Pondok Pesantren Darul Huda Mayak Ponorogo Juara Di Liga Santri Nasional

Wengker.com, Ponorogo - Pondok Pesantren Darul Huda Ponorogo, akhirnya keluar sebagai juara Liga Santri Nusantara (LSN) 2017 setelah mengalahkan Pondok Pesantren Darul Hikmah Cirebon pada partai grand final di Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Ahad malam (29/10).

Sejak mula pertandingan, Darul Huda langsung menekan Darul Hikam. Serangan itu membuahkan gol pada menit ke-12 melalui tendangan nomor punggung 15, Ferry. Skor 1-0 untuk Darul Huda. Hingga peluit babak kedua dibunyikan, skor tidak berubah.

Atas keberhasilan tersebut, Darul Huda mendapatkan piala bergilir Liga Santri Nusantara dan hadiah uang senilai Rp 100 juta. Menpora Imam Nahrawi menyerahkan piala itu setelah mengalungkan medali kepada tim juara.

Sementara itu, Darul Hikmah, sebagai juara dua, meraih hadiah uang senilai Rp 75 juta plus trofi. (Abdullah Alawi) NU Online

Kontroversi Hukum Merokok - Warta Nahdliyin

Wengker.com, Hukum Merokok - Warta Nahdliyin, Sejak awal abad XI Hijriyah atau sekitar empat ratus tahun yang lalu, rokok dikenal dan membudaya di berbagai belahan dunia Islam. Sejak itulah sampai sekarang hukum rokok gencar dibahas oleh para ulama di berbagai negeri, baik secara kolektif maupun pribadi. Perbedaan pendapat di antara mereka mengenai hukum rokok tidak dapat dihindari dan berakhir kontroversi. Itulah keragaman pendapat yang merupakan fatwa-fatwa yang selama ini telah banyak terbukukan. Sebagian di antara mereka menfatwakan mubah alias boleh, sebagian berfatwa makruh, sedangkan sebagian lainnya lebih cenderung menfatwakan haram.

Kali ini dan di negeri ini yang masih dilanda krisis ekonomi, pembicaraan hukum rokok mencuat dan menghangat kembali. Pendapat yang bermunculan selama ini tidak jauh berbeda dengan apa yang telah terjadi, yakni tetap menjadi kontroversi.<>

Kontroversi Hukum Merokok

Seandainya muncul fatwa, bahwa korupsi itu hukumnya haram berat karena termasuk tindak sariqah (pencurian), maka semua orang akan sependapat termasuk koruptor itu sendiri. Akan tetapi persoalannya akan lain ketika merokok itu dihukumi haram. Akan muncul pro dari pihak tertentu dan muncul pula kontra serta penolakan dari pihak-pihak yang tidak sepaham. Dalam tinjauan fiqh terdapat beberapa kemungkinan pendapat dengan berbagai argumen yang bertolak belakang.

Pada dasarnya terdapat nash bersifat umum yang menjadi patokan hukum, yakni larangan melakukan segala sesuatu yang dapat membawa kerusakan, kemudaratan atau kemafsadatan sebagaimana termaktub di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai berikut:

Al-Qur'an :

وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ. البقرة: 195

Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (Al-Baqarah: 195)

As-Sunnah :

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ. رواه ابن ماجه, الرقم: 2331

Dari Ibnu 'Abbas ra, ia berkata ; Rasulullah SAW. bersabda: Tidak boleh berbuat kemudaratan (pada diri sendiri), dan tidak boleh berbuat kemudaratan (pada diri orang lain). (HR. Ibnu Majah, No.2331)

Bertolak dari dua nash di atas, ulama' sepakat mengenai segala sesuatu yang membawa mudarat adalah haram. Akan tetapi yang menjadi persoalan adalah apakah merokok itu membawa mudarat ataukah tidak, dan terdapat pula manfaat ataukah tidak. Dalam hal ini tercetus persepsi yang berbeda dalam meneliti dan mencermati substansi rokok dari aspek kemaslahatan dan kemafsadatan. Perbedaan persepsi ini merupakan babak baru munculnya beberapa pendapat mengenai hukum merokok dengan berbagai argumennya.

Seandainya semua sepakat, bahwa merokok tidak membawa mudarat atau membawa mudarat tetapi relatif kecil, maka semua akan sepakat dengan hukum mubah atau makruh. Demikian pula seandainya semuanya sepakat, bahwa merokok membawa mudarat besar, maka akan sepakat pula dengan hukum haram.

Beberapa pendapat itu serta argumennya dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam hukum.

Pertama ; hukum merokok adalah mubah atau boleh karena rokok dipandang tidak membawa mudarat. Secara tegas dapat dinyatakan, bahwa hakikat rokok bukanlah benda yang memabukkan.

Kedua ; hukum merokok adalah makruh karena rokok membawa mudarat relatif kecil yang tidak signifikan untuk dijadikan dasar hukum haram.

Ketiga; hukum merokok adalah haram karena rokok secara mutlak dipandang membawa banyak mudarat. Berdasarkan informasi mengenai hasil penelitian medis, bahwa rokok dapat menyebabkan berbagai macam penyakit dalam, seperti kanker, paru-paru, jantung dan lainnya setelah sekian lama membiasakannya.

Tiga pendapat di atas dapat berlaku secara general, dalam arti mubah, makruh dan haram itu bagi siapa pun orangnya. Namun bisa jadi tiga macam hukum tersebut berlaku secara personal, dengan pengertian setiap person akan terkena hukum yang berbeda sesuai dengan apa yang diakibatkannya, baik terkait kondisi personnya atau kwantitas yang dikonsumsinya. Tiga tingkatan hukum merokok tersebut, baik bersifat general maupun personal terangkum dalam paparan panjang 'Abdur Rahman ibn Muhammad ibn Husain ibn 'Umar Ba'alawiy di dalam Bughyatul Mustarsyidin (hal.260) yang sepotong teksnya sebagai berikut:

لم يرد في التنباك حديث عنه ولا أثر عن أحد من السلف، ....... والذي يظهر أنه إن عرض له ما يحرمه بالنسبة لمن يضره في عقله أو بدنه فحرام، كما يحرم العسل على المحرور والطين لمن يضره، وقد يعرض له ما يبيحه بل يصيره مسنوناً، كما إذا استعمل للتداوي بقول ثقة أو تجربة نفسه بأنه دواء للعلة التي شرب لها، كالتداوي بالنجاسة غير صرف الخمر، وحيث خلا عن تلك العوارض فهو مكروه، إذ الخلاف القوي في الحرمة يفيد الكراهة

Tidak ada hadits mengenai tembakau dan tidak ada atsar (ucapan dan tindakan) dari seorang pun di antara para shahabat Nabi SAW. … Jelasnya, jika terdapat unsur-unsur yang membawa mudarat bagi seseorang pada akal atau badannya, maka hukumnya adalah haram sebagaimana madu itu haram bagi orang yang sedang sakit demam, dan lumpur itu haram bila membawa mudarat bagi seseorang. Namun kadangkala terdapat unsur-unsur yang mubah tetapi berubah menjadi sunnah sebagaimana bila sesuatu yang mubah itu dimaksudkan untuk pengobatan berdasarkan keterangan terpercaya atau pengalaman dirinya bahwa sesuatu itu dapat menjadi obat untuk penyakit yang diderita sebagaimana berobat dengan benda najis selain khamr. Sekiranya terbebas dari unsur-unsur haram dan mubah, maka hukumnya makruh karena bila terdapat unsur-unsur yang bertolak belakang dengan unsur-unsur haram itu dapat difahami makruh hukumnya.

Senada dengan sepotong paparan di atas, apa yang telah diuraikan oleh Mahmud Syaltut di dalam Al-Fatawa (hal.383-384) dengan sepenggal teks sebagai berikut:

إن التبغ ..... فحكم بعضهم بحله نظرا إلى أنه ليس مسكرا ولا من شأنه أن يسكر ونظرا إلى أنه ليس ضارا لكل من يتناوله, والأصل في مثله أن يكون حلالا ولكن تطرأ فيه الحرمة بالنسبة فقط لمن يضره ويتأثر به. .... وحكم بعض أخر بحرمته أوكراهته نظرا إلى ما عرف عنه من أنه يحدث ضعفا فى صحة شاربه يفقده شهوة الطعام ويعرض أجهزته الحيوية أو أكثرها للخلل والإضطراب.

Tentang tembakau … sebagian ulama menghukumi halal karena memandang bahwasanya tembakau tidaklah memabukkan, dan hakikatnya bukanlah benda yang memabukkan, disamping itu juga tidak membawa mudarat bagi setiap orang yang mengkonsumsi. ...Pada dasarnya semisal tembakau adalah halal, tetapi bisa jadi haram bagi orang yang memungkinkan terkena mudarat dan dampak negatifnya. Sedangkan sebagian ulama' lainnya menghukumi haram atau makruh karena memandang tembakau dapat mengurangi kesehatan, nafsu makan, dan menyebabkan organ-organ penting terjadi infeksi serta kurang stabil.

Demikian pula apa yang telah dijelaskan oleh Prof Dr Wahbah Az-Zuhailiy di dalam Al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuh (Cet. III, Jilid 6, hal. 166-167) dengan sepotong teks, sebagai berikut:

القهوة والدخان: سئل صاحب العباب الشافعي عن القهوة، فأجاب: للوسائل حكم المقاصد فإن قصدت للإعانة على قربة كانت قربة أو مباح فمباحة أو مكروه فمكروهة أو حرام فمحرمة وأيده بعض الحنابلة على هذا التفضيل. وقال الشيخ مرعي بن يوسف الحنبلي صاحب غاية المنتهى: ويتجه حل شرب الدخان والقهوة والأولى لكل ذي مروءة تركهما

Masalah kopi dan rokok; penyusun kitab Al-'Ubab dari madzhab Asy-Syafi'i ditanya mengenai kopi, lalu ia menjawab: (Kopi itu sarana) hukum, setiap sarana itu sesuai dengan tujuannnya. Jika sarana itu dimaksudkan untuk ibadah maka menjadi ibadah, untuk yang mubah maka menjadi mubah, untuk yang makruh maka menjadi makruh, atau haram maka menjadi haram. Hal ini dikuatkan oleh sebagian ulama' dari madzhab Hanbaliy terkait penetapan tingkatan hukum ini. Syaikh Mar'i ibn Yusuf dari madzhab Hanbaliy, penyusun kitab Ghayah al-Muntaha mengatakan : Jawaban tersebut mengarah pada rokok dan kopi itu hukumnya mubah, tetapi bagi orang yang santun lebih utama meninggalkan keduanya.

Ulasan 'Illah (reason of law)

Sangat menarik bila tiga tingkatan hukum merokok sebagaimana di atas ditelusuri lebih cermat. Kiranya ada benang ruwet dan rumit yang dapat diurai dalam perbedaan pendapat yang terasa semakin sengit mengenai hukum merokok. Benang ruwet dan rumit itu adalah beberapa pandangan kontradiktif dalam menetapkan 'illah atau alasan hukum yang di antaranya akan diulas dalam beberapa bagian.

Pertama; sebagian besar ulama' terdahulu berpandangan, bahwa merokok itu mubah atau makruh. Mereka pada masa itu lebih bertendensi pada bukti, bahwa merokok tidak membawa mudarat, atau membawa mudarat tetapi relatif kecil. Barangkali dalam gambaran kita sekarang, bahwa kemudaratan merokok dapat pula dinyaakan tidak lebih besar dari kemudaratan durian yang jelas berkadar kolesterol tinggi. Betapa tidak, sepuluh tahun lebih seseorang merokok dalam setiap hari merokok belum tentu menderita penyakit akibat merokok. Sedangkan selama tiga bulan saja seseorang dalam setiap hari makan durian, kemungkinan besar dia akan terjangkit penyakit berat.

Kedua; berbeda dengan pandangan sebagian besar ulama' terdahulu, pandangan sebagian ulama sekarang yang cenderung mengharamkan merokok karena lebih bertendensi pada informasi (bukan bukti) mengenai hasil penelitian medis yang sangat detail dalam menemukan sekecil apa pun kemudaratan yang kemudian terkesan menjadi lebih besar. Apabila karakter penelitian medis semacam ini kurang dicermati, kemudaratan merokok akan cenderung dipahami jauh lebih besar dari apa yang sebenarnya. Selanjutnya, kemudaratan yang sebenarnya kecil dan terkesan jauh lebih besar itu (hanya dalam bayangan) dijadikan dasar untuk menetapkan hukum haram. Padahal, kemudaratan yang relatif kecil itu seharusnya dijadikan dasar untuk menetapkan hukum makruh.

Hal seperti ini kemungkinan dapat terjadi khususnya dalam membahas dan menetapkan hukum merokok. Tidakkah banyak pula makanan dan minuman yang dinyatakan halal, ternyata secara medis dipandang tidak steril untuk dikonsumsi. Mungkinkah setiap makanan dan minuman yang dinyatakan tidak steril itu kemudian dihukumi haram, ataukah harus dicermati seberapa besar kemudaratannya, kemudian ditentukan mubah, makruh ataukah haram hukumnya.

Ketiga; hukum merokok itu bisa jadi bersifat relatif dan seimbang dengan apa yang diakibatkannya mengingat hukum itu berporos pada 'illah yang mendasarinya. Dengan demikian, pada satu sisi dapat dipahami bahwa merokok itu haram bagi orang tertentu yang dimungkinkan dapat terkena mudaratnya. Akan tetapi merokok itu mubah atau makruh bagi orang tertentu yang tidak terkena mudaratnya atau terkena mudaratnya tetapi kadarnya kecil.

Keempat; kalaulah merokok itu membawa mudarat relatif kecil dengan hukum makruh, kemudian di balik kemudaratan itu terdapat kemaslahatan yang lebih besar, maka hukum makruh itu dapat berubah menjadi mubah. Adapun bentuk kemaslahatan itu seperti membangkitkan semangat berpikir dan bekerja sebagaimana biasa dirasakan oleh para perokok. Hal ini selama tidak berlebihan yang dapat membawa mudarat cukup besar. Apa pun yang dikonsumsi secara berlebihan dan jika membawa mudarat cukup besar, maka haram hukumnya. Berbeda dengan benda yang secara jelas memabukkan, hukumnya tetap haram meskipun terdapat manfaat apa pun bentuknya karena kemudaratannya tentu lebih besar dari manfaatnya.


KH Arwani Faishal
Sumber PBNU

Peran Lesbumi NU Membekas Bagi Sujiwo Tejo

Wengker.com, Warta Nahdliyin - Budayawan Nasional Sujiwo Tejo memiliki kesan tersendiri kepada Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi), sebuah lembaga milik Nahdlatul Ulama. Masa-masa kecilnya di Situbondo, Jawa Timur, sering menonton kesenian-kesenian yang dihelat lembaga itu. “Saya pas kecil, kalau tidak ada Lesbumi, tidak ada hiburan di situbondo,” katanya selepas menghadiri Silaturahim Kebudayaan di gedung PBNU, Jakarta, yang diinisiasi Lesbumi PBNU akhir Juli lalu.

Di Situbondo, kata pria yang terampil menulis esai, melukis, dan menyanyi itu, Lesbumi mengadakan pagelaran ludruk, ketoprak dan kesenian-kesenian lain. “Bikin banyak hal. Di Situbondo itu, kegiatannya, saya waktu SD, kalau enggak ada Lesbumi, ya sepi.  Lesbumi bikin ini, bikin itu, saya nonton ketoprak. Itu yang saya selalu saya kenang. Makanya saya kan sekarang ditaruh di Lesbumi juga. Itu peran yang paling konkret yang saya rasakan,” jelasnya.

Seandainya tidak ada Lesbumi, lanjut dalang yang aktif di Twitter itu, Situbondo menjadi daerah sunyi dari kesenian-kesenian juga. “Mereka nanggap wayang juga. Peran yang paling membekas bagi saya itu,” ujar pria yang pernah kuliah di jurusan Fisika dan jurusan Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung itu.

Pada Silaturahim Kebudayaan itu, Sujiwo Tejo tampil menyanyikan beberapa lagu.  Di sela menyanyi, ia menyebut bahasa Indonesia kurang relijius dalam penggunaan istilah “pencipta” yang disandarkan kepada pengarang lagu. Bagi Presiden Jancuker tersebut, “pencipta” hanya layak disandarakan dan milik Tuhan. Sementara ia lebih setuju komposer. “Prinsipnya bukan pencipta lagu, karena saya Pancasilais, bagi saya pencipta hanya Tuhan,” katanya pada silaturahim bertema “Meneguhkan Kebudayaan, Memperkuat Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia”.

Ia mempercayai bahwa lagu-lagu itu sudah diciptakan Tuhan dan bertebaran di alam semesta. Kemudian manusia yang mengambil atau memetiknya. “Manusia yang berkesempatan,” katanya sambil mukanya menengadah ke langit-langit lantai delapan PBNU, sementara tangan kanannya melakukan gerakan seolah-olah memetik sesuatu.

Silaturahim dihadiri seniman Sunda, Gholla Barghawa membuka acara dengan membacakan pantun pembuka diiringi celempung dan karinding. Aktivis dan seniman Lesbumi Sastro Adi menyanyikan "Sapta Wikrama" disusul puisi Abdullah Wong, penampilan Pencak Silat NU Pagar Nusa, dan diakhiri dengan seminar yang diisi Ketua Lesbumi KH Agus  Sunyoto, Ketua Umum Persatuan Purnawirawan Warakawuri TNI/Polri (Pepabri) Agum Gumelar, budayawan KGPH Puger, dan Pemerhati Budaya Harry Tjan Silalahi, serta Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, dan Wakil Rais ‘Aam PBNU KH Miftahul Akhyar. (NU OnlineAbdullah Alawi)

Silaturrahmi Ketua Umum Pagar Nusa Kepada Tokoh Pencak Silat Untuk Redakan Pertikaian

Wengker.com, Warta Nahdliyin - Ketua Umum Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Emha Nabil Haroen akan menemui sejumlah pemimpin perguruan silat lain di Tanah Air. Silaturahmi ini untuk meredakan pertikaian antar anggota perguruan yang kerap terjadi di lapangan.

Gus Nabil mengatakan, sejak terpilih sebagai Ketua Umum PSNU Pagar Nusa dalam kongres III di Jakarta, 3-5 Mei 2017, dia sudah menyiapkan sejumlah program kerja. Di antaranya melakukan road show silaturahmi kepada para pemimpin perguruan silat di Tanah Air untuk membangun komitmen bersama memajukan dunia pencak silat. “Termasuk meredakan konflik antar-perguruan yang kerap terjadi di lapangan,” ucap Nabil di Kediri, Selasa, 23 Mei 2017.

Mantan Sekretaris Umum PSNU Pagar Nusa ini berujar, konflik antar-pendekar yang terjadi selama ini sebenarnya lebih banyak dipicu persoalan pribadi. Mereka yang bertikai kemudian membawa nama perguruan silat masing-masing dan berkembang menjadi pertikaian antar-perguruan. Apalagi kemudian aksi ini diikuti anggota perguruan silat lain sebagai bentuk solidaritas dan membela kehormatan lembaga.

Nabil menuturkan konflik anggota Pagar Nusa dengan anggota perguruan silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) di Trenggalek, Tulungagung, Blitar, dan Nganjuk menjadi contoh masih banyaknya kesalahpahaman pendekar akan arti solidaritas. “Karena itu, kami akan mengajak para pemimpin perguruan membuat kesepakatan bersama tentang cara menindak anggota yang terlibat pertikaian. Salah satunya menyerahkan kepada polisi,” katanya.

Dia berharap road show silaturahmi ini akan membangun kesamaan sikap para pemimpin perguruan silat dalam membina anggotanya. Selain itu, pengembangan prestasi pesilat Indonesia lebih cepat terwujud jika dilakukan bersama-sama.

Selain melakukan silaturahmi, Nabil akan melakukan pembenahan organisasi Pagar Nusa. Salah satu yang paling krusial adalah pendataan anggota, yang hingga kini belum terverifikasi dengan baik. Padahal diperkirakan jumlah pendekar Pagar Nusa yang tersebar di seluruh pelosok mencapai jutaan.

Untuk peningkatan keterampilan anggota, alumnus santri Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, ini juga telah membuat kesepakatan dengan perguruan bela diri luar negeri untuk melakukan pertukaran pelatih. Komitmen ini, antara lain, dilakukan dengan perguruan silat Cina, Mesir, dan Aljazair. “Kami mengundang pelatih shaolin untuk mengajar di Indonesia. Demikian pula sebaliknya,” ujarnya.

Selain mendatangi para pemimpin perguruan silat, Nabil mengaku telah berkunjung ke para kiai sepuh NU untuk mendengar masukannya. Pondok Pesantren Lirboyo menjadi tujuan pertama. Pendiri Pagar Nusa, Kiai Maksum Jauhari, mengajar silat dan disemayamkan di pondok pesantren tersebut.

Banser Hadang Dan Bubarkan Konvoi HTI

Wengker.com, Warta Nahdliyin - Anggota Barisan Ansor Serba Guna (Banser) Nahdlatul Ulama menghadang ratusan aktivis Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang tengah melakukan pawai. Mereka menurunkan paksa bendera Khilafah yang dibawa anggota HTI hingga nyaris terjadi keributan.

Penghadangan ini dilakukan anggota Banser Tulungagung dan Trenggalek di perbatasan kedua wilayah pagi tadi. Mereka menghentikan iring-iringan anggota HTI yang sedang melakukan taaruf atau pawai menuju Surabaya. "Kami hentikan dan rampas bendera yang mengarah pada spirit khilafah," kata Yoyok Mubarok, Ketua Satuan Koordinator Cabang Banser Tulungagung yang memimpin aksi, Sabtu 1 April 2017.

Masih menurut Yoyok, terdapat sedikitnya 100 anggota HTI yang mengendarai motor dan satu mobil bak terbuka yang melaju beriringan dari Trenggalek menuju Tulungagung. Rencananya mereka akan mengikuti Kirab HTI bertema "Khilafah Kewajiban Syariat" di Surabaya besok Minggu, 2 April 2017. Tak hanya dari Trenggalek, anggota HTI ini juga menggalang kader mereka di Tulungagung dan tiap-tiap kota yang dilalui menuju Surabaya.

Selain menghentikan dan merampas bendera HTI, anggota Banser juga membubarkan konvoi mereka dengan paksa. Anggota HTI diminta pulang ke rumah masing-masing dan tak melanjutkan perjalanan demi keselamatan mereka sendiri. "Kami minta pulang untuk anggota HTI dari Tulungagung, yang rumahnya Trenggalek kami minta balik," kata Yoyok yang menghadang mereka di perbatasan Trenggalek - Tulungagung.

Dia mengaku sudah mendengar kabar akan dilakukannya konvoi tersebut sejak beberapa waktu lalu. Karena itu sebanyak 200 anggota Banser disiagakan di ruas jalan antar kota, pusat keramaian, dan alun-alun kota. Mereka diperintahkan membubarkan setiap kegiatan HTI yang mengarah pada pendirian negara Islam dan mengancam NKRI.

Kegiatan tersebut juga sudah dikoordinasikan dengan Kepolisian dan TNI setempat agar tak terjadi kerusuhan. Bahkan dalam penghadangan tersebut anggota polisi dan TNI turut mengamankan mereka. "Semua kita koordinasikan dengan aparat," kata Yoyok.

Sementara Ketua Satkorcab Banser Trenggalek Fatkhur Rohman telah meminta Pemerintah Kabupaten Trenggalek dan aparat untuk menghentikan seluruh kegiatan HTI di Trenggalek yang bersifat makar. Surat itu bahkan sudah disampaikan sebelum diadakannya konvoi hari ini agar tak terjadi keributan. Namun faktanya aktivis HTI tetap ngotot melakukan konvoi.

Tidak ada pernyataan dari pihak HTI atas penghadangan itu. Mereka langsung membubarkan diri setelah sempat bersitegang dengan Banser.

Krarifikasi Atas Kejadian GP Ansor Menolak Penceramah Chalid Basalamah

Wengker.com, Warta Nahdluyin - Setelah kejadian kemarin (Penolakan Ansor terhadap Penceramah Chalid Basalamah) muncul banyak isu dan berita baik di Media online dan sosial Media. Diantaranya Ansor membubarkan majlis ilmu, Ansor merusak masjid, gereja dijaga namun kegiatan ilmu sesama muslim dibubarkan dan banyak berita miring yang muncul.
Sengaja atau tidak, namun inilah gaya mereka Dalam berdakwah menyebarkan berita yang tidak seebenarnya, mendramatisir bahkan kluar dari konteks kejadian dengan tujuan menjelekkan kelompok lain dan mengambil simpati.
Maka dari itu perlu ada klarifikasi dan kronologi kejadian.

1. Yang kita tolak bukanlah majlis ilmunya sebagai bukti ketika basalamah turun diganti ustadz lain kita tdk mempermasalahkan.

2. Saat forum mediasi oleh kapolresta antara MWC NU, Ansor, Panitia dan pengurus Masjid. Kapolresta meminta bukti rekaman / contoh ceramah Cholid Basalamah yang dianggap memprovaksi dan rentan menimbulkan konflik? Ansor sdah menyiapkan 3-video bagaimana Cholid Basalamah menelanjangi ajaran lain, menyalahkan aliran lain tanpa memahami duduk permasalah, mensyirikkan tampa perbandingan dalil, inilah yang kemudian kami anggap menjadi pokok persoalan.
Bukan perbedaan madzhabnya tapi bagaimana menghargai perbedaan. Ansor dan NU sdh terbiasa berbeda faham dengan muhammadiyah dan aliran lain yang seiman bahkan dengan agama lain namun tdk ada profokasi dan tetap hidup dngan rukun dan damai.

3. Ketika terjadi negoiasi dengan Kapolresta, panitia menyatakan bahwa yang ceramah bukan chalid basalamah melainkan cd rekaman. Inilah gaya mereka berbohong.
dan ketika kita mengetahui bahwa yang berceramah adalah asli Cholid Basalamah maka Ansor merasa dibohongi. Namun kita tetap sabar. Dan tetap pada koridor negoisasi dan percaya pada pihak kepolisian.

4. Namun Apa yang terjadi? berita yang beredar dimedia kita melakukan pembubaran dan bentrok bahkan merusak masjid.
Masyallah tidak ada satupun aset rumah Allah yang dirusak dan dikotori oleh Ansor Banser NU.

Justru.
5. Disaat situasi sdah tenang dan selesai karena ada kesepakatan MOU bahwa panitia akan menghentikan ceramah Cholid Basalamah serta tdk akan menaikkan mimbar lagi bahkan pengurus masjid tdk akan mengundangnya dikemudian hari. Situasi sdh tenang Ansor Banser mau pulang tiba tiba ada laporan bahwa: Ketua PAC Ansor tulangan dipukul jamaah pegajian. Dan pemukulnya sdh diamankan polisi. Ketua PAC atas nama Zaini tdk melawan bahkan di Mapolsek Gedangan Shbt. Zaini memaafkannya kerena islam yang diajarkan para pendiri NU adalah islam yang ramah. Atasnama ukhuwah islamiyah pelaku yang mengaku warga kamal dimaafkan.

6. Selain melakukan penolakan terhadap peneramah Cholid Basalamah, PC GP Ansor juga meminta untuk melakukan Tabayyun, berdialog dan berbagi ilmu dengan Cholid Basalamah tujuannya kita menjaga tradisi keilmuan sekaligus ingin menghilangkan kesalahfahaman namun permintaan ditengah negoisasi itu tidak kesampaian kerena kita konsentrasi atas hasil kesepakan (MOU) untuk mendinginkan suasana dan mudah-mudahan kedepan Cita-Cita mempertemukan antara Cholid Basalamah dengan Kyai NU akan terselenggara. (tim Media GP Ansor Sidoarjo).

Aswaja Fm Indonesia On Play Store

Wengker.com, Warta Nahdliyin - Sebuah terobosan baru dilakukan oleh Crew Radio Aswaja Fm Ponorogo (milik PCNU PONOROGO) dengan memberikan kemudahan kepada para pendengarnya sehingga bisa didengarkan dimanapun berada selama ada koneksi internet. Alhamdulillah kini telah hadir aplikasi Aswaja Fm Indonesia di Play Store yang dapat d download secara gratis, dan aplikasi ini bersih dari iklan iklan yang biasanya muncul di layar android, sehingga tidak mengganggu kenyamanan para penggunanya, didukung lagi dg ringannya aplikasi ini karena hanya sekitar 2 Mb sehingga tidk menguras memory android anda. Semoga dengan hadirnya aplikasi ini bisa lebih bermanfaat serta bisa menjadi media dakwah Aswaja NU untuk ummat dimanapun berada.
Aplikasi Aswaja Fm Indonesia ini bisa di download langsung di https://play.google.com/store/apps/details?id=com.aswajafmindonesia.radio

Para Ulama Ingin Kedaulatan Bangsa Kembali Ditegakkan

Wengker.com, Mojokerto - Pertemuan para ulama, habaib, profesional dan tokoh-tokoh hari ini sangat luar biasa. Dari sisi yang hadir, ada ulama-ulama sepuh seperti KH. Maruf Amin, KH. Sholahuddin Wahid, KH. Soleh Al-Qasim, KH. Maksum (Bondowoso), KH. Nasiruddin (Tuban), Gus Munip (Langitan), Gus Zaim (Lasem), Gus Akomadhien (Brebes), Dr. KH. Fauzi Tidjani (Madura), dan puluhan ulama lainnya. Ada pula para habaib: Habib Husen Al-Idrus, Habib Soleh, Habib Muhsin Al-Jufri, dan lain-lain.

Beberapa akademisi, rektor dan tokoh: Prof. Dr. Muhammad Nuh (Mantan Mendiknas), Prof. Dr. M. Bisri (Rektor Univ. Brawijaya), Prof. Dr. Imam Suprayogo (mantan Rektor UIN Malang), Prof. Dr. Ahmad Zahro, Dr. H. Marzuki Ali, Ir. H. Heppy Trenggono, dan lain-lainnya. Sekitar 200an ulama, habaib dan akademisi berkumpul dari segala penjuru tanah air.

Diskusinya sangat produktif, dinamis dan semua kalimat yg keluar dari para ulama-ulama benar-benar visioner, nasionalis dan kental sekali komitmen keumatan & kebangsaannya.

Saya merasakan suasana kebatinan yg luar biasa dahsyat, ada energi yg sedang bergerak melalui para ulama pengasuh pesantren ini.

Saya melihat jg suatu sinergi yg mulai dibangun dan dirancang yg menembus batas sekat golonganisme umat: tidak ada sekat ormas, sekat salaf modern, dll. Semuanya berbicara ke depan utk umat dan bangsa: untuk Indonesia.

Beberapa rumusan dan 'teriakan' telah didengungkan menyikapi kondisi terkini keumatan dan kebangsaan: politik, sosial, budaya, ekonomi bahkan hingga keamanan dan pertahanan bangsa.

Prof. Dr. Bisri, Rektor Univ. Brawijaya Malang mengatakan perlunya sinergi akademisi perguruan tinggi dan santri. Banyak hasil riset perguruan tinggi yang bisa dimanfaatkan oleh pesantren. Beliau juga menegaskan bahwa akses pesantren kpd perguruan tinggi harus dibuka, karena menurut pengakuannya SDM pesantren rata-rata lebih unggul. Selama ini mereka tidak banyak diberi kesempatan. Ini tidak adil.

Sementara itu, Prof. Dr. M. Nuh menyoroti tentang pentingnya pemetaan peran dan strategi keumatan. Potensi besar jika pemetaannya tidak tepat dan tidak strategis maka selamanya umat Islam akan kalah. Ia juga menandaskan lagi perlunya sinergi perguruan tinggi dg pesantren hukumnya adalah wajib. Maka, ia mendorong para rektor untuk membuka akses seluas-luasnya kepada santri. Salah satu harapan bangsa ini ke depan adalah para santri.

Habib Muhsin Al-Hamid dalam sambutannya menginginkan agar forum-forum spt ini harus terus digalakkan. Menurutnya ini adalah jembatan hati umat, yang jika kiblatnya adalah Rasulullah akan ketemu dan bersatu. Tapi jika kiblatnya adalah semata akal pikiran pasti akan berbeda.

Habib juga menyoroti bahwa umat islam ini pny masalah, tapi tdk pernah selesai, krn ulamanya tdk pernah ketemu. Yang penting adalah ketemu hati, baru pikiran. Maka, hrs ada orang yg amanah utk menghimpun potensi dan mempersatukan umat ini. l

Potensi umat yang harus digarap adalah maritim, peternakan, agrobisnis. Bidang-bidang ini yang selama ini diabaikan umat, padahal kita punya kekuatan di situ dan strategis. Ini soal kedaulatan bangsa dan umat sekaligus.

Habib yang punya TV Nabawi ini menyoroti pula tentang lemahnya umat dalam media. Sehingga, umat selalu menjadi korban media dan semua yang terjadi pada umat dikapitalisasi oleh media mereka.

KH. Maruf Amin mengingatkan para ulama tentang dua tanggungjawab: yaitu tanggungjawab keumatan dan kebangsaan. Ia pun menegaskan bahwa jika dulu merenut kemerdekaan melalui gerakan politik, skrg ini umat gerakannya adalah politik dan ekonomi.

Umat melalui saluran yang ada harus mendesak pemerintah untuk membuat regulasi yang berpihak pada umat. Pemerintah hrs didesak dan dikawal terus dalam hal ini.

Gerakan yang dilakukan oleh ulama ada 4, yaitu: gerakan perlindungan, gerakan penguatan, gerakan penyatuan & gerakan pengabdian. Ulama jgn melepaskan diri pada gerakan kebangsaan.


Suasana negeri saat ini memprihatinkan. Maka, perlu mendesak Presiden untuk menyelenggarakan dialog nasional untuk menyelamatkan negeri. Jika Presiden tdk berkenan, maka MUI dan para ulama yang akan adakan. Akan ada deklarasi semua ormas Islam komitmen pada NKRI dan Pancasila.

Telah pula dibentuk *Dewan Tinggi Ekonomi Umat* terdiri dari para kiai pengasuh pesantren berkolaborasi dengan para pengusaha dan profesional. Suatu gerakan pemberdayaan ekonomi yang berbasis pesantren. KH. Mahfudz Syubari pengasuh PP Raudhatul Jannah bersama Prof. Dr. KH. Muhammad Nuh (mantan Mendiknas), Prof. Dr. Imam Suprayogo (Mantan Rektor UIN Malang), Habib Muhsin (Owner Nabawi TV), KH. Maksum (Bondowoso), Dr. H. Marzuki Ali, Heppy Trenggono, dan lain-lain didaulat utk mengawal gerakan ini.

Telah pula dibentuk formatur sementara Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia (YP3I), sebuah Yayasan yang nanti akan mendorong kemajuan pesantren dan memobilisasi potensi pesantren baik dari sisi pendidikan, SDM, ekonomi dan jejaring kerjasam-kerjasama.

KH. DR (HC) Sholahuddin Wahid didaulat menjadi Ketua Dewan Pembina bersama Prof. Dr. KH. Amal Fathullah Zarkasyi (Gontor), KH. Mahfudz Syubari (Mojokerto), Habib Soleh Al-Jufri, KH. Akbar, Dr. KH. Muzammil Basyuni dan Prof. Dr. KH. Ahmad Zahro.
Sedangkan Dr. H. Marzuki Ali dan Ir. Heppy Trenggono didaulat sebagai Ketua Umum dan Wakil Ketum. Adapun Sekretaris Umum dipercayakan kepada KH. Bahrul Hayat, Ph.D (Mantan Sekjen Kemenag) dan Drs. KH. Rusli Effendi, M.Si sebagai Wakil Sekum. Bendahara Umum diamanatkan kepada KH. Anang Rikza Masyhadi, MA dari PM Tazakka Batang.

Disepakati pula tentang perlunya penguatan karakter dan mental umat melalui pendidikan keagamaan yang berkesinambungan baik melalui jalur formal pendidikan dan pesantren maupun melalui informal. Ulama harus menjadi kendali moral dan karakter kebangsaan. Ulama harus ambil peran strategis. Ulama harus dijaga muruah dan wibawanya.
Banyak hal didiskusikan, yang tidak mungkin disebut satu per satu di sini. Namun, pertemuan selama kurang lebih 6 jam baik pada sesi umum maupun sesi khusus terbatas, saya menyaksikannya sebagai suatu komitmen yang luar biasa.
Ya, intinya para ulama menyerukan kepada semua elemen bangsa khususnya Pemerintah untuk mengembalikan lagi kedaulatan bangsa.
Ya Rabb, berilah kami kekuatan untuk mengemban amanah ini; mengawal dan membimbing umat dan bangsa yang besar ini.
Pacet, Mojokerto
23 R. Tsani 1438
21 Januari 2017
*Anang Rikza Masyhadi*
_Pondok Modern Tazakka Batang Jawa Tengah_

Penjarakan Siapapun Yang Mengaku Bisa Gandakan Uang - Dimas Cokro Pamungkas

Wengker.com, Warta Nahdliyin - Disaat sedang panas-panasnya menghadapi Pilkada serentak. Masyarakat Indonesia juga disuguhi berita Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang kabarnya mampu menggandakan uang. Ironis, banyak oknum pihak berwajib yang malah menjadi pelindung hal-hal klenik dan mustahil tersebut.

Hebatnya lagi ada mantan anggota DPR RI yang mati-matian membela Kanjeng Dimas Taat Pribadi. Padahal yang bersangkutan mendapatkan gelar S2 dan S3 dari Amerika, negeri yang terkenal dengan kemajuan pola pikirnya. Tidak itu saja, ada juga oknum perwira polisi bintang tiga yang turut menyaksikan penggandaan uang yang beredar di Youtube.

"Kenapa bisa seperti ini? Ini menandakan kesenjangan semakin melebar di negeri ini," kata Dimas Cokro Pamungkas, salah satu Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) kepada Media, Selasa (4/10/2016).

Dimas yang merupakan tokoh muda NU ini mengungkapkan, kesenjangan yang semakin melebar di masyarakat itu meliputi ekonomi, dan pengetahuan baik umum maupun agama. Karena miskin harta maka membuat orang membabi buta dalam mencari hidup, apalagi yang terjerat hutang sehingga membutuhkan solusi instan untuk menyelesaikannya.

Sementara kesenjangan pengetahuan maka akan membuat orang tidak mengetahui apakah sedang ditolong apa ditipu. Karena orang tersebut tidak sadar apakah sedang dibantu apa dibodohi. Sedangkan kesenjangan pengetahuan agama akan membuat orang sembarangan saja dalam memilih guru, tanpa mengetahui orang yang dianggap guru itu benar apa tidak,

"Orang seperti ini maka tidak punya pengetahuan dasar kuat tentang mana yang halal dan mana yang haram," tegas Ketua Pencak Silat NU Pagar Nusa Sapujagad ini.

Dimas menuturkan, pihak yang bertanggungjawab agar tidak semakin banyak orang yang terjebak dalam hal klenik dan mustahil adalah pemerintah, tokoh agama dan siapapun yang peduli dengan kondisi negeri ini. Solusinya sangat sederhana, bila ada orang yang mengaku mampu menggandakan uang, punya bank ghaib, uang balik, jual tuyul, jual jin, dan semacamnya langsung amankan dan suruh buktikan.

"Kalau tidak mampu langsung penjarakan, karena saya yakin seyakin-yakinnya orang yang berbicara bab itu adalah penipu," tegasnya.

Dimas menegaskan, jika penipu tersebut dibiarkan maka yang menjadi korban adalah rakyat biasa yang akidahnya bisa melenceng. Korbannya akan tetap bodoh dan berfikir klenik terus. Padahal negara lain telah berencana ke bulan sementara Indonesia masih berkutat memikirkan penggandaan uang, bank ghaib, tuyul, jin, dan lainnya.

"Sungguh ironis dan memalukan. Ironisnya umat Islam yang dirugikan, karena umumnya para penipu tersebut berkedok ustadz atau tokoh islam dengan segala atribut keislamannya," paparnya.
Harian Terbit

KH. As'ad Syamsul Arifin Adalah Pahlawan Kita

Wengker.com, Warta Nahdliyin - Bangsa Indonesia kembali mendapat hadiah dari Presiden Jokowi. Gelar pahlawan nasional resmi disandang oleh KHR As’ad Syamsul Arifin lewat Kepres Nomor 90 yang disahkan 3 November 2016.
Sosok Kyai As’ad sudah tidak asing lagi bagi bangsa Indonesia. Perjuangannya dalam melawan penjajah dilakukannya dengan penuh tulus ikhlas dan total. Tidak segan, Kyai As’ad mengeluarkan biaya besar dalam mengkonsolidasi pasukan Hizbullah-Sabilillah bersama TNI menumpas penjajah.
Siapakah sosok fenomenal KHR As’ad Syamsul Arifin itu? Ia bernama As’ad putra pertama dari KH Syamsul Arifin (Raden Ibrahim) yang menikah dengan Siti Maimunah. Kyai As’ad lahir pada tahun 1897 di perkampungan Syi’ib Ali Makkah dekat dengan Masjidil Haram.
Garis kerurunannya berasal dari Sunan Ampel Raden Rahmat, yakni: Kyai As’ad bin Kyai Syamsul Arifin bin Kyai Ruhan (Kyai Abdurrahman) bin Bujuk Bagandan (Sidobulangan) bin Bujuk Cendana (Pakong Pamekasan) bin Raden Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang) bin Raden Rahmat (Sunan Ampel).
Perjuangannya dalam menegakkan agama Islam ahlussunnah wal jama’ah sungguh luar biasa. Termasuk Kyai As’ad dikenal sebagai figur yang gagah berani mengatakan kebenaran. Tidak salah jika kemampuan agamanya dipadukan dengan beladiri yang membuatnya dikenal sakti mandra guna.
Kyai As’ad menempuh pendidikan di Makkah sejak usia 16 tahun dan kembali ngaji di Jawa. Guru-gurunya di Makkah antara lain: Sayyid Abbas Al Maliki, Syaikh Hasan Al Yamani, Syaikh Bakir Al Jugjawi dan lain-lain.
Sepulangnya ke tanah Jawa, ia belajar di berbagai pesantren: Ponpes Sidogiri (KH Nawawi), Ponpes Siwalan Panji Sidoarjo (KH Khazin), Ponpes Kademangan Bangkalan (KH Kholil) dan Ponpes Tebuireng (KH Hasyim Asy’ari).
Wajar bila keilmuan agama Kyai As’ad sangat luar biasa. Dengan bekal ilmu itu, ia meneruskan perjuangan ayahandanya membesarkan Ponpes Salafiyyah Syafi’iyyah. Sejak 1938, Kyai As’ad mulai fokus di dunia pendidikan. Lembaga pendidikan itupun dikembangkan dengan SD, SMP, SMA, Madrasah Qur’an dan Ma’had Aly dengan nama Al Ibrahimy (sesuai nama asal ayahandanya).
Peran Kyai As’ad dalam pendirian organisasi Nahdlatul Ulama (NU) sangat nampak sekali. Dimana ia merupakan santri kesayangan KH Kholil Bangkalan yang diutus menemui KH Hasyim Asy’ari memberi “tanda restu” pendirian NU.
Dua kali Kyai As’ad diminta sowan Mbah Hasyim. Yang pertama dijalani dengan jalan kaki dari Bangkalan Madura menuju Tebuireng. Adapun yang kedua dilakukan dengan naik mobil angkutan.
Dua “restu” KH Kholil pada Mbah Hasyim itu berupa tongkat dengan bacaan Surat Thaha ayat 17-23 dan tasbih dengan bacaan dzikir: Ya Jabbar Ya Qahhar. Ketika pertama menerima tongkat itu, Mbah Hasyim menangis. “Saya berhasil mau membentuk jam’iyyah ulama” tegas Mbah Hasyim di hadapan Kyai As’ad.
Atas jasa Kyai As’ad sebagai penyampai isyarat langit dari Syaikhana Kholil inilah, NU berdiri. Maka ada sebutan empat serangkai ilham berdirinya NU itu terdiri dari: KH Kholil, KH Hasyim Asy’ari dan KH As’ad Syamsul Arifin,KH Wahab Hasbullah.
NU bagi Kyai As’ad bukan organisasi biasa, tapi organisasi para waliyullah. Maka harus dijaga dengan baik. Sebab dengan NU itu Indonesia akan dikawal waliyullah, ulama dan seluruh bangsa Indonesia.
“Saya ikut NU tidak sama dengan yang lain. Sebab saya menerima NU dari guru saya, lewat sejarah. Tidak lewat talqin atau ucapan. Kamu santri saya, jadi kamu harus ikut saya! Saya ini NU jadi kamu pun harus NU juga” tegas Kyai As’ad.
Perjuangan Kyai As’ad dalam mengusir penjajah sangat nyata. Bahkan Pondok Pesantrennya pernah diserbu pasukan penjajah. Berkat kegigihannya, 10.000 orang yang ada disana sudah bisa terevakuasi dengan baik. Kemahiran Kyai As’ad dalam beladiri dan seni perang menjadikan pasukannya memenangkan pertempuran di Bantal Asembagus m

Ketegasan Kyai As’ad dalam menjadikan Pancasila sebagai asas organisasi NU sudah tidak diragukan lagi. Saat Pemerintah mewajibkan penggunaan Pancasila tahun 1982/1983, NU merespon cepat dengan menggelar Munas Alim Ulama di Ponpes milik Kyai As’ad.
Tanggal 21 Desember 1983, Munas memutuskan menerima Pancasila dan revitalisasi Khittah 1926. Pada bulan Desember 1984 dalam Muktamar NU XXVII diputuskan asas Pancasila dan Khittah NU. Dan NU menjadi Ormas pertama yang menerima Pancasila.
Gagasan besar KH Achmad Shiddiq dalam menerima Pancasila ini diiyakan oleh KH As’ad bersama KH Mahrus Ali, KH Masykur dan KH Ali Ma’shum. Akibat dari menerima Pancasila itu, KH As’ad sering mendapatkan teror, surat kaleng dan ancaman mau dibunuh.
Itu semua ia lewati dengan penuh kebijaksanaan. Sehingga secara pelan-pelan Kyai NU dan para nahdliyyin bisa menerima dan memahami di balik makna NU berpancasila, semata-mata untuk keutuhan NKRI.
Di usianya ke 93, Allah Swt memanggil Kyai As’ad. KH As’ad Syamsul Arifin berpulang keharibaanNya pada 4 Agustus 1990 dan dimakamkan di komplek Ponpes Salafiyyah Syafiiyyah.
Lahul faatihah......

Dibalik Aksi 4 Nopember 2016

Wengker.com, Warta Nahdliyin - Ketua GP Ansor H Yaqut Choulil Qoumas, menengerai aksi demonstrasi 4 November berpotensi ditunggangi kelompok radikal. Kelompok radikal tersebut jumlahnya tidak sebanyak kelompok moderat dan toleran, namun berpeluang besar menghancurkan kedamaian di Indonesia.
“Kelompok yang selama ini ada adalah yang berperilaku moderat dan toleran. Tapi yang turun di tanggal 4 ini, di luar ruang pergaulan kami,” kata Gus Atut seperti dikutip dari video berjudul ‘Ansor Ungkap Rencana di Balik Aksi 4 November’ yang diunggah akun youtube 164 Channel.
Gus Yaqut menambahkan pihaknya mendapat informasi dari banyak pihak terkait aksi 4 November, ada gelombang besar dari kelompok radikal yang dikirim ke Jakarta.
“Ada alumni konflik Poso sebanyak 70 orang yang diberangkatkan. Menyusul dari Solo Raya (Sukoharjo, Klaten, Solo) yang selama ini dikenal sebagai basis kelompok radikal,” kata Gus Yaqut dalam video yang diunggah pertama kali tanggal 2 November.
Menurutnya dari kelompok-kelompok itu yang paling dikhawatirkan adalah adanya kelompok radikal yang bergerak tidak terorganisir. Mereka bergerak sendiri dan atas kesadaran serta kemauan sendiri.
“Kalau garis keras yang selama ini lembaganya kita kenal seperti Jamaah Ansorut Tauhid dan Ansori Syariah, kita tidak terlalu khawatir karena saya yakin aparat negara atau intelejen sudah mendapatkan informasi gerakan mereka,” ujarnya.
Ia menyebut aksi penyerangan pos polisi di Tangerang beberapa waktu lalu dilakukan oleh sel tidak terduga. Kelompok atau sel-sel semacam itulah yang kemungkinan besar ikut dalam aksi 4 November ini.
Oleh karena itu, GP Ansor menekankan tidak akan terlibat di dalam aksi 4 November. Kader Ansor dan Banser dilarang baik ikut dalam demo 4 November maupun sekadar menjaga aksi demo, kecuali negara memanggil melalui aparat keamanan untuk menjaga keamanan di ibukota.
Berkaitan dengan isyu yang tersebar di media sosial yang menyerang ulama NU, Gus Yaqut mengatakan salah satu tugas Ansor adalah menjaga ulama.
“Selalu saya katakan berulang kali, siapa pun yang mengganggu ulama, akan kita lawan. Jangankan menganggu, mencolek saja akan berhadapaan dengan Ansor dan Banser,” tegasnya.
Tonton video lengkapnya di https://www.youtube.com/watch?v=TGj52UZWTH0
NU Online

Pernyataan Sikap PP PSNU Pagar Nusa Terhadap Ahok

Wengker.com, Warga Nahdliyin, Pencak Silat Nahdlatul Ulama - Pertama-tama perlu dinyatakan dan ditegaskan kembali bahwa kita sebagai warga Indonesia sudah membangun tatanan bernegara dan berbangsa dengan sabar dalam waktu yang sangat lama. Sebagai salah satu hasilnya, kita bisa menyaksikan bahwa Indonesia kini menjadi satu-satunya harapan dunia sebagai teladan pergaulan kemanusiaan yang beradab. Harapan ini menjadi masuk akal dengan melihat kekacauan global yang terjadi di belahan bumi lain, terutama krisis kemanusiaan berkepanjangan yang terjadi di Timur Tengah.

Akan tetapi, tetap tidak ada jaminan bahwa capaian bangsa Indonesia ini akan terus lestari. PP PSNU Pagar Nusa menengarai adanya upaya-upaya yang secara sadar atau tidak sadar, sengaja atau tidak sengaja, hendak menggiring bangsa ini menuju krisis kemanusiaan sebagaimana yang terjadi di Timur Tengah. Setiap peristiwa yang melibatkan partisipasi massif dari warga, seperti Pilkada dan Pilpres, selalu mengandung patahan dan retakan yang rawan untuk disulut menjadi konflik horisontal.

PP PSNU Pagar Nusa menyimak dan memerhatikan dengan seksama perkembangan yang berlangsung di seputar Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta. Salah satu hal yang mengemuka dan sangat menyita perhatian publik dalam proses tersebut adalah kemunculan isu penistaan agama. Dalam hal ini, sebagai salah satu calon Kepala Daerah, yakni Basuki Tjahaja Purnama, melontarkan kalimat dengan mengutip surat Al Maidah yang dinilai oleh sebagian pihak sebagai penistaan agama. Dengan sendirinya hal tersebut menimbulkan kegaduhan politik yang berkepanjangan.
Perkembangan terbaru dari kejadian tersebut adalah ajakan sekelompok masyarakat yang menamakan diri Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI. Gerakan tersebut mengajak umat Islam di Indonesia, tidak hanya yang ada di Jakarta, untuk ikut serta dalam aksi turun ke jalan pada Jumat, 4 November 2016.
Memperhatikan perkembangan yang terjadi di Jakarta dan daerah lain serta *menindaklanjuti amanah dan perintah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)*, PP PSNU Pagar Nusa berkewajiban untuk menyampaikan hal-hal berikut secara terbuka:

1. Basuki Tjahaja Purnama telah memohon maaf dan PP PSNU Pagar Nusa dapat menerima permintaan maaf tersebut. PP PSNU Pagar Nusa meminta kepada Basuki Tjahaja Purnama agar berhenti dari kebiasaan ceroboh dalam mengeluarkan pernyataan di hadapan publik.
2. PP PSNU Pagar Nusa meminta kepada pihak yang berwenang untuk memproses tuntutan hukum atas Basuki Tjahaja Purnama dengan seadil-adilnya.
3. PP PSNU Pagar Nusa memerintahkan pada seluruh warga Pagar Nusa, tanpa kecuali, untuk tidak ikut serta dalam ajakan aksi 4 November 2016. PP PSNU Pagar Nusa juga melarang disertakannya atribut, lambang, dan simbol yang berkaitan dengan Nahdlatul Ulama dalam aksi tersebut.
4. PP PSNU Pagar Nusa menghimbau kepada segenap masyarakat untuk mengedepankan akal sehat dalam menyikapi dan mengikuti selurus proses Pilkada DKI 2017.
5. PP PSNU Pagar Nusa mengutuk keras pihak-pihak yang dengan sengaja membawa aksi ini untuk tujuan-tujuan anarkis. PP PSNU Pagar Nusa meminta pihak-pihak tersebut untuk berhenti melakukan agitasi gaya Timur-Tengah yang bisa menimbulkan kekerasan dan perang antar saudara. Kekerasan tersebut bagaimanapun tidak bisa dibenarkan oleh dalil apapun dalam Islam.
6. Terakhir, PP PSNU Pagar Nusa menyerukan kepada segenap masyarakat Jakarta, pada khususnya, dan warga Indonesia, pada umumnya, untuk belajar berdemokrasi secara sehat dengan selalu berpegang teguh pada Pancasila dan UUD 1945.
Demikianlah, pernyataan ini disampaikan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala meridlai setiap upaya kita dalam mencintai dan membangun Indonesia

‎والله يوفقنا ما فيه خير الاسلام والمسلمين و خير الاندونيسيا و الاندونيسيين

Pusat Pencak Silat Nahdlatul Ulama PAGAR NUSA

Ketua : M. Heru Taufiq
Sekretaris Umum : M. Nabil Haroen

Kiai Adlan Ali, Ulama Yang Tidak Pernah Melihat Langit

Wengker.com, Warta Nahdliyin - Sosok kiai sepuh yang sabar dan istiqamah ini sangat terkenang betul di benak para santri. Ketika mereka ditanya tentang “Bagaimana sosok Kiai Adlan menurut Panjenengan?” maka berbagai komentar yang hampir tak serupa senantiasa kami dengar. Ada yang menuturkan, "Beliau itu kiai yang tidak hanya hafal isi al-Quran tetapi juga menjalankannya”, “Kiai Adlan adalah kuncinya Kiai Hamid Pasuruan. Jadi kalau ingin mudah bertemu dengan Kiai Hamid harus sowan dulu ke Kiai Adlan.”
Bahkan Prof. Dr. KH. Thalhah Hasan menambahkan; “Di Tebuireng itu ada dua penghuni surga: Kiai Idris Kamali dan Kiai Adlan Ali. Beliau berdua sama-sama alim, wara', zuhud…"
Ada lagi kesan para santri yang membuat kami terkesan unik, “Kiai Adlan Ali itu kiai yang tidak pernah melihat langit.” Istilah ini menunjukkan saking tawadhu’nya Kiai Adlan. Ketika berjalan tidak pernah mengangkat kepala ke atas. Beliau senantiasa menunduk sopan.
Di Tebuireng, setiap bulan Ramadhan, Kiai Adlan membacakan kitab matan at-Taqrib. Tepat di posisi yang dulu digunakan Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari mengajar, Kiai Adlam duduk di sana, sedangkan para santri mengitarinya sebagai halaqah ilmiah. Dalam pengajian ini ada karomah Kiai Adlan yang tampak di setiap tahunnya. Ketika pembahasan tepat pada bab Istisqa’ (ritual memohon hujan), anehnya langit Tebuireng menjadi gelap. Dan tiba-tiba saja, bulan Ramadhan yang biasanya kemarau turun hujan deras mengguyur lahan pondok.
Langit pun malu oleh Kiai Adlan. Ia tidak pernah dipandang oleh Kiai Adlan. Ketika ia disindir lewat pembacaan bab istisqa’ maka, ia langung menangis menurunkan air mata hujannya. ( Sumber: Atunk/Fathurrahman Karyadi via fp SarungNu.com ).

Pernyataan Resmi Pagar Nusa Terkait Konflik MTA Di Boyolali

Wengker.com, Warta Nahdliyin - Boyolali, Ada simpang siur berita mengenai konflik antara warga dengan MTA di Dusun Bentangan, Desa Doplang, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali. Bagaimana sebenarnya konflik tersebut terjadi sehingga ada ratusan orang yang seolah siap angkat senjata disana? Berikut klarifikasi Iman Widodo, Koordinator Solidaritas Pagar Nusa Solo Raya sebagaimana disebarkan oleh fanspage Facebookresmi Pagar Nusa Klaten.

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Perlu kami beritahukan kepada saudara-saudara Pagar Nusa dan umat Islam bahwa:
1. Tidak ada rencana pengerahan pasukan sejumlah 15.000 orang dari Pagar Nusa Klaten untuk menghancurkan gedung MTA di Dusun Bentangan, Desa Doplang, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali dan melakukan penyerangan terhadap anggota MTA di desa tersebut, sebagaimana isu yang berkembang dikalangan tokoh Masyarakat, Ulama dan khalayak umum.

2. Tidak ada Konsolidasi ribuan anggota Pagar Nusa dari berbagai cabang se-Solo Raya di Pondok Pesantren Al-Manshur Popongan untuk melakukan tujuan sebagaimana tersebut pada poin satu.

3. Konflik yang terjadi di Dusun Bentangan, Desa Doplang, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali, sejak setahun terakhir dan memuncak pada hari sabtu, (23/07) murni dikarenakan masyarakat menolak kegiatan yang dilakukan oleh Majelis Tafsir Al-Qur’an (MTA) dan MTA tidak mengindahkan penolakan masyarakat tersebut. Jadi, ini sama sekali bukan konfliknya Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) dengan Organisasi MTA.

4. Adapun kronologi kasus yang kami dapatkan di lapangan bermula dari anggota MTA yang akan membangun gedung MTA dan menyelenggarakan kegiatan MTA di dusun tersebut namun ditolak masyarakat berdasarkan rapat warga.

5. Namun anggota MTA, yang jumlah anggotanya didusun tersebut hanya terdiri dari 2 kepala keluarga, mengajukan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) ke Pemerintah dan disetujui Pemerintah dengan ijin mendirikan Gedung Serba Guna (Bukan gedung MTA dan untuk kegiatan MTA).

6. Sejak itu, Konflik antara masyarakat dan anggota MTA sering terjadi. Beberapa mediasi telah dilakukan pihak pemerintah Kabupaten Boyolali. Namun warga tetap menolak dan MTA tetap ngotot mengadakan kegiatan.

7. Konflik semakin memanas pada hari sabtu (16/07) dimana MTA mengadakan acara halal bi halal di dusun tersebut dengan mendatangkan massa dalam jumlah yang besar dari luar daerah. Bentrok tidak dapat dihindarkan antara masyarakat dan anggota MTA, yang menyebabkan korban luka dipihak Masyarakat.

8. Intimidasi dan ancaman berkembang di Masyarakat bahwa pada sabtu berikutnya (23/07) MTA akan mendatangkan Satgas Keamanannya sejumlah 1000 orang ke dusun tersebut.

9. Merasa terancam, pada hari kamis, (20/07) masyarakat meminta bantuan kepada Pagar Nusa Kartasura untuk mengantisipasi keadaan.

10. Pada hari sabtu (23/07) pasukan gabungan Pagar Nusa Kartasura dan Pagar Nusa Klaten merapat dan membentuk formasi di rumah-rumah warga dusun Bentangan. Sejak pukul 09.00 WIB, massa tak dikenal terlihat memenuhi 1 Masjid, 2 Mushola, jalan utama dusun, depan gedung yang digunakan pengajian MTA, dan belakang gedung.

11. Sekitar pukul 12.30 WIB pihak kepolisian dengan diikuti warga melakukan Sweeping terhadap massa yang tidak dikenal tersebut dan didapati berbagai macam senjata tajam, seperti : Pedang, clurit, anak panah, gear, gesper, ketapel, dll.

12. Sekitar pukul 13.00 WIB, massa tak dikenal yang sebelumnya menguasai Masjid dan 2 Musholla bersama massa yang terus mengalir datang, merangsek ke depan gedung yang digunakan pengajian MTA dengan diusung menggunakan truck.

13. Polisi menghalangi akses masuk warga dusun Bentangan yang terdiri dari sebagian besar ibu-ibu, disebelah barat gedung yang digunakan pengajian MTA. Supaya tidak terjadi bentrok fisik.

14. Warga dusun Bentangan yang terdiri dari sebagian besar ibu-ibu tersebut melakukan orasi penolakan atas massa tak dikenal yang menginjak-injak kampung mereka. Aksi ibu-ibu ini ditanggapi dengan ejekan penghinaan dari massa yang berada didepan gedung MTA, seperti: menjulurkan lidah, melambaikan tangan seperti orang menantang, mengacungkan 2 jempol kebawah, dll.

15. Massa tak dikenal semakin banyak memasuki gedung dari arah timur dengan diusung menggunakan truck dan mobil. Merasa ibu-ibu yang melakukan orasi terancam oleh kedatangan ribuan massa tak dikenal, warga yang masih terkonsentrasi di depan-depan rumah, berkomunikasi dengan pasukan Pagar Nusa dan simpatisan warga yang lain untuk segera merapat mengamankan ibu-ibu yang berorasi.

16. Bentrokan tidak sempat terjadi karena ibu-ibu dalam pendampingan Pagar Nusa dan simpatisan warga yang lain, serta Blockade dari Polisi yang membatasi pihak warga dan massa tak dikenal.

17. Pagar Nusa menyebar pasukan ke timur gedung untuk menyisir keadaan, mengantisipasi segala kemungkinan, karena jumlah massa tak dikenal semakin banyak berdatangan dari arah timur. Dan pada penyisiran ini dijumpai segerombolan kelompok preman yang cukup terkenal di Jakarta ikut merangsek masuk bersama massa tak dikenal lainnya. Diketahui juga, Ambulans berlogo MTA jg disiapkan di jalan dekat gedung.

18. Massa tak dikenal yang diusung berkali-kali menggunakan truck sebagian besar secara kompak menggunakan topi yang dimiringkan agak kesamping dan bersepatu. Banyak diantara mereka yang terlihat bertatto. Fakta ini menimbulkan tafsir yang berkembang di Masyarakat bahwa massa tak dikenal yang menduduki dusun mereka tersebut bukanlah jamaah pengajian, tetapi kelompok-kelompok preman yang diorganisir.

19. Pihak Polisi dan TNI menambah jumlah personil untuk mengantisipasi keadaan. Sampai sekitar pukul 15.30 WIB suasana terkendali dan tidak terjadi bentrokan. Seorang Tokoh dari Solo di ikuti beberapa simpatisan warga dan masyarakat dusun Bentangan, mendesak pihak kepolisian untuk segera membubarkan pengajian MTA. Setelah bernegosiasi dengan perwakilan warga, Wakapolres Boyolali meminta pihak penyelenggara pengajian MTA untuk segera membubarkan diri.

20. Setelah itu, pengajian MTA bubar. Dan jamaah mereka yang terdiri dari massa tak dikenal dengan jumlah ribuan itu, di pulangkan perlahan-lahan dengan menggunakan mobil dan truck. Dan ketika pulang ekspresi dan gesture tubuh mereka tetap melecehkan masyarakat dusun Bentangan sebagaimana diawal mereka lakukan.

21. Pada hari berikutnya berkembang isu bahwa, MTA akan mendatangkan massa yang lebih besar lagi pada sabtu (30/07) besok. Masyarakat semakin merasa terintimidasi.

22. Disisi lain ada Isu yang berkembang meluas ke berbagai sosial media bahwa terjadi konflik antara NU dan MTA di dusun Bentangan, desa Doplang, kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali. Berbagai simpatisan yang mengatasnamakan NU siap meluncur ke dusun tersebut untuk membantu masyarakat.

23. Pihak PCNU Boyolali berhasil mengklarifikasi bahwa konflik di dusun Bentangan sama sekali bukanlah konflik antara ormas NU dan MTA. Dan berbagai macam simpatisan dan elemen NU yang mau masuk ke Boyolali berhasil dikondisikan dan di tenangkan. Serta diberi pengarahan bahwa cara-cara premanisme bukanlah jati diri NU yang selama ini terkenal dengan ormas Islam yang ajarannya ramah terhadap masyarakat.

24. Dukungan dan Solidaritas juga semakin berkembang dari para pendekar Pagar Nusa di berbagai daerah, dimana sejumlah pasukan akan diturunkan ke Boyolali menjelang sabtu (30/07). Namun pasukan berhasil dikondisikan berkat konsolidasi dengan pimpinan pusat, berbagai pendekar yang disepuhkan, dan komunikasi antar pimpinan cabang, terutama di area Solo raya.

25. Pemerintah diwakili wakil Bupati Boyolali menyelenggarakan mediasi antara MTA dan Kepala Desa yang terkait, Rabu (27/07) di Kesbangpol Boyolali dan disepakati beberapa keputusan yang diantaranya:
(1). Kedua belah pihak sepakat utk menjaga kerukunan dan menjaga keutuhan NKRI. (2). Kedua belah pihak saling menginformasikan kpd jajaran sampai paling bawah bahwa wajib menjaga kerukunan dan keutuhan NKRI, (3). Pengajian MTA di dusun Bentangan sepakat untuk dipindahkan ke desa Randusari menerima secara tangan terbuka, (4). Pelaksanaan pemindahan terkait tempat dsbnya, pihak MTA akan berkoordinasi langsung kepada lurah Randusari bpk. Satu Budiyono. Dan kesepakatan antara MTA dg pihak desa Randusari tersebut telah disepakati secara tertulis hari ini, kamis (28/07).

26. Berdasarkan hal tersebut, dan kesepakatan antara Warga dusun Bentangan, Pagar Nusa, GP Ansor dan Banser se Solo Raya, rabu (27/7) Pagar Nusa Klaten dan Kartasura menarik pasukan dari konsentrasi pengamanan di dusun Bentangan, desa Doplang, kecamatan Teras, kabupaten Boyolali. Akan tetapi sebagaimana komitmen kami dari awal, kami akan terus mengawal dan melakukan pendampingan terhadap masyarakat dusun tersebut dari segala bentuk tindak intimidasi, ancaman dan premanisme sampai batas waktu yang tidak ditentukan.
Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh

.
Gunung Jabalkat, Klaten 28-07-2016

.
Iman Widodo
Koordinator Solidaritas Pagar Nusa Solo Raya

Kegigihan Perempuan Dan Pendidikan

Wengker.com, Film Mars - Mendengar kata Mars, mungkin ingatan kita cepat tertuju kepada nama sebuah planet dalam tatasurya. Mars pula yang menjadi judul film pertama yang disutradarai Sahrul Gibran, dan diproduksi Multi Buana Kreasindo. Meski mengacu pada nama planet, film ini tidak akan bercerita terlalu banyak tentang planet itu. Tetapi adalah Sekar Palupi (Acha Septriasa), tokoh utama dalam film ini yang diharapkan oleh ibunya, Tupon (diperankan oleh Kinaryosih) menjadi bintang secerah Mars, yang biasa mereka lihat menggelantung di langit malam. Tupon dan Sekar menyebutnya lintang lantip (bintang yang cerdas).

Latar tempat di film ini, Gunung Kidul, Yogyakarta, diceritakan sebagai daerah yang belum mendapatkan akses listrik, serta masyarakatnya masih amat kental dengan hal-hal klenik atau mistis. Di daearah itu pula, kebanyakan orang tidak mendapatkan atau bahkan sangat jarang bisa berpendidikan hingga tingkat SMA. Mars juga mengacu pada penyingkatan dari tagline film ini yang merupakan kepanjangan dari Mimpi Ananda Raih Semesta. Mars bercerita tentang kegigihan Tupon, seorang ibu miskin, buta huruf, tidak pernah bersekolah, bahkan tidak mengenal sekolah itu seperti apa. Meski begitu, Tupon selalu memberikan semangat kepada anaknya, dan melakukan apa saja supaya anaknya bisa sekolah.

Penulis skenario film ini adalah John D’Rantau. Cerita diadaptasi dari novel karya Aishworo yang berjudul sama, dan diterbitkan Diva Press. Pengambilan gambar dilakukan di Yogyakarta dan Universitas Oxford, London, Inggris. Di London syuting dilakukan di Perpustakan Boedlein, lokasi yang juga dipakai untuk pengambilan gambar film Harry Potter. Dengan demikian Mars menjadi film Indonesia pertama dan film kedua dunia yang mendapatkan izin syuting di lokasi tersebut.

Syuting di Universitas Oxford dilakukan karena menyesuaikan kebutuhan cerita, di mana Sekar akhirnya mendapatkan beasiswa untuk berkuliah di universitas tersebut. “Film ini akan mengingatkan kita pada perjuangan ibu kita,” kata Ketua PP Fatayat NU, Anggi Ermarini saat dihubungi NU Online, Jumat (15/4). Lebih lanjut, Anggi mengungkapkan warna Islami dalam film ini juga kental. Itu bukan saja karena Sekar dewasa mengenakan kerudung, tetapi bahwa menempuh pendidikan adalah juga perintah agama.

Anggi juga menyampaikan alasan mengapa PP Fatayat sebagai gerakan perempuan yang bernaung di bawah NU mendukung film ini. Ialah karena film ini menceritakan semangat pemberdayaan perempuan dan pendidikan. Faktor lainnya, karena bulan April (tanggal 24) adalah hari lahir Fatayat NU, dan Mei adalah momen Hari Pendidikan Nasional. “Kami berdiskusi panjang lebar untuk mendukung film ini. Dari semangat itu (harlah Fatayat dan Hardiknas), kita dukung film ini. Kami terlibat sejak ide-ide pembuatan, promosi, dan bagaimana agar film ini bisa menginspirasi masyarakat,” imbuh Anggi.

Film Mars akan tayang di bioskop mulai 4 Mei 2016. Selain Acha Septrisa dan Kinaryosih, Mars juga didukung sejumlah bintang andal seperti Teuku Rifnu Wikana, Jajang C. Noor, Cholidi Asadila A, Ence Bagus, dan Chelsea Riansy. “Ini film yang inspiratif karena menceritakan kecintaan seorang ibu kepada anaknya. Kita sebagai orang tua (ibu) harus memberikan semangat dan percaya bahwa anak kita mampu melampaui—tidak hanya mencapai—mimpinya,” tambah wanita yang berpembawaan enerjik itu. (Kendi Setiawan)
Sumber NU Online

Sekilas Tentang KH. Ahmad Basyir, Kudus

Wengker.com, Profil Kyai - Beliau adalah ulama kharismatik dari Kudus, Jawa Tengah, yang juga dikenal sebagai guru dan mujiz (pemberi ijazah) Dalal’il al-Khairat. Beliau juga merupakan pengasuh dari Pondok Pesantren Darul Falah Jekulo, Kudus, Jawa Tengah.
Abdul Bashir adalah nama kecilnya. Konon, nama itu di beri oleh seorang sayyid ketika ibu beliau sedang hamil tua. Ayah beliau bernama Kiai Muhammad Mubin atau Mbah Kasno, seorang penjahit dengan mesin icik tua. Sedangkan ibunya bernama Nyai Dasireh, seorang pedagang kecil. Beliau lahir pada tanggal 30 November 1924 M., sebagai putra kedua dari Kiai Mubin. Saudara-saudara beliau berjumlah delapan orang, namun tiga saudara lainnya telah meninggal saat masih bayi.
Di umurnya yang masih lima tahun, Bashir kecil sudah mengerti akan salat dan wirid. Bahkan caranya sudah seperti orang dewasa. Sekitar dua sampai tiga tahun kemudian, ia masuk ke sekolah milik Belanda, Veer Folexs Schooll. Mungkin ada rahasia tersendiri mengapa Kiai Mubin yang notabenenya keluarga santri, menyekolahkan anaknya di situ.Semua berjalan dengan lancar hingga beliau berhasil menjadi lulusan siswa terbaik di kelas lima. Sejak lama, sebenarnya para guru ingin menyekolahkan Abdul Bashir di sekolahan favorit, tempat sekolahnya para priyayi. Hingga suatu hari ada salah satu guru yang berkeinginan mengambil Bashir kecil untuk di sekolahkan favorit. Di tengah ketimpangan kedua orang tuanya tentang ekonomi dan kewajiban rohani, Bashir kecil berkata “Aku kok kepingin ngaji, mondok neng Mbareng pak” (Saya kok kepingin ngaji, nyantri di Mbareng pak). Akhirnya mereka sowan ke Mbah Yasin (Mbah Kandar), dan di jawab “Kowe ora usah sekolah guru, mondok wae, besuk kowe dadi guru” (Kamu tidak usah sekolah jadi guru, mondok saja, besok kamu akan jadi guru). Akhirnya beliau pun di antar ke Mbah Arwani Amin Kudus, guru thariqah Kiai Mubin, setelah sebelumnya melaksanakan khitan.
Sebelum beliau menetap di Pondok Pesantren Mbareng 1923 (sekarang PP. Al-Qaumaniyah), sekitar tahun 1940, beliau juga berkesempatan untuk nyantri di PP. Kenepan Langgar Dalem Kudus. Berguru pada KH. Ma’mun Ahmad, khatam al-Qur’an pada KH. Arwani Amin serta masyayikh di sekitar Kudus seperti KH. Irysad dan KH. Khandiq, kakak dari KH. Turaichan Adjhuri Kudus.
Beliau pun akhirnya menetap di Mbareng dan khidmah di sana. Beliau adalah murid kesayangan Mbah Yasin, bahkan beliau pernah diajak untuk puasa ngebleng (tidak buka) bersama selama tiga hari berturut-turut. Berbagai wirid dan riadlah beliau jalani, hingga Mbah Yasin mengutus beliau untuk menjadi lurah pondok. Beliau juga pernah bergabung dengan GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia) dan BPRI (Badan Perjuangan Republik Indonesia), sekitar tahun 1944-1945 M.
Menggantikan Kiai
Setelah dirasa cukup lama, dan karena para santri semakin banyak, akhirnya Basyir muda di utus untuk mengajar santri-santri junior oleh Mbah Yasin. Sepeninggal Mbah Yasin, bertambahlah jadwal mengajar beliau. Di bantu oleh Kiai Muhammad (putra Mbah Yasin) dan Kiai Hanafi (menantu Mbah Yasin), mereka meneruskan perjuangan Mbah Yasin. Menikah dan Membangun Pondok
Beliau akhirnya menikah dengan putri H. Abdul Ghoni, Sholehah, yang umurnya masih sangat muda. Sejak saat itu beliau tidak menginap di pondok, tapi pulang ke rumah. Hingga dua tahun kemudian beliau membuat rumah sendiri di Jekulo, Kauman.
Di penghujung tahun 60-an ada seseorang yang namanya sama dengan beliau mewakafkan tanah berikut rumah sokowulu miliknya untuk dijadikan pondok. Letaknya persis tepat di sebelah utara masjid Kauman. Pondok ini kemudian dinamai dengan Darul Falah setelah sebelumnya hanya berinisial dengan sebutan “Pondok D”. Setelah sekian lama berjalan, sekitar tahun 1992 M., akhirnya beliau membangun asrama putri. Santri putri di tahun pertama mencapai 5 orang, tahun kedua 9 orang, hingga sekarang pondok ini telah menampung lebih dari 600 santri perempuan.
Mbah Basyir baru di karuniai anak setelah dua tahun menikah. Akhirnya, saat beliau dan Nyai Sholehah menetap di Hadiwarno, Nyai Sholehah melahirkan anak pertamanya, Dewi Umniyah, disusul ketujuh adik-adiknya; Inaroh, Amti’ah, Ahmad Badawi, Arikhah, Muhammad Jazuli, Muhammad Asyiq (almarhum), Nur Zakiyah Mabruroh, dan Muhammad Alamul Yaqin.

Rombongan Pengajian Fatayat Alami Kecelakaan, 1 Korban Meninggal Dunia

Wengker.com, Warta Nahdliyin - Seorang anak meninggal dunia saat sebuah mobil bak terbuka terguling di Ngilo-ngilo, Slahung, Ponorogo, Minggu (17/04/2016). Sementara puluhan korban lainnya dirawat di Puskesmas Nailan, Slahung.

Kejadian naas tersebut bermula saat rombongan pengajian Fatayat NU pulang dari pengajian rutin di Kecamatan Slahung. Rombongan yang terdiri dari Ibu-ibu dan beberapa orang anak yang berjumlah 40 orang tersebut menumpang mobil bak terbuka, Pickup L300.

Menurut saksi mata, sesampainya di Blimbingsari, Ngilo-ngilo mobil yang dikemudian oleh Solikin (34), tidak kuat menaiki tanjakan yang cukup terjal. Diduga karena Rem Blong, mobil meluncur mundur dan akhirnya terguling.

“Saat melintas di tanjakan desa blimbingsari ngilo ilo mobil tak kuat menanjak, dikarenakan mesin mati remnya blong kemudian terguling,” terang Nasrudin, Warga setempat.

Akibatnya puluhan penumpang jatuh berhimpitan dan satu orang meninggal ditempat sementara puluhan lainnya terluka. Korban meinggal Siti Nur Istiadah (11), siswi kelas 4 sd putri Sujari dan Lestari warga Ngilo Ilo.

Pihak kepolisian dibantu warga kemudian mengevakuasi kendaraan nahas tersebut. (WW)

Sumber: wakoka.co.id

Pergerakan ISIS

Wengker.com - Jakarta, Kelompok ISIS begitu canggih dalam menyebarkan video. Mereka bergerak tidak seperti yang dilakukan jaringan televisi, tetapi seperti tawon. Demikian dikatakan Dr Ali Fisher di Gedung PBNU, Rabu (23/3).

Lebih lanjut, peneliti di The International Centre for the Study of Radicalisation and Political Violence memaparkan ada ribuan anggota ISIS yang menyebarkan video-video propaganda agar publik dan jaringan mereka semakin tertarik dan masuk ke dalam kelompok ISIS.

Kelompok ISIS menganggap orang yang berjuang melalui media internet, sama pentingnya dengan tentara di medan perang. Dan mereka menyebut hal itu sebagai jihad.

Terkait perjuangan ISIS di internet ada tiga aktivitas yang mereka lakukan yaitu cepat, fleksibel, dan bisa langsung mengatasi hambatan. Video-video yang berisi ajaran ISIS, diupload dari beberapa tempat terutama di Irak. Dalam waktu cepat, video-video itu bisa diunduh oleh pengikut mereka, tersimpan di hardisk-hardisk, dan mereka teruskan penyebarannya kepada anggota ISIS yang lain melalui akun-akun media sosial yang hanya bisa diakses oleh anggota.

Mereka biasanya hanya membagikan konten-konten itu selama lima belas menit karena Badan Inteljen termasuk di negara-negara Barat yang mengetahui video-video tersebut kemudian menghapusnya. Tetapi, mereka sudah sangat terbiasa dengan hal itu.  Mereka lalu tidak fokus di link itu lagi.

Kelompok ISIS tidak hanya membagikan video melalui satu platform. Mereka menggunakan banyak platform, dan saat satu platform tidak bisa diakses lagi, mereka bisa mentargetkan platform lain. Twitter merupakan platform yang sering dipakai sebagai menara untuk memberi tahu di platform mana konten bisa diakses.

Oleh karena itu, pengajar di Universitas Wina, Austria itu menekankan, agar kita memahami strategi mereka bila ingin melakukan tindakan pencegahan. Berdasrakan penelitian Fisher, kelompok ISIS harus dihadapi secara efektif dan tidak hanya tenggelam dalam pemikiran-pemikiran.

Mengatasi propaganda ISIS hanya dengan memikirkan taktik, tentu kita akan kalah. Propaganda  ISIS harus dihadapi dengan langkah strategis, yaitu penguasaan teknologi dan penyebaran informasi tentang ajaran Islam yang sebenarnya. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)
Sumber NU Online

Bahstul Masail PWNU Jatim Tentang Islam Nusantara

Wengker.com, Warta Nahdliyin - Bahtsul Masail Maudhu'iyah PWNU Jawa Timur tentang ISLAM NUSANTARA akan diselenggarakan pada Sabtu, 13 Februari 2016, pukul 07.30-17.00 WIB Di Universitas Negeri Malang.

Tashawwur (Seminar)
1. KH. Miftahul Akhyar, Wakil Rais Amm PBNU
2. KH. Najih Maemun Zubair, PP Sarang Rembang
3. Prof. Hariyono, Sejarawan UM

Mushahhih:
KH. Abdul Matin
KH. Syafruddin Syarif
KH. Romadlon Khotib
KH. Farihin Muhson
KH. Muhibbul Aman Ali
KH. Marzuki Mustamar

Perumus:
KH. Ahmad Asyhar Sofwan, M.Pd.I
KH. Azizi Hasbulloh
KH. MB. Firjhaun Barlaman
KH. Athoillah Anwar
KH. M. Mujab, Ph.D.

Moderator:
Ahmad Muntaha AM
Faris Khoirul Anam, M.H.I

Notulen:
H. Ali Maghfur Syadzili, S.Pd.I.
H. Syihabuddin Sholeh
H. Muhammad Mughits
Ali Romzi

Pembahas:
1. PW LBM NU Jawa Timur
2. PCNU Se Jawa Timur
3. 10 Pondok Pesantren Undangan (Lirboyo, Ploso, Sidogiri, dll) dan Haiah Shofwah.

ISLAM NUSANTARA

A. Mukadimah
B. Poin Pembahasan
1. Maksud Islam Nusantara
2. Metode Dakwah Islam Nusantara
3. Landasan Menyikapi Budaya/Tradisi
a. Ayat al Qur'an dan al Hadits yang Mengakomodir Tradisi/Budaya
b. Tradisi Jahiliyah yang Diakomodasi Menjadi Ajaran Islam
c. Pendekatan Terhadap Tradisi/Budaya
d. Melestarikan Tradisi/Budaya yang Menjadi Media Dakwah

4. Sikap dan Toleransi Terhadap Pluralitas Agama dan Pemahaman Keagamaan
a. Sikap Terhadap Pluralitas Agama
b. Toleransi Terhadap Agama Lain
c. Toleransi Terhadap Pemahaman Keagamaan Selain Ahlussunnah wal Jamaah

5. Konsistensi Menjaga Persatuan Bangsa Untuk Memperkokoh Integritas NKRI

Download File Draft Bahtsul Masail Maudhu’iyah
https://docs.google.com/uc?id=0B7ZVaBiCAbMRdEMtTlBOMlJ4YjA&export=download

Sumber Grop Whatsapp Islam Nusantara

Pagar Nusa Jombang Akan Bentuk Satgas Anti Narkoba

Wengker.com, Pagar Nusa - Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Republik Indonesia, Komisaris Jenderal Budi Waseso mengatakan, seluruh lapisan masyarakat harus perang narkoba. Apalagi, Presiden Joko Widodo menyampaikan Indonesia darurat narkoba. “Bila Bapak Presiden Joko Widodo menyampaikan Indonesia darurat narkoba. Maka, kita perang narkoba, semua unsur harus beri perlawanan kepada bandar narkoba,” ujarnya.
Langkah nyata dibuktikan, Badan Narkotika Nasional (BNN) melakukan menggerebek sebuah gudang di Jepara, Jawa Tengah. Dalam penggerebekan itu, BNN menangkap 1 orang tersangka dan menemukan 100 Kg sabu.
Penggerebekan itu dilakukan sore , Rabu (27/1/2016), di sebuah komplek pergudangan. 1 orang tersangka yang merupakan warga Pakistan berinisial MR turut ditangkap di lokasi.
Sabu seberat 100 kg itu ditemukan di dalam mesin genset. Diduga sabu siap edar itu akan dibawa ke Jakarta untuk dijual.

Menanggapai seruan perang terhadap narkoba, Gus Dimas Cokro Pamungkas, Ketua Pagar Nusa Peguron Sapu Jagat Jombang, Jatim mendukung penuh. “Bahkan kami akan mempersiapkan Satgas Anti Narkoba Sapu Jagad atau disingkat SANJAGAT, “paparnya di padepokan Sapujagad, Jombang.
Ia menjelaskan bahwa Satgas ini merupakan tim reaksi cepat yang akan bergerak jika ada laporan tentang narkoba. Setelah tertangkap tangan lalu diserahkan ke aparat kepolisian. Selain terdapat juga tim pengintai yang akan memantau wilayah terhadap pemakai narkoba.
Jika terdapat indikasi terdapat pemakai narkoba akan dilakukan pengintaian. Setelah yakin memang ada pengguna atau bandar lalu berkoordinasi dengan aparat supaya ditindak lebih lanjut. “Kami membantu dengan cara menberdayakan masyarakat. Pemberantasan narkoba tidak hanya sebatas tanggung jawab kepolisian tapi semua elemen masyarakat untuk mengawasi daerahnyan masing-masing,”paparnya.
Bagi anggota Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa diminta aktif di wilayah masing-masing menjaga keamanan. “Dengan bekal beladiri yang kita miliki tentunya sangat membantu jika ada pengguna yang meresahkan masyarakat. Jadi selama ini kami belajar beladiri ada manfaatnya tidak hanya untuk gagah-gagahan dan atraksi,”bebernya.
Sumber TopBintang
Untuk dapat mendengarkan radio ini anda harus menginstall flash player klik disini untuk download
Winamp Windows Media Player iTunes basicBerry Real One Android iPhone