Daftar UMK Se - Jawa Timur 2017


Wengker.com, Jawa Timur - Gubernur Jatim Soekarwo telah menetapkan besaran upah minimum kabupaten/kota (UMK) tahun 2017 pada Jumat (18/11/2016) hari ini. Pakde Karwo menerbitkan Pergub nomor 121 tahun 2016 tentang upah minimum kabupaten/kota di Jawa Timur tahun 2017.

Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan (Disnakertransduk) Provinsi Jatim Sukardo kepada wartawan di kantornya mengatakan, penetapan UMK 2017 mengalami kenaikan 8,25 persen dibandingkan UMK 2016. Ini sesuai PP 78/2015 tentang Pengupahan.

"Penghitungan kenaikan UMK itu berdasarkan pertumbuhan ekonomi dan inflasi. Hasilnya, seluruh daerah mengalami kenaikan 8,25 persen. Bahkan, dalam menetapkan angka kenaikan angka tidak boleh ada pembulatan atau pengurangan," katanya. [tok/but]

Berikut Besaran UMK tahun 2017 untuk 38 kabupaten/kota di Jatim:

1. Kota Surabaya           : Rp 3.296.212

2. Kab Gresik                  : Rp 3.293.506

3. Kab Sidoarjo               : Rp 3.290.800

4. Kab Pasuruan              : Rp 3.288.093

5. Kab Mojokerto            : Rp 3.279.975

6. Kab Malang                : Rp 2.368.510

7. Kota Malang               : Rp 2.272.167

8. Kota Batu                   : Rp 2.193.145

9. Kab Jombang              : Rp 2.082.730

10.  Kab Tuban                  : Rp 1.901.952

11.  Kota Pasuruan             : Rp 1.901.952

12.  Kab Probolinggo         : Rp 1.879.220

13.  Kab Jember                 : Rp 1.763.392

14.  Kota Mojokerto          : Rp 1.735.247

15.  Kota Probolinggo        : Rp 1.735.247

16.  Kab Banyuwangi        : Rp 1.730.917

17.  Kab Lamongan           : Rp 1.702.772

18.  Kota Kediri                 : Rp 1.617.255

19.  Kab Bojonegoro          : Rp 1.582.615

20.  Kab Kediri                  : Rp 1.576.120

21.  Kab Lumajang             : Rp 1.555.552

22.  Kab Tulungaggung     : Rp 1.537.150

23.  Kab Bondowoso         : Rp 1.533.902

24.  Kab Bangkalan           : Rp 1.530.655

25.  Kab Nganjuk               : Rp 1.527.407

26.  Kab Blitar                   : Rp 1.520.912

27.  Kab Sumenep              : Rp 1.513.335

28.  Kota Madiun               : Rp 1.509.005

29.  Kota Blitar                  : Rp 1.509.005

30.  Kab Sampang              : Rp 1.501.427

31.  Kab Situbondo            : Rp 1.487.355

32.  Kab Pamekasan          : Rp 1.461.375

33.  Kab Madiun                : Rp 1.450.550

34.  Kab Ngawi                  : Rp 1.444.055

35.  Kab Ponorogo             : Rp 1.388.847

36.  Kab Pacitan                 : Rp 1.388.847

37.  Kab Trenggalek           : Rp 1.388.847

38.  Kab Magetan              : Rp 1.388.847
____________________________
Berita Jatim

Penjarakan Siapapun Yang Mengaku Bisa Gandakan Uang - Dimas Cokro Pamungkas

Wengker.com, Warta Nahdliyin - Disaat sedang panas-panasnya menghadapi Pilkada serentak. Masyarakat Indonesia juga disuguhi berita Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang kabarnya mampu menggandakan uang. Ironis, banyak oknum pihak berwajib yang malah menjadi pelindung hal-hal klenik dan mustahil tersebut.

Hebatnya lagi ada mantan anggota DPR RI yang mati-matian membela Kanjeng Dimas Taat Pribadi. Padahal yang bersangkutan mendapatkan gelar S2 dan S3 dari Amerika, negeri yang terkenal dengan kemajuan pola pikirnya. Tidak itu saja, ada juga oknum perwira polisi bintang tiga yang turut menyaksikan penggandaan uang yang beredar di Youtube.

"Kenapa bisa seperti ini? Ini menandakan kesenjangan semakin melebar di negeri ini," kata Dimas Cokro Pamungkas, salah satu Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) kepada Media, Selasa (4/10/2016).

Dimas yang merupakan tokoh muda NU ini mengungkapkan, kesenjangan yang semakin melebar di masyarakat itu meliputi ekonomi, dan pengetahuan baik umum maupun agama. Karena miskin harta maka membuat orang membabi buta dalam mencari hidup, apalagi yang terjerat hutang sehingga membutuhkan solusi instan untuk menyelesaikannya.

Sementara kesenjangan pengetahuan maka akan membuat orang tidak mengetahui apakah sedang ditolong apa ditipu. Karena orang tersebut tidak sadar apakah sedang dibantu apa dibodohi. Sedangkan kesenjangan pengetahuan agama akan membuat orang sembarangan saja dalam memilih guru, tanpa mengetahui orang yang dianggap guru itu benar apa tidak,

"Orang seperti ini maka tidak punya pengetahuan dasar kuat tentang mana yang halal dan mana yang haram," tegas Ketua Pencak Silat NU Pagar Nusa Sapujagad ini.

Dimas menuturkan, pihak yang bertanggungjawab agar tidak semakin banyak orang yang terjebak dalam hal klenik dan mustahil adalah pemerintah, tokoh agama dan siapapun yang peduli dengan kondisi negeri ini. Solusinya sangat sederhana, bila ada orang yang mengaku mampu menggandakan uang, punya bank ghaib, uang balik, jual tuyul, jual jin, dan semacamnya langsung amankan dan suruh buktikan.

"Kalau tidak mampu langsung penjarakan, karena saya yakin seyakin-yakinnya orang yang berbicara bab itu adalah penipu," tegasnya.

Dimas menegaskan, jika penipu tersebut dibiarkan maka yang menjadi korban adalah rakyat biasa yang akidahnya bisa melenceng. Korbannya akan tetap bodoh dan berfikir klenik terus. Padahal negara lain telah berencana ke bulan sementara Indonesia masih berkutat memikirkan penggandaan uang, bank ghaib, tuyul, jin, dan lainnya.

"Sungguh ironis dan memalukan. Ironisnya umat Islam yang dirugikan, karena umumnya para penipu tersebut berkedok ustadz atau tokoh islam dengan segala atribut keislamannya," paparnya.
Harian Terbit

Data Korban Peledakan Bom Samarinda

Wengker.com, Korban Kriminal - Otoritas Polri melalui Densus 88 Antiteror sampa minggu (13/11) pukul 14.00 WIB masih menyelidiki insiden peledakan di Gereja Oikumene Samarinda Kaltim yang terjadi pukul 10.30 WIB.
Gereja Oikumene terletak di Jalan Cm Kusumo RT 03 No. 32 Kelurahan Sengkotek, Kecamatan Loa Janan Ilir, Samarinda.
"Petugas menerim laporan telah terjadi pelemparan yang di duga bom rakitan," ujar Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Boy Rafli Amar kepada SP, Minggu (13/11) siang.
Pendeta Elmun Rumahorbo menyebutkan ledakan terjadi pada saat puncak pembacaan doa terakhir menjelang bubar jemaah, dan terjadi ledakan di halaman gereja. Api menyembur ke dalam gereja.
Seorang saksi, Pasya Maningar (11) melihat pelaku menyalakan korek api di depan gereja. Selanjutnya saksi masuk ke dalam gereja sambil menggendong adiknya sambil memberitahukan jemaah terkait adanya orang asing di halaman gereja. Selanjutnya pastur keluar dan sebelum sampai pintu ledakan terjadi di halaman gereja.
Ditambahkan, Gultom (35) saksi lain menyebutkan pada saat jemaah melaksanakan pembacaan doa terakhir, terdengar suara ledakan sebanyak tiga kali di halaman gereja yg menimbulkan kobaran api dan merusak empat unit R2. "Korban empat orang anak-anak yang sedang bermain di teras gereja dibawa ke RS. Moeis," ujar Gultom.
Saksi lain, Roni yang sedang duduk di depan Toko Sumber Jaya mendengar ledakans ebanyak satu kali. Dia kemudian melihat ada seorang laki-laki dengan perawakan rambut gondrong, celana gantung dengan mengenakan kaos hitam berlari dari halaman gereja ke arah pelabuhan Dermaga Sumalindo. Saksi ikut mengejar orang yang dicurigai tersebut sampai pelaku tertangkap di pinggir sungai mahakam.
Pelaku JO diketahui pernah menjalani hukuman pidana sejak tanggal 4 mei 2011 berdasarkan putusan Pengadilan Negeri jakarta Barat nomor: 2195 / pidsus/2012/PNJKT.BAR tanggal 29 Feb 2012 dengan hukuman 3 tahun 6 bulan kurungan. JO dinyatakan bebas bersyarat setelah mendapatkan remisi Idul Fitri tanggal 28 Juli 2014. Saat ini pelaku sdh diamankan di Polresta Samarinda.
Adapun data Korban :
1. Intan olivia, cm. Kusumo gg jati 3 RT. 27 Kelurahan. Harapan Baru Loa Janan Ilir. Mengalami luka bakar pada sekujur tubuhnya.
2. Alvaro Aurelius Tristan Sinaga (4), aspol loa janan km 4, anak dri PNS an. Novita Sagala (PNS polresta samarinda).  Mengalami luka bakar di sekujur tubuhnya.
3.Triniti hutahaya (3) cm. Kusumo Sengkotek Gg jati, blok M, RT. 27 mengalami luka disekujur tubuhnya.
4. Anita Kristobel Sihotang (2), Jl. Cm kusumo Gg Jati 4 kel. Harapan baru. Mengalami luka bakar.
Beritasatu.com

Peledakan Bom Di Gereja Samarinda, Pelaku Tertangkap - Ini Kronologinya


Wengker.com, Kriminal Teroris - Pelaku peledakan bom di Gereja Oikumene Jalan Cipto Mangunkusumo No 32 RT 03, Sengkotek, Samarinda, Kalimantan Timur, ditangkap saat berenang di sungai mahakam. Dia berupaya kabur usai beraksi.

Keterangan dari saksi mata di lokasi, seorang pria yang belum diketahui identitasnya itu, masuk ke halaman gereja yang berada persis di pinggir jalan, sambil membawa tas. Tidak ada yang curiga dengan gerak gerik pria itu.

"Tidak ada yang curiga. Ini kan gereja di wilayah terbuka. Kita kira yang masuk ke halaman, kan mau ibadah," kata pendeta Samion (53) kepada media online di lokasi kejadian, Minggu (13/11). Saat itu, di halaman memang penuh anak-anak yang sedang bermain menunggu orangtua mereka selesai ibadah. Begitu tas yang diletakkan di halaman meledak, pelaku lantas melarikan diri ke arah sungai dan melompat ke sungai.

"Jadi orang teriak-teriak itu pelakunya, saya ikut mengejar dengan warga di sekitar. Asap sempat mengepul tebal di halaman, percikan apinya sempat membakar atap tapi bisa dipadamkan," ujar Samion.

"Itu motor pelaku ditinggal di halaman. Motornya Honda Karisma, itu terbakar dan rusak di halaman gereja Pak. Yang saya lihat tadi ada 6 luka-luka, 2 paling parah," tambahnya.

Saksi mata lainnya, Samuel Tulung (50), yang juga menangkap pria itu mengatakan, pria terduga peledakan memang ditangkap di sungai mahakam. "Saya kebetulan mau lewat depan gereja, ada orang-orang lari-lari. Pelakunya itu sudah berenang sampai ke tengah. Saya minta kapal motor di tengah sungai, mengejar," kata Samuel.

"Saya berdua dengan warga lain, tangkap pelaku. Sempat menarik kaki saya, saya pukul mukanya, akhirnya dia lepaskan. Saya bilang jangan dipukuli, ini serahkan ke polisi, supaya diungkap jaringannya," terang Samuel.

Seperti diketahui, ledakan terjadi sekira pukul 10.00 WITA pagi tadi, di depan Gereja Oikumene. Saat ledakan, jemaat gereja sedang beribadah. Gegana Brimob Polda Kalimantan Timur, Polresta Samarinda, dan Polsekta Samarinda Seberang, mengamankan lokasi kejadian.
Merdeka.com

Pelanggar Lalu Lintas Yang Sakti

Wengker.com, Humor Santri - Suatu hari rombongan 20 orang yang melakukan konvoi dengan sepeda motor mendapat teguran polisi yang sedang razia karena semuanya tak pakai helm. Pak Polisi mengomel keras meski kali ini para pelanggar masih diberi toleransi alias tidak ditilang.
Semua pengendara patuh kecuali satu orang. Ya, karena sudah mengenakan peci putih, seorang pemuda merasa tidak perlu memakai helm.
"Temen-temen Anda sudah pakai helm. Kenapa Anda tidak pakai?" Tanya polisi kepada pemuda berpeci putih itu.
"Pakai peci itu lebih berpahala daripada pakai helm, Pak. Lagian, memang ada dalilnya harus pakai helm?"
Pak Polisi cuma garuk-garuk kepala, mundur pelan-pelan, dan membiarkan rombongan melanjutkan aksinya.
Di perempatan berikutnya, pemuda tersebut kembali kena semprit polisi. "Maaf, Mas. Menurut peraturan, semua pengendara motor mesti pakai helm," imbau polisi.
"Bapak menghina peci saya. Bapak anti Islam?"
Mendengar kata-kata itu, sang polisi keder. Tak berani membantah, apalagi menilang.
Di dua perempatan berikutnya, sang pemuda kembali kepergok polisi dan lagi-lagi berhasil lolos dengan "dalil" mematikan. Hingga akhirnya rombongan kena musibah besar. Jembatan yang mereka lewati ambruk dan menyebabkan semua pengendara menderita gegar otak. Kecuali pemuda berpeci putih itu.
Para dokter heran. Dengan kepala nyaris terbelah, bagaimana mungkin pemuda ini selamat dari gegar otak? Sungguh ajaib!
Setelah tim dokter bedah melakukan pemeriksaan, akhirnya terbongkar: ternyata di kepala pemuda tersebut enggak ada otaknya.
NU Online.
Untuk dapat mendengarkan radio ini anda harus menginstall flash player klik disini untuk download
Winamp Windows Media Player iTunes basicBerry Real One Android iPhone