Peran Lesbumi NU Membekas Bagi Sujiwo Tejo

Wengker.com, Warta Nahdliyin - Budayawan Nasional Sujiwo Tejo memiliki kesan tersendiri kepada Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi), sebuah lembaga milik Nahdlatul Ulama. Masa-masa kecilnya di Situbondo, Jawa Timur, sering menonton kesenian-kesenian yang dihelat lembaga itu. “Saya pas kecil, kalau tidak ada Lesbumi, tidak ada hiburan di situbondo,” katanya selepas menghadiri Silaturahim Kebudayaan di gedung PBNU, Jakarta, yang diinisiasi Lesbumi PBNU akhir Juli lalu.

Di Situbondo, kata pria yang terampil menulis esai, melukis, dan menyanyi itu, Lesbumi mengadakan pagelaran ludruk, ketoprak dan kesenian-kesenian lain. “Bikin banyak hal. Di Situbondo itu, kegiatannya, saya waktu SD, kalau enggak ada Lesbumi, ya sepi.  Lesbumi bikin ini, bikin itu, saya nonton ketoprak. Itu yang saya selalu saya kenang. Makanya saya kan sekarang ditaruh di Lesbumi juga. Itu peran yang paling konkret yang saya rasakan,” jelasnya.

Seandainya tidak ada Lesbumi, lanjut dalang yang aktif di Twitter itu, Situbondo menjadi daerah sunyi dari kesenian-kesenian juga. “Mereka nanggap wayang juga. Peran yang paling membekas bagi saya itu,” ujar pria yang pernah kuliah di jurusan Fisika dan jurusan Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung itu.

Pada Silaturahim Kebudayaan itu, Sujiwo Tejo tampil menyanyikan beberapa lagu.  Di sela menyanyi, ia menyebut bahasa Indonesia kurang relijius dalam penggunaan istilah “pencipta” yang disandarkan kepada pengarang lagu. Bagi Presiden Jancuker tersebut, “pencipta” hanya layak disandarakan dan milik Tuhan. Sementara ia lebih setuju komposer. “Prinsipnya bukan pencipta lagu, karena saya Pancasilais, bagi saya pencipta hanya Tuhan,” katanya pada silaturahim bertema “Meneguhkan Kebudayaan, Memperkuat Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia”.

Ia mempercayai bahwa lagu-lagu itu sudah diciptakan Tuhan dan bertebaran di alam semesta. Kemudian manusia yang mengambil atau memetiknya. “Manusia yang berkesempatan,” katanya sambil mukanya menengadah ke langit-langit lantai delapan PBNU, sementara tangan kanannya melakukan gerakan seolah-olah memetik sesuatu.

Silaturahim dihadiri seniman Sunda, Gholla Barghawa membuka acara dengan membacakan pantun pembuka diiringi celempung dan karinding. Aktivis dan seniman Lesbumi Sastro Adi menyanyikan "Sapta Wikrama" disusul puisi Abdullah Wong, penampilan Pencak Silat NU Pagar Nusa, dan diakhiri dengan seminar yang diisi Ketua Lesbumi KH Agus  Sunyoto, Ketua Umum Persatuan Purnawirawan Warakawuri TNI/Polri (Pepabri) Agum Gumelar, budayawan KGPH Puger, dan Pemerhati Budaya Harry Tjan Silalahi, serta Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, dan Wakil Rais ‘Aam PBNU KH Miftahul Akhyar. (NU OnlineAbdullah Alawi)

Silaturrahmi Ketua Umum Pagar Nusa Kepada Tokoh Pencak Silat Untuk Redakan Pertikaian

Wengker.com, Warta Nahdliyin - Ketua Umum Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Emha Nabil Haroen akan menemui sejumlah pemimpin perguruan silat lain di Tanah Air. Silaturahmi ini untuk meredakan pertikaian antar anggota perguruan yang kerap terjadi di lapangan.

Gus Nabil mengatakan, sejak terpilih sebagai Ketua Umum PSNU Pagar Nusa dalam kongres III di Jakarta, 3-5 Mei 2017, dia sudah menyiapkan sejumlah program kerja. Di antaranya melakukan road show silaturahmi kepada para pemimpin perguruan silat di Tanah Air untuk membangun komitmen bersama memajukan dunia pencak silat. “Termasuk meredakan konflik antar-perguruan yang kerap terjadi di lapangan,” ucap Nabil di Kediri, Selasa, 23 Mei 2017.

Mantan Sekretaris Umum PSNU Pagar Nusa ini berujar, konflik antar-pendekar yang terjadi selama ini sebenarnya lebih banyak dipicu persoalan pribadi. Mereka yang bertikai kemudian membawa nama perguruan silat masing-masing dan berkembang menjadi pertikaian antar-perguruan. Apalagi kemudian aksi ini diikuti anggota perguruan silat lain sebagai bentuk solidaritas dan membela kehormatan lembaga.

Nabil menuturkan konflik anggota Pagar Nusa dengan anggota perguruan silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) di Trenggalek, Tulungagung, Blitar, dan Nganjuk menjadi contoh masih banyaknya kesalahpahaman pendekar akan arti solidaritas. “Karena itu, kami akan mengajak para pemimpin perguruan membuat kesepakatan bersama tentang cara menindak anggota yang terlibat pertikaian. Salah satunya menyerahkan kepada polisi,” katanya.

Dia berharap road show silaturahmi ini akan membangun kesamaan sikap para pemimpin perguruan silat dalam membina anggotanya. Selain itu, pengembangan prestasi pesilat Indonesia lebih cepat terwujud jika dilakukan bersama-sama.

Selain melakukan silaturahmi, Nabil akan melakukan pembenahan organisasi Pagar Nusa. Salah satu yang paling krusial adalah pendataan anggota, yang hingga kini belum terverifikasi dengan baik. Padahal diperkirakan jumlah pendekar Pagar Nusa yang tersebar di seluruh pelosok mencapai jutaan.

Untuk peningkatan keterampilan anggota, alumnus santri Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, ini juga telah membuat kesepakatan dengan perguruan bela diri luar negeri untuk melakukan pertukaran pelatih. Komitmen ini, antara lain, dilakukan dengan perguruan silat Cina, Mesir, dan Aljazair. “Kami mengundang pelatih shaolin untuk mengajar di Indonesia. Demikian pula sebaliknya,” ujarnya.

Selain mendatangi para pemimpin perguruan silat, Nabil mengaku telah berkunjung ke para kiai sepuh NU untuk mendengar masukannya. Pondok Pesantren Lirboyo menjadi tujuan pertama. Pendiri Pagar Nusa, Kiai Maksum Jauhari, mengajar silat dan disemayamkan di pondok pesantren tersebut.

Penjarakan Siapapun Yang Mengaku Bisa Gandakan Uang - Dimas Cokro Pamungkas

Wengker.com, Warta Nahdliyin - Disaat sedang panas-panasnya menghadapi Pilkada serentak. Masyarakat Indonesia juga disuguhi berita Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang kabarnya mampu menggandakan uang. Ironis, banyak oknum pihak berwajib yang malah menjadi pelindung hal-hal klenik dan mustahil tersebut.

Hebatnya lagi ada mantan anggota DPR RI yang mati-matian membela Kanjeng Dimas Taat Pribadi. Padahal yang bersangkutan mendapatkan gelar S2 dan S3 dari Amerika, negeri yang terkenal dengan kemajuan pola pikirnya. Tidak itu saja, ada juga oknum perwira polisi bintang tiga yang turut menyaksikan penggandaan uang yang beredar di Youtube.

"Kenapa bisa seperti ini? Ini menandakan kesenjangan semakin melebar di negeri ini," kata Dimas Cokro Pamungkas, salah satu Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) kepada Media, Selasa (4/10/2016).

Dimas yang merupakan tokoh muda NU ini mengungkapkan, kesenjangan yang semakin melebar di masyarakat itu meliputi ekonomi, dan pengetahuan baik umum maupun agama. Karena miskin harta maka membuat orang membabi buta dalam mencari hidup, apalagi yang terjerat hutang sehingga membutuhkan solusi instan untuk menyelesaikannya.

Sementara kesenjangan pengetahuan maka akan membuat orang tidak mengetahui apakah sedang ditolong apa ditipu. Karena orang tersebut tidak sadar apakah sedang dibantu apa dibodohi. Sedangkan kesenjangan pengetahuan agama akan membuat orang sembarangan saja dalam memilih guru, tanpa mengetahui orang yang dianggap guru itu benar apa tidak,

"Orang seperti ini maka tidak punya pengetahuan dasar kuat tentang mana yang halal dan mana yang haram," tegas Ketua Pencak Silat NU Pagar Nusa Sapujagad ini.

Dimas menuturkan, pihak yang bertanggungjawab agar tidak semakin banyak orang yang terjebak dalam hal klenik dan mustahil adalah pemerintah, tokoh agama dan siapapun yang peduli dengan kondisi negeri ini. Solusinya sangat sederhana, bila ada orang yang mengaku mampu menggandakan uang, punya bank ghaib, uang balik, jual tuyul, jual jin, dan semacamnya langsung amankan dan suruh buktikan.

"Kalau tidak mampu langsung penjarakan, karena saya yakin seyakin-yakinnya orang yang berbicara bab itu adalah penipu," tegasnya.

Dimas menegaskan, jika penipu tersebut dibiarkan maka yang menjadi korban adalah rakyat biasa yang akidahnya bisa melenceng. Korbannya akan tetap bodoh dan berfikir klenik terus. Padahal negara lain telah berencana ke bulan sementara Indonesia masih berkutat memikirkan penggandaan uang, bank ghaib, tuyul, jin, dan lainnya.

"Sungguh ironis dan memalukan. Ironisnya umat Islam yang dirugikan, karena umumnya para penipu tersebut berkedok ustadz atau tokoh islam dengan segala atribut keislamannya," paparnya.
Harian Terbit

Pernyataan Sikap PP PSNU Pagar Nusa Terhadap Ahok

Wengker.com, Warga Nahdliyin, Pencak Silat Nahdlatul Ulama - Pertama-tama perlu dinyatakan dan ditegaskan kembali bahwa kita sebagai warga Indonesia sudah membangun tatanan bernegara dan berbangsa dengan sabar dalam waktu yang sangat lama. Sebagai salah satu hasilnya, kita bisa menyaksikan bahwa Indonesia kini menjadi satu-satunya harapan dunia sebagai teladan pergaulan kemanusiaan yang beradab. Harapan ini menjadi masuk akal dengan melihat kekacauan global yang terjadi di belahan bumi lain, terutama krisis kemanusiaan berkepanjangan yang terjadi di Timur Tengah.

Akan tetapi, tetap tidak ada jaminan bahwa capaian bangsa Indonesia ini akan terus lestari. PP PSNU Pagar Nusa menengarai adanya upaya-upaya yang secara sadar atau tidak sadar, sengaja atau tidak sengaja, hendak menggiring bangsa ini menuju krisis kemanusiaan sebagaimana yang terjadi di Timur Tengah. Setiap peristiwa yang melibatkan partisipasi massif dari warga, seperti Pilkada dan Pilpres, selalu mengandung patahan dan retakan yang rawan untuk disulut menjadi konflik horisontal.

PP PSNU Pagar Nusa menyimak dan memerhatikan dengan seksama perkembangan yang berlangsung di seputar Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta. Salah satu hal yang mengemuka dan sangat menyita perhatian publik dalam proses tersebut adalah kemunculan isu penistaan agama. Dalam hal ini, sebagai salah satu calon Kepala Daerah, yakni Basuki Tjahaja Purnama, melontarkan kalimat dengan mengutip surat Al Maidah yang dinilai oleh sebagian pihak sebagai penistaan agama. Dengan sendirinya hal tersebut menimbulkan kegaduhan politik yang berkepanjangan.
Perkembangan terbaru dari kejadian tersebut adalah ajakan sekelompok masyarakat yang menamakan diri Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI. Gerakan tersebut mengajak umat Islam di Indonesia, tidak hanya yang ada di Jakarta, untuk ikut serta dalam aksi turun ke jalan pada Jumat, 4 November 2016.
Memperhatikan perkembangan yang terjadi di Jakarta dan daerah lain serta *menindaklanjuti amanah dan perintah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)*, PP PSNU Pagar Nusa berkewajiban untuk menyampaikan hal-hal berikut secara terbuka:

1. Basuki Tjahaja Purnama telah memohon maaf dan PP PSNU Pagar Nusa dapat menerima permintaan maaf tersebut. PP PSNU Pagar Nusa meminta kepada Basuki Tjahaja Purnama agar berhenti dari kebiasaan ceroboh dalam mengeluarkan pernyataan di hadapan publik.
2. PP PSNU Pagar Nusa meminta kepada pihak yang berwenang untuk memproses tuntutan hukum atas Basuki Tjahaja Purnama dengan seadil-adilnya.
3. PP PSNU Pagar Nusa memerintahkan pada seluruh warga Pagar Nusa, tanpa kecuali, untuk tidak ikut serta dalam ajakan aksi 4 November 2016. PP PSNU Pagar Nusa juga melarang disertakannya atribut, lambang, dan simbol yang berkaitan dengan Nahdlatul Ulama dalam aksi tersebut.
4. PP PSNU Pagar Nusa menghimbau kepada segenap masyarakat untuk mengedepankan akal sehat dalam menyikapi dan mengikuti selurus proses Pilkada DKI 2017.
5. PP PSNU Pagar Nusa mengutuk keras pihak-pihak yang dengan sengaja membawa aksi ini untuk tujuan-tujuan anarkis. PP PSNU Pagar Nusa meminta pihak-pihak tersebut untuk berhenti melakukan agitasi gaya Timur-Tengah yang bisa menimbulkan kekerasan dan perang antar saudara. Kekerasan tersebut bagaimanapun tidak bisa dibenarkan oleh dalil apapun dalam Islam.
6. Terakhir, PP PSNU Pagar Nusa menyerukan kepada segenap masyarakat Jakarta, pada khususnya, dan warga Indonesia, pada umumnya, untuk belajar berdemokrasi secara sehat dengan selalu berpegang teguh pada Pancasila dan UUD 1945.
Demikianlah, pernyataan ini disampaikan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala meridlai setiap upaya kita dalam mencintai dan membangun Indonesia

‎والله يوفقنا ما فيه خير الاسلام والمسلمين و خير الاندونيسيا و الاندونيسيين

Pusat Pencak Silat Nahdlatul Ulama PAGAR NUSA

Ketua : M. Heru Taufiq
Sekretaris Umum : M. Nabil Haroen

Pernyataan Resmi Pagar Nusa Terkait Konflik MTA Di Boyolali

Wengker.com, Warta Nahdliyin - Boyolali, Ada simpang siur berita mengenai konflik antara warga dengan MTA di Dusun Bentangan, Desa Doplang, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali. Bagaimana sebenarnya konflik tersebut terjadi sehingga ada ratusan orang yang seolah siap angkat senjata disana? Berikut klarifikasi Iman Widodo, Koordinator Solidaritas Pagar Nusa Solo Raya sebagaimana disebarkan oleh fanspage Facebookresmi Pagar Nusa Klaten.

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Perlu kami beritahukan kepada saudara-saudara Pagar Nusa dan umat Islam bahwa:
1. Tidak ada rencana pengerahan pasukan sejumlah 15.000 orang dari Pagar Nusa Klaten untuk menghancurkan gedung MTA di Dusun Bentangan, Desa Doplang, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali dan melakukan penyerangan terhadap anggota MTA di desa tersebut, sebagaimana isu yang berkembang dikalangan tokoh Masyarakat, Ulama dan khalayak umum.

2. Tidak ada Konsolidasi ribuan anggota Pagar Nusa dari berbagai cabang se-Solo Raya di Pondok Pesantren Al-Manshur Popongan untuk melakukan tujuan sebagaimana tersebut pada poin satu.

3. Konflik yang terjadi di Dusun Bentangan, Desa Doplang, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali, sejak setahun terakhir dan memuncak pada hari sabtu, (23/07) murni dikarenakan masyarakat menolak kegiatan yang dilakukan oleh Majelis Tafsir Al-Qur’an (MTA) dan MTA tidak mengindahkan penolakan masyarakat tersebut. Jadi, ini sama sekali bukan konfliknya Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) dengan Organisasi MTA.

4. Adapun kronologi kasus yang kami dapatkan di lapangan bermula dari anggota MTA yang akan membangun gedung MTA dan menyelenggarakan kegiatan MTA di dusun tersebut namun ditolak masyarakat berdasarkan rapat warga.

5. Namun anggota MTA, yang jumlah anggotanya didusun tersebut hanya terdiri dari 2 kepala keluarga, mengajukan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) ke Pemerintah dan disetujui Pemerintah dengan ijin mendirikan Gedung Serba Guna (Bukan gedung MTA dan untuk kegiatan MTA).

6. Sejak itu, Konflik antara masyarakat dan anggota MTA sering terjadi. Beberapa mediasi telah dilakukan pihak pemerintah Kabupaten Boyolali. Namun warga tetap menolak dan MTA tetap ngotot mengadakan kegiatan.

7. Konflik semakin memanas pada hari sabtu (16/07) dimana MTA mengadakan acara halal bi halal di dusun tersebut dengan mendatangkan massa dalam jumlah yang besar dari luar daerah. Bentrok tidak dapat dihindarkan antara masyarakat dan anggota MTA, yang menyebabkan korban luka dipihak Masyarakat.

8. Intimidasi dan ancaman berkembang di Masyarakat bahwa pada sabtu berikutnya (23/07) MTA akan mendatangkan Satgas Keamanannya sejumlah 1000 orang ke dusun tersebut.

9. Merasa terancam, pada hari kamis, (20/07) masyarakat meminta bantuan kepada Pagar Nusa Kartasura untuk mengantisipasi keadaan.

10. Pada hari sabtu (23/07) pasukan gabungan Pagar Nusa Kartasura dan Pagar Nusa Klaten merapat dan membentuk formasi di rumah-rumah warga dusun Bentangan. Sejak pukul 09.00 WIB, massa tak dikenal terlihat memenuhi 1 Masjid, 2 Mushola, jalan utama dusun, depan gedung yang digunakan pengajian MTA, dan belakang gedung.

11. Sekitar pukul 12.30 WIB pihak kepolisian dengan diikuti warga melakukan Sweeping terhadap massa yang tidak dikenal tersebut dan didapati berbagai macam senjata tajam, seperti : Pedang, clurit, anak panah, gear, gesper, ketapel, dll.

12. Sekitar pukul 13.00 WIB, massa tak dikenal yang sebelumnya menguasai Masjid dan 2 Musholla bersama massa yang terus mengalir datang, merangsek ke depan gedung yang digunakan pengajian MTA dengan diusung menggunakan truck.

13. Polisi menghalangi akses masuk warga dusun Bentangan yang terdiri dari sebagian besar ibu-ibu, disebelah barat gedung yang digunakan pengajian MTA. Supaya tidak terjadi bentrok fisik.

14. Warga dusun Bentangan yang terdiri dari sebagian besar ibu-ibu tersebut melakukan orasi penolakan atas massa tak dikenal yang menginjak-injak kampung mereka. Aksi ibu-ibu ini ditanggapi dengan ejekan penghinaan dari massa yang berada didepan gedung MTA, seperti: menjulurkan lidah, melambaikan tangan seperti orang menantang, mengacungkan 2 jempol kebawah, dll.

15. Massa tak dikenal semakin banyak memasuki gedung dari arah timur dengan diusung menggunakan truck dan mobil. Merasa ibu-ibu yang melakukan orasi terancam oleh kedatangan ribuan massa tak dikenal, warga yang masih terkonsentrasi di depan-depan rumah, berkomunikasi dengan pasukan Pagar Nusa dan simpatisan warga yang lain untuk segera merapat mengamankan ibu-ibu yang berorasi.

16. Bentrokan tidak sempat terjadi karena ibu-ibu dalam pendampingan Pagar Nusa dan simpatisan warga yang lain, serta Blockade dari Polisi yang membatasi pihak warga dan massa tak dikenal.

17. Pagar Nusa menyebar pasukan ke timur gedung untuk menyisir keadaan, mengantisipasi segala kemungkinan, karena jumlah massa tak dikenal semakin banyak berdatangan dari arah timur. Dan pada penyisiran ini dijumpai segerombolan kelompok preman yang cukup terkenal di Jakarta ikut merangsek masuk bersama massa tak dikenal lainnya. Diketahui juga, Ambulans berlogo MTA jg disiapkan di jalan dekat gedung.

18. Massa tak dikenal yang diusung berkali-kali menggunakan truck sebagian besar secara kompak menggunakan topi yang dimiringkan agak kesamping dan bersepatu. Banyak diantara mereka yang terlihat bertatto. Fakta ini menimbulkan tafsir yang berkembang di Masyarakat bahwa massa tak dikenal yang menduduki dusun mereka tersebut bukanlah jamaah pengajian, tetapi kelompok-kelompok preman yang diorganisir.

19. Pihak Polisi dan TNI menambah jumlah personil untuk mengantisipasi keadaan. Sampai sekitar pukul 15.30 WIB suasana terkendali dan tidak terjadi bentrokan. Seorang Tokoh dari Solo di ikuti beberapa simpatisan warga dan masyarakat dusun Bentangan, mendesak pihak kepolisian untuk segera membubarkan pengajian MTA. Setelah bernegosiasi dengan perwakilan warga, Wakapolres Boyolali meminta pihak penyelenggara pengajian MTA untuk segera membubarkan diri.

20. Setelah itu, pengajian MTA bubar. Dan jamaah mereka yang terdiri dari massa tak dikenal dengan jumlah ribuan itu, di pulangkan perlahan-lahan dengan menggunakan mobil dan truck. Dan ketika pulang ekspresi dan gesture tubuh mereka tetap melecehkan masyarakat dusun Bentangan sebagaimana diawal mereka lakukan.

21. Pada hari berikutnya berkembang isu bahwa, MTA akan mendatangkan massa yang lebih besar lagi pada sabtu (30/07) besok. Masyarakat semakin merasa terintimidasi.

22. Disisi lain ada Isu yang berkembang meluas ke berbagai sosial media bahwa terjadi konflik antara NU dan MTA di dusun Bentangan, desa Doplang, kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali. Berbagai simpatisan yang mengatasnamakan NU siap meluncur ke dusun tersebut untuk membantu masyarakat.

23. Pihak PCNU Boyolali berhasil mengklarifikasi bahwa konflik di dusun Bentangan sama sekali bukanlah konflik antara ormas NU dan MTA. Dan berbagai macam simpatisan dan elemen NU yang mau masuk ke Boyolali berhasil dikondisikan dan di tenangkan. Serta diberi pengarahan bahwa cara-cara premanisme bukanlah jati diri NU yang selama ini terkenal dengan ormas Islam yang ajarannya ramah terhadap masyarakat.

24. Dukungan dan Solidaritas juga semakin berkembang dari para pendekar Pagar Nusa di berbagai daerah, dimana sejumlah pasukan akan diturunkan ke Boyolali menjelang sabtu (30/07). Namun pasukan berhasil dikondisikan berkat konsolidasi dengan pimpinan pusat, berbagai pendekar yang disepuhkan, dan komunikasi antar pimpinan cabang, terutama di area Solo raya.

25. Pemerintah diwakili wakil Bupati Boyolali menyelenggarakan mediasi antara MTA dan Kepala Desa yang terkait, Rabu (27/07) di Kesbangpol Boyolali dan disepakati beberapa keputusan yang diantaranya:
(1). Kedua belah pihak sepakat utk menjaga kerukunan dan menjaga keutuhan NKRI. (2). Kedua belah pihak saling menginformasikan kpd jajaran sampai paling bawah bahwa wajib menjaga kerukunan dan keutuhan NKRI, (3). Pengajian MTA di dusun Bentangan sepakat untuk dipindahkan ke desa Randusari menerima secara tangan terbuka, (4). Pelaksanaan pemindahan terkait tempat dsbnya, pihak MTA akan berkoordinasi langsung kepada lurah Randusari bpk. Satu Budiyono. Dan kesepakatan antara MTA dg pihak desa Randusari tersebut telah disepakati secara tertulis hari ini, kamis (28/07).

26. Berdasarkan hal tersebut, dan kesepakatan antara Warga dusun Bentangan, Pagar Nusa, GP Ansor dan Banser se Solo Raya, rabu (27/7) Pagar Nusa Klaten dan Kartasura menarik pasukan dari konsentrasi pengamanan di dusun Bentangan, desa Doplang, kecamatan Teras, kabupaten Boyolali. Akan tetapi sebagaimana komitmen kami dari awal, kami akan terus mengawal dan melakukan pendampingan terhadap masyarakat dusun tersebut dari segala bentuk tindak intimidasi, ancaman dan premanisme sampai batas waktu yang tidak ditentukan.
Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh

.
Gunung Jabalkat, Klaten 28-07-2016

.
Iman Widodo
Koordinator Solidaritas Pagar Nusa Solo Raya

Adanya Nabi Palsu, MUI Harus Cepat Bertindak

Wengker.com, Jombang - Heboh pengakuan Jari (44), warga Dusun Gempol, Desa Karangpakis, Kecamatan Kabuh, yang mengklaim mendapat wahyu dari Allah dan bahkan menahbiskan diri sebagai Nabi Isa mulai menuai beragam reaksi.
Dimas Cokro Pamungkas atau Gus Dimas, Ketua Majelis Dzikir Qurrota A'yun Jombang sekaligus Pengurus Pencak Silat NU Pagar Nusa Peguron Sapujagat menilai, Jari yang mengaku menerima wahyu dari Allah sebagai tanda akhir zaman hanya pembual, penipu, dan abal-abal (palsu).
"Siapapun dia, entah ustaz, gus, kiai, atau syekh sekalipun, jika mengaku mendapat wahyu, atau mengaku nabi, bahkan berani merubah syahadat, berarti dia penipu, nabi abal-abal. Sesat dan menyesatkan," ujar Gus Dimas, Rabu (17/2/2016).
Itulah sebabnya, Gus Dimas mendesak Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersikap tegas.
Yakni memanggil yang bersangkutan untuk dimintai klarifikasi.
Dengan demikian MUI benar-benar mengetahui ajaran seperti apa yang dikembangkan di Pondok Pesantren Kahuripan Ash-Shiroth, Dusun Gempol, Desa Karangpakis, pimpinan Jari.
"Saya dengar ini terjadi sejak 2004, berarti sudah berlangsung 10 tahun. Jika hal tersebut dibiarkan, bisa menjadi bola liar. Makanya MUI Jombang proaktif memanggil yang bersangkutan," ujar Gus Dimas.

Kecaman serupa juga disampaikan beberapa pengurus Pagar Nusa lainnya, termasuk saya sbagai Admin tunggal Wengker.com jga berharap MUI segera bertindak akan kasus Nabi palsu ini. Karena hal ini menyangkut aqidah, kelakuan Jari Sang Nabi Palsu sudah kelewatan dengan cara mengubah bunyi lafadz Syahadatain, dan hal ini juga bisa menimbulkan reaksi lebih keras lagi karena kelakuan Jari telah melukai seluruh Ummat Muslim. Saya sangat sepakat sekali dengan pernyataan Gus Dimas, siapapun dia, yang mengaku Nabi, apalagi berani mengubah bunyi lafadz Syahadad, maka harus ditindak tegas, kalau perlu dia (Jari) harus meminta maaf kepada seluruh Ummat Islam khususnya di Indonesia.

Bahstul Masail PWNU Jatim Tentang Islam Nusantara

Wengker.com, Warta Nahdliyin - Bahtsul Masail Maudhu'iyah PWNU Jawa Timur tentang ISLAM NUSANTARA akan diselenggarakan pada Sabtu, 13 Februari 2016, pukul 07.30-17.00 WIB Di Universitas Negeri Malang.

Tashawwur (Seminar)
1. KH. Miftahul Akhyar, Wakil Rais Amm PBNU
2. KH. Najih Maemun Zubair, PP Sarang Rembang
3. Prof. Hariyono, Sejarawan UM

Mushahhih:
KH. Abdul Matin
KH. Syafruddin Syarif
KH. Romadlon Khotib
KH. Farihin Muhson
KH. Muhibbul Aman Ali
KH. Marzuki Mustamar

Perumus:
KH. Ahmad Asyhar Sofwan, M.Pd.I
KH. Azizi Hasbulloh
KH. MB. Firjhaun Barlaman
KH. Athoillah Anwar
KH. M. Mujab, Ph.D.

Moderator:
Ahmad Muntaha AM
Faris Khoirul Anam, M.H.I

Notulen:
H. Ali Maghfur Syadzili, S.Pd.I.
H. Syihabuddin Sholeh
H. Muhammad Mughits
Ali Romzi

Pembahas:
1. PW LBM NU Jawa Timur
2. PCNU Se Jawa Timur
3. 10 Pondok Pesantren Undangan (Lirboyo, Ploso, Sidogiri, dll) dan Haiah Shofwah.

ISLAM NUSANTARA

A. Mukadimah
B. Poin Pembahasan
1. Maksud Islam Nusantara
2. Metode Dakwah Islam Nusantara
3. Landasan Menyikapi Budaya/Tradisi
a. Ayat al Qur'an dan al Hadits yang Mengakomodir Tradisi/Budaya
b. Tradisi Jahiliyah yang Diakomodasi Menjadi Ajaran Islam
c. Pendekatan Terhadap Tradisi/Budaya
d. Melestarikan Tradisi/Budaya yang Menjadi Media Dakwah

4. Sikap dan Toleransi Terhadap Pluralitas Agama dan Pemahaman Keagamaan
a. Sikap Terhadap Pluralitas Agama
b. Toleransi Terhadap Agama Lain
c. Toleransi Terhadap Pemahaman Keagamaan Selain Ahlussunnah wal Jamaah

5. Konsistensi Menjaga Persatuan Bangsa Untuk Memperkokoh Integritas NKRI

Download File Draft Bahtsul Masail Maudhu’iyah
https://docs.google.com/uc?id=0B7ZVaBiCAbMRdEMtTlBOMlJ4YjA&export=download

Sumber Grop Whatsapp Islam Nusantara

Pagar Nusa Jombang Akan Bentuk Satgas Anti Narkoba

Wengker.com, Pagar Nusa - Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Republik Indonesia, Komisaris Jenderal Budi Waseso mengatakan, seluruh lapisan masyarakat harus perang narkoba. Apalagi, Presiden Joko Widodo menyampaikan Indonesia darurat narkoba. “Bila Bapak Presiden Joko Widodo menyampaikan Indonesia darurat narkoba. Maka, kita perang narkoba, semua unsur harus beri perlawanan kepada bandar narkoba,” ujarnya.
Langkah nyata dibuktikan, Badan Narkotika Nasional (BNN) melakukan menggerebek sebuah gudang di Jepara, Jawa Tengah. Dalam penggerebekan itu, BNN menangkap 1 orang tersangka dan menemukan 100 Kg sabu.
Penggerebekan itu dilakukan sore , Rabu (27/1/2016), di sebuah komplek pergudangan. 1 orang tersangka yang merupakan warga Pakistan berinisial MR turut ditangkap di lokasi.
Sabu seberat 100 kg itu ditemukan di dalam mesin genset. Diduga sabu siap edar itu akan dibawa ke Jakarta untuk dijual.

Menanggapai seruan perang terhadap narkoba, Gus Dimas Cokro Pamungkas, Ketua Pagar Nusa Peguron Sapu Jagat Jombang, Jatim mendukung penuh. “Bahkan kami akan mempersiapkan Satgas Anti Narkoba Sapu Jagad atau disingkat SANJAGAT, “paparnya di padepokan Sapujagad, Jombang.
Ia menjelaskan bahwa Satgas ini merupakan tim reaksi cepat yang akan bergerak jika ada laporan tentang narkoba. Setelah tertangkap tangan lalu diserahkan ke aparat kepolisian. Selain terdapat juga tim pengintai yang akan memantau wilayah terhadap pemakai narkoba.
Jika terdapat indikasi terdapat pemakai narkoba akan dilakukan pengintaian. Setelah yakin memang ada pengguna atau bandar lalu berkoordinasi dengan aparat supaya ditindak lebih lanjut. “Kami membantu dengan cara menberdayakan masyarakat. Pemberantasan narkoba tidak hanya sebatas tanggung jawab kepolisian tapi semua elemen masyarakat untuk mengawasi daerahnyan masing-masing,”paparnya.
Bagi anggota Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa diminta aktif di wilayah masing-masing menjaga keamanan. “Dengan bekal beladiri yang kita miliki tentunya sangat membantu jika ada pengguna yang meresahkan masyarakat. Jadi selama ini kami belajar beladiri ada manfaatnya tidak hanya untuk gagah-gagahan dan atraksi,”bebernya.
Sumber TopBintang

Pagar Nusa Pati Menyatakan Siap Kawal Eksekusi Tempat Karaoke

Wengker.com, Pagar Nusa Jateng - Pendekar Nahdlatul Ulama (NU) yang tergabung dalam Pimpinan Cabang Pencak Silat Pagar Nusa NU Kabupaten Pati menyatakan siap mengawal eksekusi karaoke yang dideadline Pemkab hingga akhir Januari 2016.

Ketua Pagar Nusa Pati Edi Suyono yang akrab disapa “Ki Joko Buono” menyatakan prihatin atas lambatnya upaya penegakan Perda Nomor 8 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Kepariwisataan.

”Kami mewakili pendekar Pagar Nusa NU Pati mendesak agar Pemkab untuk benar-benar serius melakukan penegakan Perda karaoke yang sudah disepakati hingga akhir Januari 2016. Kalau tidak sanggup, Pemkab bisa meminta tolong kepada kami untuk ikut mengawal penegakan Perda,” kata Ki Joko Buono kepada MuriaNewsCom, Jumat (29/1/2016).

Ia menilai Perda yang mengatur karaoke menjadi bagian dari langkah terbaik untuk menata peta wisata di Pati. ”Ormas Islam NU dan Muhammadiyah ikut berperan dalam penyusunan Perda itu. Kalau Perda sudah disahkan menjadi produk hukum warga Pati, itu artinya harus dipatuhi,” tandasnya.
Sumber MuriaNews

Ketua Pagar Nusa Peguron Sapu Jagat Kecam Maraknya Kaum Gay

Wengker.com, Pagar Nusa - Artis Indra Bekti dikabarkan telah melakukan ajakan seksual terhadap seorang aktor FTV bernama Lalu Gigih Arsanova. Didampingi kuasa hukumnya, Gading Satria Nainggolan, Gigih menyambangi Polda Metro Jaya untuk membuat laporan atas dugaan melanggar kesusilaan.

Usai berkonsultasi dengan polisi, Gigih justru diminta membawa seorang ahli bahasa untuk menjabarkan soal dugaan pelanggaran susila tersebut.

“Saya dan klien mau melaporkan pasal 27 ayat 1 UU ITE, tentang mengirimkan pesan yang melanggar kesusilaan. Tapi orang cyber Polda minta kami ke ahli bahasa dulu untuk cari tahu apa itu kesusilaan,” ujar Gading Satria Nainggolan di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Kamis (28/1/2016).

Indra Bekti yang dikonfirmasi mengenai tuduhan asusila, langsung memberi bantahan. Indra mengatakan, tuduhan tersebut diarahkan kepadanya hanya untuk menjatuhkan nama baiknya.

Terlepas dari isu yang menimpa Indra Bekti, beberapa waktu lalu,di Bali juga ada pernikahan sejenis antar laki-laki.

Dunia juga dikagetkan dengan keputusan Mahkamah Agung (MA) Amerika Serikat melegalkan pernikahan sesama jenis di 50 negara bagian melalui keputusan bersejarah pada Jumat (26/6/2015) waktu setempat.

Sebelumnya, pernikahan sesama jenis hanya legal di 36 negara bagian. Melalui keputusan 5-4, Mahkamah mencabut larangan pernikahan sesama jenis yang diterapkan oleh 14 negara bagian. Larangan ini berujung pada pengajuan kasus Obergefell versus Hodges agar MA memutuskan keabsahan larangan pernikahan ini.

Keputusan ini merupakan kemenangan bagi aktivis kaum gay yang selama ini mengampanyekan legalisasi pernikahan.

Mahkamah Agung Amerika Serikat
Melalui kicauan Twitter-nya, Presiden AS Barack Obama memuji keputusan ini.

“Hari ini kita mengambil langkah besar di dalam perjuangan mencapai kesetaraan. Pasangan gay dan lesbian sekarang memiliki hak untuk menikah seperti siapa pun,” kicau Obama.

Akun Twitter White House langsung mengganti warna profil gambar menjadi warna pelangi, simbol kebanggaan kaum gay. Tidak ketinggalan, calon presiden dari Partai Demokrat Hillary Clinton ikut mengganti profil akun Facebook-nya juga menjadi warna pelangi.

“Saya bangga dapat ikut merayakan kemenangan bersejarah demi mencapai kesetaraan pernikahan ini,” kata Hillary.

Menanggapi  kebijakan Barack Obama, Gus Dimas Cokro Pamungkas ,ketua Peguron Sapujagat Pagar Nusa, Jombang mengecam keras. Menurutnya Obama telah melanggar HAM bagi sebagian umat manusia terutama umat Islam. Obama hanya mengindahkan kehendaknya sendiri tanpa melihat miliaran umat manusia yang hidup di muka bumi.

“Dalam islam hukumnya sudah jelas bahwa gay atau homo hukumnya haram dan terkutuk. Penyimpangan seksual semacam itu telah aad sejak jaman nabi Luth di negeri Sodom. Karena tidak bisa dikendalikan lagi, akhirnya Allah Murka dan membinasakan kaum Homo tadi dengan bencana alam yang dahsyat menimpa seluruh negeri Sodom,”paparnya .
Maka menurutnya Homo tetap perbuatan yang dilarang agama sampai akhir jaman. Baginya aturan dalam islam sangat jelas , terbukti marak penaykit HIV AIDS karena perilaku menyimpang itu.

“Di samping sebagai umat islam , saya juga bicara sebagai warga negara Indonesia. Menurut saya Hak Asasi Manusia tidak bisa hanya diukur dengan standar Amerika Serikat seperti yang selama ini dijalankan Komnas HAM tentang kaum Gay . Masing-masing negara punya adab, aturan dan budaya yang berbeda. Sehingga tidak bisa menelan mentah-mentah HAM yang pakai ukuran budaya barat. Kita tidak harus ikut 100 % aturan yang diterapkan Amerika yang tidak sesuai dengan ada ketimuran,”bebernya.

Ditambahkannya agar Komnas HAM membuat kebijakan yang tidak menyakiti umat Islam. “Menurut saya perlu dibuat definisi Hak Asasi Manusia versi Indonesia. HAM yang sesuai dengan milai-nilai ketimuran berlandaskan agama. Kita toh tidak harus ikut segala aturan dari Barat,”tandasnya.

Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa Siap Membantu Menumpas ISIS

Wengker.com, Warta Nahdliyin - Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Tito Karnavian mengatakan sosok ISIS asal Indonesia, Bahrun Naim terlibat dalam serangan bom di Jakarta Pusat.
“Khusus di Asia Tenggara, ada satu tokoh, yaitu Bahrun Naim, yang ingin mendirikan Katiba Nusantara,” kata Tito Karnavian.
“Dia ingin menjadi leader untuk kelompok ISIS di Asia Tenggara,” tambah Tito.
Pernyataan itu ditegaskan oleh Mantan Kepala BNPT, Ansyaad Mbai. “Serangan di Sarinah itu menurut saya sangat terkait para pelaku di Paris itu. Kan mereka sudah pernah dilatih di Suriah, dan di Indonesia, teroris itu kan sudah banyak yang di sana dan banyak yang sudah kembali di Indonesia,” katanya.
Ia menambahkan, “Dari sekian banyak dari para jihadis Indonesia di Suriah banyak yang kembali dari Suriah, dan itu baru satu orang yang ditangkap dan diadili sisanya entah ke mana.”
Menanggapi hal tersebut, Gus Dimas Cokro Pamungkas, Ketua Pencak Silat NU Pagar Nusa, Peguron Sapujagad, Jombang menandaskan bahwa tidak perlu takut pada ISIS. “Kami siap membantu aparat kepolisian menumpas ISIS sampai ke akar-akarnya jika berbuat ulah di Indonesia. Pagar Nusa Peguron Sapujagad siap mengamankan setiap wilayah yang rawan,”tegasnya via social media beberapa saat yang lalu.
Menurutnya, masyarakat harus saling bekerjasama untuk menjaga lingkungan. Jika kontrol masyakarat kuat maka perkembangan ISIS dapat diredam. “Sebenarnya yang terpengaruh ISIS justru tidak memahami tentang agama secara mendalam. Mereka terbuai bujuk rayu duniawi, diiming-imingi kesenangan yang sebenarnya semu,”tandasnya.
Perbuatan ISIS yang membunuh orang tak berdosa tanpa peri kemanusiaan menunjukkan mereka tidak mengerti agama islam yang mengajarkan kasih sayang pada sesama. “Kita kutuk perbuatan ISIS. Jangan takut pada ISIS, kuatkan iman,”katanya.
Sumber Gus Dimas

Serah Terima Jabatan Ketua Umum Pagar Nusa

Wengker.com, Warta Nahdliyin, Pagar Nusa - Pimpinan Pusat Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa melakukan serah terima jabatan Ketua Umum dari H Aizuddin Abdurrahman kepada Ajengan Mimih Hoiruman di Masjid An-Nahdlah, lantai 1 gedung PBNU, Jakarta pada Rabu (23/12). Aizuddin Abdurrahman merupakan ketua umum hasil kongres di Lamongan, Jawa Timur, pada tahun 2012. Seharusnya, ia memimpin sampai tahun 2017. Namun karena diangkat menjadi salah seorang ketua di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, terjadi kekosongan di Ketua Umum Pagar Nusa. Hasil rapat Pimpinan Pusat mengamanahkan kepada Mimih Haeruman.  Serah terima ditandai dengan penyerahan jas putih Pagar Nusa Aizuddin kepada Mimim Haeruman yang disaksikan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Ketua PBNU KH Abdul Manan A Ghani, Bendahara Umum PBNU H Bina Suhendra, dan beberapa Wakil Ketua PBNU Imam Pituduh dan Suadi Pranoto.

Aizuddin berharap, peralihan antar waktu jabatan ketua umum tersebut akan menjadi lebih baik di bawah kepemimpinan Mimih. “Organisasi Pagar Nusa menjadi lebih baik, lebih besar sebgaimana dicita-citakan pendiri NU pada umumnya, dan pendiri Pagar Nusa pada khususnya,” katanya. Ia mengucapkan terima kasih kepada seluruh anggota Pagar Nusa yang memilihnya pada 2012. Serta memohon maaf tidak memimpin sampai selesai karena amanah barunya sebagai Ketua PBNU. Sementara Mimih Haeruman dalam sambutannya berjanji akan mengemban amanah sebagai Plt Ketua Umum Pagar Nusa. Dia berjanji akan mewakafkan jiwa dan raganya untuk membesarkan organisasi tersebut dan menjaga NU.

Mengenai peralihan jabatan tersebut, Sekretaris Jenderal PSNU Pagar Nusa Muhammad Nabil Harun mengatakan, jabatan yang diemban Mimih adalah Plt Ketua Umum karena bukan hasil kongres. (Abdullah Alawi)
Sumber Info

VOA Islam Salah Gunakan Kebebasan Bicara

Wengker.com, Warta Nahdliyin - Pelatih pencak silat Pagar Nusa Bandung Saefudin Zh menyayangkan sikap berlebihan admin situs www.voa-islam.com yang telah memuat warta fitnah, hasut, pelecehan dan penyebaran konten dengan isu SARA. Saefudin menegaskan bahwa kebebasan di era reformasi ini tetap tunduk pada undang-undang yang berlaku.

Saefudin salah seorang tim dari Bandung yang melaporkan pelanggaran admin situs www.voa-islam.com ke Kantor Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Kepolisian RI. "Kebebasan seharusnya digunakan untuk amal kebaikan. Tapi voa-islam justru menggunakan untuk sarana menghasut dan mengadu-domba umat," terang pengurus masjid di kawasan Lembang kabupaten Bandung itu.

Menurut Saefudin, agenda laporan situs yang beberapa hari ini mati karena bukan semata menyangkut nama KH Abdurrahman Wahid, tetapi juga menyinggung PBNU. Terlebih penting lagi adalah sikap rasis dari pihak voa-islam terhadap etnik Cina. "Mereka sengaja membangun opini tendensius untuk menjelek-jelekkan PBNU. Coba lihat tulisan ini," katanya sambil menunjukkan sejumlah kalimat yang dimuat voa-islam.

Tertulis dalam berita www.voa-islam.com, "Konon kantor PBNU, di Jalan Kramat itu, juga tak lepas dari sumbangan dari para ‘taoke’ Cina.” Menurut Saefudin, sekalipun menggunakan kata “konon”, jelas itu upaya membangun opini buruk. Kalau belum pasti mengapa penulisnya tidak melakukan cek terlebih dahulu? Mengapa percaya pada konon? Dan siapa yang mengatakan itu?" ucap Saefudin, Kamis (19/11). Saefudin Zh melihat banyaknya berita situs www.voa-islam.com yang memang konstruksinya dibangun untuk sarana hasut dan fitnah. Sekalipun situs itu mati sejak rabu 18 November 2015 lalu, tetapi Saefudin bersama sahabat-sahabatnya masih memiliki arsip. Bahkan sebagian masih terpampang di google.com.

Saefudin kini sedang menunggu kabar secepat dari pihak Bareskrim Polri. Sambil menunggu, ia bersama sahabatnya aktif menggalang solidaritas. Pengurus-pengurus Pagar Nusa dikonsolidasikan. Jejaring kelompok sosial dimaksimalkan. "Ini bukan urusan semata Gus Dur. Tapi urusan ke-NUan, dan juga usaha menyehatkan pers. Jangan sampai kebebasan justru dijadikan sarana pemberitaan yang tidak beradab. Kita orang Islam harus mengerti akhlaq. Karena itulah kita tertantang untuk menyelesaikan masalah ini sampai tuntas," paparnya.

Saefudin dalam urusan ini tidak akan berhenti sekalipun di balik Voa-Islam.com tersebut merupakan golongan Islam garis keras. (Satar Sakri/Alhafiz K)
Sumber Info

Ditukarkan Ke Bank Ghaib, Upal Berubah Jadi Asli

Wengker.com, Kriminal Jombang - MA (34), warga Kecamatan Palang, Tuban yang dibekuk polisi di rumah kos Dusun Parimono, Desa Plandi, Jombang Kota, akhirnya angka bicara. Dia mengakui telah menyimpan uang palsu (upal) ratusan juta. Namun demikian, dia bersikeras bahwa upal tersebut bisa berubah menjadi asli jika ditukarkan ke Bank Ghaib.

Bank Ghaib yang dimaksud MA adalah dengan melakukan ritual. Makanya, dalam penggerebekan tersebut polisi juga menyita minyak wangi yang akan digunakan untuk ritual. "Kalau dilakukan ritual, uang tersebut bisa menjadi asli," kata MA di hadapan sejumlah wartawan, Kamis (10/12/2015).

MA mengatakan, upal tersebut ia dapatkan dari seseorang berinisial AH. Bahkan MA juga menyaksikan AH melakukan ritual untuk merubah upal tersebut. "Setelah dilakukan ritual, upal tersebut bisa menjadi asli. Saya melihat dengan mata kepala sendiri," katanya mengulang.

Sementara itu, warga Jombang pun resah dengan adanya kasus upal tersebut. Dimas Cokro Pamungkas, ketua PSNU Pagar Nusa Sapujagad Jombang, menandaskan bahwa modus penggandaan uang dengan ritual adalah penipuan. Cara-cara tersebut sengaja dihembuskan untuk mengelabuhi korban.

"Jombang itu punya julukan kota santri. Karena di Jombang ada ribuan pesantren. Harusnya kita berperan aktif mencerdaskan masyarakat. Sudah bukan jamannya lagi berpikir klenik. Siapa pun orangya jika menawarkan penggandaan uang, bank ghaib dan sejenisnya, berarti dia itu penipu," ujar Gus Dimas yang juga Ketua Majelis Dzikir Qurrota Ayun, Jombang ini, Kamis (10/12/2015).

Kasatreskrim Polres Jombang AKP Wahyu Hidayat mengatakan, pihaknya terus mendalami kasus tersebut. Dia yakin, upal ratusan juta yang ada di rumah kos itu merupakan sindikat antarkota. Walhasilnya, setelah dilakukan pengembangan, muncul beberapa nama yang merupakan jaringan MA. "Sudah ada beberapa nama yang diduga jaringan pelaku," katanya.

Seperti diberitakan, Polres Jombang menggerebek rumah kos di Dusun Parimono, Desa Plandi, Kecamatan Jombang Kota. Dalam penggerebekan ini polisi meringkus MA (34) warga asal Kabupaten Tuban.

Bukan hanya itu, petugas juga menyita barang bukti berupa uang palsu, baik yang sudah terpotong maupun masih dalam bentuk lembaran. Terdapat juga uang mata uang dolar Amerika. Seluruh uang palsu itu berjumlah Rp 700 juta lebih.
Sumber BeritaJatim

Aksi Damai Generasi Muda NU Ponorogo Menolak Kekerasan Atas Nama Agama

Wengker.com, Warta Nahdliyin - Sahabat, Bumi Ponorogo adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dimana rakyatnya mengidamkan bumi penuh kedamaian. Ungkapan kebencian, permusuhan dan tindak kekerasan apalagi yang mengatas namakan agama harus dicegah dan ditolak.
Ungkapan kebencian, permusuhan dan tindak kekerasan apalagi yang mengatas namakan agama telah  membawa korban jiwa yang tak terhitung jumlahnya di seluruh belahan bumi ini, tak terkecuali di Bumi Ponorogo ini. Tindak kekerasan ini diawali dengan menuduh kelompok lain sebagai sesat, kafir dan tak berilmu dan dengan tuduhan itu mereka dengan gampang pula mengabsahkan tindak kekerasan, terhadap kelompok yang di katakan sebagai sesat dan kafir itu. Gelompok ini berideologi radikal, dan sering menggunakan ungkapan kebencian serta ancaman kekerasan terhadap kelompok lain.
Gejala munculnya gerakan yang melakukan ‘penyesatan, pengkafiran dan ungkapan permusuhan’ terhadap ajaran dan tradisi Islam yang Rahmatalil ‘Alamin, Islam Ahlussunnah wal Jama’ah  yang telah tumbuh berkembang, serta diwarisklan para ulama sebelumnya mulai muncul di bumi Ponorogo ini. Bahkan gerakan ini sudah mulai ‘mengganggu’ tradisi ‘guyub rukun’ yang telah lama di ’uri-uri’ masyarakat Ponorogo, dengan mulai memaksakan agendanya pada pusat-pusat peribadatan, seperti masjid dan mushala, melalui media massa cetak dan elektornik.
Oleh karena itu kami Generasi Muda NU Ponorogo menyatakan sikap:
1. Menolak segala bentuk ungkapan, pernyataan, tindakan yang menunjukkan kebencian, permusuhan dan kekerasan apalagi yang mengatasnamakan agama;
2. Menuntut kepada Pemerintah dan aparat yang terkait melakukan pengawasan dan tindakan hukum yang tegas terhadap individu, maupun kelompok yang sering menggunakan  ungkapan, pernyataan, tindakan yang menunjukkan kebencian, permusuhan dan kekerasan apalagi yang mengatasnamakan agama;
3. Menuntut kepada aparat Pemerintahan di Kabupaten Ponorogo, untuk melibatkan organisasi pemuda, organisasi massa keagamaan untuk berkolaborasi menangkal segala bentuk ideologi yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia;

Ponorogo, 4 Desember 2015
Generasi Muda NU Ponorogo Menolak Kekerasan Atas Nama Agama
Gerakan Pemuda Ansor, Fatayat NU, PMII Ponorogo, IPNU/IPPNU, Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa, Jaringan GusDurian

Jihad Santri Lirboyo

Wengker.com, Nasional - Pada hari Jumat tanggal 17 Agustus 1945 setelah Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan Bangsa Indonesia, pasca menyerahnya tentara Jepang tanpa syarat. Tak lama kemudian Mayor Mahfud yang saat itu menjadi Sudanco (komandan seksi) di daerah Kediri menyampaikan berita gembira kemerdekaan itu kepada KH. Mahrus Aly, dilanjutkan dengan pertemuan para santri di serambi masjid Pondok Pesantren Lirboyo. Di sana diumumkan bahwa rakyat Indonesia yang telah sekian abad lamanya dijajah oleh pihak asing, sekarang telah resmi merdeka. Santri Lirboyo dalam kesempatan yang sama itu, sepakat melucuti senjata Jepang di Markas Kompitai Dai Nippon di Kediri (kini Markas Brigif 16 Kodam V Brawijaya) yang letaknya sekitar 1,5 Km. dari arah timur Pondok Pesantren Lirboyo.
Tepatnya pada jam 22.00 dengan peralatan seadanya berangkatlah 440 santri mengadakan pernyerbuan di bawah komando KH. Mahrus Aly, Mayor Mahfudh dan Abdul Rakhim Pratalikrama. Adalah si kecil Syafi’i Sulaiman yang di kemudian hari menjadi Wakil Ketua PWNU Jawa Timur. Santri yang masih berusia 15 tahun itu, diutus oleh Kiai Mahrus untuk menyusup ke markas Dai Nippon guna mempelajari keadaan dan memantau kekuatan lawan. Setelah penyelidikan dirasa cukup, Syafi’i segera melapor kepada Kiai Mahrus dan Mayor Mahfudh.
Invasi para santri itu berhasil. Atas kebijaksanaan Kiai Mahrus, satu truk senjata hasil lucutan Jepang itu dibawa ke Pondok Lirboyo dan setelahnya diserahkan kepada Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang hingga kini (saat buku disusun -red. ) masih tersimpan di Markas Brawijaya Kediri.
Dalam kesempatan lain, Lirboyo juga ikut andil membantu arek-arek Suroboyo mengusir Sekutu. Seperti tercatat dalam sejarah bahwa, pada tanggal 21-22 Oktober 1945, para ulama yang tergabung dalam Himpunan Besar Nahdlatul Ulama (HBNU) memanggil seluruh perwakilanya yang tersebar di Jawa dan Madura. Bertempat di Kantor HBNU Jalan Bubutan Surabaya, dipimpin KH. Hasyim Asy’ari membahas kedatangan Belanda yang hendak kembali menjajah. KH. Mahrus Aly yang ikut hadir dalam pertemuan itu bersama sejumlah kiai, sepakat mengeluarkan fatwa ‘Perang Sabil’ yakni Jihad Fi Sabilillah, hukum melawan Belanda dan kaki tangannya adalah fardlu ‘ain. Dan tiga hari sejak tentara sekutu di bawah pimpinan Jenderal AWS Mallaby mendarat di Tanjung Perak Surabaya, tepatnya tanggal 28, 29, 30 Oktober 1945 pecahlah peperangan di Surabaya.
Jauh sebelum penjajah itu mendarat, Mayor Mahfudh datang ke Lirboyo menghadap KH. Mahrus Aly guna memberikan informasi bahwa Surabaya dalam kondisi darurat. Seketika itu juga, KH. Mahrus Aly mengatakan, “Kita harus pertahankan kemerdekaan ini sampai titik darah penghabisan”. Kemudian lewat Agus Suyuti, KH. Mahrus Aly mengumumkan hal ini kepada para santri dan dipilihlah beberapa santri yang tangguh untuk bertempur di Surabaya. Diantara 97 santri senior itu adalah: Syafi’i Sulaiman, Agus Jamaluddin, H. Masyhari, H. Ridlwan, Baidlowi, Imam Hanafi, Ahmad Hasyim, Damiri yang semua berasal dari Kediri. Ditambah Abu Na’im Mukhtar (Salatiga), Khudlori (Nganjuk), Sujairi (Singapura), Zainuddin (Blitar), Jawahir (Jember), Agus Suyuti (Rembang).
Di antara sekian santri yang memiliki senjata, adalah Agus Suyuti (asal Rembang) berupa granat yang sudah dirajah hasil pemberian Kiai Saefuddin, Kemuning, Kediri. Dalam penyerbuan itu para santri dapat meraih 9 pucuk senjata. Selama berperang 8 hari di Surabaya tersebut, seluruh santri menjalankan puasa yang telah diijazahkan oleh Kiai Mahrus. Sementara untuk menggembleng mental, meningkatkan kesiagaan, di Pondok Lirboyo diadakan gerakan batin yang langsung di pimpin oleh KH. Abdul Karim dan KH. Marzuqi Dahlan.
Pada tahap selanjutnya, Lirboyo mengirimkan lagi 74 orang santrinya. Peperangan ini membawa hasil rampasan 7 pucuk senjata Belanda. Hal ini berlanjut dengan pengiriman 30 santri di bawah komando Kiai Miftah, Tegal, yang berjuang bersama masyarakat dalam rangka menggempur markas pertahanan Belanda di Sidoarjo melalui tambak-tambak dan rawa-rawa.
Ketika markas ulama bertempat di Blauran, Surabaya, KH. Mahrus Aly, Kiai Dimyati dan Kiai Sa’id berangkat ke Surabaya untuk bertahan. Ketika markas itu pindah ke Sidoarjo, KH. Mahrus bersama Kiai Saefuddin Kemuning menyusul kesana. Kiai Saefudin terus maju ke depan sedangkan Kiai Mahrus sendiri karena mendengar berita genting, akhirnya kembali lagi ke Kediri. Untuk bekal perjuangan kala itu, Kiai Mahrus bersama Kiai Hasyim, Mojoroto, mengumpulkan dana dari para dermawan.
Dari sekian kali pertempuran, santri Lirboyo tidak pernah menjadi korban. Hanya saja dalam pengiriman kedua, santri bernama Damiri tertangkap Belanda di Desa Ngantilampah, sebelah utara Mojokerto. Dia kemudian dibawa ke Surabaya untuk diperiksa. Teman-teman santri pun cemas. Tahlil dan do’a pun digelar yang dipimpin oleh KH. Abdul Karim, dengan harapan Damiri bisa selamat. Selang beberapa hari, tiba-tiba Damiri datang dalam keadaan segar bugar. Entah karena kepandaiannya, berkat doa Kiai Abdul Karim, ataukah faktor lain, tidak diketahui kenapa Damiri hanya ditahan selama tiga hari.
Pasca pertempuran Surabaya yang berakhir 10 Nopember 1945, tepatnya menjelang Agresi Militer Belanda II pada bulan Oktober 1948, barisan Hizbullah dan Sabilillah digabung menjadi satu untuk meningkatkan dan memajukan daya tempur dalam perjuangan. Kedua pasukan ini diganti menjadi Satuan Batalion 508 yang dikenal dengan nama Batalion Glatik atau Batalion HM. Batalion ini di bawah pimpinan Mayor H. Mahfud selaku komandan, Kiai Muhammad Tambak Rejo, Gurah, Kediri sebagai wakil komandan, sedangkan yang bertindak selaku staf adalah M. Yaqil. Batalion 508 inilah yang sebenarnya merupakan embrio lahirnya Kodam V Brawijaya di Kediri pada tanggal 17 Desember 1948. /-
Disarikan dari buku “Pesantren Lirboyo : Sejarah, Peristiwa, Fenomena dan Legenda”

Pagar Nusa Soloraya Ingatkan Komitmen Kebangsaan

Wengker.com, Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa - Selama dua hari (10-11/10), para pendekar Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa wilayah Soloraya mendapat gemblengan. Kegiatan yang diikuti sekitar 50-an kader tersebut, dipusatkan di Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti Klaten, Jawa Tengah.
Ketua Pimpinan Cabang Pagar Nusa Kartasura Ghulam Abdurrahman menerangkan, acara penggemblengan ini merupakan acara penutup dari rangkaian kegiatan pendadaran yang selama sepekan sebelumnya telah dilaksanakan di daerah masing-masing.
“Kita harapkan, dengan penggembelengan ini dapat menguatkan jati diri para kader Pagar Nusa, serta mengingatkan mereka akan tugas utamanya menjaga keutuhan NU dan bangsa,” ujar Ghulam.
Ghulam juga menambahkan, lokasi penggemblengan di pesantren asuhan mendiang Mbah Liem ini juga dimaksudkan untuk mengambil ruh semangat perjuangan Mbah Liem. “Tugas utama kami jelas menjadi benteng terdepan bagi ulama, tapi selain itu dengan mengambil ruh semangat perjuangan Mbah Liem kami juga ingin memunculkan rasa nasionalisme kami dalam menjalankan tugas kami menjaga bangsa Indonesia ini,” ujar dia.
Dalam kegiatan tersebut, para peserta yang berasal Klaten, Solo, dan Kartasura tersebut berziarah ke makam mbah Liem, untuk selanjutnya melakukan longmarch menuju makam Ki Ageng Gribik di daerah Karang Anom, Klaten.
Selain longmarch rangkaian gemblengan juga meliputi uji materi pelatihan dilanjutkan dengan “sambung” dan ditutup dengan pemberian ijazah kepada tiap calon warga Pagar Nusa yang disampaikan Dewan Pendekar Pagar Nusa Soloraya Iman Widodo.
“Semuanya kami lakukan dengan tujuan untuk mempersiapkan kader-kader penggerak, yang militan dan siap baik fisik mental etika maupun spiritual,” tutup Ghulam. (Ajie Najmuddin/Mahbib)
Sumber NU Online

Sehebat Apapun Jurusmu Tiada Berarti Tanpa Pertolongan Alloh

Wengker.com, Pagar Nusa Surakarta - Ratusan anggota Pencak Silat NU Pagar Nusa Klaten Jawa Tengah mengikuti kegiatan ujian kenaikan tingkat pertama (UKT). Kegiatan tersebut dipusatkan di Kompleks Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti Klaten, Ahad (20/9).
Peserta yang lulus dalam ujian pertama ini, ditandai dengan pergantian badge, dari polos ke warna kuning. Usai digembleng dengan berbagai latihan fisik, jurus, serta tenaga dalam mereka diberi ijazah berupa wirid-wirid.
Salah satu Majelis Pendekar Pagar Nusa Klaten, Iman Widodo berpesan kepada para peserta untuk senantiasa mengingat tulisan yang terdapat pada logo Pagar Nusa: Laa Ghaliba illa Billah
(artinya: tak ada kemenangan tanpa pertolongan Allah).
“Pemberian Wirid ini untuk apa? untuk menyadarkan kalian bahwa sekuat apapun fisik kalian, sesempurna apapun jurus, kalian hanyalah nol! tak ada artinya apa-apa tanpa pertolongan Allah swt! tegas Iman.
Salah satu pendekar yang dikirim ke Negara Fiji ini melanjutkan wejangannya bahwa semua Aurod dan Hizib yang diajarkan, hanya menjadi sarana untuk mendekat dan meminta pertolongan kepada-Nya. “Karena hal itu juga, di badge kalian itu tertulis: Laa Gholiba illa Billah !” tutur Iman.
Pendekar sejati, lanjut Iman, tidak menggunakan jurusnya dengan sembarangan. “itu artinya, kalau ia tahu pukulannya bisa berakibat fatal bagi orang lain maka sebisa mungkin ia tidak akan memukul sembarangan. Mesti bisa melihat kemaslahatan.
Dengan menjaga sikap yang demikan, para pendekar Pagar Nusa akan menjadi individu yang seperti diharapkan Mbah Liem, sebagaimana tertulis di salah satu sudut pondok Al-Muttaqien : Joglo Perdamaian Umat Manusia Sedunia! (Ajie Najmuddin/Mahbib/Ardi)

Syair Pesan Untuk Pagar Nusa

Wengker.com, Pagar Nusa Sukoharjo - Keluarga besar Pagar Nusa Kabupaten Sukoharjo menggelar acara silaturrahim dan Halalbihalal, bertempat di Kantor PCNU Sukoharjo, Sabtu (8/8) lalu. Sekitar 250 pendekar Pagar Nusa dan 100 anggota Banser ikut meramaikan kegiatan tersebut. Acara semakin meriah, ketika sejumlah atraksi ditampilkan, baik dari Pagar Nusa maupun Banser. Atraksi yang ditampilkan mulai dari pencak silat hingga yang ekstrim seperti tabrak motor, potong leher, mematahkan besi, dan lain-lain.

Dalam kesempatan tersebut, Rais Syuriyah PCNU Sukoharjo KH Ahmad Baidlowi memberikan wejangan untuk para pendekar Pagar Nusa yang rata-rata masih berusia muda tersebut. “Masa mudamu adalah penentu keberhasilanmu. Jadilah kalian sebagai pemuda yang tangguh, ampuh, sakti lahir dan batin. Kenalkan diri kalian dengan taqwa, taqarrub, dan tawajjuh kepada Allah,” tutur Kiai Baidlowi.

Kemudian, Kiai asal Pasuruan itu membacakan sebuah syair. “Ya laitani kuntu shobiyyan murdo’aa. Tahmiluniz zalfaau haulan akta’a. wa idzaamaridltu qabbaltani arba’aa. Idzan bakaitu tuulal laili ajma’aa.” (Mengandai-andai yang tiada guna, seandainya aku bisa kembali muda kembali, hingga aku menjadi bayi yang digendong dan menyusu. Pasti aku akan digendong oleh wanita cantik. Kalau aku sakit, pasti  pipiku diciumnya empat kali. Maka ketika itu, aku akan terus menangis, sepanjang malam dan siang). (Ajie Najmuddin/Fathoni/Ardi)
Sumber Info

Bojonegoro Apel Siaga Dan Ikrar Anti Komunisme

Wengker.com, Bojonegoro - Demi menolak bangkitnya komunis lewat komunisme gaya baru (KGB) warga Bojonegoro menggelar apal siaga, ikrar dan membubuhkan tanda tangan pada bendera merah putih yang dibentangkan
Diikutip dari Eksposa.com, ribuan warga Bojonegoro, Jawa Timur, berkumpul di Alun-alun Kota Bojinegoro, Rabu (12/8/2015). Mereka sengaja hadir guna mengikuti Apel Siaga Gerakan Merah Putih dan Bela Negara Kabupaten Bojonegoro 2015.
Mengambil momentum HUT RI ke 70, seluruh perwakilan elemen masyarakat yang hadir diajak untuk terus mewaspadai berbagai ancaman yang dapat mengganggu stabilitas negara. Termasuk gerakan komunis maupun separatis.
Anti komunisme menjadi tema utama dalam kegiatan yang ditandai dengan pembubuhan tandatangan di bendera sepanjang 200 meter tersebut.
“Tak hanya itu, seyogyanya di bangku sekolah juga harus kembali ditanamkan rasa cinta tanah air. Kalau dulu ada namanya wawasan nusantara,” kata Setyo Hartono, Wakil Bupati Bojonegoro
Pada kesempatan itu Setyo Hartono didaulat untuk menjadi inspektur, didampingi oleh Komandan Kodim 0813 dan Kapolres Bojonegoro.
Apel siaga ini diikuti oleh pelajar, mahasiswa, beberapa instasi dan beberapa perguruan silat. Ada empat perguruan silat yang ikut dalam apel ini yaitu Pencak Silat Nahdlatul Uaa Pagar Nusa, Setia Hati Terate, Tapak Suci, dan Margaluyu.
Kegiatan apel merah putih ini salah satunya adalah membubuhkan tanda tangan para peserta upacara ke bendera merah putih sepanjang 200 m. Kemudian ditutup dengan aksi-aksi unjuk kebolehan dari masing-masing perguruan silat yang hadir.
Tujuan dari apel ini adalah untuk mengantisipasi bangkitnya paham komunis di Indonesia.
“Tujuan dari apel merah putih untuk mengantisapasi bangkitnya paham komunis di Indonesia. Karena sudah ada indikasi munculnya komunis, terbukti dari turunnya kedisiplinan kawula muda,” ungkap Komandan Kodim 0813 Bojonegoro, Letkol Donova Pri Pamungkas, lansir Beritabojonegoro.com.
Tindak lanjut dari apel ini menurut Donova adalah akan masuk ke sekolah-sekolah untuk mengedukasi generasi muda tentang wawasan kebangsaan, bela negara, melatih baris berbaris. Karena generasi muda sekarang jarang yang mengetahui paham komunis ataupun sejarah PKI.

Untuk dapat mendengarkan radio ini anda harus menginstall flash player klik disini untuk download
Winamp Windows Media Player iTunes basicBerry Real One Android iPhone