal ini catatan nasab dzuriyah digunakan untuk kepentingan pewarisan, yang mana garis darah laki2 dan perempuan dicatat lengkap.
Perwalian :
hanya kerabat laki2 yang berhak menjadi wali. Dalam hal ini nasab itrah lah yang digunakan.
Perkawinan : untuk menghindari perkawinan sedarah, menghindari perkawinan dg mahram. Catatan nasab yg digunakan adalah catatan nasab dzuriyyah dari kedua belah fihak, jika ada pertalian mahram maka perkawinan dibatalkan. Selain catatan nasab dzuriyah diperlukan juga kesaksian untuk masal saudara sepersusuan.
Manfaat lain bagi keluarga kerajaan adalah untuk menentukan urutan pewaris tahta dan tingkatan gelar kebangsawanan.
Penggunaan yg paling tren sekarang ini yg dilakukan oleh segilintir yg merasa cucu dinanti, ironinya digunakan untuk rasisme dan untuk merendahkan derajat manusia lainnya dengan dalil agama kafaah. Dan lebih ironi lagi digunakan justru untuk memutuskan kekerabatan. Suatu paradoks dg tujuan utama ilmu nasab yg justru untuk menyambungkan kekerabatan.
- bersambung -
** Dari Abu Hurairah r.a katanya, bersabda Rasullah SAW:
’’Pelajarilah olehmu tentang nasab-nasab kamu agar dapat terjalin dengannya tali persaudaraan dantara kamu. Sesungguhnya menjalin tali persaudaraan itu akan membawa kecintaan terhadap keluarga, menambah harta, memanjangkan umur dan menjadikn ALLAH ridho“.
Diriwayatkan oleh Ahmad dalam musnatnya, Tirmizi dan Al-Hakim.

Makna Sawang Sinawang

Wengker.com, Kehidupan - Sawang sinawang adalah ungkapan bagi seseorang yang suka memandang segala kenyamanan yang didapat oleh orang lain, lalu membandingkan serta menilai jika kondisinya saat ini tak seberuntung dan senyaman orang yang dia pandang. Orang bule bilang, "The grass is always greener on the other side of the fence", atau jika diistilahkan dari kamus para istri kurang lebih artinya "Rumput tetangga jauh lebih hijau dari rumput sendiri". Pada seorang suami misalnya, sawang sinawang bisa saja terjadi ketika dia memandang kelebihan  istri temannya, lalu membandingkan dengan istrinya sendiri. Menilai jika istrinya kalah keren, molek nan rupawan. Lupa jika sang istri adalah koki yang handal dan ahli dalam mengatur anggaran bulanan.

Sawang sinawang bisa juga berupa khayalan. Hanya menilai segala sesuatu dari apa yang dia tangkap melalui indra lihat  saja. Suka berimajinasi jika kenyamanan yang didapat orang lain terjadi pada dirinya, mungkin hidupnya akan lebih baik dari sekarang. Tak sadar diri jika ada sisi-sisi lain dari hidupnya yang jauh lebih nyaman dan beruntung dari orang yang dia bandingkan.

Pada seorang tukang becak, sawang sinawang bisa saja terjadi. Ketika dia memandang kenyamanan dari orang-orang yang bersedan. Membandingkan dengan dirinya yang kadang harus berpanas hujan untuk mencari makan. Padahal jika mau dia sadari, justru dirinya jauh lebih beruntung dan lebih sedikit beban dibanding mereka yang bersedan. Yah, tak harus pusing memikirkan angsuran jika mobilnya kreditan. Tak dibebani oleh pajak tahunan, juga anggaran-anggaran agar mobilnya bisa terus jalan. Hanya mengayuh, mengayuh, lalu terima uang. Setelahnya habis perkara. Paling-paling hanya menyisihkan sedikit penghasilan ketika becaknya mengalami pecah ban dalam.

Orang tua bilang kebahagian itu kadangkala lebih legit terasa ketika masih dalam angan kita. Selebihnya hanya perasaan biasa ketika impian sudah berada di tangan. Bahkan kadang justru akan memberi beban-beban baru dalam kehidupan kita. Kapan hari pernah saya berpikir betapa enaknya mereka yang memiliki sebuah Blackberry. Pada suatu ketika saya pun diberi kesempatan untuk memilikinya. Lalu apa yang terjadi? Sekarang saya hanya menjadikan piranti canggih itu layaknya permainan gembot saja. Alasannya sederhana, saya hanya memiliki perasaan biasa saja ketika memilikinya. Tak legit lagi seperti yang dulu saya kira. Saya menganggap jika masih belum waktunya untuk memiliki. Belum dibebani oleh anggaran beli paket setiap bulannya.

Kurangnya rasa percaya diri mungkin adalah salah satu faktor yang membuat orang suka melakukan perkara sawang sinawang. Padahal kita tahu jika Sang Maha Kreatif tentunya menciptakan masing-masing mahluknya dengan segala kelebihan serta kekurangannya. Pun demikian dengan kita, harus sadar diri jika dibalik kenyamanan yang tak ada dalam diri kita, tentunya tiada pula kenyamanan kita yang dirasa oleh orang lainnya. Jangan silap mata oleh kilau hijau rumput tetangga. Sadari jika kita pun memiliki pupuk potensi dan air motivasi yang bisa membuat rumput sendiri jauh lebih ranum dan hijau daripada rumput di sekitarnya. Tidak larut dalam khayalan ketika orang lain kita sawang nyaman, padahal sejatinya orang lain pun mungkin sedang sinawang dan menganggap diri kita lebih nyaman dari mereka.

Sawang sinawang bisa juga terjadi karena kurangnya mensyukuri sekecil apapun nikmat yang kita miliki. Hanya sibuk memandang sisi luar kenyamanan yang orang dapatkan. Membandingkan dengan kondisi kita sendiri, lalu menghabiskan waktu terbuai imajinasi akan kenikmatan-kenikmatan yang orang lain miliki.

Dulur blogger, yuk ah jangan habiskan waktu kita bermain dengan pernik kalbu bernama sawang sinawang. Menyadari jika Tuhan sudah menuliskan catatan nasib pada masing-masing dari kita. Bukan berarti harus berpasrah diri dengan kondisi sesempit apapun yang sedang kita hadapi. Qana'ah yang tak harus pasrah menyerah. Menjadikan segala potensi sebagai tangga kesuksesan diri. Soal nasib, biarlah Sang Penentu yang nanti tentukan seberapa tinggi puncak yang mampu kita daki.

Bersyukur mungkin itulah obat agar sawang sinawang tak selalu menyelimuti hati. Syukuri saja jika hari ini kita masih belum sukses. Anggap saja kita masih melakoni sebuah proses. Nikmati saja jika hingga hari ini kondisi  masih papa. Usah risau hati dan anggap saja rejeki kita masih pending di langit sana. Lalu bagaimana jika  sudah berkali-kali berusaha tapi masih gagal juga? Ah, sekali lagi syukuri saja. Setidaknya hingga hari ini masih ada detak jantung dalam dada kita.
Sumber Essip

Reinterpretasi Konsep Tawakkal

Wengker.com, Pendidikan Religi - Di saat mentari pagi menampakkan senyumnya di ujung timur, Umar bin Khathab masuk ke masjid. Dilihatnya ada seseorang sedang khusyu' berdoa, menengadahkan kedua tangannya ke langit dengan suara agak keras dan diulang-ulang, "Ya Allah, berilah hambmu ini rezki yang melimpah." Umar mendekatinya seraya berkata:

لاَ يَقْعُدُ  أَحَدُكُمْ عَنْ طَلَبِ الرِّزْقِ  وَهُوَ يَقُوْلُ: اللّهُمَّ ارْزُقْنِي وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّ السَّمآءَ لاَ تُمْطِرُ ذَهَبًا وَلاَ فِضَّةً

“Janganlah salah seorang dari kalian hanya duduk-duduk tanpa mencari rezeki dan berdo’a: “Ya, Allah berilah aku rezki”, padahal ia tahu benar bahwa langit ini tidak akan pernah menurunkan hujan emas maupun perak”.
Kemudian Umar menyuruh orang ini keluar dari masjid untuk bekerja di ladang atau di pasar.

Indah nian kisah di atas. Sesungguhnya Umar tidak melarang orang tersebut untuk berdo'a kepada Allah. Umar tahu bahwa wajib hukumnya bagi setiap muslim untuk berdoa kepada Allah, karena "doa adalah senjata orang mu'min". Lantas mengapa dalam kasus di atas Umar marah kepada orang yang sedang berdoa kepada Allah dan menyuruhnya keluar dari masjid?

Jawabannya, karena Umar hendak memberikan pencerahan tentang konsep "tawakkal" yang benar. Tawakkal kerap kali disalah pahami hanya sebagai sikap menyerahkan dirinya dan cita-citanya kepada keadaan, tanpa perlu ada usaha maksimal. Pemahaman semacam ini jelas keliru, tawakkal seharusnya dipahami sebagai sikap lahir setelah bekerja dan berusaha keras secara maksimal yang dilakukan tidak hanya sekali. Setelah ikhtiar seperti itu, maka dengan bekal iman kepada Allah, keberhasilannya akhirnya tidak selalu ditentukan oleh dirinya. Dengan sikap tawakkal seperti ini, maka akan terhindar dari sikap frustrasi atau putus asa.

Pesan agar umat Islam perlu mengembangkan sikap positif terhadap kerja pada dasarnya memang memiliki dasar normatif yang cukup kuat dalam Islam. Salah satunya diilustrasikan oleh sebuah hadis  yang menceritakan: “Ketika Rasulullah saw bertanya kepada seorang Badui Arab: “Di mana ontamu?”, Jawab si Badui: “Arsilu nâqatî wa atawakkalu” (aku lepas untaku tanpa diikat dan kemudian aku bertawakkal), beliau lalu bersabda: “i’qilhâ wa tawakkal” (ikatlah untamu terlebih dahulu baru kemudian bertawakkallah)”.  Inilah tawakkal yang benar, usaha yang maksimal dahulu, baru menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah. 

Statement Umar tersebut juga bisa dimaknai bahwa rizki tidak bisa diperoleh dengan mengandalkan do’a semata atau mengharapkan pemberian orang lain, melainkan harus dicari melalui usaha dan bekerja dengan sungguh-sungguh. Bukankah para ulama besar dan kaum shufi selalu menekankan pentingnya bekerja atau memiliki pekerjaan? Mereka sendiri juga terlibat dalam usaha perdagangan, home industri, pertanian dan lain-lain. Abû Hanîfah misalnya, dikenal sebagai al-Bazzar, pedagang kain. Ia mempunyai toko dan melayani sendiri. Pada saat-saat tidak ada pembeli, Abû Hanîfah mengisi waktunya dengan membaca kitab atau memberi fatwa. Ayah Imâm al-Ghazzâlî juga dikenal sebagai pemintal benang untuk dijadikan kain. Sari al-Saqatî, seorang shufi kenamaan (w. 255 H/ 871 M) adalah seorang saudagar bangunan di pasar. Abû Qâsim al-Junaidî (w. 295 H/ 910 M) memiliki toko pemotong kaca dan melayani sendiri para pembelinya. Ibnu Khafîf menginformasikan: “pada masaku kebanyakan para guru shufi memiliki pekerjaan sebagai penopang hidup mereka. Aku sendiri belajar memintal benang. Hasilnya aku jual di pasar untuk menghidupi keluargaku”, (Warisan Sufi, I/8). Dan masih banyak kisah inspiratif lainnya yang bisa kita jadikan landasan dalam memaknai konsep tawakkal secara dinamis.
Oleh Bapak Ahmad Syafi'i

Untuk dapat mendengarkan radio ini anda harus menginstall flash player klik disini untuk download
Winamp Windows Media Player iTunes basicBerry Real One Android iPhone