Tetapkan Tiga Tersangka Atas Pembakaran Bendera NU

Wengker.com, Warta Nahdliyin - Polres Nganjuk, Jawa Timur akhirnya menetapkan tiga tersangka atas kasus perobekan banner dan pembakaran terhadap bendera Nahdlatul Ulama (NU) beberapa waktu lalu.

Ketiga tersangka ini merupakan oknum dari perguruan silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) yang sebelumnya terlibat konflik dengan Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa (PN). Kini ketiga tersangka tersebut ditahan di Mapolres Nganjuk guna proses hukum lebih lanjut.

"Setelah melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi terkait kasus perobekan banner dan pembakaran bendera NU penyidik Satreskrim Polres Nganjuk menetapkan tiga tersangka. Ketiganya berinisial EDS (19), JRW (19) dan IGF (16)," jelas anggota Humas Polres Nganjuk, Aiptu Achmad Arifin, Selasa (26/6).

EDS merupakan warga Desa Kebonagung, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk dan JRW warga Desa Teken Glagahan, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk serta IGF warga Desa Pehserut, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk.

"Sebelum menetapkan tersangka polisi sudah memeriksa sembilan saksi. Hingga tiga orang ini ditetapkan jadi tersangka," ujarnya.

Ketiga tersangka punya peran masing-masing dalam rangkaian perobekan dan pembakaran bendera NU. Dalam peristiwa tersebut EDS bertindak sebagai penyopot bendera dan IGF oknum yang membakar bendera. Sementara itu JRW pelaku perobekan banner yang terdapat gambar KH Hasyim Asy'ari.

 "Atas perbuatannya, ketiga tersangka dijerat pasal 170 KUHP dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara," pungkas Arifin.

NU Jangan Terpancing Emosi

Sebelumnya diberitakan A’wan Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jember, H Babun Suharto mengungkapkan sejumlah kesepakatan telah dicapai antara NU dan Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) di Nganjuk Jawa Timur. Hal tersebut sebagai imbas aksi  pembakaran  bendera NU oleh oknum pesilat PSHT di kawasan setempat.

Menurut H Babun, kata kuncinya untuk membuat suasana aman dan kondusif adalah pemenuhan kesepakatan, baik oleh NU maupun PSHT. Dikatakanya, kabar kasus tersebut begitu cepat meluas dan telah menjadi konsumsi publik, sehingga apa yang terjadi usai insiden itu, masyarakat terus memantau.

“Makanya kita berharap agar kesepakatan-kesepakatan yang telah dicapai, dipenuhi, termasuk janji polisi  untuk menindak tegas pelakunya,” ungkapnya, Senin (25/6).

Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember ini mengaku bersyukur bahwa NU tidak pernah berulah. Lembaga-lembaga maupun badan otonom NU yang berbasis otot seperti Banser dan Pagar Nusa, tak pernah terlibat dalam aksi kepongahan terhadap kelompok lain. Justru Banser senantiasa bersikap mengayomi dan memberikan payung kesejukan bagi kelompok lain. “Tapi NU jangan disalahi. Jangan bangunkan macan tidur,” ungkapnya.

Ketua PCNU Jember KH Abdullah Syamsul Arifin juga mengimbau agar kader NU dan PSHT bisa menahan diri agar kasus tersebut tidak melebar. Walaupun kejadian tersebut diakuinya cukup menyakitkan bagi NU, tapi tidak perlu dibesar-besarkan dan harus segera diakhiri dengan damai.

“PWNU Jawa Timur juga cukup cekatan dengan mengimbau segenap cabang NU untuk tidak terpancing emosi dan ikut-ikutan marah,” ucapnya. (Syarief Rahman/Aryudi Abdul Razaq/Kendi Setiawan)

Gelar Pencak Dor di acara Haflah Akhirussanah Ponpes Lirboyo Kediri

Wengker.com, Warta Nahdliyin - Dalam rangka Haflah alhirussanah pondok pesantren Lirboyo Kediri Jatim, ribuan pendekar dan Masyarakat umum dari seluruh wilayah, Karisidenan Kota/Kabupaten Kediri,Tulungagung,Blitar,Nganjuk dan sekitarnya. Sabtu malam 21-04-2018 berkumpul menyaksikan tarung bebas / Pencak Dor para pendekar di arena Ponpes Lirboyo (kediri), tepatnya di lapangan aula muktamar.
Acara seremonial usai, suasana mencekam dan tegang mulai nampak ketika kegiatan ini dimulai. Para pendekar terbaik akan bertarung, adu jotos, tendangan atau bantingan , cekikan yang terkesan liar menjadi suguhan yang menarik . Hanya satu misi yang mereka bawa kehormatan perguruan silat/beladiri masing-masing.
Pencak dor mulai muncul sejak era - 60 an ini memang sangat di gemari oleh khalayak ramai di Kediri Raya.Tak kurang puluhan ribu penonton hadir memadati arena setiap kali acara ini digelar.
Pencak dor sendiri diiniasiasi oleh Kiai Agus Maksum Jauhari atau yang biasa dipanggil Gus Maksum cucu dari pendiri pondok Pesantren Lirboyo Kediri KH. Abdul Karim. Tujuannya adalah terjalinnya silaturahmi sesama pendekar dan media dakwah pemuda.
Pendirian arena pencak dor ini dilatarbelakangi oleh kegelisahan Gus Maksum melihat makin maraknya aksi perkelahian antar remaja di Kediri kala itu.
Tak jarang dari perkelahian tersebut menimbulkan korban, sifat arogan pemuda yang sulit terkontrol menjadi salah satu penyebabnya.
Sejalan dengan makin maraknya aksi tersebut, maka Gus Maksum mempunyai ide adanya suatu arena untuk bertarung satu lawan satu dengan fair.
Biasanya mereka dipertemukan dalam gelanggap pencak dor ukuran 8 x 4 meter. Gelanggang tersebut mirip ring tinju. Bedannya kalau ring tinju dikelilingi tali, pencak dor tidak. Pagar pembatas arena adalah batang bambu sebagai pembatas tepi untuk pertarungan para pendekar.
Gus Maksum bermaksud pencak dor ini bisa menyelesaikan perselisihan dengan adil tanpa mengurangi rasa persaudaraan, karena dalam pencak dor ini peserta yang bertarung dapat kembali menjalin persaudaraan lagi setelah selesai.
Bahkan ketika usai bertanding mereka bisa saling mengenal lebih dekat dengan lawannya yang ia ajak baku hantam. Tak jarang kadang mereka bertukar pengalaman seputar dunia persilatan dengan canda tawa benar-benar tanpa dendam.
Pencak dor dilahirkan di Pesantren Lirboyo Kediri yang juga pesantren salaf yang berdiri sejak pada 1910 santri. Di era tahun 1960 an juga dikenal sebagai tempat pengkaderan para pendekar silat dari kalangan santri.
Para pendekar ini diasuh oleh almarhum Gus Maksum yang dikenal sakti dan dikenal di kalangan pesilat tanah air . Di pesantren Lirboyo ini pula selain melahirkan santri-santri hebat yang menguasai kitab-kitab klasik kuno juga melahirkan santri yang menguasai ilmu kanuragan dan seni bela diri.
Meski tarung bebas, namu keselamatan tetaplah nomor satu. Salah satunya untuk menjaga keselamatan para peserta, setiap pertandingan dikawal dua orang wasit yang memiliki kemampuan lebih. Tugas mereka adalah melerai mereka yang bertanding jika kondisi tak memungkinkan untuk dilanjutkan pertarungan.
Para wasit benar-benar-benar harus militan, sebab yang mereka wasiti bertarung bebas mengeluarkan jurus yang dimiliki, mulai dari pencak, tinju , karate hingga judo, boxing, muathai. Para pendekar menggunakan keahlian bela diri masing-masing untuk menjatuhkan lawan. "
Diatas Lawan, Dibawah Kawan"

Pendekar Pagar Nusa Deklarasi Anti Hoax

PSNU (Pencak Silat Nahdlatul Ulama) Pagar Nusa Peguron Sapujagad, Kecamatan Gudo, Jombang, menggelar deklarasi anti hoax dan ujaran kebencian atau hate speach.

Deklarasi yang dihadiri puluhan pesilat itu dilakukan di sela ujian kenaikan tingkat (UKT) santri pesilat Pagar Nusa di Jl Raya Kasemen, Desa Wangkalkepuh, Kecamatan Gudo, Sabtu (24/3/2018).

Pimpinan Pagar Nusa Peguron Sapu Jagad, Dimas Cokro Pamungkas atau Gus Dumas mengatakan, peredaran hoax sangat berbahaya bagi masyarakat. Karena dengan adanya kabar bohong tersebut bisa menyebabkan konflik sosial.


Bahkan, lanjut Gus Dimas, hoax bisa membuka disintegritas bangsa kini terbuka lebar. Hal itu karena semakin menyusutnya nilai toleransi. "Jangan sampai para generasin muda NU terbawa arus negatif di medsos (media sosial), karena harus kita akui kalau kondisi medsos saat ini semakin tak terkendali," jelasnya.

Dalam kesempatan itu, seluruh pesilat berbaris rapi. Mereka mengepalkan tangan sebagai simbol perlawanan terhadap hoax. Selanjutnya, Gus Dimas memimpin pembacaan deklarasi anti hoax dan ujaran kebencian itu.

"Saya akan mengedukasi para pemuda NU seperti Pagar Nusa dan IPNU-IPPNU untuk lebih bijak dalam menggunakan medsos. Harus mengedepankan akhlakul karimah untuk mencerminkan sebagai sosok generasi muda NU," kata Gus Dimas.

Gus Dimas kembali menegaskan, hoax sangat berbahaya jika dibiarkan. Apalagi saat ini masyarakat sedang menghadapi Pilkada (pemilihan kepala daerah), Pileg (pemilihan legisltif) serta Pilpres (pemilihan presiden).

"Agar konflik horisontal tidak terjadi, kita berusaha menyatukan semua komponen masyarakat untuk bersama-sama memerangi hoax. Mari dukung pihak berwajib untuk menindak tegas siapapun pembuat hoax dan ujaran kebencian di dunia maya. Bukan buat apa dan buat siapa, semua ini semata-mata demi Indonesia tercinta," pungkasnya. Red Dimas Cokro Pamungkas - Ardi Baskoro Al Barq

Meninggal Dunia Setelah Mendapat Hukuman Dari Pelatih Silat

Wengker.com, Madiun - Pencak Silat ternama di Madiun, Penyidik Polres Madiun menetapkan lima pelatih salah satu perguruan pencak silat ternama di Kabupaten Madiun dalam kasus tewasnya Eka Kurniawan (16), warga Kabupaten Ponorogo.

Murid pencak silat itu tewas setelah menjalani hukuman lima pelatihnya di tempat latihan di Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun, Sabtu (10/6/2017).

"Kelima pelatih yakni VR, AL, FR, JM dan RK kami tetapkan sebagai tersangka dengan tuduhan penganiayaan terhadap Eka Kurniawan hingga menyebabkan korban meninggal dunia," ujar Kasat Reskrim Polres Madiun, AKP Hanif Fatih Wicaksono, Kamis (15/6/2017).

Hanif menuturkan, Eka dianiaya kelima pelatihnya lantaran melakukan kesalahan saat latihan pencak silat. Korban mengalami luka dalam akibat pukulan benda tumpul.

Sesaat setelah korban pulang, lanjut Hanif, orangtua korban mendapati Eka sering pingsan. Khawatir dengan kondisi Eka, orangtuanya membawa ke rumah sakit. Namun saat dibawa ke rumah sakit korban sudah meninggal dunia.

Hanif menambahkan, kelima tersangka warga Dolopo itu tidak ditahan meski statusnya sudah tersangka. Pasalanya kelima tersangka masih berstatus di bawah umur. Kendati demikian kelimanya tetap dikenakan wajib lapor.
Sumber Kompas.com

Untuk dapat mendengarkan radio ini anda harus menginstall flash player klik disini untuk download
Winamp Windows Media Player iTunes basicBerry Real One Android iPhone