Gadis Tunanetra Hafal Al Quran Sejak Usia 12 Tahun

Wengker.com, Ponorogo - Jamaah yang menghadiri pengajian Ustadz Yusuf Mansur di Masjid Agung Ponorogo 11/5/2016 kemarin tak dapat menahan haru saat seorang remaja Putri menunjukan hafalan al Qur’an nya yang telah mencapai 30 juz.

Hal yang menjadikanya istimewa adalah remaja ini tunanetra sejak kecil dan telah selesai menghafal saat usianya 12 tahun. Remaja putri tersebut adalah santri asuh Panti Tunanetra Aisiyah Ponorogo yang bernama “Ayu Fajar Lestari”  dan kini berusia 16 tahun.

Ingatan dan hafalan Ayu memang luar biasa.Ia bisa membacakan al-Qur’an meski di tes secara acak untuk membaca surat dan ayat tertentu.

Berkat kemampuanya yang luar biasa tersebut ayu dan sang nenek tercinta di beri hadiah umroh dengan biaya dari Bupati, Wakil Bupati Ponorogo dan Ustadz Yusuf Mansur.

Ayu berasal dari Kediri dan belajar menghafal al Qur’an melalui pendengaran lewat bacaan Qur’an neneknya. Hal ini karena mata kiri ayu tidak bisa melihat sedang mata kanan low vision (hanya dapat melihat bayangan).

Orang tua Ayu kemudian membawa Ayu ke kota Ponorogo yang memilik panti asuhan khusus tunanetra. Setelah mondok di Panti Asuhan Tunanetra Aisiyah Ponorogo, Ayu mendapat bimbingan membaca huruf Braile dan diberi Qur’an khusus oleh donatur sehingga ia semakin bersemangat menghafal al Qur’an.

Gadis Tunanetra Asal Ponorogo Ini Hafal Qur’an
Info & Foto: Siti Ruliyah.
sumber ponoragan.com

Roudloh Di Masjid Nabawi

Wengker.com, Religi - Masjid Nabawi adalah masjid kedua yang dibangun Nabi, masjid pertama dibangun Nabi saw adalah Masjid Quba yang terletak antara Makkah dan Madinah. Masjid Quba dibangun ketika Nabi saw menunggu Ali bin Abi Thalib yang hijrah belakangan. Lokasi Masjid Nabawi yang asli ditandai dengan tiang-tiang yang berbeda dengan tiang-tiang sebagian besar Masjid Nabawi saat ini, umumnya tiang-tiang masjid Nabawi terkesan antik, berbeda dan ber- arsitektur modern.
Luas Masjid Nabawi dan halamannya saat ini lebih kurang 8,2 HA dan mampu menampung sekitar 2.000.000 jamaah, total luas masjid saat ini diyakini merupakan luas kota Madinah dimasa Nabi saw.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membangun Masjid Nabawi pada bulan Raibul Awal di awal-awal hijarahnya ke Madinah. Pada saat itu panjang masjid adalah 70 hasta dan lebarnya 60 hasta atau panjangnya 35 m dan lebar 30 m. Kala itu Masjid Nabawi sangat sederhana, kita akan sulit membayangkan keadaannya apabila melihat bangunannya yang megah saat ini. Lantai masjid adalah tanah yang berbatu, atapnya pelepah kurma, dan terdapat tiga pintu, sementara sekarang sangat besar dan megah.
Area yang hendak dibangun Masjid Nabawi saat itu terdapat bangunan yang dimiliki oleh Bani Najjar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Bani Najjar, “Wahai Bani Najjar, berilah harga bangunan kalian ini?” Orang-orang Bani Najjar menjawab, “Tidak, demi Allah. Kami tidak akan meminta harga untuk bangunan ini kecuali hanya kepada Allah.” Bani Najjar dengan suka rela mewakafkan bangunan dan tanah mereka untuk pembangunan Masjid Nabawi dan mereka berharap pahala dari sisi Allah atas amalan mereka tersebut.
Anas bin Malik yang meriwayatkan hadits ini menuturkan, “Saat itu di area pembangunan terdapat kuburan orang-orang musyrik, puing-puing bangunan, dan pohon kurma. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk memindahkan mayat di makam tersebut, meratakan puing-puing, dan menebang pohon kurma.”
Pada tahun 7 H, jumlah umat Islam semakin banyak, dan masjid menjadi penuh, Nabi pun mengambil kebijakan memperluas Masjid Nabawi. Beliau tambahkan masing-masing 20 hasta untuk panjang dan lebar masjid. Utsman bin Affan adalah orang yang menanggung biaya pembebasan tanah untuk perluasan masjid saat itu. Peristiwa ini terjadi sepulangnya beliau dari Perang Khaibar. Masjid Nabawi adalah masjid yang dibangun dengan landasan ketakwaan. Di antara keutamaan masjid ini adalah dilipatgandakannya pahala shalat di dalamnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Shalat di masjidku ini lebih utama dari 1000 kali shalat di masjid selainnya, kecuali Masjid al-Haram.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Raudhah (Taman Surga) :
Di dunia ini banyak sekali taman buatan yang indah dan nyaman untuk sekedar melepas lelah dan bersantai dengan keluarga atau sahabat. Bahkan tak jarang kita membuat taman sendiri di rumah atau bersenda gurau di taman. Nah perlu kita ketahui ada sebuah taman yang menakjubkan bagi kita umat Islam, sebuah taman (raudhah) yang Rasulullah SAW amat cintai.
Raudhah atau taman syurga terletak di dalam luar biasa indahnya Masjid Nabawi, terdapat tempat yang memiliki keutamaan lebih. Tempat yang sangat mulia itu merupakan tempat Rasulullah SAW beribadah, memimpin sholat, menerima wahyu, teriring pula tentunya ibadah para sahabat nan sholeh.
Kini Raudhah berada didalam Masjid Nabawi, namun dahulu 'Raudhah' yang dalam bahasa Indonesia berarti taman, taman yang dimaksud adalah Taman Syurga atau Taman Nabi. Dahulu 'Raudhah Nabi' ini adalah ruang diantara mimbar dan kamar Rasulullah di dalam masjid Nabawi. Sebagaimana Rasulullah bersabda: Antara mimbarku dan rumahku merupakan taman dari taman-taman syurga” (HR. Al Bukhari & Muslim)
Lokasi Raudhah merupakan bagian dari shaf laki-laki, dan hanya terbuka untuk perempuan di jam jam tertentu. Saat Dhuha dan setelah sholat dzuhur.
Karena Raudhah yang bersebelahan dengan makam Nabi Muhammad SAW didalam komplek Masjid Nabawi Madinah ini karena merupakan tempat yang mustajab untuk berdoa. Apapun doa yang dipanjatkan disana insya Allah akan dikabulkan.
-Mohon di SEBARKAN / BAGIKAN / SHARE agar semakin banyak yang tahu sejarah islam.
Sumber Kabarmakkah

Kawin Kontrak Jalur Puncak

Wengker.com, Seksualitas - Sebagian pelancong muslim mancanegara (arab saudi, red.) punya trik menyiasati larangan berzina. Sebelum menyalurkan hasrat seksual, mereka menikahi pasangannya, dengan memenuhi syarat-rukun nikah. Ada wali, dua saksi, mas kawin sesuai negosiasi, plus prosesi ijab kabul.
Perempuannya lajang tak bersuami. Bisa janda, tapi kebanyakan pelancong memesan perawan. Bunyi ijab kabul mirip nikah biasa. Tanpa penyebutan batas waktu seperti nikah mut’ah –nikah yang diharamkan kalangan Sunni, mayoritas muslim Indonesia.
Pasangan pun merasa aman-nyaman berasyik masyuk, karena berkeyakinan sebagai suami-istri sah. Bedanya dengan nikah biasa, perkawinan ini tidak berumur panjang. Bisa sebulan, sepekan, kadang cuma dua hari. Begitu jadwal liburan berakhir, pasangan pun bercerai.
Agendanya memang sekadar pemuasan berahi. Bila si wanita melahirkan anak, tak ada lagi urusan dengan sang pria. Akad nikah dilakukan secara lisan, tanpa dicatat Kantor Urusan Agama. Perceraian pun diselesaikan secara lisan, tanpa pernyataan di depan pengadilan agama.
Praktek ini sudah lama berlangsung di Indonesia. Salah satu daerah subur nikah model ini adalah kawasan sejuk Puncak, Bogor-Cianjur, Jawa Barat. Pelancongnya kebanyakan asal Timur Tengah.
Investigasi Gatra tahun 2006 di Puncak mengungkapkan, kesediaan pihak perempuan dinikahi model ini cenderung didorong motivasi finansial. Mahar yang diberikan berkisar Rp 2 juta sampai Rp 10 juta. Ada yang kawin hanya dua hari, dengan “tarif” Rp 2 juta.
Bila beruntung, selain terima mahar, si wanita juga diberi nafkah harian Rp 500.000 sehari. Tapi, mas kawin itu bukan milik penuh si istri, sebagaimana ketentuan lazim tentang mahar. Pihak perempuan hanya memperoleh separuh. Sisanya dibagi pada calo, saksi, dan wali nikah (lihat: Kontrak Syahwat Jalur Puncak, Gatra, 16 Agustus 2006).
Musyawarah Nasional VIII MUI di Hotel Twin Plaza, Jakarta, Minggu sampai Rabu pekan lalu, merumuskan fatwa hukum perkawinan ini. Model ini, oleh Komisi Fatwa MUI, dinamakan “nikah wisata”, untuk menggambarkan praktek yang kerap terjadi di lokasi wisata.
Dalam paper bahan pembahasan fatwa yang disiapkan Wakil Ketua Komisi Fatwa, Dr. Masyhuri Na’im, dan Sekretaris Komisi Fatwa, Dr. Hasanuddin, dipaparkan dua alternatif kategori untuk mengupas status hukum nikah wisata ini. Pertama, dikategorikan sebagai nikah mut’ah. Kedua, dikelompokkan dalam “nikah dengan niat cerai” (al-zawaj bi niyat al-thalaq).
Dalam literatur fikih, akad nikah mut’ah harus menggunakan kata “mut’ah” dan “waktu tertentu”. Sedangkan “nikah dengan niat cerai”, didefinisikan oleh Wahbah Zuhaili, profesor hukum Islam asal Syiria, sebagai nikah yang memenuhi rukun nikah, tapi sang suami memendam niat bercerai pada jangka waktu tertentu.
Bila dikategorikan nikah mut’ah, ada dua opsi hukum: boleh dan haram. Bila dikategorikan nikah dengan niat cerai, terdapat dua pendapat ulama. Pertama, sebagian besar ahli fikih, dari kalangan madzhab Hanafi, Syafi’i, Maliki, dan satu pendapat di kalangan Hanbali, memandang nikah demikian sah.
Dalam pada itu, minoritas ulama, antara lain di kalangan madzhab Syafi’i, berpendapat, nikah itu makruh, dengan alasan mura’atan lil khilaf (menghindarkan ketidaksesuaian dengan panduan syariat). Tapi Al-Auza’i dan Bahram dari Madzhab Maliki menyatakan nikah tersebut batal.
Dalam pembahasan, perdebatan bergerak antara dua pendulum: aspek prosedur dan aspek tujuan filosofis nikah. Dilemanya, dari sisi prosedur, nikah ini memenuhi syarat dan rukun, karena itu tak bisa serta merta dinyatakan batal.
Saat ijab kabul, tidak dinyatakan, misalnya, ini nikah mut’ah atau nikah dengan jangka waktu (mu’aqqat). Maka tidak bisa begitu saja dihukumi nikah mut’ah atau nikah mu’aqqat. Tapi, dari segi tujuan filosofis, disyariatkannya nikah (maqashid syariah), nikah ini tidak sejalan.
Seorang peserta mengutip pandangan Imam Al-Syatibi, ahli ushul fikih, yang luas mengupas konsep maqashid al-syariah. Dikatakan Syatibi, maqashid syariah ada dua, yaitu maqashid ashliyah (tujuan pokok) dan maqashid tabi’iyah (tujuan ikutan). Tujuan pokok pernikahan untuk menghalalkan persetubuhan. Sedangkan tujuan ikutannya membentuk keluarga sakinah.
Nikah wisata, dikatakan, hanya memenuhi tujuan pokok, dan tidak mencapai tujuan ikutan. “Kata Syatibi, segala hal yang tidak sesuai maqashid syariah, baik ashliyah maupun tabi’iyah, jadi haram,” kata peserta itu. Peserta lain memperkuat dengan pertimbangan akhlak. Dikatakan, nikah seperti ini tidak sepantasnya dibolehkan.
“Nikah bukan hanya untuk bersenang-senang, tapi untuk membina keluarga. Nikah wisata bisa berdampak penelantaran,” katanya. Pimpinan Sidang, Dr. Masyhuri Na’im, mengingatkan kaedah “mencegah kerusakan harus didahulukan ketimbang melaksanakan kebaikan“.
Cara pandang tersebut dikritisi Ketua Komisi Fatwa MUI Sumatera Barat, Gusrizal Gazahar, yang memandang secara legal-formal. Dikatakan, dampak penzaliman pada perempuan tidak kuat dijadikan pijakan membatalkan akad. Keabsahan nikah ditentukan terpenuhinya syarat dan rukun.
Dikatakan pula, adanya niat bercerai juga tidak bisa dijadikan argumen batalnya nikah, karena niat terpendam di hati. Sementara ada kaedah, “kami menghukumi apa yang tampak muka, karena hanya Allah yang tahu di balik permukaan”. Maka kata Gusrizal, secara hukum, sejauh tidak ada pernyataan batasan waktu, nikah itu sah.
Untuk mengantisipasi dampak buruk nikah ini, kata Gusrizal, bukan dengan mengubah konstruksi hukum pernikahan. Misalnya, dengan menjadikan niat atau dampak buruk sebagai elemen pembatal akad. Tapi, dengan membuat rekomendasi agar regulasi mewajibkan pencatatan nikah, sehingga nikah wisata bisa dikenai sanksi lewat hukum positif.
Tapi Gusrizal memberi peluang penyelesaian lain, bahwa niat yang terpendam sebenarnya bisa dibuktikan secara faktual dengan indikasi (amarat) yang kuat. Maraknya kebiasaan menceraikan istri tiap kali suami hendak pulang ke negerinya bisa dijadikan indikasi bahwa mereka memang meniatkan pernikahan untuk jangka pendek.
Dari berbagai diskusi, dicapai kesepakatan bahwa maraknya kebiasaan bercerai saat hendak meninggalkan Indonesia sudah cukup kuat sebagai pijakan bahwa nikah wisata hakikatnya nikah berjangka waktu (muaqqat). Walaupun dalam akadnya, janga waktu itu tidak dinyatakan.
Maka, kata Sekretaris Sidang Komisi, Dr. Asrorun Ni’am Sholeh, nikah wisata disepakati untuk didefinisikan sebagai “pernikahan yang dilakukan dengan memenuhi syarat dan rukun pernikahan, namun diniatkan untuk sementara”. Nikah dengan definisi itu, dalam literatur fikih, dikategorikan sebagai nikah muaqqat dan hukumnya haram.
Fatwa ini, kata Ni’am, tidak memasuki pembahasan absah-tidaknya akad nikah. Isu sah-batal, dalam ushul fiqih, masuk wilayah “hukum wadh’i“. Fatwa ini melampaui isu sah-batal, melainkan masuk isu halal-haram, yang dalam ushul fiqih menjadi bagian “hukum taklifiy“.
Nikah wisata dikatakan haram bukan karena akadnya sah atau batal, kata Ni’am, melainkan karena implikasi dharar (mudarat). Mirip fatwa nikah usia dini dan nikah siri, yang dari segi hukum wadh’i, akadnya sah, tapi dari segi hukum taklify nikah tersebut bisa haram jika menimbulkan dharar.
Bedanya, dalam fatwa nikah siri dan nikah usia dini, MUI sudah bersikap tentang keabsahannya, tapi dalam nikah wisata, MUI tidak bersikap tentang sah-batalnya, tapi langsung melompat ke aspek halal-haram. Ini salah satu cara untuk menjembatani dilema di atas, antara aspek prosedur dan tujuan dasar.
Komisioner Komisi Nasional Perempuan, Neng Dara Affiah, menyambut baik fatwa MUI ini. Wanita dan anak-anak, katanya, cenderung diuntungkan oleh fatwa itu. “Saya tidak ingin bicara nikah ini halal atau haram, tapi nikah dengan cara ini merugikan perempuan,” ujarnya kepada Rukmi Hapsari dari Gatra.
Anak dari hasil nikah ini biasanya diasuh ibu, sedangkan bapaknya tidak bertanggung jawab. Ditambah lagi, kata Neng, status sebagai janda di Indonesia tidak ringan. Banyak orang mengolok-olok. Bagi Neng, nikah wisata sama saja dengan pelacuran terselubung.
Bila takut zina, Neng menyarankan, wisatawan hendaknya membawa istri dari negerinya. Bila tidak, disarankan menikahi perempuan lokal dengan komitmen seumur hidup. Bukan sekadar melampiaskan nafsu. “Kalau nikah hanya urusan alat kelamin, apa bedanya dengan hewan?” katanya.
(Gatra Nomor 39 Beredar Kamis, 5 Agustus 2010)
Sumber Sarkub

Bersamalah Para Ulama - Khotbah Jumat

Wengker.com, Khotbah Jum'at - Apa yang membuat seseorang selamat saat memfungsikan peralatan berbahaya? Salah satunya adalah mengikuti panduan atau petunjuk dengan tepat. Demikian pula dalam kehidupan dunia secara umum yang menjadi jembatan bagi kehidupan lebih abadi, yakni akhirat. Untuk tujuan ini Allah menurunkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika Rasulullah wafat, amanat itu dibebankan kepada para pengikutnya, para sahabat, tabi’in, dan ulama-ulama seterusnya.


Khotbah I

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ مَنْ تَوَكَّلَ عَلَيْهِ بِصِدْقِ نِيَّةٍ كَفَاهُ وَمَنْ تَوَسَّلَ إِلَيْهِ بِاتِّبَاعِ شَرِيْعَتِهِ قَرَّبَهُ وَأَدْنَاهُ وَمَنِ اسْتَنْصَرَهُ عَلَى أَعْدَائِهِ وَحَسَدَتِهِ نَصَرَهُ وَتَوَلاَّهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ حَافَظَ دِيْنَهُ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ. أَمَّا بَعْدُ، فيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهِ تَعَالَى بِفِعْلِ الطَّاعَاتِ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ. اِتَّقُوا اللهَ بِامْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ وَاتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ


Para jamaah yang semoga dimuliakan Allah,

Manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang paling mulia dibandingkan dengan makhluk ciptaan Allah lainnya. Hal ini terbukti dalam Allah firmannya dalam Al-Qur’an:


وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

“Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan., Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS: al-Isra’ ayat 70)

Karena itu, para hadirin, mari kita pelihara kemuliaan yang Allah berikan kepada kita dengan takwa kepadanya. Allah berfirman:


إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal .” (QS: Al-Hujurat ayat 13)

Sebagaimana kita tahu bahwa takwa berarti melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Dalam mimbar pada kesempatan yang mulia ini, saya sampaikan ayat:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama shâdiqin." (QS: al-Taubah ayat 119)

Di sini, ada dua perintah Allah, yaitu perintah bagi orang-orang beriman untuk bertakwa kamu kepada Allah dan menjadi orang yang bersama shâdiqin. Dalam bertakwa kita mengikuti shâdiqin. Siapa shâdiqin itu? Yaitu orang-orang yang berkhidmah karena memiliki kepercayaan yang tinggi.

Hal inilah yang dicontohkan oleh sahabat Abu Bakar yang mendapat julukan “ash-shiddiq” karena ketika Rasulullah Isra dan Mi’raj ia percaya penuh apa yang dikatakan oleh Rasulullah, bahkan mengatakan “lebih dari itu pun saya percaya”. Tingkat kepercayaan semacam inilah yang membuat Abu Bakar memperoleh gelar mulia tersebut.

Lalu apa ciri selanjutnya dari shâdiqin, yaitu punya ilmu. Para ulama dan para ahli tafsir, menafsirinya dengan makna ulamâ’. Dalam ayat lain, Allah mengatakan:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS: al-Fathir ayat 28)

Orang tanpa ilmu bisa sesat. Sesungguhnya ilmu saja juga tidak cukup, tetapi orang harus mengamalkan ilmunya. Ilmu tidak hanya untuk diperdebatkan, tetapi harus diamalkan. Seperti kita ketahui, akhir-akhir ini banyak orang suka berdebat. Ilmu hanya untuk diperdebatkan, tidak dipakai untuk beramal. Naudhubillahi min dzalik. Ada bahaya dan kerusakan dari perdebatan, karena itu kita perlu berhati-hati. Mereka seolah-olah berusaha mencari kebenaran, tetapi sebenarnya telah melenceng dari pencarian kebenaran demi kemenangan ego. Sekali lagi, ilmu harus diamalkan karena itu shâdiqin atau shiddiqin adalah orang yang mengamalkan ilmu.

Selanjutnya shiddiqiin adalah orang yang ikhlas. Dalam mengamalkan ilmu harus dilakukan dengan ikhlas. Allah subhanahu wata’ala memerintahkan kita untuk menyembah-Nya dengan ikhlas. Sebagaimana yang terdapat dalam firman-Nya:


وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS: Al-Bayyinah ayat 5)

Hadirin yang dimuliakan Allah subhanahu wata’ala

Mari kita ingat pesan yang disampaikan Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin: “Semua manusia itu sia-sia, rusak, kecuali orang yang berilmu. Yang berilmu pun sia-sia, kecuali yang mengamalkan ilmunya. Dan yang mengamalkan ilmunya pun sia-sia, kecuali amalnya disertai dengan keikhlasan.”

Para hadirin, mari kita selalu bersama para ahli dzikir orang-orang yang berilmu, orang yang beramal, dan orang yang ikhlas agar terpelihara ketakwaan kita. Semoga akhir hayat kita diberikan Allah khusnul khatimah. Semoga Allah memelihara kita, memelihara iman kita, memelihara ilmu kita, memelihara amal kita, dan memelihara keikhlasan kita dengan para shiddiqiin.

Demikianlah khotbah singkat kali ini, semoga bermanfaat.

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، وَأَحُثُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحًمُوْنَ
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ اْلقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ، وَقاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ وَصَدَقَ رَسُوْلُهُ النَّبِيُّ الْكَرِيْمُ وَنَحْنُ عَلَى ذلِكَ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ وَالشَّاكِرِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْياَءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَقَاضِيَ الْحَاجَاتِ
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ  وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ




(KH Abdul Manan Ghani, Ketua PBNU)
Sumber

Gerebeg Maulid Akhir Tahun 2015

Wengker.com, Religi Ponorogo - Sedulur, Jangan Lewatkan..!
Event Religi & Budaya Tradisional Terbesar Di Akhir Tahun 2015.
Grebeg Maulid Nabi Muhamad SAW Dusun Ngrambang Desa Pondok Kec Babadan Ponorogo.
Acara digelar Kamis 24/12/2015. Dimeriahkan Kirab Budaya Gunungan Maulid, Seni Gajah Gajahan, Drumband, Unta Untanan,Reyog Ponorogo.
1. Kirab budaya dilaksanakan mengelilingi Dusun Ngrambang desa Pondok mulai jam 08.00 Pagi.
2. Reyog Ponorogo digelar mulai jam 13.00 bertempat di Dusun Ngrambang
3. Pembacaan sholawat al Barzanji bertempat di masjid al Hasan Dusun Ngrambang mulai pagi hingga acara rebutan Gunungan jam 11.30 WIB.
4. Pengajian Akbar Bersama KH Ihsanudin pengasuh PP Darul Fallah Banyuwangi. Bertempat di masjid al hasan dusun ngrambang mulai jam 20.00 WIB.
Rute menuju lokasi: POM Bensin Babadan ke utara 200 an meter ada gerbang masuk jalan Perniagaan desa Pondok lurus ke barat 1 KM.

Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dan Mentalis Benalu

Wengker.com, Cerita Hikmah - Alkisah, suatu hari Rasulullah saw didatangi seorang pengemis yang pakaiannya compang-camping. wajah lelaki itu tampak sedih dan mengenaskan. Tentu  saja Rasul merasa kasihan. Tapi tahukah anda, apa yang diberikan Rasul kepada pengemis itu? Bukan uang bukan pula makanan, tetapi sebuah kampak tajam sambil bersabda, 'Pergilah ke hutan. Kumpulkan kayu bakar. Jual dan kembalilah kepadaku setelah lima belas hari." (HR. Abu Dawud).

Subhanallah, begitulah Rasul kita. Sang guru besar yang selalu mendididk dan mengajari umatnya. Rasul tidak memanjakan pengemis dengan memberikan uang atau makanan, nemun memberinya kampak untuk bekerja. Sebab, dengan bekerja, sang pengemis bisa kembali punya harga diri di mata masyarakat.

Ada dua hikmah yang bisa kita petik dari cerita di atas. Pertama, bahwa bantuan langsung tunai (BLT) yang diberikan kepada masyarakat miskin bukanlah solusi tepat guna mengentaskan kemiskinan. Sebab, bantuan-bantuan seperti itu malah berpotensi memenjakan mereka dengan terus-menerus menggantungkan harapan pada datangnya bantuan. Singkatnya, BLT secara tidak langsung akan membentuk "mentalitas benalu". Justru yang efektif, menurut hemat saya, adalah dengan meberikan modal usaha atau modal kerja berupa life skill sehingga nantia ia memiliki kecakapan hidup.

Kedua, tidak perlu gengsi dalam bekerja. Apa saja, asal halal dan terhormat, kita hendaknya dengan senang dan sepenuh hati menjalaninya. Terkadang kita gengsi dan memilah-milah pekerjaan. Kecenderungan kebanyakan kita selalu ingin bekerja enak, gaji besar dan punya prestise tersendiri. Kita sering lupa bahwa Rasulullah dan nabi-nabi lainnya bekerja sebagai pengembala. Kita pun kadang tidak tahu bahwa sahabat Abu Hurairah, sang perawi hadis paling handal, bekerja sebagai pembantu. Bahkan konon gajinya hanya sepiring nasi untuk mengganjal perut kosong.

Demikian halnya dengan para ulama kita. Mereka ternyata  juga terlibat dalam usaha perdagangan, home industri, pertanian dan lain-lain. Abû Hanîfah misalnya, dikenal sebagai al-Bazzar, pedagang kain. Ia mempunyai toko dan melayani sendiri. Pada saat-saat tidak ada pembeli, Abû Hanîfah mengisi waktunya dengan membaca kitab atau memberi fatwa. Ayah Imâm al-Ghazzâlî juga dikenal sebagai pemintal benang untuk dijadikan kain. Sari al-Saqatî, seorang shufi kenamaan (w. 255 H/ 871 M) adalah seorang saudagar bangunan di pasar. Abû Qâsim al-Junaidî (w. 295 H/ 910 M) memiliki toko pemotong kaca dan melayani sendiri para pembelinya. Ibnu Khafîf menginformasikan: “pada masaku kebanyakan para guru shufi memiliki pekerjaan sebagai penopang hidup mereka. Aku sendiri belajar memintal benang. Hasilnya aku jual di pasar untuk menghidupi keluargaku”, (Warisan Sufi, I/8).

Semoga fakta sejarah tersebut menginspirasi para pemangku kebijakan di negeri ini sehingga kebijakan-kebijakan mereka, khusunya terkait program pengentasan kemiskinan, betul-betul bisa bersifat solutis bagi permasalahan ekonomi umat. Semoga...!
Oleh Bapak Ahmad Syafi'i SJ

Humor Sang Nabi

Wengker.com, Humor - Ada sejumlah riwayat, sebagaimana dikutip dalam Tafsir al-Misbah yang ditulis oleh mufassir kenamaan dan kebanggaan kita, Prof. Dr. H. Quraish Shihab, yang menceritakan bagaimana Nabi berinteraksi dalam kesehariannya bersama para sahabat beliau saw.
Pernah suatu ketika Nabi mencandai seorang nenek bahwa surga tidak akan dimasuki perempuan lanjut usia. Maka menjerit kecewa lah sang nenek, sementara Nabi merespon dengan tersenyum sambil membacakan Surat al-Waqi'ah: 35-38 bahwa mereka yang lanjut usia akan kembali muda saat di surga kelak. Sang Nenek tertawa membayangkan wajah keriputnya kembali mulus dan kinclong di surga kelak.
Di lain kesempatan, ganti Nabi yang dikerjai sahabatnya. Nu'aiman ibn Rufaah adalah sahabat Nabi yang turut dalam berbagai pertempuran bersama Nabi. Nu'aiman terkenal gemar bercanda sehingga dalam satu riwayat dikabarkan Nabi berkata bahwa Nu'aiman akan masuk surga dengan tertawa. Suatu saat Nu'aiman mendatangi Nabi sambil menghadiahi Nabi berbagai buah-buahan. Tak lama kemudian datanglah penjual buah yang menagih harga buah-buahan tsb kepada Nabi. Nabi kaget dan menanyakan kepada Nu'aiman: "Bukankah telah kamu hadiahkan buah-buahan ini kepadaku?" Rupanya Nu'aiman berhutang dulu ke penjual buah dan bilang bahwa Nabi yang akan membayarnya. Nu'aiman menjawab: "Benar wahai Nabi, aku sungguh ingin bisa makan buah bersama dirimu, tapi aku sedang tidak punya uang". Nabi tertawa dan lalu membayar harga buah kepada penjual buah. Lihatlah keakraban Sang Nabi dan bagaimana beliau tidak marah "dikerjai" sahabatnya.
Juga riwayat yang menceritakan bahwa suatu saat Nabi SAW berkumpul bersama sahabatnya, dan saat itu sedang makan kurma. Pada saat itu lah Ali bin Abi Thalib iseng, menaruh biji kurmanya di hadapan Nabi SAW. kemudian nyletluk, di antara kita siapa yang paling rakus?
Ali bilang lihat aja siapa yang paling banyak biji kurmanya berarti paling banyak makannya....Apakah Nabi SAW marah? Oh tidak  ! Malahan Beliau bilang sambil ngledek Ali bin Abi Thalib...
sambil berkata: “Yang paling rakus adalah yang makan kurma sama biji-bijinya...., lihat siapa yang di depannya gak ada biji kurmanya....

Dikisahkan juga dalam riwayat sebuah riwayat, ada seorang laki-laki meminta pada Rasulullah agar membawanya di atas kendaraan. Kemudian, Rasulullah berkata, “Aku akan membawamu di atas anak unta.” Orang tadi bingung karena ia hanya melihat seekor unta dewasa, bukan anak unta. Kemudian Rasulullah berkata, “Bukankah yang melahirkan anak unta itu seekor unta juga?” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Humor atau bercanda adalah bumbu komunikasi yang tidak pernah lepas dalam pergaulan sehari-hari, bahkan saking akrabnya hal tersebut sudah menjadi profesi sese
Orang. Disamping dapat menghibur, mencairkan suasa, menghilangkan ketegangan, dan meredakan amarah, tak jarang di dalam kelakar muncul benih-benih persahabatan dan persaudaraan anatar sesama.

Pernah suatu ketika Sufyan bin Uyainah ditanya, apakah canda itu termasuk perbuatan tercela? Ia menjawab tidak, “bahkan termasuk sunnah bagi yang dapat mengkondisikannya sesuai dengan aturan.” Dalam Al-Qur’an Surat An-Najm (53) ayat 43, dijelaskan bahwa tertawa dan menangis adalah fithrah yang Allah anugerahkan pada manusia. Rasulullah saw sendiri pun menuturkan bahwa membuat orang lain senang dapat dikategorikan sebagai kebajikan, “Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu“; “Tabassamuka fî wajhi akhîka laka shadaqah.” (HR. Imam Ahmad).

Untuk menciptakan suasana humoris, hendakknya seseorang menjauhi perbuatan yang tidak terpuji layaknya bicara kotor, dusta, mengolok-olok, dan merendahkan sesama demi mendapatkan tawa dari orang lain. Nabi bersabda, “Celakalah orang yang berbicara lalu mengarang cerita dusta agar orang lain tertawa.” (HR. Abu Dawud).

Selain perbuatan tersebut mengandung cela dan dosa, Rasulullah sendiri tidak pernah berkelakar dengan para sahabat, kecuali di dalamnya mengandung kebenaran dan fakta. Hal tersebut, misalnya, dapat kita jumpai dalam hadis Abu Hurairah bahwa para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau telah mencandai kami.” Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya tidaklah aku berbicara, kecuali yang benar.”  (HR. Tirmidzi). Kelakar Rasulullah yang ditujukan kepada seorang nenek tersebut di atas adalah salah satu teladan konkritnya. Tidak semata-mata Nabi berkelakar sebagaimana kebanyakan kita, namun kelakar beliau didasarkan pada fakta yang dalam hal ini didasarkan Surat al-Waqi’ah.

Kisah-kisah tersebut pada dasarnya menunjukkan sisi manusiawi Nabi yang sangat cair dan rileks, yang menurut hemat saya perlu sering disipkan dalam materi ceramah kita. Dan konsep humor Nabi inilah kiranya yang juga diteladai oleh para Kyai kita, Kyai penganut paham Islam Nusantara, beragama rileks, Islam yang sufistik yang tak resah mentertawakan diri sendiri. Atau meminjam bahasa Butet Kartaredjasa, prinsip Kyai itu mungkin “Urip Mung Mampir Ngguyu”
By Bapak Ahmad Syafi'i SJ

Reinterpretasi Konsep Tawakkal

Wengker.com, Pendidikan Religi - Di saat mentari pagi menampakkan senyumnya di ujung timur, Umar bin Khathab masuk ke masjid. Dilihatnya ada seseorang sedang khusyu' berdoa, menengadahkan kedua tangannya ke langit dengan suara agak keras dan diulang-ulang, "Ya Allah, berilah hambmu ini rezki yang melimpah." Umar mendekatinya seraya berkata:

لاَ يَقْعُدُ  أَحَدُكُمْ عَنْ طَلَبِ الرِّزْقِ  وَهُوَ يَقُوْلُ: اللّهُمَّ ارْزُقْنِي وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّ السَّمآءَ لاَ تُمْطِرُ ذَهَبًا وَلاَ فِضَّةً

“Janganlah salah seorang dari kalian hanya duduk-duduk tanpa mencari rezeki dan berdo’a: “Ya, Allah berilah aku rezki”, padahal ia tahu benar bahwa langit ini tidak akan pernah menurunkan hujan emas maupun perak”.
Kemudian Umar menyuruh orang ini keluar dari masjid untuk bekerja di ladang atau di pasar.

Indah nian kisah di atas. Sesungguhnya Umar tidak melarang orang tersebut untuk berdo'a kepada Allah. Umar tahu bahwa wajib hukumnya bagi setiap muslim untuk berdoa kepada Allah, karena "doa adalah senjata orang mu'min". Lantas mengapa dalam kasus di atas Umar marah kepada orang yang sedang berdoa kepada Allah dan menyuruhnya keluar dari masjid?

Jawabannya, karena Umar hendak memberikan pencerahan tentang konsep "tawakkal" yang benar. Tawakkal kerap kali disalah pahami hanya sebagai sikap menyerahkan dirinya dan cita-citanya kepada keadaan, tanpa perlu ada usaha maksimal. Pemahaman semacam ini jelas keliru, tawakkal seharusnya dipahami sebagai sikap lahir setelah bekerja dan berusaha keras secara maksimal yang dilakukan tidak hanya sekali. Setelah ikhtiar seperti itu, maka dengan bekal iman kepada Allah, keberhasilannya akhirnya tidak selalu ditentukan oleh dirinya. Dengan sikap tawakkal seperti ini, maka akan terhindar dari sikap frustrasi atau putus asa.

Pesan agar umat Islam perlu mengembangkan sikap positif terhadap kerja pada dasarnya memang memiliki dasar normatif yang cukup kuat dalam Islam. Salah satunya diilustrasikan oleh sebuah hadis  yang menceritakan: “Ketika Rasulullah saw bertanya kepada seorang Badui Arab: “Di mana ontamu?”, Jawab si Badui: “Arsilu nâqatî wa atawakkalu” (aku lepas untaku tanpa diikat dan kemudian aku bertawakkal), beliau lalu bersabda: “i’qilhâ wa tawakkal” (ikatlah untamu terlebih dahulu baru kemudian bertawakkallah)”.  Inilah tawakkal yang benar, usaha yang maksimal dahulu, baru menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah. 

Statement Umar tersebut juga bisa dimaknai bahwa rizki tidak bisa diperoleh dengan mengandalkan do’a semata atau mengharapkan pemberian orang lain, melainkan harus dicari melalui usaha dan bekerja dengan sungguh-sungguh. Bukankah para ulama besar dan kaum shufi selalu menekankan pentingnya bekerja atau memiliki pekerjaan? Mereka sendiri juga terlibat dalam usaha perdagangan, home industri, pertanian dan lain-lain. Abû Hanîfah misalnya, dikenal sebagai al-Bazzar, pedagang kain. Ia mempunyai toko dan melayani sendiri. Pada saat-saat tidak ada pembeli, Abû Hanîfah mengisi waktunya dengan membaca kitab atau memberi fatwa. Ayah Imâm al-Ghazzâlî juga dikenal sebagai pemintal benang untuk dijadikan kain. Sari al-Saqatî, seorang shufi kenamaan (w. 255 H/ 871 M) adalah seorang saudagar bangunan di pasar. Abû Qâsim al-Junaidî (w. 295 H/ 910 M) memiliki toko pemotong kaca dan melayani sendiri para pembelinya. Ibnu Khafîf menginformasikan: “pada masaku kebanyakan para guru shufi memiliki pekerjaan sebagai penopang hidup mereka. Aku sendiri belajar memintal benang. Hasilnya aku jual di pasar untuk menghidupi keluargaku”, (Warisan Sufi, I/8). Dan masih banyak kisah inspiratif lainnya yang bisa kita jadikan landasan dalam memaknai konsep tawakkal secara dinamis.
Oleh Bapak Ahmad Syafi'i

Reinterpretasi Konsep Zuhud

Wengker.com, Pendidikan Religi - Zuhud selama ini dipahami oleh kebanyakan umat Islam sebagai anti-keduniaan atau anti harta. Banyak yang mengartikan demikian. Namun, jika kita perhatikan dalam sejarah, termasuk sejarah tokoh ahli tasawuf, tidak sedikit dari mereka yang kaya, termasuk Imâm al-Ghazzâlî, pemilik karya monumental Ihyâ’ ‘Ulûmiddîn. Kehidupan Nabi Muhammad sendiri tidak miskin yang kekurangan harta. Bahkan dalam beberapa hal, seperti makanan beliau, kendaraan beliau, pakaian beliau, tergolong kelas atas, seperti kurma ‘ajawah yang juga sering disebut dengan kurma Nabi, kuda dan onta beliau yang terbaik, dan seterusnya yang berarti juga yang termahal. Barang-barang termahal hanyalah dapat diperoleh dengan harta atau kekayaan yang lebih banyak. Oleh karena itu, harus kita ingat bahwa zuhud itu tidaklah identik dengan kemiskinan dan bukan pula anti keduniaan. Namun, harus kita pahami bahwa zuhud adalah anti-keserakahan. Dalam konteks ini, sudah saatnya umat Islam mengedepankan pemahaman yang lebih dinamis terhadap konsep-konsep tasawuf, tidak terkecuali konsep zuhud.

Memang ada beragam pendapat tentang pemaknaan terhadap konsep zuhud ini. Sayid Abû Bakar dalam Kifâyah al-Atqiyâ’ (hal. 21), misalnya mengartikan zuhud dengan pemaknaan: “menghilangkan ketergantungan hati terhadap harta benda dan bukan berarti tidak punya harta” (faqdu ‘alaqotil qalbi bi al-mâl walaisa huwa faqdu al-mâl). Dengan pemaknaan semacam ini, kita tidak bisa menyimpulkan bahwa Nabi Sulaiman adalah bukan termasuk nabi yang zuhud lantaran beliau hidup dengan bergelimang harta. Sebaliknya, beliau justru orang yang paling zuhud (azhaduz zâhidîn) karena beliau bisa melepaskan hati dan sikap batin dari belenggu kekayaan dan hartanya.
Oleh Ahmad Syafi'i SJ

Penarik Dan Penghalang Rezeki

Wengker.com, Pendidikan Religi - Dari Imam Syafi'i disebutkan bahwa ada empat hal yang mendatangkan rezki, yaitu bangun malam, banyak beristighfar di waktu sahur (menjelang subuh), selalu bersedekah, dan berdzikir pada awal waktu siang (yakni pagi hari) dan pada akhir siang (yakni petang hari). Dan empat hal yang menghalangi rezki, yaitu tidur di pagi hari, sedikit melakukan shalat, malas dan khianat.

Diantara yang menghalangi rizki lainnya adalah: banyak tidur, makan dan minum dalam keadaan junub, menyapu rumah pada malam hari, membiarkan sampah di dalam rumah, berjalan mendahului orang tua, duduk di tangga, menjahit pakaian tanpa melepasnya dari badan, mengeringkan wajah dengan pakaian, membiarkan sarang laba-laba di dalam rumah, menganggap enteng shalat, mematikan pelita dengan nafas/tiupan, dan tidak mendo'akan orang tua. Semua itu menyebabkan kefakiran. Hal ini diketahui dari atsar. Nashiruddin ath-Thusy menyebutkan dalam kitab "Adabul Muta'allim".

وَعَنِ الإمَامِ الشافعى رَحمه الله: أَرْبَعٌ تَجْلبُ الرزْقَ: قِيامُ الليلِ, وَكَثْرَةُ الإستغْفارِ بِالأسْحارِ, وَتَعاهُدُ الصدقَةِ, والذكرُ أَولَ النهارِ وآخرَهُ. وأربعٌ تَمْنَعُ الرزْقَ: نَوْمُ الصُبْحَةِ, وَقِلةُ الصلاةِ, والكسل, والخيانة.
وَمما يَمْنعُ  الرزْقَ أيضا: كَثْرَةُ النومِ, والأكلُ والشرْبُ جُنُباً, وَكَنسُ البيتِ فى الليل, وَترْكُ القُمامةِ فى البيتِ, وَالمشيُ قُدامَ الْمشايِخِ, والجلوسُ على الْعَتَبَةِ, وخِياطةُ الثوبِ على جسدِهِ, وَتَجِفبفُ الوجْهِ بالثوبِ, وتركُ نَسْجِ الْعنكبوتِ فى البيتِ, والتهاوُنُ بالصلاة, وإطفاءُ السراجِ بالهفسِ, وتَرْكُ الدعاءِ للأبوين, كلُ ذلك يُورِثُ الفقرَ, عُرِفَ ذلك بالآثار. ذكر ذلك نصير الدين الطوسى فى كتاب {آدابُ المتعلمين)

Oleh Bapak Ahmad Syafi'i

Kerikilpun Berdzikir

Wengker.com, Religi - Abu Dzar ra. ia berkata, “Saya pernah hadir dalam sebuah pertemuan disisi Nabi saw. Saya melihat beberapa batu kerikil yang dipegang beliau mengucapkan tasbih. Saat itu di antara kami ada Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Mereka semua yang hadir dipertemuan itu mendengar tasbih benda tersebut. Kemudian batu-batu kerikil itu oleh Nabi saw. diserahkan kepada Abu Bakar yang dapat didengar oleh semua orang yang hadir dipertemuan itu. Ketika diberikan lagi kepada beliau kerikil itupun masih tasbih ditangan beliau, kemudian beliau menyerahkan kepada Umar dan batu kerikil itu pun mengucapkan tasbih ditangannya yang bisa didengar oleh semua orang yang hadir dipertemuan. Kemudian Nabi saw. menyerahkan kepada Utsman dan ia pun mengucapkan tasbih ditangannya. Tetapi ketika oleh Nabi batu kerikil itu diserahkan kepada kamu, ia tidak mau bertasbih bersama seorang pun di antara kami. (Diriwayatkan oleh Thabrani dalam buku haditsnya Al-Mu’jamul Ausath nomor 1244 dan oleh Abu Nu’man dalam Dalaa’ilun Nubuwwah I/404.)

Kenapa Perlu Fiqih Muamalah???

Wengker.com, Religi - Kenapa Perlu Fiqh Muamalh? "Kenapa kita perlu mengkaji fiqh mua'amalah?", demikianlah salah satu pertanyaan yang terlontar dalam forum diskusi bersama mahasiswa Fakultas Syariah.
Kalau kita amati, setiap nabi yang diutus Allah ke dunia ini, memang punya latar belakang kehidupan sosial masing-masing. Nabi Daud alaihissalam hidup di tengah iklim peperangan, sehingga beliau terkenal dengan sosok kepahlawanannya,
bahkan mampu membuat baju besi.
Nabi Sulaiman dan Musa 'alaihimassalam hidup di tengah masyarakat yang mengagungkan kemampuan ghaib (sihir), sehingga keduanya diberikan mukjizat dari Allah SWT untuk mengalahkan kekuatan sihir.
Nabi Isa 'alaihissalam hidup di tengah masyarakat yang unggul dalam ilmu ketabiban dan kemampuan memberi
pengobatan orang sakit, sehingga Allah SWT memberinya mukjizat untuk dapat mengusap orang sakit menjadi sembuh, bahkan orang yang sudah meninggal bisa hidup kembali dengan
izin Allah.
Lalu tipologi masyarakat seperti apakah bangsa dimana Rasulullah SAW tinggal? Jawabnya bahwa beliau hidup di tengah masyarakat pedagang, saudagar dan para pebisnis. Bahkan beliau sendiri adalah seorang ahli perdagangan, yang pandai dan jeli melihat peluang bisnis. Dalam konteks inilah mengapa kita perlu mengkaji Fiqh Mua'malah.
By Ahmad Syafi'i

Tragedi Mina, 200 Lebih Jamaah Meninggal

Wengker.com, Info Haji - Insiden kesekian kalinya terjadi pada ibadah haji 2015. Stasiun televisi Al Arabiya melaporkan, Kamis (24/9), terjadi saling injak dan dorong antar ribuan jamaah haji di jalanan sempit dekat area tenda di Lapangan Mina, setelah ibadah melempar jumrah. Sedikitnya 220 jamaah tewas, 400 lainnya luka-luka.
Insiden ini telah dikonfirmasi resmi oleh Satuan Pengamanan Dalam Negeri Arab Saudi, lewat akun Twitter mereka. Belum diketahui penyebab arus ribuan jamaah bisa saling bertumbukan di satu titik dekat tenda-tenda di Mina.
Hingga berita ini dilansir, Kepolisian Saudi masih mengarahkan ribuan jamaah lain agar melalui rute alternatif menuju tenda. Belum ada informasi daftar kewarganegaraan jamaah yang tewas.
Mayoritas korban kini sudah dibawa ke rumah sakit. "Jumlah korban jiwa bisa melebihi insiden crane tempo hari," kata wartawan Aljazeera, Omar Alsaleh, yang kini melaporkan dari lokasi insiden saling injak tersebut.
Pada puncak ibadah haji, sedikitnya 2 juta orang memadati Mina untuk melakukan lempar batu dalam prosesi jumroh.
Sumber Merdeka

Khotbah Idul Adha - Idrus Ramli

HUTBAH PERTAMA:

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (×3)اللهُ اَكبَرْ (×3
 اللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّهِ بُكْرَةً وَأصِيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ
 اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَ اْلفِطْرِ بَعْدَ صِياَمِ رَمَضَانَ وَعْيدَ اْلاَضْحَى بَعْدَ يَوْمِ عَرَفَةَ. اللهُ اَكْبَرْ (3×) اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمَلِكُ اْلعَظِيْمُ اْلاَكْبَرْ وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ اَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّرْ 
اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,

Di pagi hari yang penuh berkah ini, kita berkumpul untuk melaksanakan shalat ‘Idul Adha. Baru saja kita ruku’ dan sujud sebagai pernyataan taat kepada Allah SWT. Kita agungkan nama-Nya, kita gemakan takbir dan tahmid sebagai pernyataan dan pengakuan atas keagungan Allah. Takbir yang kita ucapkan bukanlah sekedar gerak bibir tanpa arti. Tetapi merupakan pengakuan dalam hati, menyentuh dan menggetarkan relung-relung jiwa manusia yang beriman. Allah Maha Besar. Allah Maha Agung. Tiada yang patut di sembah kecuali Allah.

Karena itu, melalui mimbar ini saya mengajak kepada diri saya sendiri dan juga kepada hadirin sekalian: Marilah tundukkan kepala dan jiwa kita di hadapan Allah Yang Maha Besar. Campakkan jauh-jauh sifat keangkuhan dan kecongkaan yang dapat menjauhkan kita dari rahmat Allah SWT. Apapun kebesaran yang kita sandang, kita kecil di hadapan Allah. Betapa pun perkasa, kita lemah dihadapan Allah Yang Maha Kuat. Betapapun hebatnya kekuasaan dan pengaruh kita, kita tifdak berdaya dalam genggaman Allah Yang Maha Kuasa atas segala-galanya.

Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,

Idul adha yang kita rayakan pada setiap tanggal 10 Dzulhijjah juga dikenal dengan sebuatan “Hari Raya Haji”, dimana kaum muslimin yang sedang menunaikan haji yang utama, yaitu wukuf di arafah. Mereka semua memakai pakaian serba putih dan tidak berjahit, yang di sebut pakaian ihram, melambangkan persamaan akidah dan pandangan hidup, mempunyai tatanan nilai yaitu nilai persamaan dalam segala segi bidang kehidupan. Tidak dapat dibedakan antara mereka, semuanya merasa sederajat. Sama-sama mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Perkasa, sambil bersama-sama membaca kalimat talbiyah.

لَبَّيْكَ اللّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ

Disamping Idul Adha dinamakan hari raya haji, jiga dinamakan “Idul Qurban”, karena merupakan hari raya yang menekankan pada arti berkorban. Arti Qurban ialah memberikan sesuatu untuk menunjukkan kecintaan kepada orang lain, meskipun harus menderita . Orang lain itu bias anak, orang tua, keluarga, saudara berbangsa dan setanah air. Ada pula pengorbanan yang ditujukan kepada agama yang berarti untuk Allah SWT dan inilah pengorbanan yang tinggi nilainya.

Masalah pengorbanan, dalam lembaran sejarah kita diingatkan pada beberapa peristiwa yang menimpa Nabiyullah Ibrahim AS beserta keluarganya Ismail dan Siti Hajar. Ketika orang ini telah membuat sejarah besar, yang tidak ada bandingannya: Yaitu ketika Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah SWT untuk menempatkan istrinya Hajar bersama Nabi Ismail putranya, yang saat itu masih menyusu. Mereka diwempatkan disuatu lembah yang tandus, gersang, tidak tumbuh sebatang pohon pun. Lembah itu demikian sunyi dan sepi tidak ada penghuni seorangpun. Nabi Ibrahim sendiri tidak tahu, apa maksud sebenarnya dari wahyu Allah yang menyuruh menempatkan istri dan putranya yang masih bayi itu, ditempatkan di suatu tempat paling asing, di sebelah utara kurang lebih 1600 KM dari negaranya sendiri palestina. Tapi baik Nabi Ibrahim, maupin istrinya Siti Hajar, menerima perintah itu dengan ikhlas dan penuh tawakkal.

Karena pentingnya peristiwa tersebut. Allah mengabadikannya dalam Al-Qur’an:

رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Artinya: Ya Tuhan  kami sesunggunnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di suatu lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumahmu (Baitullah) yang dimuliakan. Ya Tuhan kami (sedemikian itu) agar mereka mendirikan shalat. Maka jadikanlah gati sebagia manusia cenderung kepada mereka dan berizkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka brsyukur. (QS Ibrahim: 37)

Seperti yang diceritakan oleh Ibnu Abbas bahwa tatkala Siti Hajar kehabisan air minum hingga tidak biasa menyusui nabi Ismail, beliau mencari air kian kemari sambil lari-lari kecil (Sa’i) antara bukit Sofa dan Marwah sebanyak 7 kali. Tiba-tiba Allah mengutus malaikat jibril membuat mata air Zam Zam. Siti Hajar dan Nabi Ismail memperoleh sumber kehidupan.

Lembah yang dulunya gersang itu, mempunyai persediaan air yang melimpah-limpah. Datanglah manusia dari berbagai pelosok terutama para pedagang ke tempat siti hajar dan nabi ismail, untuk membeli air. Datang rejeki dari berbagai penjuru, dan makmurlah tempat sekitarnya. Akhirnya lembah itu hingga saat ini terkenal dengan kota mekkah, sebuah kota yang aman dan makmur, berkat do’a Nabi Ibrahim dan berkat kecakapan seorang ibu dalam mengelola kota dan masyarakat. Kota mekkah yang aman dan makmur dilukiskan oleh Allah kepada Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَـَذَا بَلَداً آمِناً وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ

Artinya: Dan ingatlah ketika Ibrahim berdo’a: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, sebagai negeri yang aman sentosa dan berikanlah rizki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kiamat.” (QS Al-Baqarah: 126)

Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,

Dari ayat tersebut, kita memperoleh bukti yang jelas bahwa  kota Makkah hingga saat ini memiliki kemakmuran yang melimpah. Jamaah haji dari seluruh penjuru dunia, memperoleh fasilitas yang cukup, selama melakukan ibadah haji maupun umrah.

Hal itu membuktikan tingkat kemakmuran modern, dalam tata pemerintahan dan ekonomi, serta kaemanan hukum, sebagai faktor utama kemakmuran rakyat yang mengagumkan. Yang semua itu menjadi dalil, bahwa do’a Nabi Ibrahim dikabulkan Allah SWT. Semua kemakmuran tidak hanya dinikmati oleh orang islam saja. Orang-orang yang tidak beragama Islam pun ikut menikmati.

Allah SWT berfirman:

قَالَ وَمَن كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلاً ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Artinya: Allah berfirman: “Dan kepada orang kafirpun, aku beri kesenangan sementara, kemudian aku paksa ia menjalani siksa neraka. Dan itulah seburuk buruk tempat kembali.” (QS. Al-Baqarah: 126)

Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,

Idul Adha yang kita peringatisaat ini, dinamai juga “Idul Nahr” artinya hari rara memotong kurban binatang ternak. Sejarahnya adalah bermula dari ujian paling beratyang menimpa Nabiyullah Ibrahim. Akibat dari kesabaran dan ketabahan Ibrahim dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan, Allah memberinya sebuah anugerah, sebuah kehormatan  “Khalilullah” (kekasih Allah).

Setelah titel Al-khalil disandangnya, Malaikat bertanya kepada Allah: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menjadikan Ibrahim sebagai kekasihmu. Padahal ia disibukkan oleh urusan kekayaannya dan keluarganya?” Allah berfirman: “Jangan menilai hambaku Ibrahim ini dengan ukuran lahiriyah, tengoklah isi hatinya dan amal bhaktinya!”

Sebagai realisasi dari firmannya ini, Allah SWT mengizinkan pada para malaikat menguji keimanan serta ketaqwaan Nabi Ibrahim. Ternyata, kekayaan dan keluarganya dan tidak membuatnya lalai dalam taatnya kepada Allah.

Dalam kitab “Misykatul Anwar” disebutkan bahwa konon, Nabi Ibrahim memiliki kekayaan 1000 ekor domba, 300 lembu, dan 100 ekor unta. Riwayat lain mengatakan, kekayaan Nabi Ibrahim mencapai 12.000 ekor ternak. Suatu jumlah yang menurut orang di zamannya adalah tergolong milliuner. Ketika pada suatu hari, Ibrahim ditanya oleh seseorang  “milik siapa ternak sebanyak ini?” maka dijawabnya: “Kepunyaan Allah, tapi kini masih milikku. Sewaktu-waktu bila Allah menghendaki, aku serahkan semuanya. Jangankan cuma ternak, bila Allah meminta anak kesayanganku Ismail, niscaya akan aku serahkan juga.”

Ibnu Katsir dalam tafsir Al-Qur’anul ‘adzim mengemukakan bahwa, pernyataan Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan anaknya jika dikehendaki oleh Allah itulah yang kemudian dijadikan bahan ujian, yaitu Allah menguji iman dan taqwa Nabi Ibrahim melalui mimpinya yang haq, agar ia mengorbankan putranya yang kala itu masih berusia 7 tahun. Anak yang elok rupawan, sehat lagi cekatan ini, supaya dikorbankan dan disembelih dengan menggunakan tangannya sendiri. Sungguh sangat mengerikan! Peristiwa spektakuler itu dinyatakan dalam Al-Qur’an:

قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Artinya: Ibrahim berkata : “Hai anakkku sesungguhnay aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu “maka fikirkanlah apa pendapatmu? Ismail menjawab: Wahai bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS Aa-saffat: 102)

Ketika keduanya siap untuk melaksanakan perintah Allah. Iblis datang menggoda sang ayah, sang anak, dan sang ibu silih berganti. Akan tetapi Nabi Ibrahim, Siti hajar dan Nabi Ismail tidak tergoyah noleh bujuk rayuan iblis yang menggoda agar membatalkan niatnya. Mereka tidak terpengaruh sedikitpun untuk mengurunkan niatnya melaksanakan perintah Allah. Ibrahim melempar iblis dengan batu, mengusirnya pergi. Dan ini kemudian menjadi salah satu rangkaian ibadah haji yakni melempar jumrah.

Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,

Ketika sang ayah belum juga mengayunkan pisau dileher putranya. Ismail mengira ayahnya ragu, seraya ia melepaskan tali pengikat tali dan tangannya, agar tidak muncul suatu kesan atau image dalam sejarah bahwa sang anak menurut untuk dibaringkan karena dipaksa ia meminta ayahnya mengayunkan pisau sambil berpaling, supaya tidak melihat wajahnya.

Nabi Ibrahim memantapkan niatnya. Nabi Ismail pasrah bulat-bulat, seperti ayahnya yang telah tawakkal. Sedetik setelah pisau nyaris digerakkan, tiba-tiba Allah berseru dengan firmannya, menyuruh menghentikan perbuatannyatidak usah diteruskan pengorbanan terhadap anaknya. Allah telah meridloi kedua ayah dan anak memasrahkan tawakkal mereka. Sebagai imbalan keikhlasan mereka, Allah mencukupkan dengan penyembelihan seekor kambing sebagai korban, sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur’an surat As-Saffat ayat 107-110:

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

 “Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ

“Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian yang baik) dikalangan orang-orang yang datang kemudian.”

سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ

“Yaitu kesejahteraan semoga dilimpahkan kepada Nabi Ibrahim.”

كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

“Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Menyaksikan tragedi penyembelihan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah umat manusia itu, Malaikat Jibril kagum, seraya terlontar darinya suatu ungkapan “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.” Nabi Ibrahim menjawab “Laailaha illahu Allahu Akbar.” Yang kemudian dismbung oleh Nabi Ismail “Allahu Akbar Walillahil Hamdu.’

Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,

Inilah sejarah pertamanya korban di Hari Raya Qurban. Yang kita peringati pada pagi hari ini. Allah Maha Penyayng. Korban yang diperintahkan tidak usah anak kita, cukup binatang ternak, baik kambing, sapi, kerbau maupun lainnya.

Pengorbanan Nabi Ibrahim AS yang paling besar dalam sejarah umat umat manusia itu membuat Ibrahim menjadi seorang Nabi dan Rasul yang besar, dan mempunyai arti besar.

Dari sejarahnya itu, maka lahirlah kota Makkah dan Ka’bah sebagai kiblat umat Islam seluruh dunia, dengan air zam-zam yang tidak pernah kering, sejak ribuan tahunan yang silam, sekalipun tiap harinya dikuras berjuta liter, sebagai tonggak jasa seorang wanita yang paling sabar dan tabah yaitu Siti Hajar dan putranya Nabi Ismail.

Hikmah yang dapat diambil dari pelaksanaan shalat Idul Adha, bahwa hakikat manusia adalah sama. Yang membedakan hanyalah taqwanya. Dan bagi yang menunaikan ibadah haji, pada waktu wukuf di Arafah memberi gambaran bahwa kelak manusia akan dikumpulkan dipadang mahsyar untuk dimintai pertanggung jawaban.

Di samping itu, kesan atau i’tibar yang dapat diambil dari peristiwa tersebut adalah: Pertama, perintah dan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh Allah SWT, harus dilaksanakan tanpa reserve. Harus disambut dengan tekad sami’na wa ‘ata’na. Nabi Ibrahim, istri, dan anaknya, telah meninggalkan contoh bahwa bila perlu, jiwa sendiripun haruslah dikorbankan, demi melaksanakan perintah-perintah Allah.

Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,

I’tibar kedua yang dapat kita tarikdari peristiwa tersebut, adalah kegigihan syaitan yang terus menerus mengganggu manusia, agar membangkang dari ketentuan ilahi. Syaitan senantiasa terus berusaha menyeret manusia ke jurang kejahatan dan kehancuran. Allah sendiri mengingatkan  kepada kita.

وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Artinya: Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.”

Ketiga, jenis sembelihan berupa bahimah (binatang ternak), merupakan gambaran bahwa hawa nafsu hawaiyah harus dihilangkan.

Keempat, bahimah bila dilihat dari unsur gizinya, mengandung suatu arti bahwa makanan, disamping halal harus yang diutamakan juga masalah gizinya.

Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,

Tepatlah apabila perayaan Idul Adha digunakan menggugah kesedihan kita untuk berkorban bagi negeri kita tercinta yang saat ini sedang dirundung kesusahan.

Krisis ekonomi yang sudah beberapa tahun berjalan, menambah beban masyarakat ditambah lagi dengan naiknya harga BBM, tariff listrik, rekening telepon, dan naiknya harga-harga kebutuhan pokok lainnya, sehingga menjadikan masyarakat kita tidak memiliki daya beli. Akibatnya, banyak kebutuhan-kebutuhan yang tidak terjangkau.

Dalam kondisi seperti ini sebenarnya kita banyak berharap dan mendoakan mudah-mudahan para pemimpin kita, elit-elit kita, dalam berjuang tidak hanya mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompoknya, tapi untuk kepentingan bangsa dan negara. Pengorbanan untuk kepentingan orang banyak tidaklah mudah, berjuang dalam rangka mensejahterahkan umat memang memerlukan keterlibatan semua pihak. Hanya orang-orang bertaqwalah yang sanggup melaksanakannya.

Mudah-mudahan perayaan Idul Adha kali ini, mampu menggugah kita untuk rela berkorban demi kepentingan agama, bangsa dan negara amiin 3x ya robbal alamin.

أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA:

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (4×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَِثيْرًا
اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

(Ust. Idrus Ali S.Ag.MHI./ِAULA/@red)

The Power Of Barokah

Wengker.com, Religi - Diriwayatkan dalam sebuah atsar bahwa Allah SWT menghisab amal seorang hamba, ternyata amal keburukannya lebih berat dari amal kebaikannya. Maka dia diperintahkan untuk dibawa ke neraka. Ketika ia telah dimasukkan ke neraka, Allah berkata kepada Malaikat Jibril, “Susullah hamba-Ku dan tanyakanlah, apakah dia pernah duduk satu forum di majlis seorang alim pada saat hidup di dunia, agar Aku dapat mengampuninya dengan syafa’atnya?” Maka Jibril bertanya kepada hamba itu, lalu dia menjawab, “Tidak pernah.” Maka berkatalah Jibril, “Wahai Tuhan, Engkau lebih mengetahui keadaan hamba-Mu.” Lalu Allah berkata lagi, “Tanyakanlah, apakah dia mencintai seorang alim?” Maka Jibril pun bertanya kepadanya, lalu dia menjawab, “Tidak.” Allah berkata lagi, “Wahai Jibril tanyakan, apakah dia pernah duduk di satu meja (prasmanan mungkin maksudnya, heheh...) dengan seorang alim?” Jibril pun bertanya kepadanya, lalu dia menjawab, “Tidak”. Lalu Allah berkata lagi, “Wahai Jibril, tanyakan kepadanya tentang nama dan nasabnya. Jika namanya sama dengan nama seorang alim, maka dia akan diampuni (semoga saya diampuni, karena namaku sama dengan Imam Syafi’i rahimahullah, amiiin...).” Maka Jibril pun bertanya kepadanya, tetapi ternyata tidak sama. Kemudian Allah berkata kepada Jibril, “Peganglah tangannya dan masukkan ia ke surga, karena dia mencintai seseorang yang mana orang itu mencintai seorang alim.” Lantas ia pun diampuni dengan sebab keberkahannya (barokahnya).
ﺭُﻭﻱ ﻓﻰ ﺑﻌﺾ ﺍﻵﺛﺎﺭ ﺃﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻳُﺤﺎﺳﺐُ ﻋﺒﺪﺍ , ﻓﺘَﺮﺟَﻊُ ﺳﻴﺌﺎﺗﻪ , ﻓﻴﻮﺀﻣﺮ ﺑﻪ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻨﺎﺭ , ﻓﺈﺫﺍ ﺫُﻫﺐ ﺑﻪ ﻳﻘﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻟﺠﺒﺮﻳﻞ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ : ﺃﺩﺭﻙ ﻋﺒﺪﻯ ﻭﺍﺳﺄﻟْﻪ : ﻫﻞ ﺟﻠﺲ ﻓﻰ ﻣﺠﻠﺲ ﻋﺎﻟﻢ ﻓﻰ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻓﺄﻏﻔﺮﻟﻪ ﺑﺸﻔﺎﻋﺘﻪ؟ ﻓﻴﺴﺄﻝ ﺍﻟﻌﺒﺪَ ﺍﻟﺠﺒﺮﻳﻞُ ﻓﻴﻘﻮﻝ : ﻣﺎﺟﻠﺴﺖ . ﻓﻴﻘﻮﻝ ﺟﺒﺮﻳﻞ : ﻳﺎﺭﺏ , ﺃﻧﺖ ﺃﻋﻠﻢُ ﺑﺤﺎﻝ ﻋﺒﺪﻙ . ﻓﻴﻘﻮﻝ ﺳﻠﻪ : ﻫﻞ ﺃﺣﺐ ﻋﺎﻟﻤﺎ؟ ﻓﻴﺴﺄﻟﻪ , ﻓﻴﻘﻮﻝ : ﻻ . ﻓﻴﻘﻮﻝ , ﻳﺎﺟﺒﺮﻳﻞ , ﺳَﻠْﻪُ : ﻫﻞ ﺟﻠﺲ ﻋﻠﻰ ﻣﺎﺋﺪﺓ ﻣﻊ ﻋﺎﻟﻢ؟ ﻓﻴﺴﺄﻟﻪ , ﻓﻴﻘﻮﻝ : ﻻ . ﻓﻴﻘﻮﻝ : ﻳﺎﺟﺒﺮﻳﻞ , ﺳَﻠْﻪُ : ﻋﻦ ﺍﺳﻤﻪ ﻭﻧﺴﺒﻪ , ﻓﺈﻥ ﻭﺍﻓﻖ ﺇﺳﻤﻪ ﺍﺳﻢ ﻋﺎﻟﻢ ﻏﻔﺮﻟﻪ , ﻓﻴﺴﺄﻟﻪ ﻓﻼﻳﻮﺍﻓﻖ , ﻓﻴﻘﻮﻝ ﻟﺠﺒﺮﻳﻞ ﺧﺬ ﺑﻴﺪﻩ ﻭﺍﺩﺧﻠﻪ ﺍﻟﺠﻨﺔ , ﻓﺈﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﻳﺤﺐ ﺭﺟﻼ ﻛﺎﻥ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻳﺤﺐ ﻋﺎﻟﻤﺎ . ﻓﻴُﻐﻔﺮُ ﻟﻪ ﺑﺒﺮﻛﺘﻪ . ‏( ﻧﻘﻠﻪ ﻓﻰ ﺧﺎﺗﻤﺔ – ﻣﺠﻤﻊ ﺍﻟﺒﺤﺮﻳﻦ - ﻟﻠﺸﻴﺦ ﻣﻌﺮﻭﻑ ﺑﻦ ﻣﺤﻤﺪﺑﺎﺟﻤﺎﻝ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ )
Pesan Moral:
Kawan….Senyampang masih ada kesempatan dan kesehatan, mari kita dekatkan, baik fisik maupun psikis kita, dengan para ulama. Dengan demikian, insyallah keberkahan akan senantiasa menyertai kehidupan kita, dunia sampai alam baka. Amin.
By Bapak Ahmad Syafi'i

Untuk dapat mendengarkan radio ini anda harus menginstall flash player klik disini untuk download
Winamp Windows Media Player iTunes basicBerry Real One Android iPhone