Bercinta Dalam Gelap - Fredy S

Wengker.com, Novel - Fredy S adalah satu dari delapan manusia yang jalan hidup dan bahkan biodatanya misterius dan (kadang) jadi kontroversi di Indonesia: Gunadarma (kepala arsitek Borobudur), penulis buku Darmogandhul yang tak pernah diketahui jatidirinya, Tan Malaka (politisi pengelana yang pada 2009 kuburannya ditemukan Kepala KITLV Belanda Harry A Poeze di Kediri), Supriyadi (pimpinan PETA Blitar), pemuda penyobek bendera Belanda di Hotel Oranje Surabaya, Ki Panji Kusmin (pengarang cerpen Langit Makin Mendung), dan Imam Sayuti alias Tebo (anak yang lahir dengan bulu tebal yang ditengara sebagai hasil persetubuhan antara gendruwo dan Nasikah di Jember; geger Jatim 1990).
Saya memasukkan Fredy S dalam deretan manusia misterius karena nyaris semua yang menggandrungi roman yang ditulisnya tak pernah tahu siapa dan di mana penulis ini berada (walau saya menduga ia adalah orang Sunda dan paling tidak lama hidup dalam tradisi oral Jawa Barat ketika saya pergoki kerap terbalik-balik menulis frase seperti ‘Fasilitas’ ditulis ‘Pasilitas’).
Kerjaan ini mirip ketika saya mencari sosok Ki Pandji Kusmin sewaktu mengeditori buku Langit Makin Mendung (2004) di mana pengantar saya dirutuki pemeran tokoh Aidit dalam film Pengkhianatan, Syub’asa, di majalah TEMPO, sebagai kesimpulan ngawur ketika saya mengatakan anak Ki Pandji Kusmin pernah kuliah di UGM yang artinya tokoh itu ada dan bukan rekaan H.B. Jassin.
Ketika roman seks mengalami orgasme yang kemudian ledakan buku seks itu didulangulang antara tahun 2002-2004, nama Fredy S adalah ikon. Ia penulis roman yang prolifik, lancar ceritanya, memikat plotnya, dan tentu saja merangsang insting purba pembacanya. Laki-perempuan. Apalagi dilengkapi dengan sosoknya yang misterius. Sempurna sudah.
Nyaris di semua romannya—dan ini menjadi ciri buku roman percintaan dan seks yang tak pernah menuliskan satu halaman biodata pengarang—hanya tercantum ini: Fredy Siswanto. Informasi lain-lain tidak. Orang hanya tahu, Fredy penulis seks. Coba saja ketik nama itu di mesin pencari internet, yang tersasar adalah seks. Semua-muanya seks atau pinjam istilah Arswendo Atmowiloto di awal 1990-an: leer. Di tema apa pun, leer menjadi mindset romannya.
Termasuk ketika Fredy S mengeluarkan roman yang panjang yang berlatar politik riuh PKI di sekitar tahun 1964-1965, peristiwa G 30 S, dan pembasmiannya oleh tentara dan eksponen mahasiswa 1966. Bandingkan dengan judul buku putih pemerintah keluaran Sekretariat Negara RI pada 1994: Gerakan 30 September: Pemberontakan Partai Komunis Indonesia: Latar Belakang, Aksi, dan Penumpasannya.
Jarang ada roman yang mengangkat tema ini sebagai latar utama. Ajib Rosidi pernah bikin dengan judul: Anak Tanahair (1985). Saskia Wieringa pernah bikin Lubang Buaya (2003).  Beda segalanya dengan Ajib dan Wieringa, Fredy S membawa tema ini dengan sangat menggairahkan ke pembaca novel pop dengan seks, cinta, perselingkuhan, pelacuran, pemerkosaan, penculikan, dan kekerasan sebagai latar mengiringi tahun-tahun mengerikan itu.
Roman G 30 S ala Fredy ini diterbitkan 4 tahun setelah Arifin C Noer merilis film kolosal legendarisnya pada 1984: Pengkhianatan G 30 S/PKI. Seri ini mencakup 6 roman (Heksalogi Terpidana): #1 Bercinta dalam Gelap, #2 Politik Bercinta, #3 Budak Kehormatan, #4 Penghias Kepalsuan, #5 Belenggu Dosa, dan #6 Badai Telah Reda. Dari segi volume halaman, masing-masing buku rata-rata 200-an halaman. Dilihat tebalnya (1200 halaman), pekerjaan Fredy ini tergolong serius.
Ceritanya: seorang wartawati bernama Tuti Adyatma, redaktur Warta Kota, terlibat perselingkuhan dengan anggota parlemen dan sekaligus Sukarnois: Kusup Tular. Ketika Kusup ngebet menjadikan Tuti sebagai istri dalam gelap sepenuhnya, Tuti menolak. Propaganda cinta pun ditebar. Tular menghubungi komplotan pemuda untuk memfitnah suami Tuti agar Tuti mau melepasnya. Intrik-intrik macam begini ditebar Fredy di ribuan halaman romannya.
Dalam roman ini, PKI dan seluruh keluarga besarnya (Pemuda Rakyat, Lekra, Gerwani), pejabat-pejabat di lingkaran Sukarno, adalah komplotan penjahat yang menghalalkan segala cara untuk tujuan politik dan tentu saja hasrat seksnya. Bagi manusia-manusia komunis adalah hal biasa melakukan kekerasan, penipuan, fitnah. Bahkan keluarga mereka terkesan tak ada yang beres. Kusup selingkuh dengan Tuti, istrinya selingkuh dengan sopir Kusup, sementara anak si Kusup selingkuh dengan pacar si sopir.
Ketika Kusup Tular misalnya, menawarkan “proyek seks” ke Pemuda Rakyat (tak eksplisit disebut), gerombolan itu minta syarat: Kusup Tular menggelontorkan dana untuk kelancaran kas sekretariat dan Kusup Tular tahu beres “proyek seks” itu.
Lain kali, ketika “proyek seks” ini hampir gagal total karena umpan pelacur bernama Giwani (Gerwani?) kepada suami Tuti hampir terbongkar, Kusdit dan Jono mengajukan syarat lain: Kusup Tular menandatangani persetujuan mengganyang Manikebu:
“Kami butuh dukungan Pak Tular. Tepatnya kawan-kawan budayawan…. (butuh sebuah) pernyataan politik… mengganyang Manikebu. Bila perlu beberkan latar belakangnya dengan Nekolim. Biar terasa lebih mantap.”; “(Tular): Ah, Manikebu itu kan kelompok kecil. Manifes Kebudayaan kan? Orang-orang itu kan cuma Jassin, Larto, Gunawan, Bur…” (Seri #2: 89-90)
Porsi dialog optimisme orang komunis macam begini disebar Fredy di banyak halaman, khususnya di seri #1-#3. Dan tentu saja dialognya terjadi di sudut cafe remang, di rumah pelacuran, resor Pulau Seribu, hotel mewah, atau dalam mobil di mana Tuti dan Kusup saling mengecup, saling meraba, dan berujung di atas ranjang.
Terasa sekali, tokoh Tuti di sini adalah korban seks ganas pejabat Sukarno yang—pinjam sebait sajak W.S. Rendra—“tiba-tiba tanpa ujung pangkal ia sebut kau inspirasi revolusi sambil ia buka kutangmu”. (1971: 24)
Tokoh-tokoh seperti Tuti itu—walau tak beres secara moral—dibalik Fredy menjadi srikandi yang berjuang di belakang Manikebu dan pers antikomunis untuk menghadapi komplotan pengacau politik Indonesia yang—lagi-lagi pinjam Rendra: “bicara tentang kemakmuran rakyat dan api revolusi sambil celananya basah”.
Terkesan kuat, Heksalogi Terpidana Fredy ini adalah sebuah pernyataan sikap sebuah orde, bahwa tak ada dalih apa pun membela komunis dan seluruh anasirnya dari dakwaan sejarah, khususnya terbaca di seri #4, #5, dan #6. Mereka harus diganyang sampai ke akar-akarnya. Tak boleh ada kasihan. Mereka pantas menerima karmanya. PKI-lah aktor utama dari semua kerusakan masyarakat.
Maka, Fredy pun menulis berulang-ulang frase ini tanpa ragu: “G 30 S/PKI”. Dalam soal pola penulisan frase kayak gini, maaf, Fredy S sekubu dengan Taufiq Is, khususnya di buku Prahara Budaya (1995) dan Katasrofi Mendunia (2004).
Kehadiran Heksalogi bertema politik, khususnya G 30 S ini, sekaligus mengingatkan bahwa penulis roman pop dan seks macam Fredy S tak boleh dianggap enteng dan remeh. Pekerjaan Fredy S ini adalah pekerjaan politik dengan konsentrasi utama menggarap pembaca roman-roman pop yang jumlahnya sangat besar.
Sumber Info

Cinta Tak Harus Memiliki - Fredy Febrianto

Wengker.com, Novel - Di sudut sunyi malam, aku terdiam dan tenggelam dalam lamunan. Aku berbaring di sebuah bangku yang panjang yang terletak di depan rumahku. Ku lihat luasnya hamparan langit malam, berjuta bintang bertaburan menemaniku di keheningan malam. Sang rembulan pun tersenyum manis padaku hangatkan dinginnya malam yang menusuk mengiris ragaku. Terlintas bayangan di benakku yang mengganggu, menggoda dan meracuni fikiranku. Dia adalah anisa, teman sekelasku di SMK, bagiku dia begitu anggun dan menawan, senyumnya yang manis begitu sempurna bersanding dengan parasnya yang cantik. Di tambah lagi dengan tingkah lakunya yang penuh tata krama, lembut tutur katanya yang ramah. sungguh, mahakarya tuhan yang sempurna. Hmm.. Dia begitu indah bagiku, Namun aku terlalu takut, aku terlalu pengecut untuk mendekatinya.

Ketika aku tenggelam semakin dalam oleh lamunan yang menghanyutkan, tiba-tiba kurasakan seakan petir menggelegar dan menyambar ketika ku terbuai dalam semunya khayalan.
"Woee.. Kak, jangan nglamun aja" suara yang terdengar tiba-tiba itu mengagetkanku. Ternyata adikku.
"Eh.. Apaan sih Dek, ngagetin kakak aja" ucapku yang sedikit kesal.
"Hehe, maaf Kak gak sengaja" ucapnya dengan tersenyum.
"Mau ngapain kesini" tanyaku.
"Besok kan kakak sekolah, aku mau nitip kaset GTA kak, kaset yang itu udah macet" dia menyodorkan selembar uang sepuluh ribu.
"Udah itu doang" tanyaku.
"Iyalah" jawabnya singkat.
"Berarti kembaliannya buat kakak dong"
"Yee.. Jangan dong, duitku cuma itu aja" gerutunya.
"Iya, iya jelek" ledekku.
 “Kakak yang jelek, wekk.." ucapnya seraya pergi meninggalkanku.

***

Di sekolah anisa bukanlah orang yang aktif, dia orang yang lebih suka berdiam di kelas dari pada keluyuran tidak jelas. dan ketika jam istirat di saat kesunyian hadir menyeruak di ruang kelas, ku lihat dia terdiam sendirian di tempat duduknya dengan sebuah buku di genggaman. Jiwaku terusik oleh rasa dalam hati tuk beranjak menghampiri, akhirnya hasrat dalam hati pun tertuang lewat sebuah tindakan.
" hai.. Anisa " sapaku ramah dengan balutan senyum di bibirku.
" eh.. kamu as.. " jawabnya dengan senyum indah di tipis bibirnya.
" lagi baca apa an " tanyaku seraya duduk di kursi yang berada di sampingnya.
" owh.. Lagi baca novel ni as, mumpung lagi istirahat " kembali guratan senyumnya terpancar begitu mempesona.
" kamu suka baca ya an ?? " tanyaku sembari menatap indah wajahnya.
" iya lah as, karna dengan membaca kita akan banyak pengetahuan, kita bisa belajar, dan yang paling aku sukai dari membaca adalah berimajinasi " jelasnya padaku yang tetap terpaku menatapnya.
" hmm.. Begitu ya an, sepertinya asik ya membaca. Aku jadi pengen baca " ucapku yang tertarik. Dan aku berfikir ini lah saat yang tepat untuk lebih dekat padanya.
" oh ya.. Kalu gitu baca ni novel " dia menyodorkan novel yang di genggamnya padaku.
" novel apaan ni an " tanyaku seraya meraihnya.
" ya baca aja, bagus ko' as, bawa aja pulang gak pa-pa ko' " dia menawarkan padaku.
" serius an " tanyaku.
" serius lah " dia menyakinkanku.
" makasih ya an, oia an beli novel kayak gini dimana "
" di toko buku dekat pos polisi, emang kenapa, mau beli "
" hehe.. Nggak, cuma tanya aja "
" ntar pulang sekolah aku mau beli buku, ikut yuk " ajaknya padaku.
" oh ya, mau mau mau " jawabku penuh semangat.
" serius ya as "
" lima rius lah gue kasih " jawabku sedikit bergurau.
Ku lihat dia hanya memancarkan senyumnya yang terasa indah menghiasi relung hatiku.

***

Tibalah saat yang ku tunggu dan kunanti yaitu saat jam belajar telah usai, ketika para siswa mulai keluar berhamburan dengan tidak beraturan. Ku hampiri dia dengan langkah kaki yang penuh ambisi.
" jadi kan an kita ke toko buku " tanyaku padanya. Ku lihat dia sedang memasukan buku-bukunya ke dalam tasnya yang berwarna pink yang di hiasi bunga-bunga yang cantik.
" jadi dong as, tapi aku anterin pulang dulu ya, aku mau ngambil duit dulu " jawabnya dengan ramah.
" oh, iya, ya udah yuk langsung aja " ajakku dengan sejuta bahagia yang tercipta.
" yuk " singkat jawabnya seraya bangkit dan berdiri.

Kami pun beranjak pergi keluar meninggalkan ruang kelas yang pengap dengan kursi yang berserakan dan dinding yang penuh coretan dan keramik yang retak karna terinjak. hmm.. Memang kelasku tak seindah sekolahan elite yang merogoh kantong sangat dalam hingga terbenam agar dapat menapak di dalamnya.
Setelah kami keluar dari kelas aku langsung menuju parkiran Yang penuh sesak dengan motor-motor yang terparkir tak beraturan dan orang-orang yang sibuk dengan motornya. Ku hampiri motorku, motor yang bisa di bilang jauh dari kata bagus, namun aku bersyukur setidaknya aku ke sekolah tidak perlu berjalan atau bahkan berlari hingga menguras keringat yang tersimpan di pori-pori tubuhku. Setelah motor ku raih, aku langsung menuju ke depan kelasku, dimana anisa sedang berdiri menungguku.
" ayo an naik " ajakku.
Dia pun bergegas naik ke motorku. Dan tanpa berfikir panjang langsung saja ku jalankan motorku menuju rumah anisa yang tidak jauh dari sekolah, mungkin hanya sekitar 500 meter, dan maka dari itulah anisa berangkat sekolah hanya berjalan kaki. Tibalah kami di rumah anisa, rumah yang biasa tidak jauh beda dengan rumahku. Di pun turun dari motor dan bergegas masuk rumahnya.
" tungguin bentar ya as " ucapnya seraya berjalan masuk ke dalam rumah.

Sepuluh menit kemudian dia keluar dari rumahnya. Oh.. Mataku terbelalak melihatnya bagai bidadari dunia yang begitu sempurna. Hembusan lembut sang angin pun menyibak rambutnya yang terurai. Dia begitu cantik dengan gaun warna biru. Serasa getaran dalam dada tak biasa kurasa. Entah memang keseharian dia berpenampilan seperti itu, atau hanya karna ingin terlihat cantik di depanku. Ah.. Aku tak peduli, yang ada di kepalaku adalah dia begita indah bagiku.
" yuk as " ajaknya padaku.
" ya ayuk naik " jawabku mempersilahkannya.
Kami pun langsung berangkat dengan kecepatan sedang, menyusuri jalan raya yang penuh sesak dengan berbagai macam kendaraan, bersama kepulan asap kendaran dan udara tak segar yang tak mungkin terelakkan. Hufftt.. Jalan raya memang memuakkan, polusi yang di timbulkan dan tertelan bisa membunuhku secara perlahan. Karna yang ku tau polusi salah satu pembunuh yang kejam secara perlahan.

Lima belas menit perjalanan tibalah kami di toko buku yang anisa maksud. Kami pun bergegas masuk ke toko buku tersebut. Dan inilah pertama kali aku menginjakkan kaki ke toko buku. Kulihat puluhan, ratusan, bahkan ribuan buku tertata secara rapi seakan menanti seorang pembeli dan hendak membawanya pergi. di sana aku mengikuti anisa yang berjalan menyusuri seluruh ruangan untuk memilah-milah buku yang akan dia beli. Cukup lama dia memilih dan akhirnya dia mendapatkannya. Aku tak peduli apa yang dia pilih, yang ada di otakku hanyalah rasa bahagia yang tak terkira karna bisa mengantarkan anisa membeli buku. Anisa pun langsung membayarnya di kasir. kulihat penjaga kasirnya cantik dengan rambut yang terikat, namun tidaklah sebanding dengan anisa sang bidadari dunia.

Kami pun langsung keluar dari toko buku itu, namun kurasakan ribuan cacing di dalam perutku berteriak bernyanyi lagu keroncongan seraya menggerogoti setiap bagian perutku, rasanya nyeri sekali. Aku tak kuasa menahan lapar yang kurasa. Ku lihat di seberang jalan pedagang kaki lima sedang menjajakan dagangannya, dan itu adalah mie ayam.
" an, beli mie ayam dulu yuk di sana, aku laper ni " ajakku seraya menunjuk ke arah pedagang kaki lima tersebut.
" oh, ya udah yuk " jawabnya. Dia pun melangkahkan kakinya.
Kami langsung menuju ke tempat pedagang tersebut, anisa berjalan melenggang di sampingku yang tingginya hanya sebahuku.
" buku apa tu an ? " tanyaku saat berjalan.
" oh, novel as, aku suka banget baca novel " jawabnya sambil melihat buku tersebut.
" apa asiknya sih baca kayak gitu an "
" kan aku udah pernah bilang, kita bisa berimajinasi saat membaca " tukasnya.

Tak terasa, telah jauh aku melangkah saat berbicara, dan kini pedagang mie ayam itu tepat di depanku. Segera ku masuk ke dalam sebuah tenda yang terbuat dari terpal plastik yang hanya di topang dengan dua buah bambu yang di pasak ke tanah.
" pak, mie ayam dua " aku memesan seraya duduk di sebuah kursi yang panjang.
" iya mas " jawabnya.
Sambil menunggu mie ayamnya jadi aku pun duduk santai, kulihat anisa sedak sibuk dengan ponselnya yang berdering karna ada pesan masuk.
" kenapa an ? " tanyaku.
" gak pa-pa ko' as " jawabnya dengan senyuman manis yang terlukis di wajahnya.
" ibu kamu ya, suruh cepet pulang " tanyaku yang ingin tahu.
" bukan ko' as, temen " jawabnya.
Tiba-tiba penjual mie ayam menghampiriku.
" silahkan mas " ucapnya seraya meletakan dua mangkok berisi mie ayam di depanku dan anisa.
" makasih pak " jawabku.
Kami pun menyantap lezatnya mie ayam di hadapanku. Ya, cukup lezat bagiku karna terlalu dangkal kantongku untuk mengajak anisa makan di restoran mewah yang bisa menguras isi kantong hanya untuk sedikit makanan. Dan kurasa anisa pun bisa memakluminya.
" pak, minumnya teh botol dua " aku memesan seraya melayangkan sendok yang terisi mie ayam ke mulutku.
" iya mas " jawabnya seraya mengambil dua teh botol dan langsung di letakannya di hadapku.
Aku pun melanjutkan menikmati mie ayam tersebut suap demi suap. Tiba-tiba terdengar suara yang begitu lembut.
" as, tau gak kenapa aku suka baca novel " ucapnya seraya menatapku.
" kenapa emang? " tanyaku.
" Karna aku pengen jadi penulis as " ucap anisa dengan penuh percaya diri.
" oh ya, bagus dong, tapi apa enaknya an " tanyaku dengan bodohnya.
" ya enak lah as, selain kita berkarya yang akan di hargai orang, kan kita bangga. Dan juga bisa menghasilkan uang " jawabnya dengan serius.
" bener juga ya, terus kalau lulus dari SMK nanti mau nglanjutin kemana an, dua bulan lagi kan ujian nasional " tanyaku kembali sambil menatap indah wajahnya.
" insa'allah aku mau ke universitas negri as, aku kalau gak ngambil ilmu komputer ya sastra indonesia. Kalau kamu "
" aku juga mau ke universitas negri an, kalau mau ngambil apa belum tau " jawabku seraya meraih teh botol.
" ngambil sastra aja, kalau gak ilmu komputer, biar bareng ama aku "
" wah, ide bagus tu an, boleh boleh " jawabku dengan semangat. Aku berfikir inilah kesempatanku untuk semakin dekat dengan anisa.
Tak terasa ternyata mie ayam dalam mangkok telah masuk ke semua dalam perutku.
" wah, cepet banget habisnya, laper apa rakus ni " ledeknya dengan senyum manisnya yang terpancar dari tipis bibirnya.
" hehe.. Dua duanya mungkin an " jawabku dengan tersenyum.
" hahaha.. Jujur banget sih " tawa anisa membuatnya terlihat semakin cantik.
" ya emang kenyataannya begitu an, udah buruan di abisin " perintahku padanya.
" iya, iya, santai, ni juga lagi di abisin, kamu liatin aku aja biar gak bosen " anisa bergurau.
" widiihh.. Nasis kamu an "
" biarin wekk "

Selagi anisa menghabiskan mie ayamnya aku langsung membayarnya dengan menyodorkan uang dua puluh ribu. Ya karna di sakuku hanya itulah yang ada. Dan pedagang itu memberi kembaliannya dua ribu rupiah. Dan aku langsung duduk kembali ku lihat anisa melayangkan sendok terakhir ke mulutnya.
" udah an " tanyaku.
" udah " singkat jawabnya.
" ya udah yuk cabut, udah tak bayar ko' mie ayamnya "
" ya udah yuk "
Kami pun langsung beranjak pergi meninggalkan pedagang kaki lima tersebut menuju motorku yang terparkirkan di halaman toko buku.
" ayo an naik " ucapku mempersilahkan.
Anisa langsung naik ke motor dan akupun langsung menghidupkan mesin dan beranjak pergi meninggalkan halaman toko buku tersebut.
Kembali ku menyusuri jalan raya yang sesak padat penuh dengan kendaran yang menebarkan racun mematikan lewat kenalpotnya. Kecepatan motorku pun sedang karna aku ingin menikmati saat-saat bersama anisa. Baru saja lima menit ku berjalan menyusuri jalan raya, aku pun keluar dari jalan raya belok ke arah kanan ke sebuah jalan kecil. Ya, jalan itu adalah jalan pintas untuk sampai ke rumah anisa lebih cepat. Baru beberapa ratus meter aku melewati jalan itu, ku lihat dari kaca sepion ada dua motor di belakangku yang melaju lebih cepat dariku, aku memelankan laju motorku dengan maksud mempersilahkan mereka mendahuluiku. Kedua motor itu pun semakin dekat, dan tepat di sampingku dan akhirnya mendahuluiku. Namun aku pun terkejut tiba-tiba kedua motor itu berhenti di depanku dengan menghalangkan motornya. Seketika aku berhenti mendadak sehingga kurasakan bahu anisa menekan punggungku karna dia duduknya miring. Dua motor itu semuanya berboncengan jadi mereka terdiri dari empat orang memakai helm full face dan memakai jaket semua. Kemudian mereka berem
" he, turun loe " ucap salah satu dari mereka sambil menunjuk.
" apa-apaan ini, mau apa kalian " jawabku seraya membuka helm half face yang ku kenakan.
Kemudian ku lihat anisa dia terlihat ketakutan dan memegang bahuku.
" turun loe " ucapnya kembali.
Aku dan anisa pun turun dari motor dan memakirnya di tempat tersebut dan menyangkutkan helmku di kaca sepion.
" mau kalian apa ? " tanyaku dengan rasa takut yang hinggap di hati.
Tanpa menjawab dia langsung mendekat menghampiriku dan meraih kerah bajuku, di tariknya aku dan di dorong sehingga ku terjatuh dan tersungkur ke tanah. Saat ku ingin beranjak bangkit tiba-tiba pukulan demi pukulan dan tendangan demi tendangan menghujam dan mendarat di kepala dan tubuhku. Kurasakan tubuhku terasa sakit akibat pukulan dan tendangan dari empat orang yang tidak ku kenal karna mereka memakai helm. Terdengar teriak anisa yang meminta tolong. Kejadian itu hanya berlangsung semenit sebelum beberapa orang warga berteriak menghampiri yang berniat menghentikan. Sontak membuat empat orang yang tak ku kenal itu menghentikan pukulan terhadapku dan segera menghampiri motornya dan pergi meninggalkanku, dan ku lihat ada seorang warga yang mengejarnya namun sia-sia, laju motor mereka lebih cepat dari pada lari orang tersebut. Ku lihat mereka kabur nenuju arah jalan raya dengan kecepatan tinggi. Sedangkan aku masih terkapar penuh luka lebam di muka dan tubuhku, bibirku pecah dan pembuluh darah pelipis mataku pecah sehingga darah segar keluar dari bibir dan pelipis mataku yang melumuri mukaku. Seluruh Tubuhku terasa amat sangat sakit sehingga aku tak bisa menggerakkan tubuhku.

Anisa menghampiri aku yang masih tergeletak dan dia menangis dengan air mata yang mengalir membasahi wajahnya yang cantik.
" aska " ucapnya dengan isak tangis.
Dia keluarkan sapu tangan dari dompetnya dan mencoba membersihkan darah di mukaku. Kemudian tiga orang warga mendekat menghampiriku, salah satu dari mereka yaitu bapak-bapak yang cukup tua memegang bahuku mencoba membangkitkan aku yang tergeletak untuk duduk. Dan akhirnya aku pun duduk di tempat dengan kaki yang lurus, namun badanku terasa lemas sehingga bapak itu harus menyangga tubuhku. Kemudian seseorang yang terlihat masih muda bertanya padaku.
" kamu tadi kenapa ko' sampai di pukuli sama mereka " ucapnya.
Aku tak menjawab sepatah kata pun namun anisa lah yang menjawab.
" gak tau, tiba tiba itu orang dateng langsung mukulin aska " ucap anisa dengan tersedak-sedak yang masih menangis seraya mengelap mukaku dengan sapu tangannya mencoba membersihkan darah yang terus keluar.
" udah, udah, jangan di tanya dulu, bawa dulu ke rumah " ucap bapak yang menyangga tubuhku.

Akhirnya dua orang dari mereka membopongku dan yang satunya lagi menuntun motorku. Dan di bawanya aku di sebuah teras rumah, dan di sandarkan tubuhku di tembok. Anisa pun mengikutiku dengan tangisan yang tak henti-hentinya. Kemudian bapak itu menghampiriku dengan segelas air putih.
" minum dulu nak, biar tenang " ucapnya seraya menyodorkan segelas air tersebut.
Aku pun langsung meminumnya. Aku mulai tenang dan sudah bisa menggerakkan tubuhku. Dan anisa pun menghentikan tangisannya namun air matanya masih mengalir membasahi wajahnya yang cantik.
" kamu kenapa nak ko' bisa di pukuli sama orang-orang tadi " tanya bapak itu padaku.
" aku gak tau pak, tiba-tiba orang-orang tadi dateng langsung aja mukulin aku " jawabku dengan terpatah-patah karna tubuhku masih terasa sakit.
" ya udah nak istirahat dulu di sini, Bersihin dulu darah di muka kamu " perintah bapak itu.
" iya pak " jawabku.
Aku pun diam di tempat tersebut agar otot-ototku tidak tegang lagi. Sedangkan anisa membersihkan lagi darah yang masih melumuri wajahku dengan sapu tangannya. Dan membersihkan seragam sekolahku dari tanah yang masih menempel. Ku lihat matanya masih berkaca-kaca namun dia tetap terlihat cantik. Sudah Sekitar sepuluh menit aku menyandarkan tubuhku pada tembok dan kurasa otot-ototku yang tegang sudah mulai meregang. Aku pun mencoba berdiri dan anisa mencoba membantuku.
" pak aku udah baikan, aku mau pamit pulang pak " ucapku pada bapak itu.
" oh, iya nak, tapi bener kamu dah bisa jalan " bapak itu terlihat belum yakin.
" bisa pak " jawabku.
Aku berjalan dengan tertatih karna luka yang terasa perih, dan anisa pun memapahku berjalan menuju motorku yang di parkirkan di bawah pohon rambutan yang terletak di samping teras rumah tersebut.
" as, biar aku aja yang bawa motornya, kamu di belakang aja " ucapnya seraya meraih helm.
" udahlah an, gak pa-pa biar aku aja " aku menolak.
" udahlah aska, biar aku aja " ucapnya dengan nada tinggi.
Akhirnya hatiku luluh oleh ucapannya yang sedikit membentak.

Dan Kubiarkan anisa yang menyetir motor sedangkan aku yang di boncengnya. Sepanjang perjalanan aku menyandarkan kepalaku di punggung anisa karna tubuhku terasa lemas, sehingga sisa darah yang keluar dari bibir dan pelipis mataku mengenai gaunnya. Dan kurasa anisa tak keberatan dengan hal itu, karna sedikitpun dia tidak menolaknya. Tibalah aku di rumah anisa dan kulihat rumahnya sepi, tak tampak ayah, ibu atau adik anisa. Di halaman rumahnya dia menghentikan motor dan memakirkannya.
" ayo as masuk dulu ke rumah " perintahnya padaku seraya turun dari motor.
Aku menuruti apa yang dia perintah, anisa pun membantuku berjalan menuju sofa yang berada di ruang tamu rumah anisa dan aku pun duduk, anisa mengambil segelas air minum dari dapurnya.
" minum dulu as " ucapnya seraya menyodorkan segelas air tersebut.
" iya " jawabku.

Tiba-tiba muncul ses eorang dari luar yang menghampiri aku dan anisa yang sedang duduk di sofa. Ternyata itu adalah adalah ibu anisa yang terlihat membawa kantong plastik yang berisi belanjaan, dan kurasa dari warung.
" ya ampun, kenapa ini nak " ucap ibu anisa yang terkejut melihat keadaanku.
" tadi di jalan di kroyok orang ma " jawab anisa.
" la ko' bisa " ibu anisa terlihat penasaran.
" gini tante.... " aku menjelaskan dengan detail semua kejadian yang aku alami.
" ya udah, kamu istirahat aja dulu " perintah ibu anisa padaku.
" iya tante " jawabku.

Cukup lama aku istirahat di sofa di temani oleh anisa, sedangkan ibunya sedang sibuk di dapur.
" an, aku balik ya " ucapku seraya berdiri.
" tapi kamu apa udah bisa bawa motor " tanya anisa yang meragukanku.
" bisa ko', aku udah mendingan " ucapku.
" serius as " anisa terlihat belum yakin.
" serius an, aku udah baikan ko' " ucapku mencoba meyakinkan.
" ya udah, tapi hati-hati ya di jalan " anisa mengingatkan.
" iya an, tapi mungkin beberapa hari nanti aku gak sekolah. Kamu jangan kangen ya ma aku " ucapku dengan bergurau.
Seketika terlihat senyum manis anisa yang begitu mempesona.
" ah kamu ini as, badan udah kayak gitu masih aja bercanda " ucapnya dengan tersenyum.
" ya kali aja kamu kangen kalau aku gak berangkat "
" idiih.. pede banget "
" hahaha.. Harus dong "
" iya deh yang penting kamu seneng "
" ya udah aku balik ya " pamitku pada anisa.
" hati-hati ya "

Aku pun berjalan keluar dari rumah anisa, dia pun mengikutiku sampai pintu. AKu menghampiri motorku yang terparkir di halaman rumah anisa.
" balik ya an " ucapku seraya naik di atas motor.
" iya, hati-hati ya as " jawabya yang terhiasi senyum manisnya.
Aku pun langsung menghidupkan mesin dan sejenak memberikan senyuman manisku sebelum pergi meninggalkan rumah anisa. Di sepanjang perjalanan aku tidak mengenakan helm karna pasti sangat sakit kepalaku bila ku kenakan. Helmku hanya ku letakan di jok motor bagian depan yang terhimpit di antara kedua pahaku, karna motoku adalah motor bebek. Dan di sepanjang perjalanan aku menahan sakit yang amat sangat ketika lukaku terkena hembusan lembut sang angin. Dan di sepanjang perjalanan setiap orang memperhatikanku seolah penuh tanya dalam benaknya apa yang telah terjadi padaku, namun aku tak menghiraukannya.

Tibalah aku di rumah, ku lihat rumah sepi sunyi senyap tak tampak aktifitas di dalamnya. Langsung saja ku parkirkan motorku di tempat biasa, yaitu di bawah pohon jambu yang terletak di depan rumah. Langsung saja ku menuju ke kamarku, ku lemparkan saja tasku yang berisi buku sekolah dan novel anisa yang di pinjamkannya padaku di atas tempat tidurku. Ku hampiri cermin yang berada di kamarku, ku ambil handuk dan mengelap secara perlahan wajahku guna membersihkan darah yang telah mengering sambil meringis menahan sakit.

Tiba-tiba

" ya ampun nak, kamu kenapa " ucap ibuku yang muncul secara tiba-tiba sehingga membuatku terkejut. Ibuku pun menghampiriku.
" mama..!!! aku tadi abis di keroyok orang ma " jawabku dengan rasa takut jika ibuku marah.
" ko' bisa, kamu pasti berantem ya " ucap ibuku seraya menjewer telingaku.
" aduh.. Nggak ma " aku melepaskan tangan ibuku dari telingaku.
" la trus, kenapa bisa kayak gini " tanya ibuku kembali.
Aku pun menjelaskan semua yang telah terjadi padaku, dan ibuku akhirnya percaya padaku.
" kamu punya musuh " tanya ibuku dengan lembut.
Aku hanya menggelengkan kepalaku.
" lalu ? Kenapa Ko' kamu bisa di keroyok "
" gak tau "
" ya udah, cepet makan sana, terus mandi " perintah ibuku.
" iya ma "
" mama cariin tukang pijit ya, biar mijitin kamu "
Ku hanya menganggukan kepalaku.

Malam harinya aku pun di pijit oleh tukang pijit yang ibu suruh. Ketika bagian tubuhku di pijit secara perlahan kurasakan sakit yang amat sangat sehingga aku terkadang berteriak menahannya.

***

Setelah kejadian siang hari itu aku putuskan untuk istirahat seminggu di rumah. Anisa tak menjengukku saat aku di rumah, aku bisa memakluminya karna rumahku jauh. Namun setiap pagi, siang, sore dan malam dia selalu mengSMSku meski hanya sekedar menyapa atau mengingatkan makan saja. Namun semua itu membuatku sangat senang sekali, karna anisa yang dulu tak begitu dekat denganku kini menjadi perhatian padaku. Meski anisa tak datang menjengukku tapi beberapa temanku yang tau akan keadaanku datang silih berganti memberi semangat padaku. Bahkan di antara mereka ada yang ingin mencari siapa orang yang telah membuatku seperti ini guna membalasnya.

***

Hari demi hari telah berganti, waktu demi waktu telah berlalu. Seminggu lamanya aku tak menginjakkan kakiku di sekolah. Dan Tibalah hari dimana aku harus berangkat karna kurasa aku sudah cukup baik untuk bersekolah, aku tak sabar lagi menatap indah wajah Anisa yang tak kulihat selama seminggu. Aku rindu senyum manis yang tersimpul di lembut bibirnya.Ketika ku menginjakan kaki di ruang kelasku tepatnya di pintu. Anisa yang melihatku saat dia sedang duduk langsung menghampiriku.
" hei as, udah baikkan " ucapnya yang berjalan menghampiriku.
" udah dong, soalnya udah gak sabar pengen cepet-cepet ketemu kamu " ucapku dengan tersenyum.
" ah, gombal kamu as " dia tersipu malu.
" yee.. Serius, tapi kamu nggak kangen sama aku kan " ucapku bergurau.
Seketika pipinya merah merona di wajah cantiknya.
" enggak lah " ucapnya seraya memalingkah wajahnya dan berjalan menuju kursinya.
Ku hampiri dia yang sedang duduk, ku dekatkan wajahku tepat di depan wajah cantiknya.
" ah.. Yang bener " ledekku padanya.
" terserah lah as " jawab anisa tersenyum sambil memalingkan wajahnya.

Tiba-tiba

" woe, udah baikkan lo as " suara itu terdengar bersamaan dengan ku rasakan seseorang menepuk bahuku dengan keras. Aku menoleh dan ternyata yuda sahabatku. Kedatangannya membuatku mengalihkan perhatian pada anisa.
" eh, elo yud, iya ni gue udah baikkan " ucapku.
" dah dateng dari tadi " tanyanya.
" barusan aja, belum ada lima menit " jawabku.
Tiba-tiba Terdengar bel tanda masuk dari arah kantor. seluruh siswa masuk secara berhamburan dan duduk di tempatnya masing-masing.

***

Saat jam istirahat aku dan sahabatku yuda ke kantin yang berada di luar sekolah. Ketika aku dan yuda menikmati sebotol minuman dan sebuah pisang goreng di teras kantin. tiba-tiba datang tiga motor berhenti di halaman kantin. Ku lihat mereka terdiri dari lima orang, dua motor berboncengan dan satu lagi sendiri. Mereka berlima mengenakan seragam SMA. ya, itu seragam SMA negri yang berada cukup jauh dari sekolahanku. Kemudian seseorang yang tak berboncengan yang terlihat cukup tampan datang menghampiriku yang sedang menikmati pisang goreng. Dan, tiba-tiba aku cukup terkejut dengan tindakan orang tersebut terhadapku.
" Eh loe.. " ucapnya dengan menunjukkan jarinya ke wajahku.
Langsung saja aku menampik tangannya dengan segera.
" woe.. Sopan dong loe " ucapku dengan nada tinggi.
" elo yang gak sopan, awas lo sampe deketin anisa lagi, gue bikin lebih parah dari kemaren " tukasnya.
" jadi elo yang mukulin aska kemaren " sahut yuda dengan tiba-tiba.
" iya, gue, kenapa ? Loe gak suka, bukan hanya temen loe aja yang gue buat babak belur, tapi elo juga kalau elo berani ikut campur " ucapnya dengan nada ancaman.
Seketika membuat yuda emosi dan hendak beranjak dari tempat duduk dan ingin melakukan sesuatu terhadap orang tersebut. Namun aku mencoba menahannya dan memberi isarat lewat mata agar dia tenang.
" emang loe siapa ngelarang-ngelarang gue " tanyaku.
" gue Radit, cowoknya anisa " jawabnya.
JLEGGEERRR.. Serasa petir menyambar tepat di kepalaku. Seketika aku terdiam terhenyak tak menyangka ternyata anisa wanita yang ku kagumi telah memiliki pacar. Aku merasa tak bisa terima akan semua ini. Hatiku hancur remuk berkeping-keping menjadi butiran kecil yang tak berdaya.
" jadi gue ingetin ama loe, jangan lagi-lagi berani deketin cewek gue, camkan itu " ucapnya kembali.
Dia pun pergi meninggalkan aku bersama empat orang temannya. Sedangkan aku masih terdiam yang tak bisa terima kejamnya kenyataan yang menyakitkan.
" sabar as, emang itu kenyataannya " ucap yuda sambil memegang bahuku.
Aku tetap terdiam seribu bahasa tanpa sepatah kata karna sulit hati dan jiwaku menerimanya.
" anisa harus tau, kalau cowoknya yang mukulin elo " ucap yuda seraya beranjak berdiri.
" jangan yud " ucapku dengan menunduk sambil memegang tangan yuda.
" kenapa as, dia harus tau dong, kalau yang mukulin elo itu cowoknya, biar dia tau kalau cowoknya itu pengecut " tegas yuda dengan sedikit emosi.
" jangan yud, gue gak mau hubungan mereka rusak, gue gak mau bikin anisa sedih " ucapku dengan mendongakkan kepala menatap yuda.
" halah bodo' amat, pokoknya dia harus tahu " ucapnya seraya melepaskan tangannya dengan paska dari genggamanku.
Yuda langsung membayar minuman dan gorengan yang telah dia habiskan. Tanpa berpamitan denganku dia langsung beranjak pergi meninggalkan kantin.
" woe.. Mau kemana loe " teriakku pada yuda yang sudah melangkah begitu jauh.
" ketemu anisa " jawabnya dari kejauhan.
" mau ngapain ? " teriaku seraya beranjak berdiri.
" nyeritain semua sama anisa " jawabnya sambil terus berjalan.

Mendengar pernyataan yuda dari kejauhan aku sontak terkejut karna ucapannya benar-benar serius. Segera aku membayar minuman dan gorengan yang telah ku habiskan, dan langsung saja ku berlari mengejar yuda yang terlihat begitu jauh.
" yud, berenti yud " teriakku seraya berlari.
Namun dia tidak menghiraukan sama sekali, dia tetap lantang berjalan menuju ke arah sekolah, sedangkan aku masih tetap berlari mengejarnya.
Aku yang terus berlari mengejarnya tak mampu mencegahnya menemui anisa. Yuda sampai terlebih dahulu di kelas dan langsung menghampiri anisa.

" an, cowok loe radit emang brengsek, dia yang mukulin sahabat gue aska " ucap yuda kepada anisa dengan nada tinggi.
Sedangkan aku baru sampai pintu kelas dan mendengar apa yang yuda ucapkan. Segera ku hampiri yuda.
" apaan sih loe yud " aku menarik tubuh yuda.
Namun yudi memberontak dan tetap mencoba menghampiri anisa.
" tadi pas di kantin dia datengin aska, dia ngancem kalau sampe aska deketin elo lagi dia bakal bikin aska lebih parah dari kemaren " ucap yuda tetap dengan nada tinggi.
Aku masih mencoba menghentikan yuda namun aku tak berdaya.
" apa bener as " tanya anisa dengan lirih.
" benerlah " sahut yuda dengan segera.
Langsung ku raih bahu yuda dengan kedua tanganku, ku hadapkan tubuhnya tepat di hadapku.
" please yud, kasih gue kesempatan ngomong ama anisa " ucapku lirih mencoba meyakinkannya. Yuda pun hanya mengangguk.
Perlahan ku duduk di samping anisa yang terlihat matanya berkaca-kaca.
" bener as " tanya anisa kembali.
Sebenarnya aku tidak ingin mengatakannya kepada anisa, aku tidak mau melihat anisa bersedih. Tapi nasi telah menjadi bubur, yuda telah mengatakan semua. Apa boleh buat fikirku.
" iya an " ucapku sambil mengangguk.
Seketika butiran jernih air matanya terlihat keluar dari bola matanya yang indah, mengalir membasahi lembut pipinya.
" kamu kenapa gak cerita kalau kamu udah punya cowok, aku kan gak akan deket-deket sama kamu, aku gak mau jadi benalu di hubungan kalian " tanyaku pada anisa dengan lirih.
" maafin aku as, aku fikir kamu gak perlu tau tentang hubunganku " jawabnya dengan linangan air mata.
" maafin aku an karna telah mesuk sebagai pengganggu dalam hubungan kalian, semoga kamu bisa memaafkan aku " ucapku seraya berdiri.
" as, maafin aku " ucapnya sambil meraih tanganku dan mengenggamnya.
Aku mencoba melepaskannya secara perlahan, secara lembut, aku tak ingin menyakitinya.
" hati ini selalu terbuka lebar untuk memaafkanmu an, tapi maaf aku harus pergi dari kehidupan kalian " ucapku seraya beranjak pergi menuju keluar meninggalkan kelas.
Ketika ku berjalan yang di ikuti yuda tiba-tiba langkahku di hentikan sebuah suara.
" tunggu as " terdengar suara anisa.
Aku pun segera menoleh ke belakang, ku lihat anisa menghampiriku.
" apa lagi an " tanyaku.
" nanti pulang sekolah ku mohon anterin aku ke suatu tempat " jawab anisa.
" maaf an, aku gak bisa, aku gak mau kedekatan kita akan merusak hubungan kamu " tegasku pada anisa.
" ku mohon as " ucap anisa memelas dengan air mata yang masih segar.
Aku diam seribu bahasa tanpa sepatah kata pun lalu meninggalkan anisa dan di ikuti yuda.

***

Tiba jam pulang sekolah, semua siswa berhamburan secara tak beraturan keluar meninggalkan ruang kelas. Aku yang sedang memasukan buku ke dalam tas di kejutkan oleh anisa yang tiba-tiba muncul di hadapku dan meraih tanganku dan di tariknya begitu saja seperti menarik seekor kambing peliharaan.
" eh, mau kemana an " tanyaku pada anisa sambil berjalan dengan terpaksa karna di tarik oleh anisa.
" ayo anterin aku " jawab anisa.
" kemana " tanyaku kembali.
" udah pokoknya anterin aku, nanti kamu juga tau sendiri " ucap anisa yang masih tetap menarikku.
Aku merasa tak nyaman atas tindakan anisa padaku, sekuat tenaga aku mencoba berhenti dan melepaskan tanganku dari genggamannya.
" oke, oke, aku anterin, tapi jangan tarik-tarik kayak gini, kamu tunggu di sini, aku ambil motor dulu " ucapku dengan tegas. Anisa hanya menganggukkan kepalanya.

Aku segera berlari menuju arah parkiran untuk mengambil motorku. Setelah dapat langsung ku hampiri anisa yang telah menunggu di depan kelas.
" ayo an, kita mau kemana " tanyaku sambil mempersilahkan.
" udah, jalan aja dulu " jawabnya seraya naik.

Di sepanjang perjalanan aku mengikuti apa yang di perintahkan anisa, ke kanan, ke kiri, lurus dan apapun itu yang di perintahnya aku menuruti. Dan tibalah aku di sebuah tempat yang sangat asing bagiku, tempat yang sama sekali tak pernah ku lihat sebelumnya. Dalam benak penuh pertanyaan, dimana ini ? Tempat apa ini ? Motor kami mendekat ke sebuah bangunan kecil, semakin dekat semakin jelas. Ya, ternyata itu sebuah gardu pos ronda yang terlihat sangat buruk. Dindingnya penuh coretan dan warnanya kuram, halamannya begitu kotor tak terawat, rumput-rumput yang terdapat di sekitarnya begitu gersang. Kurasa tak layak di gunakan sebagai pos ronda, lebih layak sebagai tempat tongkrongan anak berandalan. Gardu itu terletak di sudut perkarangan rumah warga tepat di sisi perempatan jalan. Anisa menyuruhku berhenti di sisi jalan samping gardu itu. Dari dalam arah gardu terdengar suara shimpony melodi petikan gitar yang teralun begitu merdu dan suara seseorang yang bernyanyi namun tak selaras dengan indahnnya alunan melodi petikan gitar, suara yang buruk bagiku. Anisa turun dan segera menuju ke arah gardu tersebut namun aku masih tetap di atas motor.
" eh, sayang ada apa kesini " suara seorang pria terdengar dari dalam gardu.
Aku tak tahu siapa dia. Namun di benakku terbesit bahwa dia radit karna memanggil anisa dengan sebutan sayang.
" maksud kamu apa " ucap anisa kepada seseorang di dalam gardu yang belum ku ketahui.
Muncullah seorang pria dari dalam gardu menghampiri anisa yang berada di luar gardu. Dan ternyata memang benar dugaanku, dia adalah radit.
" maksud kamu apa sayang " tanya radit sambil sesaat menatapku.
Tiba-tiba lembaran lembut telapak tangan anisa terbang melayang dan mendarat cukup keras di pipi radit sebelah kiri, suaranya terdengar begitu keras, dan kurasa sangat sakit. Namun tak sebangding dengan sakit yang kurasakan ketika radit dan temannya memukuliku tanpa belas kasihan seperti binatang.
" kamu kan yang mukulin aska waktu itu, kamu juga kan yang ngancem aska tadi pas di kantin, iya kan " ucap anisa yang terlihat penuh amarah yang memuncak di hatinya.
" kenapa kamu percaya ama dia " jawabnya sambil menyentuh pipinya.
" itu semua benar kan " tanya anisa kembali.
" gak mungkin lah sayang, aku kan gak kenal dia " ucap radit mencoba meyakinkan.
" bohong, aku gak percaya " ucap anisa.
" jadi orang itu yang ngomong kayak gitu " ucap radit seraya berjalan. Radit menghampiriku yang duduk di atas motor di sisi jalan. Melihat dia menghampiriku aku langsung berdiri. Namun jauh di luar perkiraanku, tiba-tiba gumpalan tangannya yang besar melayang dan mendarat dengan keras di pipi kiriku dan juga mengenai bibirku. Dia meninjuku dengan sekuat tenaga. Aku yang tidak siap atas tindakannya sehingga terjatuh dan tersungkur. Aku yang tak terima atas tindakan radit segera bangkit dan membalasnya dengan sebuah tinjuan ke arah wajahnya. Dan perkelahian pun tak terelakan. Ketika aku dan radit saling jual beli pukulan, anisa mencoba melerai dan mencoba memisahkan. Namun naas bagi anisa ketika sedang berusaha memisahkan perkelahian antara aku dan radit tanpa sengaja radit melayangkan pukulan ke arah wajah anisa yang niatnya ke arahku. Seketika anisa terjatuh dan tersungkur, aku yang melihatnya langsung menolongnya.
" kamu gak pa-pa an " tanyaku pada anisa. Anisa hanya menggelengkan kepalanya. ku lihat lembut bibirnya berdarah. Aku tak tega melihat wanita secantik anisa harus terluka yang di sebabkan oleh diriku yang telah masuk di kehidupan mereka. Meskipun bukan aku yang melukainya, namun aku merasa sangat bersalah karna kekacauan ini aku lah penyebabnya.

Tiba-tiba radit mendorongku dengan kuat.
" awas loe, ini semua gara-gara loe " ucapnya padaku.
Aku pun hanya terdiam karna merasa tidak berhak untuk membantu anisa berdiri karna di sini ada pacarnya yang lebih berhak. Aku pun menjauh dari mereka berdua.
" kamu gak pa-pa sayang, maaf aku gak sengaja " ucap radit meminta maaf kepada anisa.
" gak pa-pa ko' " jawab anisa seraya berdiri dengan di bantu radit. Ketika radit sedang sibuk bersama anisa yang terluka karna pukulan radit, dan aku hanya terdiam bak patung pancoran yang tidak tahu harus berbuat apa.

Tiba-tiba sebuah motor datang menghampiri kami bertiga. Dia adalah teman radit yang tadi pagi ikut bersamanya ke kantin sekolahku untuk mengancamku. Dia terlihat membawa sebuah bungkusan plastik yang kurasa gorengan atau biskuit tau apalah yang jelas menurutku itu makanan. Dia berhenti di depanku di antara kami bertiga.
" ngapain loe kesini, jadi elo belum puas gue buat bonyok " ucapnya padaku dengan berlagak sok jagoan bagai gatot kaca yang tak takut apapun, yang seolah olah punya sembilan nyawa. Seketika anisa yang tadinya tidak memperdulikan kedatangan temannya radit tiba-tiba menatap tajam ke arahnya. Semua terdiam seribu bahasa tanpa sepatah kata begitupun aku. Teman radit terlihat tersenyum dan salah tingkah mungkin karna dia kelepasan mengungkapkan kebenaran yang seharusnya mereka rahasiakan kepada anisa.
" gue balik ya dit, gue ada urusan " ucap teman radit dengan tergesa-gesa, mungkin dia takut kepada radit karna telah membuka rahasianya. Dan dia pun pergi dari tempat ini.
Ketika teman radit telah pergi jauh anisa mengalihkan tatapan tajamnya ke arah radit.
" kamu mau ngomong apa lagi, terbongkar semuanya, memang kamu kan yang mukulin aska " tukas anisa yang terlihat penuh amarah, menyeringai seperti macan yang hendak menerkam mangsanya.
" maaf sayang, semua itu karna aku sayang kamu " ucapnya mencoba membela diri.
" sayang kamu bilang, tindakan pengecut sampai melukai aska kamu bilang sayang, kamu egois dit, aku sudah gak bisa memaafkan kamu lagi, aku gak mau punya pacar yang pengecut kayak kamu, yang hanya bisa menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah " ucap anisa panjang lebar.
Anisa pun mencoba pergi dari situ namun langkahnya di hentikan radit, karna radit memegang tangan anisa.
" maafkan aku sayang " ucap radit dengan wajah memelas sambil memegang tangan anisa, untuk mencegahnya pergi.
" udahlah dit, lepaskan " anisa melepaskan tangannya dari genggaman radit dengan paksa.
" lebih baik sekarang kita PUTUS " lanjutnya bicara.

Seketika rasanya jatung berhenti berdetak, darah berhenti mengalir aku tak menyangka atas apa yang anisa ucapkan. Aku tak bisa membayangkan seperti apa perasaan radit. Yang pastinya hancur berkeping-keping. Aku terdiam, merasa sangat bersalah karna diriku lah semua ini bisa terjadi, membuat hubungan mereka hancur. Namun, di sisi lain aku senang karna inilah jalan yang terbuka lebar untuk dapat masuk ke dalam ruang hati anisa.
Setelah mengucapkan kalimat itu, dia langsung menghampiriku dan mengajakku pulang, terlihat matanya berkaca-kaca. Aku hanya menuruti saja apa yang dia perintah. Kami pun meninggalkan tempat itu dengan segera.

Di sepanjang perjalanan anisa hanya terdiam, sepatah kata pun tak dia keluarkan, mungkin dia sedih atau merasa bersalah karna keputusannya tadi. Aku yang tak ingin melihat anisa terus terpuruk dalam kesedihan berinisiatif untuk mengajaknya ke sebuah tempat yang mungkin bisa membuatnya senang, ya, paling tidak dia tidak sedih lagi fikirku.
Aku pun menghentikan laju motorku di sisi jalan raya.
" an, ikut aku yuk " ucapku dengan menoleh ke belakang menatap anisa.
" kemana " tanyanya lirih. Ku lihat matanya masih berkaca-kaca.
" ikut aja, pasti kamu seneng " jawabku mencoba meyakinkan. Anisa hanya menganggukan kepalanya.

Segera ku melaju dengan kecepatan sedang menuju tempat yang ku janjikan pada anisa. Tibalah kami di sebuah danau yang tak bernama. Ya, danau yang tak asing lagi bagi anisa. Danau yang sering aku singgahi setiap hari libur bersama teman-temanku.namun kurasa tidak dengan anisa karna jaraknya cukup jauh dari rumahnya. Selain itu aku pun tak pernah melihatnya di danau ini. Aku berhenti di bawah pohon albasiah yang terletak sisi tepi danau. Aku adan anisa pun turun, dan langsung saja ku tarik tangannya menuju sebuah bangku yang terdapat di bawah pohon albasiah tersebut. Aku dan anisa duduk di bangku itu di bawah rindahnya pohon albasiah, sejuknya semilir hembusan lembut sang angin pun menemani, rumput hijau terbentang menari bergoyang tertiup angin, dan birunya air danau yang sangat jernih membuat tempat ini begitu indah.
" an, kenapa kamu mutusin radit " tanyaku dengan lirih.
" aku udah gak bisa pacaran ama dia lagi, dia terlalu egois " jawab anisa yang tak kalah lirih. Ternyata pertanyaanku malah membuat anisa semakin sedih. Butiran jernih air matanya menetes dari matanya yang indah. Aku merasa sangat bersalah atas ucapanku tadi. Tiba-tiba muncul inisiatif dalam otakku.
" an, kamu suka puisi nggak, aku punya sebuah puisi " tanyaku padanya.
Dia hanya menganggukkan kepalanya namun butiran air matanya masih menetes.
" tunggu ya an " ucapku seraya membuka tas. Ku ambil sebuah buku dimana di situ lah aku menulis puisi.
" denger ya an..

Tatap matamu menusuk kalbu
Sinar wajahmu mengusik relung hatiku
Manis senyumu melenakan jiwaku
Terhanyut aku akan keindahanmu

Setiap detik waktu yang berlalu
Bayangmu bermain dalam anganku
Setiap desah nafas yang berpacu
Kau khayalan selimuti sunyiku

Kau bak hantu dalam hatiku
Selalu membayang di benakku
Ketika sunyi terlintas senyummu
Jiwaku gelisah seraya rindu

Hmm.. Tahu kamu ??
Di sini.. Aku mengagumimu
Walau hanya sebatas dalam hatiku "
" wah bagus as " ucapnya dengan tiba-tiba. kulihat dia sudah tak menangis lagi, bahkan air matanya pun telah di hapus dari pipi dan matanya.
" oh ya, makasih " jawabku.
"Buat siapa itu as " tanyanya.
"Ada deh, mau tau aja " ucapku sambil tersenyum. andai kamu tahu anisa, itu adalah curahan hatiku padamu. ucapku dalam batin.
" iihh.. kamu as, gitu deh " ucapnya sambil mencubit pinggangku. seketika senyum manisnya terpancar begitu manis terhias di bibirnya.
" aww.. sakit an " ucapku sambil tertawa.
" biarin, abis kamu gak mau ngaku " dia mencubit pinggangku kembali.
" eh an, ternyata kamu cantik banget ya kalau ketawa " ucapku pada anisa.
" ah gombal kamu " ucapnya.
" yee serius, lima rius malahan " ucapku mencoba meyakinkan. seketika pipinya merah dia tersipu malu dan salah tingkah.
" udah ah ngegombalnya, yuk balik, ntar ibuku nyariin " ajaknya seraya menarik tanganku.
" baiklah tuan putri yang cantik " ucapku bergurau.
" udah ah jangan gombal terus, buruan " ucap anisa dengan senyum manis yang terlukis di bibirnya. dan dia pun melepaskan tanganku.
" siap neng boss " jawabku.ku hampiri motorku dan pergi meningalkan danau yang indah itu. aku sangat bahagia karna sebuah puisi karyaku bisa membuatnya tersenyum kembali. namun ketika ku melaju di jalan raya dengan raya bahagia yang tercipta. tiba-tiba ada dua motor yang melaju mengikutiku, dan mencoba menghentikan aku. akhirnya tindakan mereka berhasil memaksaku berhenti di sisi jalan raya tersebut. Dan ternyata itu adalah Radit dan temannya. Mereka turun dari motor dan membuka helmnya. Aku hanya berdiam di atas motor karna motor mereka yang di halangkan membuatku tak bisa kemana-mana. Dalam hati aku merasa takut kalau Dia akan melakukan tindakan yang buruk kepadaku dan Anisa, karna Dia tak terima atas apa yang telah terjadi tadi. Mereka berdua mendekat menghampiriku secara bersamaan.
" Kamu mau apa lagi " tanya Anisa pada Radit. Dia tak menjawab langsung saja meraih tangan Anisa dan menariknya. Sehingga Anisa tepat di hadapnya.
" Woe, mau apa loe " teriakku seraya mencoba menarik Anisa. karna aku tak terima atas tindakan Radit.
" Loe diem aja, ini urusan gue ama Anisa, loe gak usah ikut campur " dia mendorongku dan menunjukkan jarinya ke arah wajahku.
Akhirnya aku pun mengalah, dan kurasa ada yang ingin Radit katakan kepada Anisa. Dan dugaanku pun benar.
" An, maafin aku, semua ini ku lakukan karna aku sayang sama kamu, aku gak mau putus sama kamu " Radit memegang bahu Anisa.
" Aku udah maafin kamu Dit, tapi maaf, aku rasa cukup sampai di sini hubungan kita " tegas Anisa.
Ku lihat matanya berkaca-kaca dan butiran jernih air keluar dari matanya.
" Kumohon Anisa " ucap Radit memelas.
" Maafkan aku Dit, aku gak bisa " jawab Anisa dengan lirih.
" Baiklah, bila keputusanmu udah bulat, aku terima An. tapi kamu harus tau, aku akan selalu mencintaimu " ucap Radit dengan tatapan tajam pada Anisa.
Setelah itu Radit menghampirku yang sedari tadi melihat mereka berdua berdialog. Radit pun memegang bahu kiriku.
" As, maafin gue atas kejadian kemaren, gue tau mungkin elo gak akan maafin gue " ucapnya dengan lirih.
" Gue udah maafin elo ko' Dit " jawabku seraya memegang bahunya.
" Makasih As, sebelum gue pergi gue mau nitip pesan sama loe As " ucap Radit lirih.
" Silahkan Dit " jawabku mempersilahkan.
" Kalau loe emang suka ama Anisa, gue mohon, jaga dia baik-baik As. Gue sayang dia As, gue gak mau di sedih " ucapnya memohon padaku.
" Iya Dit " jawabku sembari menganggukkan kepala.
" Makasih As " Radit langsung memelukku. Hanya sesaat Dia langsung melepaskan pelukkannya. Lalu lalang kendaraan di jalan raya yang mengeluarkan racun dari knalpotnya tak mereka hiraukan.

Radit segera menghampiri motornya di ikuti temannya yang dari tadi hanya diam memperhatikan semua yang telah terjadi. Radit naik di atas motornya yang terbilang sangat bagus.
" Selamat tinggal An, Aku kan selalu merindukanmu " Ucapnya sambil menatap Anisa.
Ku lihat butiran jernih air mata Anisa masih terus keluar dari matanya yang indah. Setelah itu Radit menatapku.
" Selamat tinggal As, jaga Anisa dengan baik ya " Ucapnya padaku. Dan aku hanya menganggukan kepalaku.

Radit segera mengenakan helmnya, dan pergi menggunakan motornya dan di ikuti temannya dari belakang dengan kecepatan tinggi. Sedangkan kulihat Anisa masih tetap meneteskan butiran jernih air matanya.
" Udah yuk An, kita balik " ajakku seraya memegang bahunya.
Anisa hanya menganggukan kepalanya. Dan kami pun pulang dengan haru yang masih membelenggu hati masing-masing.

Tibalah kami di rumah anisa tepatnya di halaman rumahnya. Anisa segera turun dari motor sedangkan aku masih tetap di atas motor.
" As, makasih ya udah mau nganterin " ucapnya dengan mata berkaca-kaca, seolah terlihat tekanan batin yang amat sangat dalam dirinya, membuatnya sedikit tersenyum pun tak bisa. Aku bisa menyadarinya bahwa keputusannya tadi membuatnya sangat terpukul. Namun kurasa memang itu yang terbaik buat Anisa dan mungkin juga terbaik untukku. Karna dengan putusnya hubungan mereka kesempatanku untuk mendekati Anisa terbuka lebar.
" Iya An sama-sama " jawabku.
" Masuk dulu As " ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
" Makasih An, tapi lain kali aja lah, Aku mau langsung balik " ucapku yang masih di atas motor.
" Ohh, ya udah, hati-hati ya di jalan " ucapnya mengingatkan.
Aku hanya membalas dengan senyuman termanisku. Dan segera meninggalkan rumah Anisa untuk pulang ke rumahku.

***

Keesokan harinya, Aku berangkat sekolah terlalu kesiangan namun tidak sampai terlambat. Ketika ku menginjakkan kaki di kelas, ku lihat Anisa sudah ada di dalam kelas sedang terdiam di tempat duduknya, seolah-olah riuh gaduh ruang kelas tak ia dengar. Ku hampiri Anisa dengan langkah penuh tanya. Apakah ia masih terpukul atas keputusannya kemarin ? Ah, Aku tak tahu. Dan apakah ku harus tahu ? Kurasa iya.
" Pagi Anisa ? " sapaku dengan balutan senyum manisku yang biasa Anisa lihat.
" Pagi juga As " jawabnya dengan senyuman, namun terlihat di paksakan.
" An, ntar pulang sekolah ikut Aku yuk " ajakku pada Anisa.
" Kemana ? " tanyanya.
" Ke Danau yang kemaren " jawabku mencoba meyakinkan.
" Ngapain ? " tanya Anisa kembali.
" Ya maen-maen aja " jawabku.
" Mmm, gimana ya ! " Anisa terlihat berfikir.
" Mau ya, please.. " kucoba merayu.
Anisa hanya menganggukkan kepalanya dengan sebuah senyum manis yang terlukis di bibirnya. Terlihat senyumnya begitu lepas tanpa terpaksa, tak seperti ketika baru ku sapa tadi. Setelah ku dapatkan Sebuah jawaban lewat sebuah anggukkan dan senyuman, segera ku menuju tempat dudukku yang terletak di belakang tempat duduk Anisa. Hanya sesaat ku duduk, bel tanda masuk telah berbunyi. Seluruh siswa pun berhamburan dan berlarian masuk ke dalam kelas.

***

Ketika jam belajar telah berakhir, ku hampiri Anisa yang sedang memasukan buku ke dalam tasnya.
" Yuk An, jadi kan ? " ajakku.
" Jadi dong, yuk " jawabnya seraya berdiri.

Kami pun keluar meninggalkan ruang kelas. Ku ambil motorku yang berada di parkiran dan ku hampiri Anisa yang menunggu di depan kelas. Kami pun segera beranjak pergi meninggalkan sekolahan. Menyuri jalan raya yang padat sesak penuh kendaraan yang berlalu lalang. Kami pun tiba di sebuah tempat yang Aku janjikan kepada Anisa. Ya, sebuah Danau tak bernama yang begitu indah, yang kemarin ku datangi bersama Anisa. Ku berhenti dan ku parkirkan motorku di bawah pohon albasiah seperti kemarin. Setelah Anisa turun dari motor begitupun juga Aku, segera ku tarik tangan Anisa dan ku bawa ke sebuah bangku yang berada di bawah pohon albasiah tersebut. Dan kami pun duduk di sana. ku coba tarik nafas begitu dalam dan ku hembuskan secara perlahan.
" Hmm.. Sejuk ya An " ucapku.
" Iya As " jawabnya.
" Oh ya An, Aku punya puisi, kamu mau denger gak ? " ucapku seraya membuka tas.
" Boleh " jawabnya.
Segera ku ambil sebuah buku dari dalam tas yang terdapat sebuah puisi yang ku buat tadi malam.
" Denger ya An.

Lewat tinta ku goreskan
Rangkaian kata ku tuliskan
Luapkan jutaan rasa yang terpendam
Ungkapkan isi hati yang terdalam

Lewat puisiku..
Ku ingin curahkan setitik perasaan
Ku ingin katakan sebuah kejujuran
Kau Begitu indah menawan
Pancaraan pesonamu begitu menyilaukan

Saat ku tatap tajam wajahmu
Aku terdiam terbuai keindahanmu
Terbius aku oleh lembut tutur katamu
Sungguh.. Aku mengagumi dirimu

Anganku terbang dan melayang
Tenggelam aku penuh ambisi dan harapan
Mungkinkah bidadari dunia yang ku dambakan
memberikan serpihan cinta yang Kan ku sempurnakan ? "

Setelah selesai ku membaca puisi kulihat Anisa hanya mengobral senyum manisnya.
" Ngapain senyum-senyum ? kesambet ya " ucapku dengan sedikit meledek.
" Yee.. enak aja, kamu kali yang kesambet, tumben aja kemaren ama sekarang bacain puisi buat aku, sebenernya tu puisi buat siapa sih As ? " tanyanya dengan penasaran.
" Hmm.. kasih tau gak ya " jawabku.
" Ihh.. nyebelin deh " Anisa mencubit pinggangku.
" Aww.. iya iya " ucapku seraya memegang pinggangku.
" Nah, gitu dong " Ia tersenyum.
" Yah, iseng-iseng aja An buat puisi, kalau lagi gak ada kerjaan dan inspirasi datang aja " ucapku seraya memasukan buku yang terdapat puisi tadi kedalam tas.
" Sesungguhnya dalam hatiku berkata ini untukmu Anisa, tapi aku terlalu pengecut untuk mengatakannya " ucapku dalam hati.
" Ohh.. " ucapnya dengan nada datar nyaris tanpa ekspresi.

" Ikut Aku yuk An " ucapku seraya menarik tangannya.
Ku ajak Anisa lebih dekat ke tepian Danau, Ku ajak dia duduk di atas hamparan luasnya padang rumput hijau terbentang tepat di sebelah kananku.
" An !! " panggilku.
" Iya " singkat jawabnya.
" Bentar lagi UN, jadi ke Universitas Negri ? " tanyaku.
Anisa tak langsung menjawabnya, dia terdiam beberapa saat. Kurasa Ia sedang berfikir. Aku pun merebahkan tubuhku di atas rumput hijau, dan kedua tanganku sebagai alas kepalaku. ku lihat luasnya hamparan langit biru terbentang. dengan berbagai macam gumpalan awan yang membetuk bermacam-macam jenis hewan. Ya, itu hanya imajinasiku saja.
Tiba-tiba Anisa mengikutiku merebahkan tubuhnya di atas rumput hijau dengan tangan kanannya sebagai alas kepalanya.
" Iya As, jadi aku ke Universitas Negri, ngambil sastra yuk " ucapnya dengan melihat ke arahku.
" Sastra ? " tanyaku yang belum mengerti apa itu Sastra.
" Iya, kamu kan pinter bikin puisi, bisa kamu kembangin di Sastra. aku juga mau ke Sastra As, Aku kan pingin jadi penulis. kalau kamu ke sastra juga kan kita bisa belajar bareng " ucapnya panjang lebar.
" Iya sih An, setelah Aku baca novel yang kamu pinjemin kemaren, Aku juga tertarik jadi penulis. tapi aku masih belum tau mau ngambil apa. tapi sepertinya sastra boleh juga tuh, apa lagi ada kamu, jadi kan gak bosen berangkat kuliah, kan bisa liat kamu tiap hari. abis kamu cantik sih " ucapku yang tak kalah panjang lebar dengan sedikit bergurau.
" idiihh.. kumat lagi gombalnya " ucapnya dengan senyuman manis khas Anisa.
Dan Aku hanya tertawa terbahak-bahak sambil menatap Anisa, wanita yang ku kagumi.

Ketika ku sedang menikmati tawaku dengan lepas seolah tanpa beban dalam diriku. Tiba-tiba ponsel Anisa berdering. Nada deringnya lagu metal atau yang biasa di bilang melow total alias melayu dari lagu ST12 yang berjudul cinta tak harus memiliki. Anisa pun mengankatnya. Terjadilah percakapan antara Anisa dan seseorang yang meneleponnya. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi yang ku dengar Anisa hanya mengatakan iya, iya dan iya. Setelah selesai pembicaraan mereka, Anisa menutup ponselnya.
" Yuk As pulang " tiba-tiba ajaknya.
" Buru-buru amat, emang siapa yang nelpon ? " tanyaku yang ingin tahu.
" Ibuku, Aku di suruh cepet pulang, udah yuk buruan " ajaknya seraya beranjak bangkit dan berdiri.
" ohh, ya udah yuk " Aku pun bangkit dari pembaringanku di atas rumput.
Segera ku hampiri motorku yang berada di bawah pohon albasiah. Dan kami pun pulang menuju rumah Anisa.

Setibanya di rumah Anisa, tepatnya di halaman rumahnya, Anisa pun turun. Ku dengar dari dalam rumah terjadi perdebatan antara ayah dan ibu Anisa. Tak jelas apa yang mereka perdebatkan, namun sedikit Aku mendengar Ayah Anisa menyebut " Kita harus mengurus ibuku " dengan suara yang terdengar samar-samar. Tiba-tiba Ibu Anisa keluar dari dalam rumah.
" An, cepet nak masuk " panggil Ibu Anisa kepada Anaknya dari pintu rumah.
" Iya Ma.. " jawab Anisa.
" Ya udah ya As, Aku masuk dulu ya, Ibuku manggil tu " ucap Anisa padaku.
Aku hanya menganggukan kepalaku dan tak lupa ku lukis senyum manis di bibirku. Dan Anisa pun segera menuju ke dalam rumah. Sedangkan Aku langsung saja memacu motorku tuk pulang ke rumah.

***

Keesokan harinya, seperti biasa Aku berangkat sekolah selalu kesiangan. Dan seperti biasa pula setiap ku sampai di sekolah, Anisa sudah berada di kelas.
" Hai Anisa ? " sapaku padanya dengan balutan senyum di bibirku.
" Hai as, duduk gih sini " jawabnya dan menyuruhku duduk di sampingnya. Aku pun duduk di sampingnya.
" Iya, ada apa Tuan Putri ? " ucapku dengan bergurau.
" Aku mau ngomong serius As, jangan becanda geh " Anisa terlihat serius.
" Mau ngomong apa sih, kayaknya serius banget " Aku menjadi penasaran.
" Gini ya.. " ucap Anisa terpotong oleh suara bel tanda masuk yang terdengar tiba-tiba. Sehingga seluruh siswa berhamburan masuk ke dalam kelas.
" Aduh, dah masuk As, ntar aja ya pas istirahat aku ngomongnya " ucapnya padaku.
" Oh, ya udah, siap Tuan Putri " ucapku dengan senyum manisku seraya beranjak pergi dari tempat duduk samping Anisa.
PLAKKK !!! Suara itu terdengar bersamaan dengan kurasakan sesuatu menghantam punggunggu dan kurasakan sakit.
" aww.. Aduh " rintihku seraya menoleh ke belakang. Ternyata Anisa memukul punggungku dengan novelnya yang tebal yang terdiri lebih dari seratus halaman.
" Makan tu Tuan Putrimu " ucapnya sambil tertawa. Yang membuatnya terlihat begitu cantik.
" Sakit An " ucapku seraya mengelus-elus punggungku.
" Biarin wekk !! " Anisa memalingkan wajahnya.
Ingin ku hampiri Anisa, namun belum sempat ku langkahkan kaki pak Surya Guruku sudah tiba di kelas. Akhirnya Aku mengurungkan niatku dan segera menuju tempat dudukku seraya mengelus-elus punggunggku.

***

Ketika bel jam istirahat telah berbunyi, seluruh siswa keluar berhamburan secara tak beraturan. Ruang kelas pun menjadi sunyi senyap sepi tanpa riuh gaduh siswa. Ya, karna di dalam kelas hanya tersisa Aku dan Anisa. Ku hampiri Anisa dan ku duduk di sampingnya.
" Mau ngomong apa tadi An ? " tanyaku.
" As, kamu kan kemaren bilang pengen jadi penulis, dan kamu juga bilang mau ke sastra ? " ucapnya begitu serius.
" Iya, Kita kan bareng mau ke Universitas Negri ngambil sastra " Jawabku.
" As, seandainya kita gak bisa bareng kuliahnya, kamu janji ya ngambil sastra " ucap Anisa dengan menundukkan kepalanya.
" Maksudnya apa An, kamu gak jadi ngambil sastra " ucapku yang terkejut atas perkataan Anisa.
" Ya nggak, aku jadi ngambil sastra, positif. Aku juga pengen jadi penulis As, kamu juga kan ? Jadi kamu harus janji Apapun yang terjadi kamu harus ngambil sastra. Dan kamu juga harus jadi penulis. Oke ? " Anisa menatapku dengan tajam, ia terlihat begitu serius.
" La terus, kenapa gak bisa bareng ? " tanyaku yang masih penasaran.
" Ya kan aku bilang seandainya, orang kan gak tau apa yang akan terjadi nanti. Mangkannya kamu harus janji dulu ma aku " ucapnya mencoba meyakinkanku.
" Oke deh " ucapku seraya membengkokkan kelingkingku dan ku hadapkan pada Anisa. Dan Anisa pun menyambutnya dengan mengalungkan kelingkingnya pada kelingkingku. Dan klingking kami pun bertautan begitu erat.
" Aku Aska Satria Wijaya, berjanji akan kuliah di sastra dan akan jadi penulis terkenal " janjiku pada Anisa.
" Aku Anisa Sagita Putri, berjanji akan kuliah di sastra dan akan jadi penulis terkenal " janji Anisa Padaku.
Setelah itu kami tertawa bersama begitu lepas seolah tanpa beban dalam diri masing-masing. Janji pun telah kami proklamirkan bersama di ruang kelas.

Ketika ku menikmati tawaku bersama Anisa, tiba-tiba tawaku di hentikan oleh sebuah suara dari arah luar kelas.
" Hei..!! As, sini geh " teriak seseorang dari arah luar kelas. Dan aku pun menoleh ke arah sumber suara tersebut dan ternyata adalah Yuda yang berdiri di pintu kelas.
" Eh.. Elo Yud, kenapa ? " tanyaku padanya.
" Ikut Gue yuk " ajaknya padaku.
" Kemana ? " tanyaku kembali.
" Ke kantin lah, yuk " ajaknya kembali.
" An, aku ke kantin dulu ya, ikut yuk " ucapku lirih pada Anisa.
" Aku di kelas aja lah As " Ia menolak tawaranku
" Ya udah, Aku cabut ya An ? " pamitku padanya.
Anisa hanya menganggukkan kepalanya dengan senyuman manis terlukis di lembut bibirnya.
Aku pun segera menuju kantin bersama Yuda Sahabatku.

***

Hari demi hari telah berganti, dan waktu demi waktu telah berlalu. Hubunganku dan Anisa pun semakit dekat, namun dia tetap sebagai teman biasa karna Aku terlalu pengecut untuk menyatakan rasa yang membelenggu dalam Hatiku. Tibalah hari dimana Ujian Nasional di laksanakan. Di hari yang menentukan perjuanganku selama tiga tahun itu, Aku berangkat sangat pagi sekali. Ku jemput Anisa di rumahnya karna Dia memintaku menjemputnya. Tibalah Aku di rumah Anisa tepatnya halaman rumahnya. Aku tidak masuk ke rumahnya hanya membunyikan klakson motorku.
" Iya, tunggu bentar " teriak Anisa dari dalam rumahnya.
Aku pun menunggunya di atas motor. Sekitar lima menit kemudian ketika Aku sedang asyik bermain dengan ponselku, tiba-tiba Anisa keluar dari dalam rumahnya dengan berlari. Ia pun menghampiriku yang sedari tadi menunggunya di halaman rumanya.
" Yuk As " ajaknya.
" Silahkan naik Tuan Putri " Aku mempersilahkan dengan sedikit gurauan.
" Hmm.. Kumat lagi deh " Anisa mencubit Pinggangku.
" Aww.. Iya, iya, gak lagi lagi " Aku meringis kesakitan sambil memegang pinggangku.
" Ya udah buruan " perintahnya seraya naik ke motor.
" Siap Tuan Putri " Aku bergurau lagi.
" Mau lagi ni " Anisa memegang pinggangku namun belum mencubitnya.
" Hehe.. Ampun-Ampun, oke kita berangkat " ucapku sambil tertawa.

Aku pun segera menghidupkan motorku dan memacunya menuju sekolahan yang hanya berjarak sekitar 500m dari rumah Anisa.
Tibalah aku di sekolahan, ku lihat sudah begitu banyak siswa yang datang. Ya, Aku pun tak heran karna hari ini adalah hari dimana mereka akan melaksanakan Ujian Nasional. Tiga hari yang akan menentukan perjuangan mereka selama tiga tahun. Aku langsung menuju parkiran dan memakirkan motorku di sana. Setelah Aku dan Anisa turun dari motor tiba-tiba Anisa menarik tanganku di bawanya aku ke pinggir tempat parkiran. Ia berdiri tepat di hadapku, kemudaian Ia memegang kedua tanganku. Seketika Aku terkejut atas tindakan Anisa yang membuatku sedikit gugup.
" As, janji ya Kita harus lulus, kita harus kuliah di sastra, kita harus bisa jadi penulis terkenal " ucapnya dengan menatapku.
Aku hanya terdiam terpaku menatap indah wajahnya.
" As !! Kamu dengerin gak sih " bentaknya padaku. Seketika membuyarkan lamunanku.
" Eh.. Iya, iya denger " Jawabku kelabakan.
" La trus " tanyanya.
" Iya, Aku janji Tuan putri " ucapku dengan tersenyum seraya mendekatkan wajahku ke wajahnya. Seketika ku lihat pipinya berubah sedikit memerah.
" Udah ah yuk cari ruangnya " Anisa melepaskan tanganku dari genggamannya, dan melenggang berjalan meninggalkanku.
" tungguin An " teriakku pada Anisa yang telah melangkah meninggalkanku.
" Ya ayo buruan, Ruang kita kan sama " teriaknya dengan tetap berjalan.
" Tungguin geh " aku pun segera berlari menghampiri Anisa.

Aku dan Anisa pun mencari ruangan dimana kami akan melaksanakan Ujian Nasional. Ya, karna memang Aku dan Anisa satu ruangan.

***

Hari demi hari telah berganti, waktu demi waktu telah berlalu. Setelah kami selesai Ujian Nasional, harus menunggu selama satu bulan lebih untuk mengetahui hasilnya. Dan tepat di hari dimana pengumuman hasil ujian, Aku dan Anisa tak sabar ingin mengetahui hasilnya. Seluruh siswa di kumpulkan di halaman kantor. Satu per satu siswa di panggil dan di beri sebuah amplop warna putih. Dimana di dalamnya terdapat hasil dari ujian yang menyatakan lulus atau tidaknya. Ya, kurasa bukan hanya aku yang tak sabar ingin mengetahui hasilnya, seluruh siswa pun demikian.

Aku berdiri tepat di samping kiri Anisa. Jantungku berdebar, resah dan gelisah, tak sabar menunggu giliran untuk mendapatkan amplop warna putih tersebut.
" As, aku deg-degan ni " tiba-tiba ucap Anisa.
" Sama aja An, Aku juga " jawabku.
" As, ntar buka amplopnya bareng ya ? " ucapnya.
" boleh, siapa takut " jawabku.
Tiba-tiba namaku di panggil, dan Aku pun segera menuju ke Pak Kepala Sekolah, karna beliau lah yang membagikan amplopnya. Dan tak berselang berapa lama Nama Anisa di panggil dan di beri sebuah amplop. Setelah mendapatkannya, dengan segera Anisa menghampiri Aku yang sedari tadi sudah tak sabar ingin mengetahui hasilnya.
" Siap An, yuk buka " perintahku.
Perlahan tapi pasti dengan dada berdebar-debar kami membuka amplopnya. Dan ku lihat ternyata hasilnya Aku di nyatakan lulus dan demikian juga Anisa. Seketika membuatku tak mampu membendung rasa di hatiku.
" Aku lulus An.. " teriakku seraya melompat-lompat.
" Aku juga As " ucap Anisa kegirangan.
" Yaudah yuk an, keluar " ajakku.
" Yuk " singkat jawabnya.

Aku dan Anisa pun berlari menghampiri motorku dan keluar dari sekolahan. Kulihat di kantin luar sekolah sudah begitu banyak siswa yang telah mencoret-coret seragamnya dengan piloks dan spidol. Aku berhenti di sisi jalan dekat kantin tersebut. Anisa dan Aku pun turun, dan segera kukeluarkan piloks warna merah dan spidol warna hitam dari dalam tasku. Ya, piloks dan spidol tersebut memang sudah ku siapkan sebelum aku berangkat sekolah tadi.
" An tanda tangani bajuku ya " perintahku seraya memberikan spidol.
" Dimana An " tanyanya seraya membuka tutup spidol.
" Di sini " jawabku dengan menunjuk dada sebelah kiri.
Tanpa fikir panjang ataupun sungkan Ia langsung saja membubuhkan tanda tangannya di seragam putihku, dan tak lupa juga menyertakan namanya yang begitu indah. Ya, nama Anisa memang terdengar begitu indah bagiku.
" Gantian As " perintahnya dengan memberikan spidolnya padaku.
" Dimana ? " tanyaku.
" Di punggung " ucapnya dengan membalikkan badan.

Aku pun segera membubuhkan tanda tanganku di punggung Anisa yang sengaja kutulis cukup besar di seragamnya, dan tak lupa juga kusertakan namaku Setelah ku selesai menandatangani Seragam Anisa segera ku buka tutup piloks dan ku kocok-kocok secara cepat. Lalu Ku semprotkan di seragamku. ku buat bentuk sebuah logo hati yang mengelilingi tanda tangan Anisa yang di sertai namanya.
" Aku juga As " ucap anisa.
" pasti dong, balik badan " perintahku.
Segera ku semprotkan piloks yang berwarna merah ini keseragam Anisa, Tepatnya di bagian punggungnya. Sama pada seragamku, ku buat juga logo hati yang mengelilingi tanda tanganku dengan cukup besar. Yang mungkin Anisa tidak menyadarinya.

Di halaman kantin ini, Aku, Anisa, dan seluruh siswa saling bertukar tanda tangan dan saling menyemprotkan piloks dengan berbagai macam warna. Merah, hijau, kuning, biru, jingga, silver, emas, merah muda, nila. berbagai macam warna piloks telah melumuri dan memenuhi seragamku dan seragam Anisa bahkan seluruh siswa pun juga. Ya, seperti inilah cara kami mengekspresikan rasa senang atas kelulusan. Dan kurasa ini sudah menjadi budaya siswa di Indonesia ketika kelulusan. Dan tak lupa juga kami berfoto ria bersama sebagai kenangan terakhir kami bersama.

Setelah kami puas bermandikan piloks yang berwarna-warni bak indahnya pelangi setelah hujan. Sesuai dengan warna dan rasa dalam hati kami. Aku, Anisa dan seluruh siswa melakukan konvoi. Ratusan motor menyusuri jalan raya secara berderetan tak beraturan dengan gaduh suara klakson yang saling bersahutan. Begitu bising di dengarkan, namun serasa pelengkap rasa bahagaiku dan kurasa semua juga. Tak peduli akan keselamatan, tak peduli mengganggu pengguna jalan lain, seolah jalan raya milikku dan semua temanku. Cukup lama Menyusuri Mengeelilingi kotaku bersama Anisa dan temanku. Tak terasa hari sudah mulai sore kami memutuskan tuk mengahhiri petualangan kami menyusuri jalanan kotaku. Kami satu per satu berpisah dari grombolan siswa untuk pulang menuju rumah masing-masing. Namun Aku tak ingin langsung pulang, Aku ingin mengajak Anisa ke sebuah Danau yang tak bernama yang biasa ku datangi bersama Anisa.
" An, ke danau yuk ? " ajakku.
" ya udah boleh " Anisa menerima ajakanku.

Segera ku memacu motorku menuju Danau tak bernama yang ku maksud. Tibalah aku di Danau dan seperti biasa ku parkirkan motorku di bawah pohon albasiah. Aku dan Anisa turun dari motor dan langsung menghampiri bangku yang berada di bawah pohon albasiah dan duduk di sana.
" An " panggilku sambil menatap luas hamparan air di danau.
" Iya, kenapa As " jawabnya dengan menoleh menatapku.
" Jadi kan ke Universitas Negri ? " tanyaku yang masih tetap memandang air danau.
Anisa terdiam bembisu tanpa sepatah kata pun. Akhirnya aku pun memalingkan wajahku dari danau dan menatap Anisa.
" Iya As, jadi dong " ucapnya dengan tersenyum.
" Kapan kita mau daftar bareng ? " tanyaku.
" Gak tau As, belum ada planing " jawabnya.
Ku buka tasku, ku ambil sebuah buku dari dalamnya. Sebuah buku yang didalamnya terdapat puisi-puisi karyaku. Berupa sebuah ungkapan hatiku pada Anisa dan ungkapan hati pada sesuatu dan juga ungkapan hati berdasarkan imajinasi.
" Ni An buat kamu " Aku menyodorkan buku itu pada Anisa.
" Apaan ini As " tanyanya.
" Tu isinya puisi-puisi karyaku An, aku kasih buat kamu " jawabku.
" Serius As ? " Ia terlihat belum yakin.
" Lima rius malahan " jawabku bergurau.
" Makasih ya As " ucapnya seraya membuka buku tersebuat.

Hari sudah begitu sore. Terlihat mega di ujung senja telah menyapa. Perlahan beranjak pergi dan yang akhirnya tenggelam di ufuk barat.
" An, balik yuk " ajakku pada Anisa yang terlihat sedang membaca salah satu puisi di buku yang telah ku berikan.
" ohh !! Ya udah yuk " ucapnya seraya menutup buku dan berdiri.

Dan akhirnya Aku dan Anisa pun pulang dengan seragam yang kumuh penuh dengan warna-warni piloks dan puluhan bubuhan tanda tangan. Dan juga jutaan rasa bahagia di dalam dada.

Keesokan harinya. Ketika ku membuka mata dari tidur panjangku, dan kulihat indahnya dunia di hadapku. Kubangun dan bangkit berdiri dari tempat tidurku dan beranjak berjalan menuju jendela kamarku. Ku sibak tirai dan kubuka jendela. Kutarik nafas panjang begitu dalam dan kulepaskan secara perlahan. Hmm.. Segarnya udara pagi ini. Hari ini begitu cerah, mentari pagi menyambutku dengan senyumnya yang merekah. Tetes embun yang mengalir di hijau dedaunan begitu sejuk kurasakan. Masih terasa harum bahagia yang kemarin kurasa. Yang mungkin kan menjadi goresan abadi dalam hidupku.

Ketika ku menikmati indahnya pagi bersama sentuhan hangat sinar sang mentari, tiba-tiba ponselku yang berada di meja kamarku berdering dengan keras. Nada dering lagu "Owl city" yang berjudul "fireflies", lagu dengan musik yang sangat melodic begitu asik mengusik gendang telingaku. Ya, itulah alasanku menggunakannya sebagai nada dering. Kuraih ponselku yang berada di meja kamarku dan mengangkat panggilan dan ternyata adalah Anisa. Sangat tumben sekali Anisa meneleponku, biasanya Aku yang selalu meneleponnya.
"Hallo" sapaku pada Anisa.
"Hallo As, udah mandi ?" tanyanya.
"Hehe.. Belum, barusan aja bangun" jawabku dengan tertawa.
"Idihh.. Pantesan baunya kecium sampai sini, hahaha" ucap Anisa sambil tertawa.
"Hahaha.. Nggak pa-pa lah An, Aku nggak mandi juga masih tetep cakep"
"busyett.. Ni anak narsis banget. Mana ada orang cakep nggak mandi"
"Ada lah, buktinya Aku. Hahaha"
"Iya deh, yang penting kamu seneng"
"Hehehe.. Oh ya An, tumben nelpon, ada angin apa ni ? Angin ribut, Topan atau puting beliung ?" Aku bergurau.
"Hahaha.. Nggak pa-pa, cuma pengen ngobrol aja"
"Ohh.. Kirain ada yang penting. Oh ya An, kapan mau ngambil SKHUnya ?"
"Hmm.. Nggak tau As, belum ada planing. Kapan-kapan aja lah"
"Ohh, ya udah, ntar kalau mau ngambil bareng ya ?"
"Iya, gampang itu mah, tapi masalahnya dari tadi aku nyium bau apa gitu As"
"Hmm.. Nyindir ni ceritanya ?"
"Hahaha.. Ada yang merasa ni, ya udah mandi gih sana, biar keliatan cakepnya"
"Hahaha.. Perasaan dari dulu deh An Aku cakep"
"Bueuhh.. Pedenya"
"hahaha.. Kan kenyataannya emang gitu"
"iya deh, ya udah mandi sana, wasalamualaikum"
"walaikumsalam"
Pembicaraanku dengan Anisa lewat ponsel pun berakhir. Dan segera ku ambil handuk dan mandi.


***

Siang harinya cuaca tak bersahabat denganku. Tak seperti pagi tadi, siang ini langit menangis turunkan hujan grimis. Butiran-butiran tetesan airmata langit berjatuhan menghempas ketanah, genteng, dan dedaunan di pepohonan. Ku hanya menatap setiap butiran air hujan yang jatuh dari jendela kamarku. Terlihat gumpalan awan hitam menyatu dan terbentang di hamparan luasnya langit. Menghalangi hangatnya setuhan sinar sang mentari. Terdengar Gemuruh guntur memecah keheningan kota ini. Aku berfikir ini hal biasa, langit menangis karna Ia peduli pada manusia di Bumi ini. Butiran tangisan airmatanya begitu sejuk ketika menembus pori-pori tubuh yang begitu menyegarkan raga.

Tiba-tiba Sejenak aku Mengingat Anisa, bagiku tatapan matanya sesejuk tetesan air hujan. Kenapa menurut banyak orang hujan menyimbolkan suatu kesedihan ? Ah, Aku tak peduli. Tapi tidak bagiku, Hujan adalah anugrah tuhan yang mengingatkanku pada Anisa.

Setelah kurasa cukup puas menikmati indahnya tetesan butiran air hujan. Lebih baik ku rebahkan ragaku pada empuknya pembaringan di kamarku. Tak ada kegiatan yang akan kulakukan siang ini, dan kurasa lebih baik Aku tidur. Gemercik butiran air hujan yang berjatuhan dari langit yang membentur apapun yang ada di hadapnya. Terdengar seperti indahnya alunan melodi alami yang merdu. Mengantarku dalam lelapnya tidur siangku.

***

Ketika ku terbangun dari tidur siangku, hari sudah mulai sore. Tak kudengar lagi gemercik hujan gerimis. Ku bangun dari tempat tidurku dan beranjak menghampiri jendela. Ya, ternyata memang benar, hujan telah reda. Namun tanah masih terlihat becek dan di salah satu sudut halaman rumahku masih terlihat genangan air. Dedaunan pepohonan masih terlihat basah yang terkadang masih meneteskan butiran sisa air hujan. Dan di langit, gumpalan awan hitam yang membumbung tinggi masing terlihat jelas. Kuharap tak turun hujan lagi.

Ketika ku sedang menikmati indahnya alam setelah hujan, tiba-tiba ponselku berdering. Ku ambil ponselku yang berada di meja kamarku. Kulihat ternyata Anisa yang menelepon.
"Hallo, ada apa An ?" tanyaku.
"Kamu dimana As ?" tanyanya dengan isak tangis.
"Kamu kenapa An ko' nangis" tanyaku pada Anisa. jutaan pertanyaan menghujam kepalaku.
"As, temui Aku di danau" ucapnya masih dengan tangisan yang terdengar.
"Iya, tapi kamu kenapa ?" tanyaku yang sangat ingin tahu. Namun Anisa tak menjawab malah mematikannya. Kembali jutaan pertanyaan semakin menghujam bertubi-tubi tanpa henti di di ubun-ubun kepalaku.
Ada apa dengan Anisa ?
Kenapa ?
Mengapa ?
Pertanyaan itu terus saja berlalu lalang dalam kepalaku.

Segera kuberanjak menuju ke kamar mandi untuk mencuci muka dan segera kuraih helm di atas lemari dan berlari menghampiri motorku yang berada di teras rumahku.
"Mau kemana nak ?" tanya ibuku.
"Mau ke tempat temen ma, ada urusan penting" jawabku berbohong.

Segera kumemacu motorku dengan kecepatan tinggi. Kuingin segera sampai di danau, karna Aku sangat ingin tahu apa yang terjadi pada Anisa. Beceknya jalanan, ataupun dalamnya kubangan di jalanan, bukanlah halangan, semua tak kuhiraukan dan selalu kuterjang. Di sepanjang perjalanan fikiranku tercampur aduk oleh dugaan-dugaan konyol tentang apa yang terjadi pada Anisa.

Tibalah Aku di danau yang tak bernama itu. Kulihat dari kejauhan seseorang sedang duduk di bangku yang berada di bawah pohon albasiah yang biasanya kujadikan tempat singgahku dan Anisa ketika ke danau ini. Terlihat juga di samping bangku terdapat motor matic yang terpakir. Laju motorku pun semakin mendekat dan seseorang itu pun menoleh kearahku dan ternyata Ia adalah Anisa. Terlihat jernihnya luapan airmatanya mengalir membasahi pipinya yang lembut. Segera kumemakirkan motorku di samping motornya. Aku membuka helmku dan turun. Kuhampiri Ia yang sedang duduk dengan linangan airmatanya.
"Kamu kenapa An ?" tanyaku yang tepat di hadapannya.
Anisa tak menjawab sepatah kata pun, Ia berdiri dan tiba-tiba memelukku dengan sangat erat. Seketika, kurasakan jantungku berdetak memburu begitu cepat. Seakan aliran darahku terhenti sejenak. Aku amat sangat terkejut yang membuatku salah tingkah. Aku tak tau harus berbuat apa ? Apakah kuharus membalas pelukannya ? Ya, inilah pertama kalinya seorang wanita sebayaku memeluku. Di tambah lagi dengan isak tangis dan linangan air mata yang mengalir membasahi wajahnya yang cantik. Tapi Aku merasa jiwanya sedang goyah, ada tekanan batin dalam dirinya hingga seolah Ia membutuhkan sandaran jiwa. Akhirnya Akupun membalas pelukannya, mendekapnya dengan erat.
"As, maafin Aku as, kita gak bisa kuliah bareng. Maafin Aku As" ucapnya dengan isak tangis dan linangan airmata yang membasahi wajahnya dan bahuku.

Segera kumelepaskan pelukanku. Kupegang bahunya dengan kedua tanganku. Kudekatkan wajahku tepat hadapan wajahnya. Tampak jelas jernihnya linangan airmata keluar dari matanya yang indah yang membasahi wajahnya yang cantik.
"Emang kenapa An" tanyaku dengan tatapan tajam.
"Maafin aku As, Aku harus pergi. Mungkin kita gak akan bertemu lagi" jawabnya yang masih dengan isak tangis yang memilukan.
"Emang ada apa An, Kamu mau kemana ?" tanyaku yang di hantui jutaan pertanyaan.

Tiba-tiba langit pun ikut menangis turunkan hujan gerimis, seolah-olah Ia merasakan kesedihan Anisa yang begitu dalam.
"Duduk dulu An, jelaskan pelan-pelan" perintahku seraya memapahnya untuk duduk di bangku yang berada di sampingku. Akhirnya Aku dan Anisa pun duduk.
"Jelaskan An, apa yang terjadi sebenernya ? Kenapa kamu ngomong kayak gitu ?" tanyaku dengan memegang kedua tangannya. Rintikan gerimis air hujan yang berjatuhan menghempas tubuhku tak kuhiraukan.
"Besok Aku harus pergi As, Nenekku di jawa sakit. Kami sekeluarga harus pindah ke jawa untuk mengurus nenekku. Dan Aku harus kuliah disana" jawabnya terbata-bata dengan isak tangis dan linangan airmata yang terus mengalir tanpa henti.
"Kenapa kamu gak ngomong dari dulu ?" tanyaku dengan mendekatkan wajahku ke wajahnya.
"Maafin Aku As, sebenernya Aku mencintaimu As. Aku takut membuatmu terluka" ucapnya dengan tertunduk. Dengan linangan airmatanya masih terus mengalir.

Seketika, seakan jantungku berhenti berdetak. Benarkah yang Anisa katakan ? Benarkah wanita yang selama ini juga kucintai, kukagumi dan kupuja dalam hati mengatakan bahwa Ia mencintaiku ? Benarkah yang kudengar ? Seakan Aku tak mempercayainya, tapi itulah kenyataannya. Itulah yang Anisa katakan.
Kulepaskan tangannya dari genggamanku. Ku pegang dagunya, dan kuangkat secara perlahan sehingga Aku melihat jelas raut wajahnya yang cantik penuh dengan linangan airmatanya. Kuraba lembut pipinya, dan kuusap airmata yang membasahi pipinya dengan jemariku.
"Benarkah yang kamu katakan An ?" tanyaku yang masih belum percaya.
Anisa langsung memeluku dengan erat. Kali ini Aku pun langsung membalas pelukannya dengan memeluknya juga dengan erat.
"Iya As, Setelah semuanya kita lalui bersama. Aku tak bisa membohongi perasaanku. Aku mencintaimu As" jawabnya yang membuatku begitu yakin atas apa yang Anisa ucapkan.
"Sebenernya Aku juga mencintaimu An, tapi Aku terlalu takut, Aku terlalu pengecut untuk mengatakannya" ucapku yang masih memeluk erat Anisa.
"Tapi sepertinya Aku harus mengubur dalam-dalam rasaku ini As, aku harus pergi" ucapnya dengan tangisan yang masih dalam pelukanku. Sehingga linangan airmatanya membasahi bahuku.

Aku segera melepas pelukanku dan memegang bahunya. Aku menatap tajam kearah wajahnya yang cantik.
"Secepat itukah An ?" tanyaku.
"Maafkan Aku As, tapi memang besok Aku harus pergi. Dari kota yang indah ini dan juga dari kehidupanamu" jawabnya tersedak-sedak dengan isak tangis dan linangan airmata yang sedari tadi mengalir tanpa henti dari kedua bola matanya yang indah.
Seketika, Ucapannya bagaikan sayatan pisau tajam yang mencabik-cabik hatiku. Sungguh, Aku tak dapat membendung dalamnya kesedihanku karna harus kehilangan Anisa. Tanpa ku sadari dan dengan sendirinya, butiran airmata yang jernih keluar dari kedua bola mataku.
"Kamu kenapa nangis As ?" tanyanya dengan memegang kedua tanganku.
"Aku gak rela an, Aku gak rela bila harus kehilangan kamu, Aku gak rela bila jalani hari tanpamu" ucapku dengan meneteskan airmata kesedihan.
"Kamu harus rela As. Meski tanpaku, kamu harus jalani harimu. Ingat As janji kita, kita harus jadi penulis terkenal. Dan kamu harus buktikan meski tanpaku di sini" ucapnya yang masih dengan deraian airmata.

Aku hanya terdiam. Hanya memandang indahnya wajah Anisa yang penuh dengan airmata.
"Maaf As, kurasa Aku harus pulang" ucapnya seraya berdiri. Namun Aku masih memegang tangan kanannya.
"Secepat inikah An ?" tanyaku dengan butiran airmata yang membasahi pipinku.
"Maafkan Aku As" jawabnya seraya melangkah. Namun langkahnya terhenti karna Aku tak rela melepaskan tangannya dari genggamanku.
"An ?" panggilku memelas dengan butiran air mata yang berjatuhan.
"maaf As" jawabnya seraya melepaskan tangannya dari genggamanku secara perlahan.

Anisa pun melangkah menghampiri motor maticnya dengan linangan airmata yang membasahi wajahnya.
"Selamat tinggal As" ucapnya yang telah berada di atas motor. Aku hanya terdiam terpaku menatapnya. Tak tahu apa yang harus kulalukan saat ini. Haruskah kumencegahnya ? Kurasa aku sama sekali tak punya hak untuk melakukannya.
Perlahan tapi pasti roda motornya bergerak membawa anisa berlalu dari hadapku. Rintik tangis hujan gerimis mengiringi kepergiananya dari danau ini.

Akhirnya Anisa pun lenyap dari pandanganku. Sedangkan Aku hanya tertegun, terdiam meratapi kenyataan ini. Sore hari yang memilukan. Tanpa mega di ujung senja, tanpa hangat sentuhan lembut sinar mentari. Yang ada hanya rintik hujan yang berjatuhan membasahi seluruh tubuhku, dan gumpalan-gumpalan awan hitam di langit dan gemuruh guntur yang terdengar menggelegar membuatku semakin terluka. Sendiri, dan terdiam memandangi air di danau dengan linangan airmata.

Akhirnya Aku pun pulang. Rintik hujan yang berjatuhan di sepanjang jalan membuatku basah kuyup ketika sampai rumah.

***

Gelap malam penuh keheningan. Ku hanya berbaring terdiam di atas tempat tidurku. Fikiranku terbang melayang, di dalam benakku hanya ada Anisa yang terbayang. Malam ini otakku telah teracuni oleh semua yang terjadi tadi sore hingga membuatku susah untuk tidur. Entah jam berapa Aku akhirnya tertidur, tapi yang pasti lebih dari jam 12 malam.

***

Esok hari, ketika kumembuka mataku. Kuraih ponselku yang berada di meja kamarku. Kulihat jam digital yang berada di ponselku menunjukan jam 05.55. Dan kulihat ternyata ada sebuah pesan masuk ternyata kiriman dari Anisa. Kubuka pesan tersebut yang ternyata sudah terkirim lima belas menit yang lalu.
" Pagi As, aku mw pmitan.. pgi ini aq brgkat ke jawa. Doakan aq ya As smga slamat smpai tjuan "
Begitulah pesan singkat yang Ia tulis. Segera kuhubungi nomer Anisa namun ternyata tidak aktif.

Tanpa fikir panjang segera ku menuju kamar mandi untuk sekedar mencuci muka dan segera kuraih helm dan berlari menghampiri motorku yang berada di garasi. Tanpa kupanasi motorku seperti biasa, kupaksa Ia membawaku ke rumah Anisa. Ku ingin melihat wajahnya yang cantik dan senyumnya yang manis meskipun untuk terakhir kalinya. Aku memacu motorku dengan kecepatan tingi karna kuingin segera sampai di rumah Anisa. Tanpa peduli resiko yang terjadi. Seperti kecelakaan yang mungkin bisa membuat tangan atau kakiku patah, atau juga bisa meremukan tengkorak kepalaku, yang bisa membuatku meregang ajal di jalan. Tapi semua itu sama sekali tak kuhiraukan. Yang ada dalam kepalaku hanyalah secepat mungkin aku harus sampai rumah Anisa.

Ketika Aku sampai di rumah Anisa. Seluruh pintu dan jendela rumahnya tertutup. Hening sunyi senyap terlihat tanpa aktivitas di dalamnya. Kucoba menghampiri rumahnya, tepatnya di teras rumah. Kulihat pintu rumahnya terkunci dengan sebuah gembok yang cukup besar.
"Mereka sudah berangkat nak, tadi pagi-pagi sekali" terdengar suara dari arah belakang. Akupun menoleh kebelakang dan kulihat ternyata seorang wanita yang terlihat seumuran ibuku, Ia adalah tetangga Anisa. Kulihat di tangannya tampak menggenggam sebuah buku.
"Tadi mereka pagi-pagi sekali sudah berangkat ke jawa, Anisa menitipkan ini untukmu. Kamu Aska kan" ucapnya kembali seraya menghampiriku dan menyodorkan buku yang ada di genggamannya.
Kuhanya menganggukan kepalaku dan menerima buku tersebut. Kulihat buku tersebut ternyata adalah dua buah novel. Novel yang dulu pernah kupinjam dan novel yang dia beli bersamaku dulu.
"Ya udah bu, makasih. Aku mau pamit pulang" ucapku dengan ramah untuk berpamitan.
"Oh iya Nak, silahkan" jawabnya yang tak kalah ramah.
"Permisi bu" ucapku seraya melangkahkan kaki.
Ibu itu hanya tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
Segera kuhampiri motorku dan letakan novel pemberian Anisa di dalam bagasi motorku. Dan segera kupulang ke rumah.

Sesampainya di rumah kuparkirkan motorku di teras. Dan kuambil novel yang berada di dalam bagasi motorku. Segera melangkah menuju kamarku, namun sebelum kusampai di kamarku langkahku di hentikan oleh suara ibuku.
"Dari mana kamu As, pagi-pagi udah keluar ?" tanya ibuku yang sedang memasak di dapur.
"Dari rumah temen ma" jawabku berbohong.
Segera kulanjutkan langkahku menuju kamarku.

Kuletakkan novelnya di meja kamarku. Kurebahkan ragaku di atas tempat tidurku. Ingin rasanya kuluapkan kesedihanku lewat butiran airmata. Tapi, apakah jika kumenangis Ia akan kembali ? Apakah semua akan seperti sedia kala ? Kurasa tidak. Kulihat novel pemberian Anisa yang kuletakkan di atas meja. terlihat sebuah sudut kertas tampak di bagian tengah novel yang Anisa beli bersamaku. Timbul rasa penasaran dalam hatiku. Apakah itu ? kuambil novel tersebut dan kubuka tepat dimana terdapat sudut kertas tersebut. tepatnya di halaman 73 terselip foto Anisa bersamaku. Yang di ambil ketika kelulusan kemarin. Dan sebuah kertas yang terlipat begitu rapi. Kubuka secara perlahan setiap lipatan kertas tersebut dan ternyata itu sebuah surat.
"Dear Aska..

Maafin Aku As, Aku harus pergi dari kota ini dan dari kehidupanmu. Nenekku di jawa sakit As. Kami sekeluarga harus pindah ke jawa untuk mengurus nenekku, dan aku pun harus kuliah di jawa. kuharap kamu bisa mengerti As.

ingatlah janji kita As, meskipun kita tidak bisa kuliah bareng, tapi kita harus jadi penulis terkenal. meskipun tanpaku di sisimu, kuyakin kamu bisa jalani semua ini As, kuyakin kamu mampu jadi penulis terkenal As. aku janji As, kita pasti kan bertemu kembali saat kau dan aku jadi penulis terkenal.

satu hal yang membuatku mampu pergi dengan iklas As. aku telah mengatakan isi hatiku padamu, Aku telah mengatakan bahwa aku mencintaimu. dan aku juga bahagia bahwa kamu pun mencintaiku. aku rela As atas kenyataan ini, bukankah cinta tak harus memiliki ? setidaknya aku bisa tau isi hati kamu. dan kamu pun tau isi hatiku. itu sudah cukup bagiku.

maaf juga As, bila nomer hpku tidak aktif. sengaja aku melakukan itu karna jika kita terus berhubungan akan membuatku semakin terluka. aku harap kamu bisa melupakanku. dan carilah cinta yang baru As, wanita yang lebih sempurna dariku. terima kasih atas semua yang kamu lakukan untukku, atas semua yang telah kamu berikan padaku. aku hanya bisa memberikan novel ini dan sebuah foto ini untukmu. kuharap bisa menjadi motivasi untukmu. untuk meraih semua mimpi kita As.

selamat tinggal As..

Anisa. "

Seakan jutaan sayatan pisau merajam hatiku. ku tak mampu menahan kesedihanku, aku tak mampu membendung airmataku. butiran jernih airmataku menetes perlahan membasahi sepucuk surat dari Anisa. Begitu kejam kenyataan padaku. Tapi apalah dayaku, mungkin inilah takdir tuhan untukku.

***

semenjak kepergian Anisa Aku merasakan kehilangan yang sangat dalam. Seakan separuh jiwaku hilang terbang melayang entah kemana. Tapi, kufikir tak berguna kularut dalam kesedihan yang hanya akan menyiksaku secara perlahan. Kucoba bangkit berdiri tapaki hari meski tanpa Anisa. Karna janji yang telah kuikrarkan bersama Anisa.

Akhirnya akupun berusaha untuk bisa lolos ujian SMPTN di Universitas Negri. Dan dihari pengumuman yang selalu kunantikan ternyata aku lolos. Akupun mengambil jurusan sastra indonesia. Karna di sastra indonesia kuyakin mimpiku bersama Anisa akan tercapai. Yaitu menjadi seorang penulis terkenal. Amin.

  _T_A_M_A_T_
______________



FREDY FEBRIANTO, BANDAR LAMPUNG, 28 juli 2011.

Takdir Langit


Oleh: Badai Ekananda

Itu pagiku. Bukan pagi imitasi yang sakau. Tanpa celah kelabu. Tak ada buram menyembur menyentuh. Pagi yang setia menebar embun. Pagi yang tawajuh.

Benar, ada buliran air meluncur dari langit pertama. Bahkan, itu bukan pagi biasa. Dia adalah sang fajar dari singgasana- Nya. Langit pun harus rela layu membelah demi cahaya langit merah jingga itu menampangkan muka. Sejuknya lembut memberingas kulit. Hembusnya bisa menggelinjangi poripori. Ah, damainya berdamai dengan ufuk yang mulai merebak. Damainya menyapa langit yang baru bangun dari tidur tanpa kasur. Ih, iya. Begitulah langit. Hari itu memang tampak menyejukkan.
Tapi, di lain masa, langit pun akan tampil cemberut, berwajah awut. Sekelibat dia bisa sangar bermetamorfosis menjulurkan abu-abu hitam, lalu menumpahkan tangisan kalut. Langit dalam tempo-tempo, akan melanglang menjadi mahakala yang bisa membumikan apa saja. Bisa memproduksi hujan es, memayungi topan yang mengamuk, merestui datangnya wabah banjir dengan hujannya, dan apa saja yang bisa langit perbuat.
Uh, langit memang perkasa.Bisa mematri apa saja. Kenapa tiba-tiba menganalisa langit? Mungkin, karena hari-hari manusia selalu berharap kebaikan langit. Berharap langit menurahkan pundipundi rezeki. Berharap agar langit tak menurunkan hujan mahaderas.Berharap langit tak mengizinkan dialiri panas menyengat yang seenaknya membakar jantung- jantung insan di bumi secara beringas.Berharap langit menutup rongga-rongga agar para malaikat pencabut nyawa tak bisa bertugas.
“Oaahh, langit sudah membelah. Fajar menyingsing.Dan, semalaman aku ditemani debar jantung dan gelap,’’ Raden berbicara sendiri dengan hatinya. Semalaman,hati di dalam dadanya menemani Raden tanpa tidur karena menunggu sesuatu.Menunggu kabar dari dahsyatnya rindu. Raden bergegas mengambil air wudu. Siap menghadap sang Khaliq. Salat. Raden menuju tempat pancuran air,kran yang senantiasa ikhlas mencipratkan air bersih. Dua rakaat sunnah sebelum Subuh, Salat Fajar, dengan bacaan surat-surat pendek kitab suci dilakukannya kemudian. Tak sampai lima menit.
Setelah salam kedua salat sunah Fajar, Raden berdiri lagi. Kali ini bersiap untuk yang salat wajib, Subuh.Raden memang akrab dengan salat sunah untuk mengawali dan mengakhiri salat wajib. Rupanya, Raden ingin berinvestasi pahala melakoni salat sunah rawatib sebagai pengiring salat wajib. ‘’Salah jika berharap pada langit. Berharap dan meminta harus pada yang membuat langit, pada Tuhan. Langit tak bisa mendatangkan apa-apa tanpa diperintah dan dikehendaki Tuhan,’’ lirih Raden menyimpulkan gelayut pikirannya tentang langit usai salat Subuh.
Sejurus kemudian, Raden merebah di atas sajadah. Sesekali, dia melirik Blackberry Apollo yang dia beli tujuh bulan lalu.Tak ada kabar.Tak ada SMS.Tak ada BBM. “Ke mana dia? Nggak biasanya dia nggak ngasih kabar?” agak sesak dan menyempit dada Raden, khawatir dengan bidadarinya. Biasanya pukul 2 atau pukul 3 pagi, bidadari sudah mentransfer suasana batin dari ujung pulau sana.Tapi,malam ini kosong. Sampai subuh tiba, tak ada kabar. Pending? Lowbat? Malas? Lupa? Sakit? Atau apa?
“Hmmmmmmm,” Raden cuma bisa menggumam. “Den!! sudah telpon ibumu? Kemaren ibumu titip pesan, kau disuruh telpon.BB kau nggak aktif saat ibumu menelpon. Cepat telpon ibumu,” Om Puri mencegat lamunan Raden. “Oh, iya Om, nanti aku telpon ibu,”Raden menyahut dan otomatis memotong reaksi pikirannya soal langit dan bidadarinya. Sudah sebulan ini Raden menumpang hidup di rumah Om-nya yang seorang Ustad. Omnya seorang ustad yang aliansi pemikirannya sejalan dengan jamaah Islam garis tegas nan lugas.
Ideologinya Ahlul Sunnah Wal Jamaah Wal Imamiyah. Di kawasan Palmerah, Jakarta Barat, Raden kini menetap sementara dengan Om-nya yang punya kepanjangan nama Ahmad Purnama Ridwan tapi akbar dipanggil Ustad Puri itu. Sebelumnya, Raden ngekos di sekitaran Rawa Belong. Ada istri om, pembantu, dan dua anak om yang baru berumur 5 dan 7 tahun,di rumah sederhana tapi asri itu.
Ada lebih seribuan buku tebal, berbaris di lemari buku. Bagi om yang seorang Ustad, melahap buku-buku dengan beragam tema menjadi niscaya. Membaca buku bagi om bersifat fardhu ’ain. Tak bisa diganti yang lain dan harus dilakukan. Ada buku klasik tulisan ulama salafusshalih, buku ulama kontemporer, hingga kitab-kitab sastra, buku ilmiah postmodernis, dan beberapa novel epos. Raden sungguh enjoy numpang di rumah om-nya itu.
Sebagai jurnalis di sebuah harian di Ibukota,buku-buku om Puri dinikmati seleluasa hati.Jurnalis harus banyak membaca.Membaca apa saja. Membaca buku dan membaca fenomena sekitar. Hasil reportase yang disajikan kepada pembaca harus berdasar fakta. Sebuah fakta kemudian diteruskan sebagai news kepada pembaca. Begitulah kerja jurnalis. * * *
“Klingg...” BB Apollo itu mengeluarkan nada. Itu alert jika ada BBM masuk. Disambarnya BB yang tergeletak di samping sajadah. Mata Raden terfokus pada status yang tertanda biru. Dari bidadari : Rindu Fatisyah. Sebuah nama yang dua bulan ini mengusik hatinya. Raden sedang jatuh cinta pada nama ini. Pada gadis ini. Hari-hari, jam-jam, menit-menit, detikdetik yang dilalui Raden, bayang wajah Rindu tak bisa dilepas dari hatinya.Dari hatinya yang terdalam. “Mas,maaf aku ketiduran.”
“Aku pulang kerja jam 2.” “Pulang kerja, ngobrol ama Pia,trus ketiduran.” “Mas lg apa?” Raden terperanjat gembira setelah semalaman gundahgulana. Bidadari telah turun dari langit. Bidadari itu mengirim BBM. Memberi kabar. Memberi kabar yang terlambat. Bidadari itu, tertulis di status BBM sebagai Rindu Ekananda. “Alhamdulillah.” “Lagi baca Quran.” “Jangan telat sarapan,ya.” Raden membalas singkat BBM sang Bidadari.Walau jawaban Raden singkat,tapi ada makna yang sangat panjang.
Kerinduan Raden kepada bidadari bukan roman picisan. Kerinduan Raden pada Rindu adalah tafsiran tentang banyak makna.Tentang makna kehidupan, tentang serpihan jiwa yang terlantar tapi harus disatukan,tentang makna bersosialisasi yang humanis, tentang makna asmara yang bermartabat, tentang menghargai hati, dan tentang merindukan bidadari dari langit. “Dia bukan perempuan biasa,
” Raden meyakinkan diri. Bungsu dari lima bersaudara itu adalah reinkarnasi Cut Nya’ Dien,epigon Cut Meutiah, dan penerus Dewi Sartika.Rindu adalah pejuang. Mandiri. Ringan Tangan. Baik hati. Jujur. Dia juga memimpikan kemerdekaan sejati. Dan, tentu saja,Rindu laksana RA Kartini yang punya pergaulan luas dari banyak kalangan. Tidak jumudan. Tidak egois. Dan yang jelas, dia gadis yang cantik.Cantik.Sekali lagi, cantik! Soal kecantikannya, tak bisa ditawar lagi.
Dia bidadari turun dari langit.Titik. “Aku anak kelima,Mas.Dua abang laki. Dan dua kakak perempuan. Jika ditanya orang dari mana asalku, aku menyebut diriku gadis Betawi,’’ katanya ketika itu. Ternyata kecantikan Rindu itu adalah titisan sejarah. Dari cikal bakalnya, bidadari ini dialiri darah dari khayangan, campur Betawi, campur Sumatera Aceh, campur Arab, dan campur Portugal. Ada bau Tionghoanya sedikit.
“Ah, soal silsilah dan azbabun- nuzul dari mana dia berasal, aku nggak peduli.Soalnya aku sudah membuat sendiri silsilah untuknya.Dia anaknya bidadari dari langit. Karena itu, dia bidadari juga. Soal nama Rindu Fatisyah, itu hanya adaptasi saja karena dia hidup di tanah Bumi,” begitu simpul Raden. Raden punya alasan kuat menyayangi Rindu. Bukan karena kebidadariannya. Tapi justru karena sifat kemanusiaannya. Perkenalannya dengan Rindu,saat Raden ditugasi melakukan liputan investigasi ritual jahiliyah di salah satu sudut ranah Pulau Panas.
Di seberang Pulau Dwipa. Rindu adalah salah satu staf karyawan di perusahaan ritual jahiliah itu. Jam kerjanya malam. Dari pukul 20.00 hingga 03.00. Rindu ingin berlepas diri dari komunitas jahiliah itu.Tetapi entah kenapa dia tidak bisa pergi. Di ujung sana, air matanya telah berubah menjadi buliran serbuk laksana serbuk kayu. Kebosanan melumut di dada Rindu. Terkekang dalam kalut yang hebat. Tak berdaya, tapi tak bisa apaapa. Ada siksa yang melumatnya, menggerusnya, dan menyerpihnya.
Di dalam sana, pancar bidadari perlahan sirna menjadi onggokan yang tak terbentuk. “Mas, tolong bawa aku lari dari tipuan ini.Aku nggak mau kayak gini,” bisik Rindu merapat ke jantung Raden. Tangisannya meraungraung membikin pilu. Tangisannya mencacah udara dan terdengar begitu sedih. “Dengar Mas,aku menangis lagi. Bawa aku pergi dari keremangan ini,” tangis Rindu memantulkan sayat pedih.
Raden memberabak, mata berkaca-kaca.Tugas investigasinya berbaur sedu sedan menatap linangan perih bidadari yang salah alamat ketika menginjak bumi. Sang bidadari menginjak di tanah bumi yang berlumpur. Raden menyumbat tangis yang siap meleleh. Rindu pasti tak ingin melihat Raden menangis. Raden tahu itu. Banjir tangis akan menghanyutkan semuanya. Ombak-ombak tangis akan menghancurkan tubuh dan pasti sangat menyiksa.
“Apa yang mereka lakukan terhadapmu?”Raden berusaha tenang menghadang sedih. “Mereka semua mencoba memangsa kami, para perempuan. Mereka akan membeli kami dengan setumpuk uang mereka.Belasan juta,Mas”. “Siapa mereka itu?” “Lelaki, Mas. Mereka para laki-laki yang mengaku sok ber-uang. Mereka adalah anggota grup jahiliyah,”Rindu meratap sambil mati-matian menahan tangis yang siap membuncah. “Kamu bagaimana?” Raden penasaran.
“Aku belum tersentuh,Mas. Dan aku nggak mau saat-saat biadab itu datang menghampiri. Bawa aku keluar, Mas. Sekarang.. Sekarang, Mas,” isak Rindu. Raden ingin menjadi pahlawan tapi terlihat lugu dan polos. Raden menjawab sekenanya dengan keyakinannya yang sejati. “Iya, aku akan membawamu keluar dari tempat remang itu,sekarang.” * * *
Apapun, Raden menganggap Rindu adalah bidadari. Di dalam keluarga manusia, Rindu paling menyayangi ayah dan bundanya. Periang, humoris, suka menolong tanpa pamrih, gaul,pintar bersosialisasi,adalah karakternya yang paling kentara.Kebaikannya di atas rata-rata. Kebaikan Rindu sudah terkenal di dunia dan di akherat. Dua bulan ini, percakapan mereka menerobos ke ruang terdalam. Begitu banyak yang sudah diceritakan.
Tentang kerinduan yang menggunung, tentang jantung yang terbelah saling menyayangi. Tentang hati yang terbagi satu sama lain.Tentang cinta yang menggumpal. Titik-titik rindu berlomba mengguyur dengan gerimis yang berjatuhan menyegarkan Bumi. Raden dan Rindu mencoba merangkai takdir. Mereka yakin, takdir menjadi raja dan permaisuri akan tiba. Bayangan Rindu kerap menciumi lamunan Raden.
Dan begitu sebaliknya. Mereka tak ingin berpisah. Mereka ingin bersatu selamanya. Disatukan takdir. Takdir mereka bukan sekadar saling merunduk menyentuhkan bibir.Tapi, takdir mereka dirajut seperti takdir datangnya embun pagi dari sang Fajar setiap Subuh. Begitu sejuk dan indah.Takdir yang langsung turun dari Langit Ketujuh. Takdir menuju keabadian kasih. * * *
“Brrrgt..brrgttt..brrrgtt,” Kali ini,SMS yang masuk. From Shali to Raden : “Beib, soal pernikahan kita yang 6 bulan lagi,aku sudah bayar DP untuk sewa gedungnya, ya.Catering juga sudah aku hubungi dan sudah dibayar separo. Semoga pernikahan kita lancar. Daaah, sayang! Awas, sayang jangan nakal-nakal di sana.” SMS dari Shali, kekasihnya yang hampir dua tahun ini, membuat Raden tersergap sedih dan terombang lunglai.Hatinya berkecamuk meronta.
“Rindu,bukankah kamu bidadari dari langit. Cobalah minta kepada penguasa langit agar takdir ini menjadi milik kita.Agar kita tak bisa dipisahkan oleh siapapun.Aku akan membawamu keluar dari tempat remang itu dan hidup bahagia, sesuai takdir!
Shali, meski kamu sok mengatur semuanya selama ini,sok menjadi penentu dalam hubungan ini,tapi kau juga berhak dengan takdirmu, mendapatkan kebahagiaan.” Milik siapakah takdir ini sesungguhnya? Takdir tetap milik si Penguasa Langit. Raden pun pasrah menanti takdir dari langit itu.
*** Keterangan : *) tawajuh : menghadapkan diri pada Tuhan *) epigon : pengikut *) azbabun-nuzul : asal mula *)salafusshalih: ulama terdahulu
Biodata : BADAI EKANANDA bernama asli Suyunus Rizki Ekananda. Dia adalah seorang penulis, tinggal di Jakarta. Karyanya dimuat di berbagai media massa.   

Untuk dapat mendengarkan radio ini anda harus menginstall flash player klik disini untuk download
Winamp Windows Media Player iTunes basicBerry Real One Android iPhone