Putih Tak Putih

Wengker.com, Cerpen - Cangkir kecil berwarna putih tulang bermotif mawar merekah adalah wadah yang dianggap pantas untuk menampung seduhan kopi hitam beraroma masa depan. Kopi itu pula yang menjadi teman setia para aktivis dari berbagai ruang tuk membahas kapal nusantara yang usianya semakin renta.

Pun, sosok nahkodanya yang sudah berganti hingga tujuh kali dan belum mampu menyandarkan penumpangnya ke pulau bahagia, tak lepas dari ocehan anak-anak muda berambut gondrong di meja pojok kedai Blandongan.

Di sini, janji untuk menyelamatkan anak negeri dari bahaya kekurangan kopi terpatri di gapura. Menyambut kedatangan para pemikir negeri memikirkan nasib bangsanya yang entah ke mana. Rangkaian kata-kata tanpa majas itu menjadi cita-cita mulia untuk melanggengkan tradisi ngopi bagi para penikmatnya. Pun, di tempat ini, kopi telah menjadi simbol pemersatu yang tak terbatas oleh perbedaan ruang dan waktu, termasuk bagi mereka yang pernah berselisih paham karena beda pilihan politik pada pesta demokrasi tahun lalu. Di sini batas itu hilang seketika. Kopi itu pula yang telah berhasil menyatukan aktivis negeri yang beda persepsi tentang semangat membangun bangsa dari berbagai sisi. Termasuk mereka yang terus berdebat dengan bahasa impor dari benua putih yang dahulu tak pernah tersaji.

Tempat ini juga bukan sekadar papan tuk berbagi kisah hidup yang pelik tentang perjalanan negeri, tapi juga tempat untuk memastikan bahwa anak-anak muda masih doyan bersdiskusi. Entah siapa yang mengawali membuat kedai kopi, yang jelas kopi telah menjadi ruh dalam tiap hela napas anak-anak muda hingga para lansia di kota ini, Yogyakarta. Saking saktinya, kopi telah mampu menghapus sekat antara rakyat dan pejabat, hingga kawula dan ningrat.

Aku yang tengah singgah di Bumi Mataram ini pun diajak tuk menikmati seduhan kopi yang katanya lebih nikmat dan lebih sakti dibandingkan kopi dari Barat. Di kota ini pula, kuingin melepas rindu dengan sahabatku yang sangat mencintai kopi. Namanya Putih. Tapi, jika biasanya nama Putih disematkan pada orang yang memiliki kulit tubuh yang terlalu putih, maka tidak untuknya. Putih adalah nama panggilan yang disematkan untuk sahabatku yang sebenarnya bertolak belakang dengan yang sesungguhnya. Aku tak kuasa untuk mengatakannya hitam, tapi aku tak mungkin mengatakannya putih, karena nyatanya ia lebih gelap dari warna coklat tua.

Sebutan “Putih” bukan tanpa alasan. Ia dianggap mewakili kondisi zaman. Hidup di negara yang kaya tapi miskin. Banyak orang pintar tapi bodoh. Punya pemimpin yang tegas tapi lemah. Setia tapi ternyata mampu mendua. Hingga kopi yang seharusnya hitam kini telah berubah menjadi kopi putih. Untuk itu, kami memanggilnya “Putih”. Sebutan ini adalah cara mudah kami menyimpulkan realitas yang tak disadari oleh semua orang. Apalagi bocah-bocah yang hanya berpikir tentang kemapanan diri. Sekilas, panggilan ini terdengar sangat kejam karena disematkan padanya yang tak putih, tapi sebenarnya tidak. Ini menyoal simbol, bukan hinaan atau cacian.

Di kedai kopi ini, ia menghabiskan detik demi detik untuk membahas masalah yang tak jelas ujung pangkalnya. Sambil ditemani dengan bercangkir-cangkir kopi, ia membuka obrolan dengan melepas kata ilmiah yang disadurnya dari benua putih. Katanya bahasa itu mampu mewakili sejuta masalah pelik yang ada di otaknya. Padahal menurutku, masih ada bahasa lain yang bisa mewakili perasaannya. Tapi tak apa, bahasa antah berantah yang ia ucapkan itu juga pilihan yang tak harus kutolak. Obrolan tanpa judul dan sarat dengan bahasa barat pun terlontar dari balik kepulan asap dari rokok yang dihisapnya. Meski tak bisa kupahami semua bahasanya, guratan di keningnya seolah menggambarkan ketidakpercayaan akan masalah yang dihadapi kapal tua bernama Nusantara ini.

“Berapa tetes kopi yang kau teguk setiap hari?” tanyaku pada Putih sambil menghentikan obrolan yang terus keluar dari mulutnya.

“Sebanyak helai rambutku,” jawabnya.

“Apa kau bisa mengitungnya?”

“Menghitung helai rambut dan tegukan kopi sama saja dengan menghitung peliknya masalah negeri. Tak ada habisnya.”

Aku terdiam sambil menatap matanya yang nampak kemerah-merahan. Mungkin karena selalu begadang tiap malam. Atau bisa jadi karena efek dari kopi yang terlalu banyak ia teguk setiap harinya. Tak tahu pasti dan tak bisa kusimpulkan begitu saja. Mungkin bisa jadi karena karena ia sedang marah dengan kapal tua ini yang seolah tak punya arah.

“Dasar orang gila,” candaku.

“Lebih gila lagi mereka yang tak mau berpikir bersama kopi. Ya, mereka yang hanya membaca buku dan ke kampus kemudian menyalahkan zaman.”

“Bagaimana dengan mereka yang menganggap orang sepertimu sebagai orang gila?”

“Ah, itu kan hak mereka karena hidup di negeri yang bebas berbicara. Aku tak peduli orang berkata apa. Aku rela dianggap gila, asal mereka tak memvonis kopinya yang gila. Kau harus tahu, orang yang anarkis dan radikal itu karena kurang kopi. Seharusnya mereka diselamatkan,” ucapnya sambil disusul dengan gelak tawa yang membahana hingga membuat penghuni meja-meja sebelah menoleh semua ke arahnya.

Aku tak tahu pasti apa maksudnya, yang jelas aku ikut tertawa begitu saja. Kemudian, aku pun berpikir, siapa yang dimaksud “mereka” dalam ucapannya. Apa mereka yang tak cinta kopi? Ah, agaknya terlalu rasis menyematkan kata “menyelamatkan” hanya untuk mereka yang tak cinta kopi. Padahal masih banyak yang harus diselamatkan dari sekadar mereka yang tak cinta kopi. Ya, tentu ada petani kopi, penjual kopi dan pengusaha kecil peracik kopi yang terus tergerus oleh produk dari seberang negeri.

****

Hari masih siang. Bahkan teriknya masih terasa panas hingga ke dalam hati. Tapi gerimis tiba-tiba turun dari langit. Mungkin untuk mendinginkan obrolan yang sempat memanas di antara kami. Namun, seolah tak peduli dengan gerimis atau panas, secangkir kopi habis, muncul secangkir kopi yang lain dan begitu seterusnya. Termasuk asap rokok yang mengepul tanpa henti karena terus disambung oleh batang-batang rokok berikutnya. Katanya rokok dan kopi itu untuk menambah inspirasi, karena ia sudah menganggap keduanya sebagai pasangan setia yang tak mungkin terpisah oleh zaman dan lintas generasi. Aku mengamini saja, meski sebenarnya aku terganggu dengan kepulan asap rokok yang padat seperti asap yang keluar dari knalpot motor zaman dulu.

“Apa sampean pernah melihat orang yang mencaci maki sambil menikmati kopi?” tanyanya padaku.

“Belum.”

“Apa kau pernah melihat orang berbuat jahat sambil minum kopi?”

“Belum.”

“Mungkin tidak akan kau lihat kejadian seperti itu, karena kopi itu membawa kedamaian. Meskipun warnanya tak putih. Bahkan masalah besar yang beku di meja hijau bisa mencair di meja kantor. Asal ada kopi.”

Aku termenung. Apasemudah itu masalah bisa diselesaikan? Tapi, ada benarnya juga. Bagi mereka yang mampu membeli kopi, kadang meja hijau pun bisa dirubah menjadi meja coklat atau meja tanpa warna. Tapi tuk mereka yang tak mampu membeli kopi, mengambil ayam tetangga yang harganya tak cukup untuk membeli beras sekarung pun, tak akanbisa lepas dari bui. Ya, seperti yang dialami si Udin tempo lalu. Iaharus merasakan dinginnya jeruji hanya karena mengambil ayam di desa sebelah.

Padahal, ia sempat berdalih kalau anak pejabat yang pernah menabrak orang dan merenggut banyak nyawa pun tak sempat menyentuh dinding sel. Tapi si Udin lupa kalau dia bukan anak pejabat, ia hanya orang kecil yang butuh beras untuk isi perutnya. Hingga alasan apapun yang disampaikannya tak mampu membuatnya lepas dari bui. Belum lagi bonus rasa sakit yang harus diterima karena tangan-tangan besi tak henti-henti menghampiri wajahnya. Selain Udin bukan siapa-siapa, yang jelas karena Udin juga tak mampu membeli kopi untuk melelehkan si tangan besi. Percuma.

Akhirnya tak bisa kusangkal ucapannya. Secangkir kopi bisa menjadi jalan negosiasi sampai menjadi alat penyelamat manusia yang akansegera dieksekusi. Bahkan ia bisa menjadi suguhan bagi para politisi yang sedang membahas tentang arah negeri.

“Jangan hanya melamun. Lamunanmu tak akan merubah keadaan, kecuali membuat kopi yang tadinya panas menjadi dingin,” ucapnya mengganggu lamunanku.

“Aku tahu itu.”

“Lalu, apakah kau sudah paham bahwa kopi ini lebih sakti dari palu di meja pengadilan?”

“Ya. Aku setuju. Kopi ini telah merubah banyak tatanan yang seharusnya berjalan.”

“Tak juga. Jangan menghakimi kopi. Nyatanya iajuga telah menjadi teman setia untuk menata hidup, menuliskan cerita, hingga berhalusinasi tentang masa depan.”

“Tapi karena kopi juga keadilan menjadi semu.”

“Tak juga, sesuatu yang belum adil juga bisa diadili di meja kopi.”

“Baiklah.”

“Mungkin sekali-kali kau perlu ajak orang-orang yang suka mengkafirkan orang lain untuk menikmati kopi. Termasuk orang-orang yang dengan topeng agama meminta kekuasaan. Juga untuk mereka yang dengan mudah menyematkan dirinya sebagai orang-orang yang seolah paling paham tentang agama, hingga tak tahu tentang agama dan budaya. Sampai apa-apa yang bukan berasal dari bangsa Arab dianggap tak sesuai aturan agama.”

“Apa dengan kopi mereka bisa faham?”

“Paling tidak mereka akan tahu bahwa ada kopi, gula dan air yang diseduh dan dituangkan dalam cangkir putih yang tak pernah meminta diri mereka disebutkan satu per satu. Cukup dengan menyebut kata kopi, semua sudah termewakili. Termasuk air, gula dan kopi itu sendiri.”

“Hmmm. Kau benar, banyak yang ikut membangun kapal tua ini dan mereka tak minta diakui jasanya. Cukup dengan namaNusantara, sama artinya dengan menyebut mereka semua.tanpa harus meminta yang lain berada di bawahketiak mereka.”

Semakin lama, obrolan kami semakin tak jelas arahnya. Kami pun segera menutup obrolan, meski sebenarnya masih ingin melepas rindu dan bercengkerama tentang kisah masa lalu. Tapi aku tahu, semuanya tak akan selesai di meja ini, karena masih ada meja lain yang cangkirnya perlu diseduh kopi agar lain bisa merasakan nikmatnya kopi. Satu lagi, dan agar mereka tahu tentang kesadaran gula dan air yang tak pernah disebut dalam seduhan secangkir kopi.


Oleh Slamet Tuharie Ng lahir di Batang, 09 Juni 1990. Saat ini tengah menyelesaikan studi Pascasarjananya di Graduate School Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Penulis juga merupakan Wakil Sekjend PP IPNU (2012-sekarang).

Qiyamul Lail VS Belajar

Wengker.com, Pendidikan Religi - Manakah yang lebih utama antara qiyaamul lail dengan belajar? Demikian pertanyaan yang kuterima pagi tadi via WA.
Guna menjawab pertanyaan tersebut, kita mesti mengetahui terlebih dahulu hukum masing-masing keduanya. Hukum qiyaamul lail sdh bisa dipastikan sunnah, sementara hukum belajar ada dua, adakalanya fardhu 'ain dan adakalanya fardhu kifaayah, tergantung dari materi yang dipelajari. Sehingga dari sisi perbedaan hukum keduanya dapat ditarik sebuah konklusi dan jawaban bahwa begadang untuk belajar lebih utama. Sebab perbandingannya adalah hukum sunnah vs fardhu. [Hasyiah Radd al-Mukhtaar, I/41].
Guna memperkuat jawaban ini, perhatikan hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas berikut:
تدارس العلم ساعة من الليل خير من احيائها
"Berdiskusi di waktu malam walau hanya sebentar, lebih baik dari menghidupkan malam dengan selainnya" [Muratul Miftaah li Tabrizi, II/376]
Hadis Nabi berikut lebih memperkuat lagi keutamaan belajar:
"Rasullah saw ditanya tentang dua orang laki-laki dari golongan Bani Israail, salah satu dari mereka alim dan selalu duduk untuk belajar dan mengajar yang baik kepada manusia sehabis salat maktubah. Satunya lagi selalu berpuasa dan salat malam setiap malamnya. Manakah yang lebih utama diantara keduanya? Rasulullah menjawab, "Lebih utama mereka yang alim dan selalu duduk untuk belajar mengajar yang baik kepada manusia sehabis salat maktubah dari pada mereka yang selalu berpuasa dan salat malam di setiap malamnya. Keutamaannya sama dengan keutamaanku terhadap paling rendahnya kalian". Kemudian Rasul bersabda, "Sesungguhnya Malaikat dan penduduk langit bahkan semut yang ada di lubangnya dan juga ikan di laut memohonkan ampun terhadap orang yang mengajari manusia hal-hal baik". [Sunan Darami, I/382].
Masih banyak lagi komentar-komentar lain yang lebih mengunggulkan belajar atas qiyaamul lail. Seperti Al-Ghazali misalnya pernah mengatakan, "Ilmu dan amal harus selalu ada. Namun, ilmu lebih utama daripada amal sebab ilmu adalah ruhnya segala amal perbuatan. Tidak mungkin amal ibadah kita diterima oleh Allah swt tanpa mengetahu ilmu ibadah". Sementara Imam Ahmad mengatakan, "Kebutuhan manusia akan ilmu melebihi kebutuhan manusia terhadap makan dan minum. Sebab manusia butuh makan sehari dan semalam sebanyak dua-tiga kali, sementara kebutuhan manusia terhadap ilmu adalah sebanyah hitungan nafas yang keluar....."[Faidul Qadir, IV/55, Hasyiah Jamal, II/327].
Entohpun demikian, meskipum belajar lebih utama dari pada shalat sunnah di waktu malam. Akan tetapi, muslim paripurna adalah mereka yang punya komitmen kuat dan mampu menyatukan antara ilmu dan ibadah atau amal. Sebab keduanya adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dan tidak perlu dipertentangkan. Orang bijak berkata, "Ibadah adalah buah dari pohon ilmu", al-'ibaadah hiya tdamrotul ilmi". Imam Hasan Bashri berpesan, "Carilah ilmu tanpa harus melalaikan ibadah, dan beribadahlah tanpa lalai dalam mencari ilmu". [Minhaanul 'Abidin, 16].
Walhasil, hanya ada satu natijah yang bisa dijadikan pesan moral dalam mengakhiri kajian ini, yakni: "Berilmu Amaliah dan Beramal Ilmiah".
Wallahu A'lam bi al-Shawwab...!
Oleh Bapak Ahmad Syafi'i

Bukan Hanya Mereka Yang Bersalah, Tapi Kita Juga Melakukan Suatu Kesalahan Juga - Intropeksi Diri

Wengker.com, Filosofi Dan Budaya - Akankah kita selalu mencaci, mencari cari kesalahan orang lain?? sampai kapan kita akan disibukkan dengan hal hal yang demikian??? Ingatlah bahwa kita juga harus bisa menerima kenyataan walau SEPAHIT APAPUN.

Bisakah luka yang teramat dalam ini nanti akan sembuh? Bisakah kekecewaan, bahkan ke-putus asa-an, yang mengiris-iris hati berpuluh-puluh juta saudara kita ini pada akhirnya nanti akan kikis?

Adakah kemungkinan kita akan bisa merangkak naik ke bumi dari jurang yang teramat curam dan dalam?
Akankah api akan berkobar-kobar lagi?

Apakah asap akan membubung lagi dan memenuhi angkasa Tanah Air?
Akankah kita semua akan bertabrakan lagi satu sama lain?

Jarah-menjarah satu sama lain dengan pengorbanan yang tidak akan terkirakan?
Adakah kemungkinan kita tahu apa yang sebenarnya sedang kita jalani?
Bersediakah kita sebenarnya untuk tahu persis apa yang sesungguhnya kita cari?
Cangkrawala yang manakah yang menjadi tujuan sebenarnya dari langkah-langkah kita?
Pernahkah kita bertanya bagaimana cara melangkah yang benar?
Pernahkah kita mencoba menyesali hal-hal yang barangkali memang perlu disesali dari perilaku-perilaku kita yang kemarin?

Bisakah kita menumbuhkan ke-rendah hati-an di balik kebanggaan-kebanggaan?
Masih tersediakah ruang di dalam dada kita dan akal kepala kita untuk sesekali berkata kepada diri sendiri?
Bahwa yang bersalah bukan hanya mereka, bahwa yang melakukan dosa bukan hanya ia, tetapi juga kita!
Masih tersediakah peluang di dalam kerendahan hati kita untuk mencari apapun saja yang kira-kira kita perlukan meskipun barangkali menyakitkan diri kita sendiri?

Mencari hal-hal yang kita benar-benar butuhkan agar supaya sakit, sakit, sakit kita ini benar-benar sembuh total.
Sekurang-kurangnya dengan perasaan santai kepada diri sendiri untuk menyadari dengan sportif bahwa yang mesti disembuhkan itu nomor satu bukan yang di luar diri kita tetapi di dalam diri kita.

Yang kita perlu utama lakukan adalah penyembuhan diri yang kita yakini bahwa harus betul-betul disembuhkan justru adalah segala sesuatu yang berlaku di dalam hati dan akal pikiran kita.
Saya ingin mengajak engkau semua memasuki dunia ilir-ilir.

Ilir-ilir…
Ilir-ilir…
Tandure wosumiler tak ijo royo-royo,
Tak sengguh temanten anyar.

Kanjeng Sunan Ampel seakan-akan baru hari ini bertutur kepada kita,
tentang kita, tentang segala sesuatu yang kita mengalaminya sendiri.
Namun, tidak kunjung sanggup kita mengerti.

Sejak lima abad silam syair itu ia telah lantunkan dan tidak ada jaminan bahwa sekarang kita sudah paham.
Padahal kata-kata beliau itu mengeja kehidupan kita ini sendiri, alfa-beta, alif, ba’, ta’, kebingungan sejarah kita dari hari ke hari.

Sejarah tentang sebuah negeri, yang puncak kerusakannya terletak pada ketidaksanggupan para penghuninya untuk mengakui betapa kerusakan itu sudah sedemikian tidak terperi.
“Menggeliatlah dari mati mu,” tutur Sang Sunan.
Siumanlah dari pingsan berpuluh-puluh tahun.

Bangkitlah dari nyenyak tidur panjangmu.

Sungguh negeri ini adalah penggalan surga.
Surga seakan-akan pernah bocor dan mencipratkan kekayaan dan keindahannya.

Dan cipratan keindahannya itu bernama INDONESIA RAYA!!

Kau bisa tanam benih kesejahtraan apa saja di atas kesuburan tanahnya yang tidak terkirakan.
Tidak mungkin kau temukan makhluk Tuhan-mu kelaparan di tengah hijau bumi kepulauan yang bergandeng-gandeng mesra ini.

Bahkan bisa engkau selenggarakan dan rayakan pengantin-pengantin pembangunan lebih dari yang bisa dicapai oleh negeri-negeri lain yang manapun.

Namun kita memang telah tidak mensyukuri rahmat sepenggal surga ini.
Kita telah memboroskan anugerah Tuhan ini melalui cocok tanam ketidakadilan dan panen-panen kerakusan.

Cah angon-cah angon,
Penekno blimbing kuwi.
Lunyu-lunyu penekno,
Kanggo mbasuh dodot iro.

Kanjeng Sunan tidak memilih figur, misalnya, Pak Jendral, juga bukan intelektual, ulama, seniman, sastrawan, atau apa pun. Tetapi cah angon-cah angon. Beliau juga menuturkan: “Penekno blimbing kuwi.” Bukan penekno pelem kuwi, bukan penekno sawo kuwi, bukan penekno buah-buah yang lain. Tapi blimbing, berkikir lima.

Terserah apa tafsirmu mengenai Lima. Yang jelas, harus ada yang memanjat pohon yang licin itu, lunyu-lunyu penekno, agar belimbing bisa kita capai bersama-sama.

Dan, yang harus memanjat adalah bocah angon, anak gembala. Tentu saja dia boleh seorang doktor, boleh seorang seniman, boleh seorang kiai, boleh seorang jendral, atau siapa pun.

Namun, ia harus memiliki daya angon, daya menggembalakan. Kesanggupan untuk ngemong semua pihak. Karakter untuk merangkul dan memesrahi siapa saja sesama saudara sebangsa. Determinasi yang menciptakan garis resultan kedamaian bersama.Pemancar kasih sayang yang dibutuhkan dan diterima oleh semua warna, semua golongan, semua kecendrungan.

Bocah angon adalah seorang pemimpin nasional, bukan tokoh golongan atau pemuka suatu gerombolan.
Selicin apapun pohon-pohon tinggi Reformasi ini, sang bocah angon harus memanjatnya, harus dipanjat sampai selamat memperoleh buahnya.

Bukan ditebang, dirobohkan, atau diperebutkan.Dan air saripati belimbing lima kikir itu diperlukan oleh bangsa ini untuk mencuci pakaian nasionalnya. Pakaian adalah akhlak.Pakaian adalah sesuatu yang menjadikan manusia bukan binatang.

Kalau engkau tidak percaya berdirilah engkau di depan pasar dan copotlah pakaianmu, maka engkau kehilangan segala macam harkatmu sebagai manusia. Pakaian ‘lah yang membuat manusia bernama manusia.

Pakaian adalah pegangan nilai, landasan moral dan sistem nilai. Sistem nilai itulah yang harus kita cuci dengan pedoman Lima.

Dodot iro-dodot iro,
Kumiter bedah ing pinggir.
Dondomono jlumetono,
Kanggo sebo mengko sore.
Mumpung padang rembulane,
Mumpung jembar kalangane.
Yo surak o, surak hiyo.

Dodot iro-dodot iro kumiter bedah ing pinggir. Pakaian kebangsaan kita, harga diri nasionalisme kita telah sobek-sobek oleh tradisi penindasan, oleh tradisi kebodohan, oleh tradisi keserakahan yang tidak habis-habis.

Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore.Harus kita jahit kembali, harus kita benahi lagi, harus kita utuhkan kembali agar supaya kita siap untuk menghadap ke masa depan.
Memang kita sudah lir-ilir, sudah ngliler, sudah terbangun dari tidur.

Sudah bangun, sudah bangkit sesudah tidur terlalu nyenyak selama 30 tahun atau mungkin lebih lama dari itu.

Kita memang sudah bangkit, beribu-ribu kaum muda berjuta-juta rakyat sudah bangkit keluar rumah dan memenuhi jalanan, membanjiri sejarah dengan semangat menguak kemerdekaan yang terlalu lama diidamkan.

Akan tetapi mungkin terlalu lama kita tidak merdeka sekarang Kita tidak begitu mengerti bagaimana mengerjakan kemerdekaan, sehingga tidak paham beda antara demokrasi dan anarki.

Terlalu lama kita tidak boleh berpikir, lantas sekarang hasil pikiran kita keliru-keliru, sehingga tidak sanggup membedakan mana asap mana api, mana emas mana loyang, mana nasi dan mana tinja.

Terlalu lama kita hidup di dalam ketidak menentuan nilai, lantas sekarang semakin kabur pandangan kita atas nilai-nilai yang berlaku di dalam diri kita sendiri.

Sehingga yang kita jadikan pedoman kebenaran hanyalah kemauan kita sendiri, nafsu kita sendiri, kepentingan kita sendiri.

Terlalu lama kita hidup dalam kegelapan sehingga kita tidak mengerti bagaimana melayani cahaya, sehingga kita tidak becus mengursi bagaimana cahaya terang, sehingga di dalam kegelapan gerhana rembulan yang membikin kita buntu sekarang.

Kita junjung-junjung penghianat dan kita buang-buang para pahlawan.

Kita bela kelicikan dan kita curigai ketulusan. Satu tembang tidak selesai ditafsirkan dengan seribu jilid buku. Satu lantunan syair tidak selesai ditafsirkan dengan waktu seribu bulan dan seribu orang melakukannya. Aku ingin mengajakmu untuk berkeliling, untuk memandang warna-warni yang bermacam-macam dengan membiarkan mereka dengan warnanya masing-masing.

Agar kita mengerti dengan hati dan ketulusan kita, apa muatan kalbu mereka mengenai ilir-ilir, mengenai ijo royo-royo, mengenai temanten anyar, mengenai bocah angon dan belimbing, mengenai mbasuh dodot iro, mengenai kumiter bedah ing pinggir, yang akan kita bicarakan tentu saja kapan saja bersama-sama.

Tapi aku ingin mengajakmu untuk mendengarkan, siapa saja diantara saudara-saudara kita tanpa perlu kita larang-larang untuk menjadi ini atau untuk menjadi itu asalkan kita bersepakat bahwa bersama-sama mereka semua kita akan menyumbangkan yang terbaik bagi semuanya bukan hanya bagi ini atau itu, bukan hanya bagi yang disini atau yang disana.

Sumber : http://t.co/jPrGsdIR4u

Antara Aku Dan Kita Ada Jembatan Cinta

Wengker.com, Belajar - Oleh Mh Nurul Huda Kala belajar di Madrasah Tsanawiyah, sekitar 5 kilometer jarak yang penulis tempuh dulu dari tempat tinggal. Perjalanan itu melewati sebuah jembatan yang lumayan mengerikan. Berada di jalur kereta api peninggalan Belanda, yang hingga saat itu masih dimanfaatkan sebagai jalur pengangkut kayu jati gelondongan yang ditebas dari tengah hutan. Penulis perlu ekstra hati-hati benar melewati jembatan itu, karena tapak permukaan jalan yang dilalui hanya berupa tatal-tatal kayu yang ditata seadanya dan dipaku melintang di atas penyangga besi diantara dua sisi rel kereta. Sedikit saja lengah atau kurang keseimbangankhususnya di musim hujan, bukannya sampai ke tempat tujuan malahan sebaliknya si pejalan kaki dan pengendara bisa terpeleset jatuh ke dasar sungai dari ketinggian sekitar 20 meteran. Kenyataan serupa, barangkali, tak hanya dialami oleh diri penulis sendiri, sehingga ia kurang lebih mewakili suatu pengalaman bersama. Karena itu kita lalu mengelus dada bila masih ada saja jembatan buruk yang terpaksa dilalui oleh anak-anak madrasah kita.

Sungguh-sungguh, jembatan bukanlah hal yang bisa disepelekan. Boleh saja jembatan dianggap sekadar penghubung dua wilayah/daratan yang terpisah oleh sungai, jurang atau selat antar dua pulau. Tapi, bagi para penggunanya, sarana itu amatlah terkait dengan banyak hal: yakni imajinasi tentang, dan kemudahan akses terhadap, pengetahuan, dunia, cita-cita, kehidupan dan kemungkinan-kemungkinan baru. Sebagaimana jembatan-jembatan yang lain, ia hanya mungkin dibangunbila ada pikiran atau kesadaran bersama (misalnya pemerintah bersama masyarakat setempat) tentang harapan, fungsi dan tujuan perlunya jembatan itu. Lalu para insinyur mewujudkan harapan pikiran itu berdasarkan kondisi nyata (real) alam setempat. Kita rasanya tidak lupa, Bung Karno menyebut kemerdekaan Republik sebagai “jembatan emas”. Dan Republik baru itu didasarkan pandangan Ketuhanan, Kemanusiaan dan Keadilan sebagai “jembatan filosofis” yang mempersatukan elemen-elemennya yang beragam. Lain lagi Tan Malaka, ia menggunakan “jembatan keledai” buat memudahkannya dalam mengingat.

Dan Kiai Achmad Siddiq telah membangun“jembatan sosiologis”bagi kehidupan jama’ah NU untuk mempererat tali hubungan sosial. Disebutnya trilogi hubungan, jembatan itu berupaukhuwah Islamiyah (hubungan persaudaraan antarumat Islam), ukhuwah basyariyah/insaniyah (hubungan persaudaraan antar umat manusia), dan ukhuwah wathaniyah (hubungan persaudaraan antarnegara dan bangsa). Sekitar abad ke-3 H, kita sulit membayangkan suatuepisode peradaban Islam yang kosmopolit muncul, bila tak ada “jembatan” yang bernama: gerakan penerjemahan. Hunain bin Ishak yang beragama Kristen, Tsabit bin Qurrah yang Zoroaster dan lalu memeluk Islam, dan Ibnu Al-Muqaffa’ adalah para penerjemah ulung nan tangkasdengan horizon kebahasaan dan wawasan yang luas. Mereka mengalihbahasakan karya-karya besar berbahasa Yunani, Suryani, Pahlavi dan Sanskrit ke dalam bahasa Arab, sedemikian rupa sehingga menjembatani lahirnya bentuk-bentuk pengetahuan baru ke dalam perspektif Islam. Lahirlah Al-Farabi (Alpharabius), Ibnu Sina (Avicenna), Ibnu Rusyd (Averroes), selain sufi juga filosof-ilmuwan sejati, yang pengetahuan luasnya merambah aneka bidang: metafisika, logika, etika, kosmologi, matematika, geografi, kedokteran, astronomi dan lainnya. Selanjutnya para penterjemah-penafsir dan sekaligus filosof muslim ini pula yang menjembatani abad renaisans di Eropa dalam wajahnya yang berbeda.

Ini semua menyakinkan kita betapa pentingnya arti “jembatan” dalam kehidupan. Entah itu berupa jembatan penghubungantar lokasi terpisah, antar generasi, antar masyarakat, atau antara masa lalu, masa kini dan masa depan. Jembatan itu mestilah juga kokoh, bukan jembatan goyang yang labil setiap saat. Paling tidak ia diyakini kokoh oleh para ahli dan dipercayai demikian oleh publik luas. Tak perlulah satu persatu orang mengecek dan mengukur kekokohan itu, setiap jam dan harinya, sepanjang ia diyakini menyediakan kepastian dan terbukti tahan banting. Begitulah kiranya yang dipahami oleh penulis kolom ini tentang keharusan adanya keyakinan dan kepercayaan bersama yang sifatnya fondasional. Di antara dua dunia, jembatan menjadi penghubung. Katakanlah penghubung antara “yang nyata” dan “yang seharusnya”, antara yang real dan yang ideal, antara “aku” dan “kita”, antara ego dan solidaritas bersama. Oleh karena apa yang real bukanlah yang ideal dan apa yang ideal bukanlah yang real, maka keberadaan jembatan dibutuhkan. Dan oleh sebab yang real dan yang ideal itu tidak bisa diatribusikan kepada subjek masalahyang sama di dalam konteks yang sama pula, maka jembatan itu bentuknya bisa berbeda-beda.

Tapi,sebetulnya, ada kesamaan di antara jembatan-jembatan dalam kehidupan. Ia ada dan hadir, karena gerak sejarah kehidupan adalah sebuah tarikan kerinduan --sebuah kerinduan “aku” yang real kepada “kita” yang ideal.Gerak ini, bukanlah perang terhadap yang real itu sendiri, melainkan perjuangan kolektif melawan keterbatasan-keterbatasan dalam mewujudkan yang ideal. Dengan kata lain, keterbatasan karena halangan pergerakan yang real menuju yang ideal, yang mencegah “aku” menyatukan diri dengan “kita” haruslah dijembatani. Dan kiranya tak ada jembatan yang kokoh dalam diri selain memori, kehendak, tanggung jawab dan cinta. Merekalah yang memanggil “aku” menuju “kita”, menarik yang real menuju yang ideal, mendorong yang potensial menuju aktual. Walhasil, jarak yang memisahkan antara kedua belah pihak bukan diatasi oleh kebenciandan permusuhan yang bakal memakan tubuhnya sendiri melainkan oleh gerak terus menerus dalam dialektika cinta.Sebabdalamgeraksejarah“aku” dan “kita”, ada jembatan cinta.(Wallahua’lambisshowab].

MH Nurul Huda, Dosen STAI Al-Aqidah Al-Hasyimiyah Jakarta

Esai ini penulis persembahkan secara khusus untuk Kiai Husein Muhammad karena bagian tertentu dalam esai ini ditimba darinya.
Sumber Info

Mutiara Buya Hamka

Gasud.com, Kata Mutiara - BUYA HAMKA adalah sejarawan,sastrawan Indonesia,  sekaligus ulama, aktivis politik dan seorang penulis handal. Berikut ini beberapa kata-kata hikmah / kata bijak BUYA HAMKA.

Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekedar bekerja, ker juga bekerja...

Nafsu yang menyebabkan marah dan dengki

Bahwasanya cinta yang bersih dan suci (murni) itu, tidaklah tumbuh dengan sendirinya.

Tahan menderita kepahitan hidup sehingga penderitaan menjadi kekayaan adalah bahagia

Kenal akan keindahan dan sanggup menyatakan keindahan itu kepada orang lain adalah bahagia

Hanya menumpahkan air mata itulah kepandaian yang paling penghabisan bagi seorang wanita.

Kecantikan yang abadi terletak pada keelokkan adab dan ketinggian ilmu seseorang, bukan terletak pada wajah dan pakaiannya.

Emas tak setara dengan loyang. Sutra tak sebangsa dengan benang.

Satu hati lebih mahal dari pada senyuman. Satu jiwa lebih berharga dari pada sebentuk cincin.

Ikhlas dan sejati akan bertemu di dalam senyuman anak kecil,senyum yang sebenarnya senyum,senyum yang tidak disertai apa-apa

Kegunaan harta tidak dimungkiri –Tetapi ingatlah yang lebih tinggi ialah cita-cita yang mulia

Berani menegakkan keadilan, walaupun mengenai diri sendiri, adalah puncak segala keberanian

Kata - kata yang lemah dan beradab dapat melembutkan hati dan manusia yang keras

Iman tanpa ilmu bagaikan lentera di tangan bayi. Namun ilmu tanpa iman, bagaikan lentera di tangan pencuri.

Kehidupan itu laksana lautan: " Orang yang tiada berhati-hati dalam mengayuh perahu, memegang kemudi dan menjaga layar, maka karamlah ia digulung oleh ombak dan gelombang. Hilang di tengah samudera yang luas. Tiada akan tercapai olehnya tanah tepi".

Jangan takut jatuh karena yang tidak pernah memanjatlah yang tidak pernah jatuh,
Jangan takut gagal, karena yang tidak pernah gagallah yang tidak pernah melangkah,
Jangan takut salah, karna dengan kesalahan yang pertama kita dapat menambah pengetahuan baru dan cari Jalan yang benar pada langkah yang kedua

Berkah Penyakit KUDIS Di Pesantren

Gasud.com, Wawasan - Penyakit scabies, yang dalam bahasa awam disebut penyakit kudis (dalam bahasa Jawa disebut gudik), merupakan salah satu ”komoditas” yang menarik untuk ditelaah di pesantren-pesantren di seluruh Indonesia. Setiap santri yang mengenyam pendidikan di suatu pesantren, kemudian dia mampu “bertahan” cukup lama di sana, sedikit banyak akan bersinggungan dengan penyakit kulit, terutama scabies ini. Scabies merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh serangan kutu Sarcoptes scabiei, yang menginfeksi permukaan kulit seseorang, kemudian membuat lubang yang bersifat mikroskopis dan menimbulkan rasa gatal sampai timbul lesi atau luka. Penyakit ini termasuk penyakit yang jamak terjadi di Indonesia, terutama tempat yang ditengarai memiliki kualitas sanitasi dan lingkungan yang rendah. Kutu ini lebih sering menyerang secara aktif di malam hari, sehingga ketika malam menjelang tentu akan mengganggu tidur seorang penderita. Penularan penyakit ini tak jauh berbeda dengan macam penyakit kulit lainnya, yakni lewat penggunaan pakaian dan handuk bersama, kontak kulit dengan penderita dan bak mandi yang dimanfaatkan secara masal.

Sebagaimana mitos-mitos yang muncul di kalangan pesantren, terutama pesantren besar, bahwa kudis merupakan “stempel resmi” seorang santri, bahwa ia telah siap untuk menempuh tingkatan yang lebih tinggi dalam pembelajaran holistik yang ada di pesantren. Banyak kalangan kiai menyebutkan, “Kalau kamu sudah gatal-gatal di pesantren, tandanya kamu sudah betah dan ilmu akan lebih mudah masuk,”. Walaupun argumen ini belum bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, tapi berdasarkan pengalaman penulis, dhawuh para kiai ini banyak benarnya. Beliau menganggap bahwa penyakit kudis yang diderita santri adalah tanda awal turunnya berkah.

Berkah, Santri, dan Kudis

Secara bahasa kata berkah berasal dari lafal bahasa Arab barakah, yang memiliki akar kata dari baraka yang makna umumnya adalah melimpah. Dalam kitab-kitab tasawuf, berkah diartikan sebagai ziyādat al khair, yakni bertambahnya kebaikan dalam segala hal. Nabi Muhammad bersabda, “Yang disebut kaya bukanlah kaya harta, tetapi kekayaan sebenarnya adalah kekayaan hati”. Sikap ini amat diutamakan di pesantren, sehingga apapun yang terjadi, berkah adalah nomor satu. Kisah-kisah mengenai keberkahan seorang santri dalam ketaatannya terhadap kyai sudah populer di kalangan pesantren. Berkah dalam ilmu adalah harga mati. Berkah bisa dipersepsikan sebagai banyaknya manfaat suatu hal yang kian bertambah setiap hari disertai perasaan merasa cukup dengan keadaan yang ada. Kehidupan santri yang sederhana menjadikan mereka untuk selalu yakin bahwa apapun yang mereka dapatkan di pesantren adalah sebuah proses yang baik dalam pembelajaran, termasuk perihal penyakit kudis ini.  Apakah memang kudis berkolerasi lurus dengan berkah tersebut?

Seorang santri lazimnya akan sering tidur dan makan bersama, menggunakan kamar mandi yang memiliki volume besar seperti kolam, maupun menggunakan pakaian maupun handuk milik teman secara sukarela. Di satu sisi, ini adalah sikap tenggang rasa yang amat mulia dan pembelajaran semacam ini amat sulit dicari di sekolah-sekolah umum. Namun di sisi lain, beberapa hal dia atas menyebabkan penularan penyakit kulit, yang salah satunya adalah kudis, dengan mudah menjangkiti santri. Pergaulan antar sesama yang rapat dan dekat, menjadikan berbagai kontak yang memungkinkan penularan penyakit ini cepat terjadi. Ternyata dhawuh pengasuh pesantren mengenai keberadaan kudis santri memiliki jawaban secara sosiologis maupun psikologis. Jika seorang santri telah merasakan penyakit kulit ini, berarti dia telah menyusun suatu hubungan sosial yang lebih dekat dengan santri-santri lain, yang mungkin juga seorang penderita. Keakraban antar pribadi atau kelompok ini, menandakan adanya kenyamanan dalam pergaulan, dan ini akan sangat mendukung proses pembelajaran kedepannya. Secara psikologis, seorang santri baru yang menderita penyakit kulit akan dilatih untuk bersabar menghadapi penyakitnya, bersikap lebih dewasa untuk mengatasi masalah-masalahnya sendiri dan proses instropeksi mengenai kebersihan pribadi. Santri yang lebih senior, biasanya sudah tidak terganjal masalah penyakit kulit yang lebih kompleks sebagaimana santri baru.

Pertanyaannya, apakah memang seorang santri mesti terkena penyakit kudis ini? Mengingat di zaman ini infrastruktur pesantren sudah jauh lebih baik dibandingkan dahulu baik dalam hal sanitasi maupun fasilitas kesehatan, sehingga semestinya sudah mendapat perhatian yang lebih memadai. Apakah santri tetap akan identik dengan penyakit kudis dalam prosesnya menuju keberkahan ilmu? Sebagai seorang santri penulis merasa bersyukur pernah merasakan kudis dalam masa belajar di pesantren. Semoga para kiai dan masyayikh senantiasa dilimpahi keikhlasan dalam membimbing santri dan masyarakat. Wallahu a’lam.

M. Iqbal Syauqi, santri Pondok Pesantren Nurul Ulum Malang, anggota CSS MoRA (Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Sumber Info

Ada Bidadari Di Surga, Adakah Bidadara???

Gasud.com, Pendidikan Religi - Seringkali terselib pertanyaan di dalam hati mengenai bidadari yang disiapkan oleh Allah swt untuk muslim yang taat beribadah ketika di surga nantinya. Pertanyaannya bukan tentang siapakah bidadari itu atau dari makkhluk jenis apakah dia, karena janji-janji yang begitu indahnya sehingga akal lelaki tidak sempat bertanya asal muasal bidadari. Jelas dalam salah satu hadits diterangkan bahwa lirikan bidadari surga dapat redupkan matahari dunia. Begitu juga setetes liur bidadari akan tawarkan air lautan dunia. Nah pertanyaannya bukan soal kecantikan bidadari. Itu semua telah disepakati dalam angan-angan. Yang ditanyakan lantas apakah bagian untuk muslimah nanti disurga apakah bidadari lelaki (bidadara)? Mengenai kesenjangan pahala antara lelaki dan perempuan ini surat an-Nisa’ 124 menjawab:

وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا

Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun. Artinya orang-orang perempuan tidak usah khawatir. Meskipun secara eksplisit Allah swt tidak pernah menyebut tentang bidadara, tetapi yakinlah Allah swt tahu dengan pasti apa selera kaum wanita. Begitu juga kaum perempuan tidak usahlah merasa iri hati sesungguhnya pahala-pahala Allah swt yang tidak disebut secara eksplisit biasanya lebih besar, insyallah. Surat An-nisa 32 menjelaskan dengan bahasa yang halus sekali:

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Tidak ada ketimpangan di surga nanti. Tidak ada rasa galau karena bias gender di sana. Karena semua sudah ditakar sesui amal dan selaranya masing-masing. Jika di dunia perempuan sering tidak cocok hati dengan poligami, nanti disurga tidak akan ada perasaan semacam itu. Seperti janji Allah swt di dua ayat tersebut di atas. (ulil H)
Sumber Info

Secarik Motivasi - Betapa Hebatnya kebohongan


Jangan remehkan kebohongan.
Kekuatannya mampu meruntuhkan sebuah negara.
Kekuatannya pula banyak dipakai oleh raja-raja untuk tetap berada di atas tahta.
Maka, adalah naif, jika anda berkata, berbohong hanya dilakukan oleh anak-anak yang tertangkap basah membolos sekolah.

Berbohong adalah kekuatan besar, karena untuk berbohong manusia harus berkekuatan besar pula.
Diperlukan kecerdasan tinggi untuk menyusun ribuan argumentasi.
Dibutuhkan kekerasan otot baja untukmengubah fakta dan data nyata.
Bahkan, manusia harus memicikkan hatinya agar sebuah kebohongan menampakkan wajah kebenaran.

Lihatlah, untuk sebuah kebohongan manusia harus mengerahkan waktu dan usaha yang terbaik pula!
Sedangkan untuk bersikap jujur, manusia hanya perlu berlaku apa adanya.
Karena itu, jangan terkejut bila banyak orang melihat kebohongan lebih menawan daripada cahaya kejujuran.
Di dalam belitan hawa nafsu, kejujuran nyaris tak pernah laku.

Gerakan Pesantren Tangerang Menolak Ideologi Islam Radikal

Gasud.com, Tangerang - Forum Silaturrahmi Pondok Pesantren (FSPP) Kota Tangerang memfasilitasi kegiatan bedah fatwa MUI Tangerang perihal ideologi yang dapat merusak integritas kebangsaan Republik Indonesia. Di Villa Binual Cilember, Bogor, Selasa-Rabu (25-26/11), mereka mencoba melihat posisi gerakan ideologi keislaman di tengah konsep negara Indonesia. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya para kiai di kampus STISNU. Ketua FSPP KH A Baijuri Khotib berkata, “Pertemuan ini bertujuan membangun persepsi dari seluruh ormas Islam di Tangerang yang cinta NKRI terkait integritas kebangsaan.”

Sementara Ketua PCNU Kota Tangerang H A Bunyamin memandang, pilar-pilar kebangsaan secara subtansi tidak bertentangan dengan ajaran luhur keislaman. Sebab itu, merawat keutuhan NKRI dengan antara lain memerangi ideologi transnasional harus digalakkan. “Kita harus menyiapkan generasi kita di masa depan agar negara ini tetap ada sampai hari Kiamat,” kata H Bunyamin. Pertemuan ini dihadiri oleh FSPP kabupaten Tangerang KH Hasbiyallah, FSPP Tangerang Selatan KH Muslihuddin, FSPP Kota Tangerang KH M Tabar, PCNU Tangsel KH Abbas Hurobby, Syuriyah PCNU Kota Tangerang KH Ma'mun, dan STISNU Nusantara Tangerang HM Qustulani. (Alhafiz K/Ardi)
Sumber NU Online

Hidupkan Resolusi Jihad Untuk Bangun NU Dan NKRI

Gasud.com, Aswaja NU - Penanaman jiwa kepahlawanan dalam diri pemuda sangat penting khususnya kepada mahasiswa sebagai agen perubahan. Jiwa kepahlawanan dalam diri NU didorong oleh semangat Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari. Karena itu, menghidupkan kembali semangat Resolusi Jihad sangat diperlukan untuk membangun NU dan NKRI. Demikian ditegaskan Menteri Pemuda dan Olah Raga H Imam Nahrawi yang berkesempatan hadir di acara Parade Seni dan Budaya STAINU Jakarta dan Bedah Buku Laskar Ulama-Santri dan Resolusi Jihad karya Zainul Milal Bizawie di Gedung II PBNU Jalan Taman Amir Hamzah No. 5, Jakarta, Senin, (10/11). “Keberadaan NU sangat penting untuk masa depan bangsa dan negara”, lanjut mantan Ketua PKC PMII Jawa Timur tahun 1997 ini.

Politisi PKB yang lahir di Bangkalan, Madura 41 tahun lalu ini juga menegaskan kembali, jika peran NU di masa lampau sangatlah besar dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. “Itulah yang saya katakan keberadaan NU sangat penting untuk negara ini,” ujar Imam. Sementara itu, bedah buku ini menghadirkan narasumber Zainul Milal Bizawie, Sosiolog UI, Dwi Winarno, dan Pembantu Ketua IV STAINU Jakarta Aris Adi Leksono. Mereka sepakat, ketokohan dan peran NU dalam mengawal NKRI harus terus dikembangkan dalam kehidupan Indonesia mendatang terutama di kalangan santri dan pelajar NU. Sebelumnya, para mahasiswa STAINU Jakarta menggelar Parade Seni dan Budaya Nusantara di Ruang Terbuka Hijau Taman Amir Hamzah Jakarta Pusat dengan memeragakan Tari Saman, Tari Kecak, Tari Cantik, Band Religi, Gambus, Nasyid, dan Pecak Silat NU Pagar Nusa. (Fathoni/Alhafiz K /Baskoro). Sumber NU Online

Dalil Syar'i wajibnya Ummat Islam Indonesia loyal terhadap konstitusi NKRI

Gasud.com, Aswaja Dan NKRI - Negara Indonesia, kita tahu, berbentuk republik dan berasaskan Pancasila. Bukan negara Islam yang berlandaskan syari’ah. Lantas, apa dasar syar’inya bahwa umat Islam di negeri ini mesti loyal terhadapnya? Mengapa mereka mesti ta’at terhadap konstitusi NKRI?
Pertanyaan di atas menjadi relevan buat kita, mengingat akhir-akhir ini muncul dua macam gejala yang muaranya memposisikan NKRI seakan nasibnya sedang di ujung tanduk. Gejala pertama adalah maraknya kekerasan dan diskrimnasi terhadap minoritas atas nama Islam. Yang kedua, adanya sebagian kalangan Islam yang memvonis NKRI sebagai kafir dan thoghut, dan wajib diganti dengan negara syari’ah.

Untuk mengurai pokok masalahnya, ijinkan saya mengutip Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dalam artikelnya “NU dan Negara Islam,” Gus Dur menolak ide negara Islam karena hal itu memberangus heterogenitas Indonesia. Ia juga memaparkan bahwa sikap NU yang menerima keabsahan NKRI bersandar pada keputusan Muktamar NU tahun1935 di Banjarmasin bahwa kawasan Hindia Belanda wajib dipertahankan secara agama. Alasannya: kaum muslim bisa bebas menjalankan ajaran Islam. Selain itu, di kawasan itu dahulu sudah ada Kerajaan Islam. Atas dasar itulah NU menyatakan komitmennya kepada republik kita, yang berdasarkan Pancasila dan bukan Islam. Ini ditunjukkan, misalnya, dengan Resolusi Jihad mempertahankan republik yang dikeluarkan PBNU pada 22 Oktober 1945. Yang menarik, muktamar NU 1935 tidak langsung mencap Hindia Belanda sebagai kawasan kafir (darul kufr) hanya karena ayat: “Barang siapa tidak berhukum dengan aturan yang diturunkan Allah, maka mereka adalah orang-orang kafir” Rupanya ulama NU menyadari bahwa status hukum segala sesuatu tidak bisa ditentukan hanya dengan semata-mata memetik teks agama (nash) begitu saja. Konteks (al-waqi’) juga mesti diperhitungkan.
Kesadaran tentang konteks inilah yang mesti kita perhitungkan untuk menilai status hukum NKRI dari sudut pandang syari’ah, dan kenapa umat Islam wajib loyal kepadanya. Ini berrarti, kita mesti tahu dulu apa sejatinya makna kata “republik” yang dilekatkan pada “Indonesia.” Sederhananya, republik adalah tatanan politik di mana negara menjadi urusan publik (res publica). Publik di sini menjadi sumber legitimasi politik, tapi sekaligus menjadi tujuannya. Karena itu, sistem republik seringkali dilawankan dengan monarki yang berbasis kekuasaan personal sang raja. Juga dipertantangkan juga dengan negara jajahan yang berbasis pada kuasa kolonial. Dalam artinya yang mendasar, republik adalah sistem yang menjamin setiap warga negara terbebas dari dominasi, yang tak lain adalah kekuasaan sewenang-wenang dari pihak luar diri sang warga tadi, entah itu dominasi dari individu yang lain, negara atau kelompok masyarakat.
Dengan demikian, pemerintahan republik, mengutip Muhammad Hatta dalam traktatnya Ke Arah Indonesia Merdeka (1932), “senantiasa takluk dengan kemauan rakyat.” Artinya, aturan yang mengatur rakyat ditentukan sendiri oleh mereka. Dalam republik, yang berlaku adalah kedaulatan rakyat, yang didefinisikan oleh Hatta begini: “Rakyat itu daulat alias raja bagi dirinya sendiri. Tidak lagi orang seorang atau satu golongan kecil saja yang memutuskan nasib bangsa, melainkan rakyat sendiri. “ Dengan kata lain, inti dari republik adalah kemauan rakyat yang berkehendak untuk bebas dari dominasi apapun. Artinya, pemerintahan yang memimpin mereka dan hukum yang mengatur mereka mesti berdasar pada persetujuan, kesepakatan atau perjanjian di antara mereka sendiri. Secara kelembagaan, hal ini diwujukan melalui demokrasi, di mana rakyat memerintah dirinya sendiri (self-rule). Dan perjanjian yang berlangsung antara pihak muslim dan non muslim untuk menentang kekeuasaan yang sewenang-wenang berifat mengikat, sebagaimana kontrak antara pihak muslim dengan muslim lain. Berdasarkan paparan di atas, anggapan bahwa NKRI adalah sistem kafir yang haram untuk ditaati dengan telak bisa dirontokkan berdasar argumen berikut:

Pertama, sebagaimana dinyatakan Gus Dur dalam artikelnya, NKRI memang bukan negara Islam. Akan tetapi tidak berarti bahwa hukum Islam tidak ditegakkan di situ. Buktinya masyarakat muslim bisa dengan bebas menjalankan ajaran Islam tanpa melalui tangan negara. Mengutip Gus Dur, “mendirikan negara Islam tidak wajib bagi kaum muslimin, tapi mendirikan masyarakat yang berpegang pada ajaran Islam adalah sesuatu yang wajib.” Dengan kata lain, dalam kerangka sistem republik, kaum muslim tetap mendapatkan keleluasaan untuk menerapkan syari’ah. Namun, penerapannya berlangsung secara sukarela dan atas kesadaran sendiri, bukan melalui paksaan dari negara. Ini tentunya sejalan dengan prinsip republik yang anti terhadap dominasi dalam berbagai bentuknya.

Kedua, tuduhan bahwa NKRI identik dengan kekafiran mencerminkan kegagalan memahami hakekat tatanan republik, yakni sebagai negara perjanjian atau kesepakatan antar pelbagai elemen bangsa demi melawan dominasi dalam berbagai bentuknya. Pada titik ini, ada baiknya saya kutipkan keputusan Tanwir Muhammadiyah tentang NKRI pada Juni lalu di Bandung. Menurut Muhammadiyah, Indonesia yang berdasar Pancasila merupakan negara perjanjian atau kesepakatan (Darul ‘Ahdi), negara kesaksian atau pembuktian (Darus Syahadah), dan negara yang aman dan damai (Darussalam).

Keputusan Tanwir tersebut diperkuat dengan pernyataan Din Syamsuddin bahwa komitmen terhadap Pancasila adalah manifestasi komitmen untuk menepati janji, sesuatu yang diperintahkan dalam Islam. Pendapat ketua PP Muhammadiyah ini layak untuk dicatat karena sejumlah ayat dalam Al-Qur’an memang memerintahkan kaum muslim untuk mematuhi kontrak (‘ahd, mitsaq, atau ‘aqd) yang telah mereka sepakati. Simaklah misalnya QS: 2:177, 16:91, dan 17:34. Ketentuan ini tentu saja bukan hanya berlaku pada wilayah ekonomi semata, melainkan juga politik. Ketiga, taruhlah benar bahwa NKRI adalah negara kafir. Lalu Apa konsekuensinya bagi warga negara Indonesia yang muslim? Di Indonesia, kaum muslim mendapatkan jaminan keamanan penuh serta bebas menjalankan agamnya. Ini berarti, NKRI bukanlah Darul Harbi yang mesti diubah menjadi Darul Islam. Dari sudut pandang hukum Islam, orang Islam yang tinggal dan menjadi warga negara di negara kafir yang tidak memerangi umat Islam (non-harbi) sesungguhya terikat kontrak dengan negara tersebut. Dan patut diingat, kontrak dengan pihak non muslim punya kekuatan mengikat juga. Dengan begitu, jika ia melanggar konstitusi negara tersebut, apalagi berupaya menggantinya dengan yang lain, maka ia sesunggunya menjadi pengkhianat kontrak.

Ibnu Qudamah, ulama dari mazhab Hanbali, menulis dalam Al Mughni: “Muslim yang tinggal di negara kaum kafir dalam keadaan aman haruslah mematuhi kontraknya terhadap negara tersebut, karena mereka memberikan jaminan keamanan semata-mata karena adanya kontrak bahwa si muslim tidak akan berkhianat. Ketahuilah, pengkhianatan terhadap kontrak (ghadr) adalah tindakan yang dilarang dalam Islam. Nabi bersabda: “Al muslimun ‘inda syuruthihim“: kaum Muslim terikat dengan perjanjian yang telah mereka sepakati.” Senada dengan pendapat Ibnu Qudamah, Imam Al-Sarakhsi, ulama penganut mazhab Hanafi, menyatakan dalam Kitab Al Mabsuth: “Sunnguh tercela bagi seorang muslim yang memohon keamanan dari (negara kafir) berdasarkan perjanjian, tapi lalu menngkhianatinya. Rasul berkata: “Sesiapa mengkhianati suatu kesepakatan, maka pada hari kiamat nanti anusnya akan ditancapi bendera sehingga perbuatan khianatnya akan ketahuan secara terbuka.” Hadits di atas kiranya cukup untuk menegaskan bahwa orang Islam yang menjadi warga negara Indonesia wajib mematuhi kesepakatan mereka terhadap republik. Kewajiban ini tetap berlaku bahkan bagi mereka yang menganggap NKRI sebagai sistem kafir, tapi pada saat yang sama tak juga melepaskan kewarganegaraannya. Padahal NKRI bukanlah negara kafir. Kaum muslim tentunya dituntut untuk dengan sepenuh hati memenuhi kesepakatan mereka dengan republik.
Mungkin karena tahu akan kerasnya kecaman Nabi terhadap pengkhianatan terhadap suatu kesepakatan (ghadr), maka Gus Dur tak henti-hentinya menyerukan kaum muslim Indonesia untuk memegang teguh komitmen mereka terhadap NKRI.

Di kutip dari tulisannya Ahmad Sahal

Akibat Karena Cemburu yang Berlebihan

Gasud.com, Cemburu...... suatu kata yang tidak asing lagi dikalangan para remaja bahkan orang ang sudah lanjut usia sekalipun. Tapi tunggu dulu sobat......, jangan terlalu cemburu ang berlebihan terhadap pasangan anada karena hal itu akan bereffek kurang bagus terutama bagi diri anda sendiri. Cemburu merupakan sebuah sikap yang wajar pada sebuah hubungan. Rasa takut kehilangan menjadi alasan dasar mengapa seseorang menjadi cemburu. Sebenarnya tak ada yang salah bila kita cemburu kepada pacar Anda. Akan tetapi bila cemburu terlalu berlebihan malah akan menjadi masalah bagi hubungan Anda. Banyak dampak yang ditimbulkan bila terlalu berlebihan cemburu. Dampak tersebut diantaranya adalah seperti berikut ini, seperti dilansir dari Your Tango :

Buruk buat fisik 
Cemburu membuat Anda stres. Semakin lama stres, tekanan darah akan meningkat, sakit punggung, gangguan pencernaan, dan banyak lagi penyakit yang mengancam kesehatan.

Buruk buat mental 
Terlalu sering cemburu juga buruk buat kesehatan mental. Misalnya depresi, sulit konsentrasi, perubahan suasana hati, cemas, dan insomnia.

Merusak kepercayaan
Biasanya Anda sangat percaya pada pasangan. Namun gara-gara cemburu, kepercayaan tersebut pun rusak. Anda pun akan selalu curiga pada pasangan.

Ragu pada diri sendiri
Selain ragu pada pasangan, Anda juga akan merasakan hal yang sama pada pasangan. Karena segala pemikiran dan keputusan dibutakan oleh perasaan cemburu yang tidak menguntungkan.

Salah persepsi
Percakapan ringan bersama pasangan terkadang juga bisa menjadi buruk karena Anda mengartikannya dengan salah. Persepsi yang ambigu itu tidak lain disebabkan oleh cemburu berlebihan.

Membuka luka lama
Rasa cemburu terkadang mampu membuka luka lama ketika Anda pernah disakiti atau dikecewakan. Sehingga Anda takut hal itu akan terulang dengan pasangan yang sekarang.

Memunculkan permasalahan kembali
Masalah yang sudah selesai sebaiknya tidak diungkit-ungkit lagi. Tetapi jika Anda cemburu, ada kecenderungan dalam diri untuk memunculkan permasalahan tersebut kembali.

Merasa terancam
Jangan terlalu cemburu jika tidak ingin merasa terancam. Misalnya saja merasa orang lain lebih baik dari Anda sehingga pasangan suatu saat akan meninggalkan Anda.

Wejangan - Ojo Dumeh

Gasud.com, Wejangan pagi ini yaitu :

Aja Dumeh (Jangan Mentang Mentang, Jangan Sombong)

Seluruh kesulitan manusia jika ditilik lahir karena sifat dumeh (mentang mentang dan sombong)

Aja dumeh sugih tumindake lali karo sing ringkih ( jangan mentang –mentang kaya lalu tingkah perbuatanya tidak mengingat kepada yang lemah ekonominya)

Aja dumeh ayu lan gagah tumindake sarwa gegabah (jangan mentang -mentang cantik dan gagah lalu tindakanya serba gegabah )

Aja Dumeh Kuwasa, Tumindake daksura lan daksia marang sapada-pada, ( janganlah mentang -mentang sedang berkuasa, segala tindak-tanduknya pongah dan congkak serta sewenang -wenang terhadap sesamanya).

Aja dumeh pinter tumindake keblinger ( janganlah mentang- mentang diakui pintar lalu kebijaksanaanya menyimpang dari aturan yang seharusnya).

Selamat pagi sedulur Gasud.com dimanapun berada, selamat pagi dan selamat beraktifitas. Cerahnya cuaca Ponorogo pagi ini semoga secerah hati kita. Awali hari dengan doa, mari bekerja keras demi masa depan yang lebih baik.

Copas Setenpo (Semua Tentang Ponorogo)

Ciri Ciri Orang Yang mencintaimu Dengan Tulus

Cinta, suatu kata yang mudah diucapkan akan tetapi banyak sekali orang yang menyalahgunakan cinta itu sendiri. Untuk itu alangkah baiknya kita juga mengetahui ciri ciri seseorang yang mencintai kita, tentu saja ciri ciri dari sikap dia ke kita. OK lah kalau begitu langsung saja simak yang berikut ini
1. Orang yang mencintai kamu tidak pernah mampu memberikan alasan kenapa dia mencintai kamu. Yang dia tahu di hati dan matanya hanya ada kamu satu-satunya.
2. Walaupun kamu sudah memiliki teman istimewa atau kekasih, dia tidak perduli! Baginya yang penting kamu bahagia dan kamu tetap menjadi impiannya.
3. Orang yang mencintai kamu selalu menerima kamu apa adanya, di hati dan matanya kamu selalu yang tercantik walaupun mungkin kamu merasa berat badan kamu sudah bertambah.
4. Orang yang mencintai kamu selalu ingin tau tentang apa saja yang kamu lalui sepanjang hari ini, dia ingin tau kegiatan kamu.
5. Orang yang mencintai kamu akan mengirimkan SMS seperti ’selamat pagi’, ’have fun’, ’selamat tidur’, ‘take care’, dan lain-lain, walaupun kamu tidak membalas SMS-nya, karena dengan kiriman SMS itu lah dia menyatakan cintanya, menyatakan dengan cara yang berbeda, bukan “aku CINTA padamu”.
6. Jika kamu merayakan tahun baru dan kamu tidak mengundangnya ke pesta yang kamu adakan, setidak-tidaknya dia akan menelefon untuk mengucapkan selamat atau mengirim SMS.
7. Orang yang mencintai kamu akan selalu mengingat setiap kejadian yang dia lalui bersama kamu, bahkan mungkin kejadian yang kamu sendiri sudah melupakannya, karena saat-saat itu ialah saat yang berharga untuknya. dan saat itu, matanya pasti berkaca. karena saat bersamamu tidak selalu terulang.
8. Orang yang mencintai kamu selalu mengingat setiap kata-kata yang kamu ucapkan, bahkan mungkin kata-kata yang kamu sendiri lupa pernah mengungkapkannya. karena dia menyematkan kata-kata mu di hatinya, berapa banyak kata-kata penuh harapan yang kau tuturkan padanya, dan akhirnya kau musnahkan? pasti kau lupa, tetapi bukan orang yang mencintai kamu.
9. Orang yang mencintai kamu akan belajar menggemari lagu-lagu kegemaran kamu, bahkan mungkin meminjam CD milik kamu, karena dia ingin tahu apa kgemaran kamu – kesukaan kamu kesukaannya juga, walaupun susah menggemari kesukaan kamu, tapi akhirnya dia bisa.
10. Kalau kali terakhir kalian bertemu, kamu mungkin sedang sakit, dia akan sentiasa mengirim SMS atau menelefon untuk bertanya keadaan kamu – karena dia khawatir tentang kamu, peduli tentang kamu.
11. Jika kamu mengatakan akan menghadapi ujian, dia akan menanyakan kapan ujian itu berlangsung, dan saat harinya tiba dia akan mengirimkan SMS ‘good luck’ untuk memberi semangat kepada kamu.
12. Orang yang mencintai kamu akan memberikan suatu barang miliknya yang mungkin buat kamu itu ialah sesuatu yang biasa, tetapi baginya barang itu sangat istimewa.
13. Orang yang mencintai kamu akan terdiam sesaat, ketika sedang bercakap di telefon dengan kamu, sehingga kamu menjadi bingung. Sebenarnya saat itu dia merasa sangat gugup karena kamu telah menggetarkan dunianya.
14. Orang yang mencintai kamu selalu ingin berada di dekat kamu dan ingin menghabiskan hari-harinya hanya dengan kamu.
15. Jika suatu saat kamu harus pindah ke daerah lain, dia akan senantiasa memberikan nasihat agar kamu waspada dengan lingkungan yang mungkin membawa pengaruh buruk terhadap kamu. dan jauh dihatinya dia benar-benar takut kehilangan kamu, pernah dengar ‘jauh dimata, dekat dihati?’
16. Orang yang mencintai kamu bertindak lebih seperti saudara daripada seperti seorang kekasih.
17. Orang yang mencintai kamu sering melakukan hal-hal yang bikin BETE, seperti menelefon kamu 100 kali sehari. Atau mengejutkan kamu di tengah malam dengan mengirim SMS. Sebenarnya ketika itu dia sedang memikirkan kamu.
18. Orang yang mencintai kamu kadang-kadang merindukan kamu dan melakukan hal-hal yang membuat kamu pening. Namun ketika kamu mengatakan tindakannya itu membuat kamu terganggu dia akan minta maaf dan tak akan melakukannya lagi.
19. Jika kamu memintanya untuk mengajarimu sesuatu maka ia akan mengajarimu dgn sabar walaupun kamu mungkin orang yang terbodoh di dunia!. bahkan dia begitu gembira karena dapat membantu kamu. dia tidak pernah mengelak dari memenuhi permintaan kamu walau sesulit apapun permintaan itu.
20. Kalau kamu melihat handphone-nya maka nama kamu akan menghiasi sebagian besar INBOX-nya. Dia masih menyimpan SMS-SMS dari kamu walaupun ia kamu kirim berbulan-bulan atau bertahun-tahun yang lalu. Dia juga menyimpan surat-surat kamu di tempat khas dan segala pemberian kamu menjadi benda-benda yang berharga buatnya.
21. Dan jika kamu coba menjauhkan diri darinya atau memberi reaksi menolaknya, dia akan menyadarinya dan menghilang dari kehidupan kamu, walaupun hal itu membunuh hatinya.
22. Jika suatu saat kamu merindukannya dan ingin memberinya kesempatan dia akan ada menunggu kamu karena sebenarnya dia tak pernah mencari orang lain. Dia sentiasa menunggu kamu.
23. Orang yang begitu mencintaimu, tidak pernah memaksa kamu memberinya sebab dan alasan, walaupun hatinya meronta ingin mengetahui, karena dia tidak mau kamu terbebani karenanya. saat kau pinta dia pergi, dia pergi tanpa menyalahkan kamu, karena dia benar-benar mengerti apa itu cinta

Tugas Kaum Cerdik Cendekia - Membaca Sejarah


Gasud.com, Kaum cerdik Cendikia, mereka adalah kelas ‘elite intelektual’ pada masanya. Seperti telah lazim kita ketahui mereka adalah orang-orang cerdas dan ‘pioneer peradaban’ sebuah bangsa. Kita mengenal Mpu Tantular dan Mpu lain di zaman majapahit --dengan kitab Sotasoma dan Negara-kertagama--, beberapa diantara wali songo di zaman Demak Bintoro, Pajang sampai Mataram Islam atau Raden Ngabehi Ronggo Warsito Kasultanan Surakarta. Ada yang unik bagi kalangan kelas terdidik ini. Mereka selalu menjadi bagian dari keluarga kerajaan, dan tidak aneh kemudian muncul sebutan bagi kaum terdidik ini sebagai ‘intelektual Istana’. Ini dapat dipahami, mengapa? tidak pernah muncul intelektual dari kalangan rakyat jelata. Yang muncul sebagai wakil rakyat jelata dalam cerita-cerita hanya para pendekar seperti Jaka Tarub. Hampir – hampir tidak ada yang bisa menolak dalam sejarah kita, kaum terdidik dan intelektual merupakan milik sekitar istana. Pendidikan hanya milik elite, kaum terdidik pun dilahirkan untuk memenuhi kebutuhan penguasa. Ini satu dimensi. Pada dimensi lain, ajaran-ajaran para Mpu, Resi dan intelektual istana yang lain inilah yang mempunyai kekuatan otoritatif. Maksudnya jadi semacam ‘kurikulum baku’, yang harus di lakukan dalam praktik sosial kekuasaan maupun bagi mereka rakyat jelata. Benarkah para intelektual ini tak berpihak (netral) sama sekali? Jelas tidak mungkin. Setiap hari mereka kerja,  makan, fasilitas lain di sediakan juragan. Tentu mereka harus nderek juragan, bila tidak ingin di pecat. Dan hampir tidak ada kaum terdidik/produk pendidikan ala-kerajaan menghasilkan perombak tatanan sosial, kecuali tidak lebih menjadi penakhluk atau hanya berebut kekuasaan. Selain menjadi babu yang nderek juragan. Dan dapat dipastikan merekalah penindas rakyat yang kelas sosial nya lebih rendah, memperbudak kaum sudra (para petani, buruh) dan rakyat jelata yang lain. Pesantren/padepokan (baik bidang militer, sastra, atau tabib/kedokteran) di zaman ini hampir dipastikan berada di sekitar pusat-pusat kekuasaan.[i] Dan para alumni dari pendidikan pada zaman ini, tentu akan menjadi punggawa kerajaan. Terkecuali mereka yang kalah oleh konspirasi politik di Istana, mereka kemudian membuat pusat-pusat kekuasaan baru yang aman, beserta institusi pendidikannya (padepokan/pesantren). Inilah yang menjadi cikal bakal pesantren yang ada sekarang, yang dulunya didirikan oleh para wali. Alumninya kemudian menyebar, dan membuat ruang-ruang pendidikan baru yang relatif terpisah dari kekuasaan, bahkan seringkali menjadi penantang kekuasaan dominan. Atau mereka yang kemudian mengembangkan pikiran-pikiran asketik, yang lari dari hiruk pikuk duniawi. 
Masa itu kemudian di lanjutkan oleh era kolonialisme. Bahkan, hampir-hampir produk kejayaan (yang positif) masa-masa kerajaan telah di hancurkan oleh penjajah. Di kalangan istana yang tersisa hanya keangkuhan para Adipati/Bupati yang menjadi anthek Belanda. Sedangkan kelompok kelas terdidik Istana, yang cenderung tidak suka oleh prilaku birokrat istana anthek Belanda, menyingkir dan membuat peradaban baru, dengan merintis pesantren-pesantren baru.
Tiga abad pertama penjajahan, belanda hampir-hampir tidak mau tahu terhadap pengembangan kehidupan bangsa secara umum. Mereka hanya berusaha supaya sumberdaya alam di negeri ini dapat dikuras sebanyak-banyaknya dan di bawa ke negeri-nya. Ada dua jenis pendidikan yang ada waktu itu, pendidikan modern ala barat, untuk anak-anak Eropa. Pribumi sama sekali tidak ada yang mendapatkan fasilitas ini. Sedangkan pendidikan pribumi terkonsentrasi di Pesantren, yang banyak mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan dan kedigdayaan. Hampir dapat dipastikan pusat-pusat perlawanan terhadap penjajah masa itu terpusat di pesantren, seperti Tegalrejo, tempat Diponegoro. Setelah semua perlawanan dapat di-takhlukkan pada saat yang sama pula para pelarian perang menyebar keseluruh pedalaman Jawa ini.
Sementara itu di akhir abad XIX (atau akhir 1800-an) terjadi perubahan politik dinegeri Belanda. Kalangan liberal yang didominasi para penguasaha menguasai pemerintahan Belanda. Kemudian munculah sebuah kebijakan yang di sebut dengan Politik Balas Budi atau lazim di sebut Politik Etis (Etische Politics). Kebijakan ini, disebut para elite negeri Belanda sebagai upaya, membalas budi baik bangsa Hindia (Indonesia), atas kekayaan yang diberikan terhadap Belanda. Isi dari politik ini ada tiga hal: Edukasi (pendidikan), Irigasi (pengairan) dan Migrasi (perpindahan penduduk) semua di peruntukkan untuk pribumi. 
Kebijakan ini tak lain, adalah akibat semakin melemahnya dominasi birokrasi belanda di bawah para pengusaha (pemilik modal) Belanda. Dan dapat dipastikan, kebijakan ini tak lain adalah demi kepentingan mereka, kaum pemilik modal Belanda. Sebagai contoh di bidang pendidikan, sekolah-sekolah yang di dirikan di orientasikan hanya mencetak kaum pribumi yang melek baca tulis, dan dapat di pekerjakan di perusahaan dan perkebunan Hindia Belanda. Dan inipun hanya dapat dinikmati segelintir anak-anak priyayi pribumi, para wedono dan bupati ke atas. 
Selain itu terdapat kebijakan kependudukan yang membagi warga bangsa ini menjadi beberapa kelas. Kelas tertinggi adalah Belanda dan eropa, kelas kedua adalah untuk Cina, Aarab dan bangsa timur lain dan kelas terendah yakni untuk kaum pribumi. Karena itu muncullah sekolah khusus untuk kaum Eropa di tingkat menengah (yakni HBS, dan ELS)[ii]. Ada juga sekolah China, dan terakhir sekolah untuk pribumi yang lazim disebut sekolah Ongko Loro (ongko  2). Inilah yang menjadi cikal bakal sentimen etnis yang sampai kini masih terekam kuat dikepala kita.[iii] Satu-satunya perguruan tinggi yang diperuntukkan bagi pribumi hanyalah Sekolah Dokter (Stovia), dan Teknik (THS Bandung-sekarang ITB) dan Sekolah Hukum di Bandung. Memang dari sekolah-sekolah ini lahir para pembaharu, dan pejuang pergerakan. Tapi mayoritas lulusannya, memang di peruntukkan dan dipekerjakan demi kepentingan perusahaan hindia Belanda dan kelas berpunya. Hal ini tentu tidak bisa di pisahkan dari paham, pola dan orientasi liberalis, dengan politik etisnya, yakni untuk mencetak ‘kaum pekerja profesional’ para ‘kuli berdasi’ . Kelas sosial ini kemudian melahirkan para birokrat, pengusaha yang watak dan karakternya di wariskan kepada profesional dan birokrat masa kini. Merasa lebih terhormat dari warga lain, suka menjilat pantat atasan, suka dilayani, sok kuasa  dan sederet sikap lainnyaSementara pada masa ini ormas-ormas berdiri bak jamur, berlomba mendirikan sekolah dengan model clasical ini seperti Taman Siswa, Muhammadiyah. Dan relatif hanya NU yang tetap setia pada sistem pendidikan ‘ala pesantren. Jadi jangan heran, anda yang pernah mondok di pesantren selalu akan di olok-olok jorok, kolot, kampungan, sarungan, bakiak-an, stereotype kelompok tradisional yang vis a vis kebudayaan modern. Karena memang pesantren-lah pendidikan alternatif, diluar pola pendidikan yang diterapkan kaum kolonial. Yang tidak mencetak para calon ‘kuli-berdasi dan profesional gaya penjajah belanda’. Hanya saja memang pesantren belum mampu beranjak dari feodalisme gaya kerajaan, wajar pesantren kemudian mirip dengan kerajaan kecil.
Masa kini, tidak lain adalah detik lanjut dari masa  lalu. Gaya, konstruksi alam sadar kita merupakan warisan masa lalu. Orde Lama, Orde Baru dan kini Orde Reformasi hanya sekedar nama era politis, hampir – hampir tanpa perubahan mental berarti, termasuk pada diri kita kelas terdidik. Itulah kita



Globalisasi: Membaca Kemungkinan


Globalisasi yang hampir tidak lain adalah proses hilangnya batas-batas geografis akibat perkembangan tekhnologi informasi, transportasi dan komunikasi. Namun tidak bisa dikatakan bahwa globalisasi adalah kebutuhan alamiah (natural) manusia, atau sebentuk keniscayaan. Globalisasi bagaimanapun hanya akan menguntungkan mereka yang menguasai tiga pilar diatas. Dan dapat dipastikan akibat proses ini adalah proses marginalisasi (peminggiran) individu, komunitas masyarakat atau bahkan suatu bangsa akibat mereka tidak menguasai pilar inti globalisasi.

Lewat hegemoni globalisasi, tersebut banyak orang menderita amnesia kolektif, mereka lupa akan dosa-dosa kapitalisme sebagai cikal bakal globalisasi. Kapitalisme mutakhir bukan saja telah menghilangkan hambatan-hambatan perdagangan (seperti proteksi, subsidi) di tingkat nasional untuk melempangkan jalan kapital. Kapitalisme muthakir juga menghilangkan batas-batas etis maupun ekologis pada perdagangan. Ketika segala sesuatu bisa di perdagangkan, maka apapun-baik itu seni budaya, sel, gen, tumbuhan, benih, pengetahuan, air, bahkan polusipun-bisa di perjual belikan. Dan tidak disadari hampir semua negeri di bumi mau tidak mau terjebak dalam kondisi semacam ini. 

Sebuah keniscayaan, mereka yang dijauhi instrumen globalisasi akan mendapatkan kenyataan bahwa dirinya semakin berjarak dengan akses sosial ekonomi global. Dalam konteks seperti inilah segala bentuk marginalisasi muncul. Petani Gunung Kidul tetaplah miskin, walaupun produk singkongnya telah mendunia melalui industri makanan instan seperti Indofood, anjloknya saham perusahaan sepatu Nike di bursa saham Wallstreet langsung berdampak pada PHK ribuan orang di Majalengka. Begitu juga banyaknya Buruh Migran (TKI) dari Ponorogo.  Globalisasi adalah jargon, sekaligus kenyataan yang sedang menjadi. Ada yang menjadi kaya raya, sementara yang lain miskin papa.
Dalam kondisi seperti itu, mahasiswa dan kaum cerdik cendikia tentu harus sadar diri akan tugas dan keberpihakannya. Sebagai intelektual kelas menengah, yang mengkoleksi segudang teori tentu tidak membuat kita berdiri diatas menara gading peradaban. Antonio Gramsci, menegaskan sebuah konsep tugas dan tanggung jawab kaum terdidik, yakni : intelektual Organik. Keilmuannya dibangun dari basis persoalan yang dihadapi kaum marginal disekitar mereka, hidup dan menyerahkan hari-harinya mengangani problem kaum marginal, sementara mereka tetaplah seorang intelektual dengan segudang ilmu. Bila sorang filsuf tentu bukan sekedar penafsir dunia tetapi mampu melakukan tugas perubahan atas dunia.




[i] Abdul Hadi WM, Islam Cakrawala Estetik dan Budaya, Jakarta: Pustaka Firdaus:2000, hal 100

[ii] E : Europe, H: Holland, sekolah dasar dan menengah zaman Hindia Belanda membeda-bedakan berdasarkan kewarga-negaraan (misalnya: Sekolah rakjat untuk Pribumi, HIS dan ELS untuk keturunan Eropa) begitu juga bagi warga keturunan China (lih. Pramudya Ananta Toer, Novel “ Jejak Langkah”, Jakarta: Hasta Mitra, 2003, hal. 46  


[iii] Bahwa mereka (Eropa, China, Arab) kita anggap lebih superior, dan lebih segalanya. Konflik berdarah tahun 1744, 1924, 1998 terhadap etnis China adalah contohnya.

Pemuda Arab Yang Menimba Ilmu Di Amerika - Kisah Nyata

Ada seorang pemuda arab yang baru saja menyelesaikan bangku kuliahnya di Amerika. Pemuda ini adalah salah seorang yang diberi nikmat oleh Allah SWT  berupa pendidikan agama Islam bahkan ia mampu mendalaminya. Selain belajar, ia juga seorang juru dakwah Islam. Ketika berada di Amerika, ia berkenalan dengan salah seorang Nasrani. Hubungan mereka semakin akrab, dengan harapan semoga Allah SWT memberinya hidayah masuk Islam.

Pada suatu hari mereka berdua berjalan-jalan di sebuah perkampungan di Amerika dan melintas di dekat sebuah gereja yang terdapat di kampung tersebut. Temannya itu meminta agar ia turut masuk ke dalam gereja. Semula ia berkeberatan. Namun karena ia terus mendesak akhirnya pemuda itupun memenuhi permintaannya lalu ikut masuk ke dalam gereja dan duduk di salah satu bangku dengan hening, sebagaimana kebiasaan mereka. Ketika pendeta masuk, mereka serentak berdiri untuk memberikan penghormatan lantas kembali duduk.
Di saat itu si pendeta agak terbelalak ketika melihat kepada para hadirin dan berkata, “Di tengah kita ada seorang muslim. Aku harap ia keluar dari sini.” Pemuda arab itu tidak bergeming dari tempatnya. Pendeta tersebut mengucapkan perkataan itu berkali-kali, namun ia tetap tidak bergeming dari tempatnya. Hingga akhirnya pendeta itu berkata, “Aku minta ia keluar dari sini dan aku menjamin keselamatannya.” Barulah pemuda ini beranjak keluar.
Di ambang pintu ia bertanya kepada sang pendeta, “Bagaimana anda tahu bahwa saya seorang muslim.” Pendeta itu menjawab, “Dari tanda yang terdapat di wajahmu.” Kemudian ia beranjak hendak keluar. Namun sang pendeta ingin memanfaatkan keberadaan pemuda ini, yaitu dengan mengajukan beberapa pertanyaan, tujuannya untuk memojokkan pemuda tersebut dan sekaligus mengokohkan markasnya. Pemuda muslim itupun menerima tantangan debat tersebut.
Sang pendeta berkata, “Aku akan mengajukan kepada anda 22 pertanyaan dan anda harus menjawabnya dengan tepat.”
Si pemuda tersenyum dan berkata, “Silahkan!
Sang pendeta pun mulai bertanya, “Sebutkan satu yang tiada duanya, dua yang tiada tiganya, tiga yang tiada empatnya, empat yang tiada limanya, lima yang tiada enamnya, enam yang tiada tujuhnya, tujuh yang tiada delapannya, delapan yang tiada sembilannya, sembilan yang tiada sepuluhnya, sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh, sebelas yang tiada dua belasnya, dua belas yang tiada tiga belasnya, tiga belas yang tiada empat belasnya. Sebutkan sesuatu yang dapat bernafas namun tidak mempunyai ruh! Apa yang dimaksud dengan kuburan berjalan membawa isinya? Siapakah yang berdusta namun masuk ke dalam surga? Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah SWT namun Dia tidak menyukainya? Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah SWT dengan tanpa ayah dan ibu! Siapakah yang tercipta dari api, siapakah yang diadzab dengan api dan siapakah yang terpelihara dari api? Siapakah yang tercipta dari batu, siapakah yang diadzab dengan batu dan siapakah yang terpelihara dari batu? Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah SWT dan dianggap besar! Pohon apakah yang mempunyai 12 ranting, setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah naungan dan dua di bawah sinaran matahari?”
.
Mendengar pertanyaan tersebut pemuda itu tersenyum dengan senyuman mengandung keyakinan kepada Allah SWT,Setelah membaca basmalah ia berkata,
  • Satu yang tiada duanya ialah Allah SWT.
  • Dua yang tiada tiganya ialah malam dan siang. Allah SWT swt SWT berfirman, “Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran kami).” (Al-Isra’: 12).
  • Tiga yang tiada empatnya adalah kekhilafan yang dilakukan Nabi Musa ketika Khidir menenggelamkan sampan, membunuh seorang anak kecil dan ketika menegakkan kembali dinding yang hampir roboh.
  • Empat yang tiada limanya adalah Taurat, Injil, Zabur dan al-Qur’an.
  • Lima yang tiada enamnya ialah shalat lima waktu.
  • Enam yang tiada tujuhnya ialah jumlah hari ketika Allah SWT  menciptakan makhluk.
  • Tujuh yang tiada delapannya ialah langit yang tujuh lapis. Allah SWT  berfirman, “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang.” (Al-Mulk: 3).
  • Delapan yang tiada sembilannya ialah malaikat pemikul Arsy ar-Rahman. Allah SWT berfirman, ”Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung ‘Arsy Rabbmu di atas (kepala) mereka.” (Al-Haqah: 17).
  • Sembilan yang tiada sepuluhnya adalah mu’jizat yang diberikan kepada Nabi Musa a.s yaitu tongkat, tangan yang bercahaya, angin topan, musim paceklik, katak, darah, kutu dan belalang.*
  • Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh ialah kebaikan. Allah SWT  berfirman, “Barangsiapa yang berbuat kebaikan maka untuknya sepuluh kali lipat.” (Al-An’am: 160).
  • Sebelas yang tiada dua belasnya ialah jumlah saudara-saudara Yusuf a.s
  • Dua belas yang tiada tiga belasnya ialah mu’jizat Nabi Musa a.s yang terdapat dalam firman Allah SWT swt, “Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, ‘Pukullah batu itu dengan tongkatmu.’ Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air.” (Al-Baqarah: 60).
  • Tiga belas yang tiada empat belasnya ialah jumlah saudara Yusuf ditambah dengan ayah dan ibunya.
  • Adapun sesuatu yang bernafas namun tidak mempunyai ruh adalah waktu Shubuh. Allah SWT ber-firman, “Dan waktu subuh apabila fajarnya mulai menyingsing.” (At-Takwir: 18).
  • Kuburan yang membawa isinya adalah ikan yang menelan Nabi Yunus AS.
  • Mereka yang berdusta namun masuk ke dalam surga adalah saudara-saudara Yusuf a.s yakni ketika mereka berkata kepada ayahnya, “Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala.” Setelah kedustaan terungkap, Yusuf berkata kepada mereka, ” tak ada cercaaan terhadap kalian.” Dan ayah mereka Ya’qub berkata, “Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
  • Sesuatu yang diciptakan Allah SWT namun tidak Dia sukai adalah suara keledai. Allah SWT  berfirman, “Sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suara kele-dai.” (Luqman: 19).
  • Makhluk yang diciptakan Allah SWT swt tanpa bapak dan ibu adalah Nabi Adam, malaikat, unta Nabi Shalih dan kambing Nabi Ibrahim.
  • Makhluk yang diciptakan dari api adalah Iblis, yang diadzab dengan api ialah Abu Jahal dan yang terpelihara dari api adalah Nabi Ibrahim. Allah SWT swt SWT berfirman, “Wahai api dinginlah dan selamatkan Ibrahim.” (Al-Anbiya’: 69).
  • Makhluk yang terbuat dari batu adalah unta Nabi Shalih, yang diadzab dengan batu adalah tentara bergajah dan yang terpelihara dari batu adalah Ashhabul Kahfi (penghuni gua).
  • Sesuatu yang diciptakan Allah SWT dan dianggap perkara besar adalah tipu daya wanita, sebagaimana firman Allah SWT ”Sesungguhnya tipu daya kaum wanita itu sangatlah besar.” (Yusuf: 28).
  • Adapun pohon yang memiliki 12 ranting setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah teduhan dan 2 di bawah sinaran matahari maknanya: Pohon adalah tahun, ranting adalah bulan, daun adalah hari dan buahnya adalah shalat yang lima waktu, tiga dikerjakan di malam hari dan dua di siang hari.
Pendeta dan para hadirin merasa takjub mendengar jawaban pemuda muslim tersebut. Kemudian ia pamit dan beranjak hendak pergi. Namun ia mengurungkan niatnya dan meminta kepada pendeta agar menjawab satu pertanyaan saja. Permintaan ini disetujui oleh sang pendeta. Pemuda ini berkata, “Apakah kunci surga itu?” mendengar pertanyaan itu lidah sang pendeta menjadi kelu, hatinya diselimuti keraguan dan rona wajahnya pun berubah. Ia berusaha menyembunyikan kekhawatirannya, namun hasilnya nihil. Orang-orang yang hadir di gereja itu terus mendesaknya agar menjawab pertanyaan tersebut, namun ia berusaha mengelak.
Mereka berkata, “Anda telah melontarkan 22 pertanyaan kepadanya dan semuanya ia jawab, sementara ia hanya memberimu satu pertanyaan namun anda tidak mampu menjawabnya!” Pendeta tersebut berkata, “Sungguh aku mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut, namun aku takut kalian marah.” Mereka menjawab, “Kami akan jamin keselamatan anda.” Sang pendeta pun berkata, “Jawabannya ialah: “Asyhadu an La Ilaha IllAllah SWT  wa anna Muhammadar Rasulullah.”
Lantas sang pendeta dan orang-orang yang hadir di gereja itu memeluk agama Islam. Sungguh Allah SWT telah menganugrahkan kebaikan dan menjaga mereka dengan Islam melalui tangan seorang pemuda muslim yang bertakwa.
Untuk dapat mendengarkan radio ini anda harus menginstall flash player klik disini untuk download
Winamp Windows Media Player iTunes basicBerry Real One Android iPhone