Putih Tak Putih

Wengker.com, Cerpen - Cangkir kecil berwarna putih tulang bermotif mawar merekah adalah wadah yang dianggap pantas untuk menampung seduhan kopi hitam beraroma masa depan. Kopi itu pula yang menjadi teman setia para aktivis dari berbagai ruang tuk membahas kapal nusantara yang usianya semakin renta.

Pun, sosok nahkodanya yang sudah berganti hingga tujuh kali dan belum mampu menyandarkan penumpangnya ke pulau bahagia, tak lepas dari ocehan anak-anak muda berambut gondrong di meja pojok kedai Blandongan.

Di sini, janji untuk menyelamatkan anak negeri dari bahaya kekurangan kopi terpatri di gapura. Menyambut kedatangan para pemikir negeri memikirkan nasib bangsanya yang entah ke mana. Rangkaian kata-kata tanpa majas itu menjadi cita-cita mulia untuk melanggengkan tradisi ngopi bagi para penikmatnya. Pun, di tempat ini, kopi telah menjadi simbol pemersatu yang tak terbatas oleh perbedaan ruang dan waktu, termasuk bagi mereka yang pernah berselisih paham karena beda pilihan politik pada pesta demokrasi tahun lalu. Di sini batas itu hilang seketika. Kopi itu pula yang telah berhasil menyatukan aktivis negeri yang beda persepsi tentang semangat membangun bangsa dari berbagai sisi. Termasuk mereka yang terus berdebat dengan bahasa impor dari benua putih yang dahulu tak pernah tersaji.

Tempat ini juga bukan sekadar papan tuk berbagi kisah hidup yang pelik tentang perjalanan negeri, tapi juga tempat untuk memastikan bahwa anak-anak muda masih doyan bersdiskusi. Entah siapa yang mengawali membuat kedai kopi, yang jelas kopi telah menjadi ruh dalam tiap hela napas anak-anak muda hingga para lansia di kota ini, Yogyakarta. Saking saktinya, kopi telah mampu menghapus sekat antara rakyat dan pejabat, hingga kawula dan ningrat.

Aku yang tengah singgah di Bumi Mataram ini pun diajak tuk menikmati seduhan kopi yang katanya lebih nikmat dan lebih sakti dibandingkan kopi dari Barat. Di kota ini pula, kuingin melepas rindu dengan sahabatku yang sangat mencintai kopi. Namanya Putih. Tapi, jika biasanya nama Putih disematkan pada orang yang memiliki kulit tubuh yang terlalu putih, maka tidak untuknya. Putih adalah nama panggilan yang disematkan untuk sahabatku yang sebenarnya bertolak belakang dengan yang sesungguhnya. Aku tak kuasa untuk mengatakannya hitam, tapi aku tak mungkin mengatakannya putih, karena nyatanya ia lebih gelap dari warna coklat tua.

Sebutan “Putih” bukan tanpa alasan. Ia dianggap mewakili kondisi zaman. Hidup di negara yang kaya tapi miskin. Banyak orang pintar tapi bodoh. Punya pemimpin yang tegas tapi lemah. Setia tapi ternyata mampu mendua. Hingga kopi yang seharusnya hitam kini telah berubah menjadi kopi putih. Untuk itu, kami memanggilnya “Putih”. Sebutan ini adalah cara mudah kami menyimpulkan realitas yang tak disadari oleh semua orang. Apalagi bocah-bocah yang hanya berpikir tentang kemapanan diri. Sekilas, panggilan ini terdengar sangat kejam karena disematkan padanya yang tak putih, tapi sebenarnya tidak. Ini menyoal simbol, bukan hinaan atau cacian.

Di kedai kopi ini, ia menghabiskan detik demi detik untuk membahas masalah yang tak jelas ujung pangkalnya. Sambil ditemani dengan bercangkir-cangkir kopi, ia membuka obrolan dengan melepas kata ilmiah yang disadurnya dari benua putih. Katanya bahasa itu mampu mewakili sejuta masalah pelik yang ada di otaknya. Padahal menurutku, masih ada bahasa lain yang bisa mewakili perasaannya. Tapi tak apa, bahasa antah berantah yang ia ucapkan itu juga pilihan yang tak harus kutolak. Obrolan tanpa judul dan sarat dengan bahasa barat pun terlontar dari balik kepulan asap dari rokok yang dihisapnya. Meski tak bisa kupahami semua bahasanya, guratan di keningnya seolah menggambarkan ketidakpercayaan akan masalah yang dihadapi kapal tua bernama Nusantara ini.

“Berapa tetes kopi yang kau teguk setiap hari?” tanyaku pada Putih sambil menghentikan obrolan yang terus keluar dari mulutnya.

“Sebanyak helai rambutku,” jawabnya.

“Apa kau bisa mengitungnya?”

“Menghitung helai rambut dan tegukan kopi sama saja dengan menghitung peliknya masalah negeri. Tak ada habisnya.”

Aku terdiam sambil menatap matanya yang nampak kemerah-merahan. Mungkin karena selalu begadang tiap malam. Atau bisa jadi karena efek dari kopi yang terlalu banyak ia teguk setiap harinya. Tak tahu pasti dan tak bisa kusimpulkan begitu saja. Mungkin bisa jadi karena karena ia sedang marah dengan kapal tua ini yang seolah tak punya arah.

“Dasar orang gila,” candaku.

“Lebih gila lagi mereka yang tak mau berpikir bersama kopi. Ya, mereka yang hanya membaca buku dan ke kampus kemudian menyalahkan zaman.”

“Bagaimana dengan mereka yang menganggap orang sepertimu sebagai orang gila?”

“Ah, itu kan hak mereka karena hidup di negeri yang bebas berbicara. Aku tak peduli orang berkata apa. Aku rela dianggap gila, asal mereka tak memvonis kopinya yang gila. Kau harus tahu, orang yang anarkis dan radikal itu karena kurang kopi. Seharusnya mereka diselamatkan,” ucapnya sambil disusul dengan gelak tawa yang membahana hingga membuat penghuni meja-meja sebelah menoleh semua ke arahnya.

Aku tak tahu pasti apa maksudnya, yang jelas aku ikut tertawa begitu saja. Kemudian, aku pun berpikir, siapa yang dimaksud “mereka” dalam ucapannya. Apa mereka yang tak cinta kopi? Ah, agaknya terlalu rasis menyematkan kata “menyelamatkan” hanya untuk mereka yang tak cinta kopi. Padahal masih banyak yang harus diselamatkan dari sekadar mereka yang tak cinta kopi. Ya, tentu ada petani kopi, penjual kopi dan pengusaha kecil peracik kopi yang terus tergerus oleh produk dari seberang negeri.

****

Hari masih siang. Bahkan teriknya masih terasa panas hingga ke dalam hati. Tapi gerimis tiba-tiba turun dari langit. Mungkin untuk mendinginkan obrolan yang sempat memanas di antara kami. Namun, seolah tak peduli dengan gerimis atau panas, secangkir kopi habis, muncul secangkir kopi yang lain dan begitu seterusnya. Termasuk asap rokok yang mengepul tanpa henti karena terus disambung oleh batang-batang rokok berikutnya. Katanya rokok dan kopi itu untuk menambah inspirasi, karena ia sudah menganggap keduanya sebagai pasangan setia yang tak mungkin terpisah oleh zaman dan lintas generasi. Aku mengamini saja, meski sebenarnya aku terganggu dengan kepulan asap rokok yang padat seperti asap yang keluar dari knalpot motor zaman dulu.

“Apa sampean pernah melihat orang yang mencaci maki sambil menikmati kopi?” tanyanya padaku.

“Belum.”

“Apa kau pernah melihat orang berbuat jahat sambil minum kopi?”

“Belum.”

“Mungkin tidak akan kau lihat kejadian seperti itu, karena kopi itu membawa kedamaian. Meskipun warnanya tak putih. Bahkan masalah besar yang beku di meja hijau bisa mencair di meja kantor. Asal ada kopi.”

Aku termenung. Apasemudah itu masalah bisa diselesaikan? Tapi, ada benarnya juga. Bagi mereka yang mampu membeli kopi, kadang meja hijau pun bisa dirubah menjadi meja coklat atau meja tanpa warna. Tapi tuk mereka yang tak mampu membeli kopi, mengambil ayam tetangga yang harganya tak cukup untuk membeli beras sekarung pun, tak akanbisa lepas dari bui. Ya, seperti yang dialami si Udin tempo lalu. Iaharus merasakan dinginnya jeruji hanya karena mengambil ayam di desa sebelah.

Padahal, ia sempat berdalih kalau anak pejabat yang pernah menabrak orang dan merenggut banyak nyawa pun tak sempat menyentuh dinding sel. Tapi si Udin lupa kalau dia bukan anak pejabat, ia hanya orang kecil yang butuh beras untuk isi perutnya. Hingga alasan apapun yang disampaikannya tak mampu membuatnya lepas dari bui. Belum lagi bonus rasa sakit yang harus diterima karena tangan-tangan besi tak henti-henti menghampiri wajahnya. Selain Udin bukan siapa-siapa, yang jelas karena Udin juga tak mampu membeli kopi untuk melelehkan si tangan besi. Percuma.

Akhirnya tak bisa kusangkal ucapannya. Secangkir kopi bisa menjadi jalan negosiasi sampai menjadi alat penyelamat manusia yang akansegera dieksekusi. Bahkan ia bisa menjadi suguhan bagi para politisi yang sedang membahas tentang arah negeri.

“Jangan hanya melamun. Lamunanmu tak akan merubah keadaan, kecuali membuat kopi yang tadinya panas menjadi dingin,” ucapnya mengganggu lamunanku.

“Aku tahu itu.”

“Lalu, apakah kau sudah paham bahwa kopi ini lebih sakti dari palu di meja pengadilan?”

“Ya. Aku setuju. Kopi ini telah merubah banyak tatanan yang seharusnya berjalan.”

“Tak juga. Jangan menghakimi kopi. Nyatanya iajuga telah menjadi teman setia untuk menata hidup, menuliskan cerita, hingga berhalusinasi tentang masa depan.”

“Tapi karena kopi juga keadilan menjadi semu.”

“Tak juga, sesuatu yang belum adil juga bisa diadili di meja kopi.”

“Baiklah.”

“Mungkin sekali-kali kau perlu ajak orang-orang yang suka mengkafirkan orang lain untuk menikmati kopi. Termasuk orang-orang yang dengan topeng agama meminta kekuasaan. Juga untuk mereka yang dengan mudah menyematkan dirinya sebagai orang-orang yang seolah paling paham tentang agama, hingga tak tahu tentang agama dan budaya. Sampai apa-apa yang bukan berasal dari bangsa Arab dianggap tak sesuai aturan agama.”

“Apa dengan kopi mereka bisa faham?”

“Paling tidak mereka akan tahu bahwa ada kopi, gula dan air yang diseduh dan dituangkan dalam cangkir putih yang tak pernah meminta diri mereka disebutkan satu per satu. Cukup dengan menyebut kata kopi, semua sudah termewakili. Termasuk air, gula dan kopi itu sendiri.”

“Hmmm. Kau benar, banyak yang ikut membangun kapal tua ini dan mereka tak minta diakui jasanya. Cukup dengan namaNusantara, sama artinya dengan menyebut mereka semua.tanpa harus meminta yang lain berada di bawahketiak mereka.”

Semakin lama, obrolan kami semakin tak jelas arahnya. Kami pun segera menutup obrolan, meski sebenarnya masih ingin melepas rindu dan bercengkerama tentang kisah masa lalu. Tapi aku tahu, semuanya tak akan selesai di meja ini, karena masih ada meja lain yang cangkirnya perlu diseduh kopi agar lain bisa merasakan nikmatnya kopi. Satu lagi, dan agar mereka tahu tentang kesadaran gula dan air yang tak pernah disebut dalam seduhan secangkir kopi.


Oleh Slamet Tuharie Ng lahir di Batang, 09 Juni 1990. Saat ini tengah menyelesaikan studi Pascasarjananya di Graduate School Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Penulis juga merupakan Wakil Sekjend PP IPNU (2012-sekarang).

Sayyidina Ali Bin Abi Tholib Dan Seorang Nasrani

Wengker.com, Cerita Hikmah - Dalam sebuah hadits qudsi Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya setiap pagi dan sore Allah SWT selalu memandang wajah orang yang sudah tua, kemudian Allah SWT berfirman: Wahai hamba-Ku, semakin tua usiamu, semakin keriput kulitmu, semakin lemah tulangmu, semakin dekat ajalmu, semakin dekat pula engkau bertemu dengan-Ku. Malulah karena-Ku, karena Aku pun malu melihat ketuaanmu, dan Aku pun malu menyiksamu di dalam neraka.<>

Dikisahkan bahwa pada suatu ketika Sayyidina Ali KW sedang tergesa-gesa berjalan menuju masjid untuk melakukan jamaah shubuh. Akan tetapi dalam perjalanan - di depan beliau - ada seorang kakek tua yang berjalan dengan tenang. Kemudian Sayyidina Ali memperlambat langkah kaki tidak mendahuluinya karena memuliakan dan menghormati kakek tua tersebut. Hingga hampir mendekati waktu terbit matahari barulah beliau sampai dekat pintu masjid. Dan ternyata kakek tua tersebut berjalan terus tidak masuk ke dalam masjid, yang kemudian Sayyidina Ali KW akhirnya mengetahui bahwa kakek tua tersebut adalah seorang Nasrani.

Pada saat Sayyidina Ali KW masuk ke dalam masjid beliau melihat Rasulullah SAW beserta jamaah sedang dalam keadaan ruku'. (Sebagaimana diketahui bahwa ikut serta ruku' bersama dengan imam berarti masih mendapatkan satu rakaat). Rasulullah SAW waktu itu memanjangkan waktu ruku'nya hingga kira-kira dua ruku'. Kemudian Sayyidina Ali KW ber-takbiratul ihram dan langsung ikut serta ruku'.

Setelah selesai shalat para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW: Wahai Rasulullah tidak biasanya engkau ruku' selama ini, ada apakah gerangan? Beliau menjawab: Pada waktu aku telah selesai ruku' dan hendak bangkit dari ruku' tiba-tiba datang malaikat Jibril AS meletakkan sayapnya di atas punggungku, sehingga aku tidak bisa bangkit dari ruku'. Para sahabatpun bertanya: Mengapa terjadi demikian? Beliau menjawab: Aku sendiri pun tidak tahu.

Kemudian datanglah malaikat Jibril AS dan berkata: Wahai Muhammad, sesungguhnya Ali waktu itu sedang bergegas menuju masjid untuk jama'ah shubuh, dan di perjalanan ada seorang kakek tua Nasrani berjalan di depannya, Ali pun tidak mengetahui kakek tua itu beragama Nasrani. Ali tidak mau mendahuluinya karena dia sangat menghormati dan memuliakan kakek tua tersebut. Kemudian aku diperintah oleh Allah SWT untuk menahanmu saat ruku' sampai Ali datang dan tidak terlambat mengikuti jama'ah shubuh. Selain itu Allah SWT juga memerintah malaikat Mikail untuk menahan matahari menggunakan sayapnya hingga matahari tidak bersinar sampai jama'ah selesai.

Demikianlah hikmah kisah teladan Sayyidina Ali KW yang sangat menghormati dan memuliakan orang yang tua walaupun beragama Nasrani. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

J. Mu'tasim Billah - Mustofa Hasyim

Sumber NU Online

Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dan Mentalis Benalu

Wengker.com, Cerita Hikmah - Alkisah, suatu hari Rasulullah saw didatangi seorang pengemis yang pakaiannya compang-camping. wajah lelaki itu tampak sedih dan mengenaskan. Tentu  saja Rasul merasa kasihan. Tapi tahukah anda, apa yang diberikan Rasul kepada pengemis itu? Bukan uang bukan pula makanan, tetapi sebuah kampak tajam sambil bersabda, 'Pergilah ke hutan. Kumpulkan kayu bakar. Jual dan kembalilah kepadaku setelah lima belas hari." (HR. Abu Dawud).

Subhanallah, begitulah Rasul kita. Sang guru besar yang selalu mendididk dan mengajari umatnya. Rasul tidak memanjakan pengemis dengan memberikan uang atau makanan, nemun memberinya kampak untuk bekerja. Sebab, dengan bekerja, sang pengemis bisa kembali punya harga diri di mata masyarakat.

Ada dua hikmah yang bisa kita petik dari cerita di atas. Pertama, bahwa bantuan langsung tunai (BLT) yang diberikan kepada masyarakat miskin bukanlah solusi tepat guna mengentaskan kemiskinan. Sebab, bantuan-bantuan seperti itu malah berpotensi memenjakan mereka dengan terus-menerus menggantungkan harapan pada datangnya bantuan. Singkatnya, BLT secara tidak langsung akan membentuk "mentalitas benalu". Justru yang efektif, menurut hemat saya, adalah dengan meberikan modal usaha atau modal kerja berupa life skill sehingga nantia ia memiliki kecakapan hidup.

Kedua, tidak perlu gengsi dalam bekerja. Apa saja, asal halal dan terhormat, kita hendaknya dengan senang dan sepenuh hati menjalaninya. Terkadang kita gengsi dan memilah-milah pekerjaan. Kecenderungan kebanyakan kita selalu ingin bekerja enak, gaji besar dan punya prestise tersendiri. Kita sering lupa bahwa Rasulullah dan nabi-nabi lainnya bekerja sebagai pengembala. Kita pun kadang tidak tahu bahwa sahabat Abu Hurairah, sang perawi hadis paling handal, bekerja sebagai pembantu. Bahkan konon gajinya hanya sepiring nasi untuk mengganjal perut kosong.

Demikian halnya dengan para ulama kita. Mereka ternyata  juga terlibat dalam usaha perdagangan, home industri, pertanian dan lain-lain. Abû Hanîfah misalnya, dikenal sebagai al-Bazzar, pedagang kain. Ia mempunyai toko dan melayani sendiri. Pada saat-saat tidak ada pembeli, Abû Hanîfah mengisi waktunya dengan membaca kitab atau memberi fatwa. Ayah Imâm al-Ghazzâlî juga dikenal sebagai pemintal benang untuk dijadikan kain. Sari al-Saqatî, seorang shufi kenamaan (w. 255 H/ 871 M) adalah seorang saudagar bangunan di pasar. Abû Qâsim al-Junaidî (w. 295 H/ 910 M) memiliki toko pemotong kaca dan melayani sendiri para pembelinya. Ibnu Khafîf menginformasikan: “pada masaku kebanyakan para guru shufi memiliki pekerjaan sebagai penopang hidup mereka. Aku sendiri belajar memintal benang. Hasilnya aku jual di pasar untuk menghidupi keluargaku”, (Warisan Sufi, I/8).

Semoga fakta sejarah tersebut menginspirasi para pemangku kebijakan di negeri ini sehingga kebijakan-kebijakan mereka, khusunya terkait program pengentasan kemiskinan, betul-betul bisa bersifat solutis bagi permasalahan ekonomi umat. Semoga...!
Oleh Bapak Ahmad Syafi'i SJ

Kematian Bisa Diundur

Wengker.com, Pendidikan Religi - Kematian memang di tangan Allah. Maka ada satu hal yang bisa membuat
kematian menjadi sesuatu yang bisa ditunda, yaitu kemauan bersedekah, kemauan berbagi dan peduli.
SUATU hari, Malaikat Kematian mendatangi Nabiyallah Ibrahim ,
dan bertanya, "Siapa anak muda yang tadi mendatangimu wahai
Ibrahim ?" "Yang anak muda tadi maksudnya?" tanya Ibrahim .
"Itu sahabat sekaligus muridku." " Ada apa dia datang menemuimu?"
"Dia menyampaikan bahwa dia akan melangsungkan pernikahannya
besok pagi." "Wahai Ibrahim , sayang sekali, umur anak itu tidak akan
sampai besok pagi." Habis berkata seperti itu, Malaikat Kematian pergi
meninggalkan Nabiyallah Ibrahim . Hampir saja Nabiyallah Ibrahim tergerak untuk memberitahu anak muda tersebut, untuk menyegerakan pernikahannya malam ini, dan memberitahu tentang kematian
anak muda itu besok. Tapi langkahnya terhenti. Nabiyallah Ibrahim memilih kematian tetap menjadi rahasia Allah.
Esok paginya, Nabiyallah Ibrahim ternyata melihat dan menyaksikan bahwa anak muda tersebut tetap bisa melangsungkan pernikahannya.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun, Nabiyallah Ibrahim malah melihat anak muda ini panjang umurnya. Hingga usia anak muda ini 70 tahun, Nabiyallah Ibrahim
bertanya kepada Malaikat Kematian, apakah dia berbohong tempo
hari sewaktu menyampaikan bahwa anak muda itu umurnya tidak
akan sampai besok pagi? Malaikat Kematian menjawab bahwa
dirinya memang akan mencabut nyawa anak muda tersebut, tapi Allah menahannya. "Apa gerangan yang membuat Allah menahan tanganmu untuk tidak mencabut nyawa anak muda tersebut, dulu?"
"Wahai Ibrahim , di malam menjelang pernikahannya, anak muda
tersebut menyedekahkan separuh dari kekayaannya. Dan ini yang
membuatAllah memutuskan untuk memanjangkan umur anak muda
tersebut, hingga engkau masih melihatnya hidup."
Semoga menginspirasi kita!
By Ahmad Syafi'i

Rosululloh VS Yahudi

Wengker.com, Pendidikan - Suatu hari Sahabat Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya yang juga Istri Nabi Aisyah RHA. Saat itu Nabi Muhammad SAW sudah tiada. Kepada Aisyah, Abubakar bertanya apakah kebiasaan yang biasa dilakukan Nabi, yang belum pernah dikerjakannya.
Kepada ayahnya itu, Aisyah mengatakan semua sunnah Nabi sudah dilakukan, namun ada satu yang belum pernah dilakukan Abubakar. Kebiasaan Nabi yang luput dilakukan Abubakar itu adalah; setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke pasar kota Madinah dan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi di sana.
Abubakar yang penasaran, keesokan harinya berniat melakukan kebiasaan Nabi itu. Dia pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis Yahudi yang diceritakan Aisyah. Dia menemukan pengemis Yahudi itu disudut pasar. Ternyata pengemis Yahudi itu adalah seorang pengemis buta yang selalu berteriak menghina dan menghujat Rasulullah.
Tiap hari pengemis itu berteriak lantang kepada orang-orang : "Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya". Hujatan itu selalu diteriakkan pengemis itu sepanjang hari.
Melihat itu, Abubakar heran mengapa Nabi memberi makan orang yang menghinanya setiap hari. Namun Abubakar tetap mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan. Dia ingin menirukan perbuatan baik yang dilakukan Nabi sebagaimana yang diceritakan Aisyah.
Saat Abubakar mulai menyuapi, tiba-tiba pengemis itu marah sambil berteriak. Dia menanyakan siapa yang menyuapinya. Abubakar mengatakan dia adalah orang yang biasa menyuapi setiap hari. Namun pengemis buta itu tidak percaya. Meski Abubakar meyakinkan dirinya yang membawakan makanan setiap hari tetap saja pengemis itu tidak percaya.
Pengemis Yahudi itu mengatakan yang biasa membawakan makanan dan menyuapinya jauh lebih lembut dan sabar dalam menyuapi. Pengemis itu berkata jika yang biasa menyuapinya datang, tidak susah tangan pengemis itu memegang, dan tidak susah pula mulutnya mengunyah.
"Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut," ujarnya. Orang yang biasa datang itu juga sangat sabar membantu makan sampai selesai dan kenyang.
Mendengar hal itu Abubakar pun menangis. Dia terharu dengan kebaikan Nabi yang meski dihujat tetap memberikan makanan dengan sangat baik kepada pengemis yang menghujatnya. Lalu Abubakar mengatakan pada pengemis itu bahwa dirinya memang bukan orang yang biasa datang.
Dia mengatakan bahwa dirinya hanya salah satu dari sahabat orang yang biasa datang, dia datang menggantikan karena orang yang biasa datang itu telah meninggal.
Kemudian Abubakar memberitahu pengemis itu bahwa orang yang biasa datang itu adalah Nabi Muhammad yang selalu dihujat pengemis itu. Pengemis Yahudi itu pun kaget dan menangis. Dia mengaku malu dan tidak menyangka orang yang selalu dihujatnya adalah Rasulullah, orang yang setiap hari memberinya makan dan menyuapinya dengan lembut dan sabar.
Pengemis itu pun tersentuh dengan kemuliaan Nabi dan mengaku menyesal atas perbuatannya selama ini. Di hadapan Abubakar dia pun menyatakan masuk Islam dan bersyahadat bahwa; tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.
Kisah Nabi dan orang Yahudi itu adalah salah satu kisah dalam perjalanan hidup Nabi yang paling membekas di ingatan saya. Saya pertama kali mendengar cerita itu saat mengaji dulu. Kisah itu juga termasuk salah satu kisah hidup Nabi yang popular dan banyak ditulis dan dijadikan cerita di mana-mana.
Apa yang dilakukan Nabi itu adalah sebuah teladan baik yang tidak hanya layak dilakukan umat Islam, tetapi juga oleh manusia pada umumnya. Namun apa yang terjadi di sekitar kita akhir-akhir ini sangat jauh dengan apa yang dicontohkan Nabi itu. Saya heran dan tak habis pikir mengapa akhir-akhir ini banyak orang mengaku pengikut Nabi Muhammad, mengaku umat Rasulullah namun perbuatannya sangat jauh dari teladan Nabi.
Orang-orang yang mengaku pengikut nabi ini selalu meneriakkan kebencian kepada Yahudi juga kepada agama lain. Bahkan sering pula kepada sesama umat Islam namun berbeda pandangan. Padahal dari kisah Nabi sangat jelas dicontohkan, Nabi tidak pernah benci kepada orang Yahudi. Bahkan Nabi memberikan makan dan menyuapinya meski dihujat oleh orang Yahudi itu.
Sekarang, orang yang mengaku pengikut Nabi tidak segan memukul dan membunuh orang yang berbeda keyakinan. Mereka selalu melakukan kekerasan atas nama agama. Kelakuan mereka ini sangat kontras dengan apa yang diteladankan nabi. Jika Nabi bisa membuat orang memeluk Islam dengan cara memberikan contoh teladan sifat mulia, orang-orang yang mengaku pembela agama Nabi saat ini justru membuat orang antipati terhadap Islam karena perbuatan tercela mereka.
Maka tak berlebihan kalau saya mempertanyakan apakah mereka ini memahami ajaran Nabi dan meneladani sikapnya. Tak berlebihan pula jika saya mempertanyakan apakah mereka memahami Islam, ajaran Allah yang dibawa oleh Rasulullah.
Kepada mereka, kepada orang-orang ini, saya sarankan ada baiknya kembali membaca dan mempelajari teladan Nabi, seperti kisah Nabi dan orang Yahudi di atas. Nabi dalam kehidupannya selalu meneladankan bahwa agama yang dibawanya bukanlah agama yang mengancam dan meresahkan.
Islam sebagaimana diajarkan Nabi adalah agama yang melindungi dan mengayomi. Agama yang rahmatan lil alamin, rahmat bagi sekalian alam, bukan hanya rahmat bagi umat muslim saja, tapi rahmat bagi semua manusia, semua ciptaan dan alam semesta.
"shollu 'ala nabii MUHAMMAD"
Sumber : Dian Widyanarko
Sumber VIVAnews

Ketika Beranggapan Bahwa Diri Sendiri Lebih Benar Dan Baik

Wengker.com, Cerita Hikmah - Ibrahim bin Adham suatu ketika sedang berjalan di tepi pantai. Tanpa sengaja, matanya melirik sepasang manusia berduaan dengan begitu mesranya. Terlintas di benak sufi ini bahwa sepasang kekasih itu sedang dimabuk cinta. Bukan hanya mabuk cinta, ternyata mereka juga sedang mabuk dalam arti yang sesungguhnya. Terlihat di sekeliling mereka beberapa botol minuman berseliweran, terdapat bekas botol yang baru saja selesai dikosongkan isinya. Beberapa saat, Ibrahim bin Adham terkesima dengan pemandangan yang dia lihat sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia berpikir betapa musykilnya sepasang manusia ini, bermaksiat sedemikian mudahnya, seakan tak ada dosanya.

Tiba-tiba dalam jarak beberapa meter di depan mereka, gelombang laut mengganas menerjang pinggiran pantai. Menghanyutkan sesiapa yang berdekatan, tak pandang bulu. Beberapa orang berusaha berdiri, berenang, dan berlari menjauh ke arah daratan. Sebagian mereka bisa melepaskan diri dari terjangan ombak. Namun nahas, lima lelaki tak kuasa diseret gelombang. Seketika, lelaki mabuk yang sedang bermesraan di pinggir pantai itu berlarian menuju ke arah lima orang yang hanyut. Ia berusaha menarik satu-persatu lelaki yang hampir terbawa arus. Ibrahim bin Adham yang melihat kejadian itu hanya bisa tercengang, berdiri mematung di tempatnya. Antara tercengang dengan kejadian yang terjadi begitu cepat di depan matanya dan juga tidak bisa berenang.

Sementara si lelaki ini begitu cekatan berlari dan berenang. Tak membutuhkan waktu lama, si pemuda mabuk tadi berhasil menyelamatkan empat orang. Kemudian ia kembali. Namun bukannya kembali ke perempuan yang tadi sempat ditinggalkan sejenak, lelaki ini justru menuju ke arah Ibrahim bin Adham. Belum terjawab kebingungan Ibrahim bin Adham, tiba-tiba saja, ia mengucapkan beberapa kalimat, padahal Ibrahim bin Adham tidak bertanya sepatah katapun.

“Tadi itu aku hanya bisa menyelamatkan empat nyawa, sementara kau seharusnya menyelamatkan sisa satu nyawa yang tidak bisa aku selamatkan.” Belum selesai kebingungan Ibrahim bin Adham, lelaki ini melanjutkan, “Perempuan yang di sebelahku itu adalah ibuku. Dan minuman yang kami minum hanyalah air biasa.” Ia memberikan alasan. Seolah ia mampu membaca semua apa yang dipikirkan oleh Ibrahim bin Adham.

Kejadian sederhana itu mampu menyadarkan sang ulama terkenal, Ibrahim bin Adham. Seketika itu hati beliau dipenuhi sesal dan taubat. Lelaki yang sempat dianggap ahli maksiat ternyata jauh lebih baik dibandingkan beliau yang terkenal ahli ibadah. Kejadian itu begitu membekas dalam hidup Ibrahim bin Adham hingga wafatnya. Jika seorang Ibrahim sang Sufi saja bisa terjebak dalam perangkap itu, bagaimana dengan kita manusia akhir zaman?

Betapa seringnya kita berada di posisi menjustifikasi manusia. Atas sedikit fakta yang kita tahu tentang cuplikan kehidupannya, kita menuduhnya dengan stigma yang sangat tak pantas. Tatkala seorang teman yang tak menyapa ketika berpapasan dengannya sekali waktu, seketika kita beropini bahwa ia sombong. Padahal di balik itu, ia sedang dirundung masalah besar, bersedih, atau juga tak melihat kita. Di saat seorang teman tak memberi kita pinjaman uang, seketika kita menduga bahwa ia pelit. Padahal di balik itu ia sedang berusaha mendapatkan banyak uang untuk kebutuhan ibunya atau untuk membayar utang-utangnya. Di saat seorang karib tak memenuhi undangan kita, terlintas di benak jika ia seorang yang tak menghargai. Padahal di balik itu, dia mendapatkan sebuah tanggungan yang harus segera diselesaikan hari itu juga sementara ia sungkan untuk memohon izin dikarenakan penghormatannya.

Penyebab retaknya ukhwah dengan sesama salah satunya disebabkan urusan salah persepsi. Lalu melahirkan saling mencurigai dan saling bersu’udzon. Tak sengaja ketika kita menganggap seseorang berdasarkan persepsi kita maka yang terjadi adalah rasa kekecewaan terhadap semua orang. Sementara tanpa disadari hal ini juga membangkitkan rasa ego sedikit demi sedikit menjadi pribadi yang superior, tanpa cela, dan antikritik. Sampai akhirnya menganggap diri sendiri adalah segalanya. Sang manusia sempurna dan pemilik kebenaran seorang diri, atau kelompoknya semata. Betapa berbahayanya.

Jauh-jauh hari Nabi SAW mengingatkan, "Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah seduta-dustanya ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara" [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari hadits no. 6064 dan Muslim hadits no. 2563]. Pesan Nabi tidak sekadar nasihat biasa. Beliau mewanti-wanti supaya umatnya selalu menjaga diri. Betapa gelisahnya Nabi jika mengetahui ada diantara umatnya yang saling merendahkan sesama.

Berburuk sangka termasuk laku yang salah, pemantik dosa. Ketika seseorang berburuk sangka dan sangkaannya itu benar, maka sama sekali ia tak akan mendapat pahala apapun. Sementara jika ia berburuk sangka dan sangkaannya itu salah, maka pasti atasnya perbuatan dosa. Betapa tak bermanfaatnya berburuk sangka, menstigmaisasi, dan menghakimi seseorang dari apa yang sedikit pengetahuan kita tentang dia.

Bertemu dengan semua orang seharusnya menjadi cermin untuk diri kita untuk lebih baik lagi. Hal ini diawali dengan rasa saling percaya dan berbaik sangka. Ketika bertemu anak kecil, pikirkan bahwa bisa jadi ia jauh lebih baik dari kita, karena di umurnya yang sedikit, ia masih sedikit dosa dan salah. Ketika bertemu dengan orang tua, pikirkan bahwa ia jauh lebih baik dari kita, karena umurnya yang sudah sepuh, berarti ibadahnya pun jauh lebih banyak dibanding kita. Bertemu orang gila sekalipun ada kesempatan bagi kita berpikir positif, bisa jadi ia lebih baik dan lebih dulu masuk surga dibanding kita. Sebab, orang gila itu tidak dibebani syariat oleh Tuhan yang Maha Adil, sehingga ia tanpa cela. Terlebih ketika bertemu dengan manusia yang cacat fisiknya. Orang buta, tuli, bisu, bisa jadi mereka jauh lebih baik dari kita. Mereka tak pernah menggunakan inderanya untuk meliha, mendengar, dan mengucap dosa. Bukankah mereka lebih selamat di dunia dan akhirat? Lalu masihkah ada kesempatan kita merasa jauh lebih baik, lalu terbersit angkuh dan sombong, dan kemudian merendahkan manusia lainnya, bahkan kemudian menganggap bahwa pemilik kebenaran sempurna adalah sosok diri sendiri seorang? Wajarkah?

Wallahu a’lam bishawab.

Muhammad Ridha Basri, Santri-mahasiswa Lingkar Studi al-Quran (LSQ) Ar-Rahmah, Yogyakarta.

Berkah Zakat dan Sedekah Keluargaku Kembali Utuh dan Rezekipun Berlimpah.

Wengker.com , Namaku Miati, saat ini aku bekerja sebagai BMI di Hong Kong. Akhir bulan ini genap sudah delapan tahun masa kerjaku di negeri beton. Dan akhir bulan ini pula aku memutuskan untuk pulang seterusnya ke kampung halaman.

Aku sudah sangat merindukan anakku dan juga keluargaku. Aku ingin membuka lembaran baru yang sempat rapuh oleh tergerusnya waktu dan disana pula aku menemukan kembali kedamaian hati yang sempat hilang karena kesibukan dunia kerjaku.

Aku bukan pertama kalinya bekerja sebagai BMI di Hong Kong, sebelumnya aku pernah bekerja di Singapura selama dua tahun dan Malaysia dua tahun. Di dua negara tersebut alhamdulillah aku mendapatkan majikan yang baik. Tetapi entah kenapa hasil jerih payahku selama bekerja empat tahun mengalir begitu saja tanpa ada perubahan yang berarti.

Aku memutuskan mengadu nasib ke Hong Kong, dengan harapan siapa tahu dengan bekerja di Hong Kong mendapatkan gaji yang lebih besar dari Singapura dan Malaysia akan merubah perekonomian keluarga, bisa menabung dan membuka usaha di tanah air.

Tidak terasa enam tahun sudah aku bekerja di Hong Kong, majikanku yang baik semakin membuatku betah untuk berlama-lama di Hong Kong.Tetapi lagi-lagi hasil jerih payahku selama enam tahun menguap begitu saja, entah bagaimanapun caranya mengatur keuangan yang baik tetap saja gali lobang tutup lobang. Sepeda motor dan sapi yang aku beli hanya sebagai pemandangan sesaat yang kemudian aku jual untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Anehnya setiap dua tahun sekali aku cuti pulang kampung, aku selalu kebingungan untuk mencar bekal pulang. Terpaksa aku pinjam teman dan pinjam Bank. Hal ini terus berlanjut selama enam tahun masa kontrak kerjaku. Dan setiap pulang cuti aku sudah terbiasa kerja bakti untuk mengembalikan uang ke teman dan melunasi hutang Bank.
Kadang aku merasa bosan dan hatiku ngenes dengan keadaanku seperti ini. Kerja bertahun-tahun hasilnya begini-begini saja.

Di suatu waktu aku iseng -iseng beli majalah islami dan aku baca-baca isinya, tepatnya majalah Iqro (majalah terbitan Dompet Dhuafa Hong Kong). Di setiap lembar isinya aku buka-buka dan menemukan halaman yang berisi tentang zakat dan sedekah. Terbesit hati ini untuk segera berzakat dan sedekah tetapi uang saya minim dan aku berniat zakat setelah gajian.

Alhamdulillah aku mulai belajar rutin berzakat, pertama memang menurut aku sangat berat tetapi aku terus melakukannya. Banyak perubahan positif setelah aku mulai berzakat dan aku pun berniat bersedekah melalui Dompet Dhuafa Hong Kong sebesar $HK1000. Ujian datang menghampiriku. HP ku hilang di depan tempat pengiriman uang setelah aku cari-cari lama tetap saja tidak ketemu. Antara bimbang apakah uang yang akan aku sedekahkan melalui Dompet Dhuafa Hong Kong aku gunakan untuk membeli HP baru ataukah tetap bersedekah?
Bismillah aku niat dan memantapkan diri untuk bersedekah.

Tidak disangka-sangka seminggu kemudian majikanku membelikan HP baru untukku. Dan setelah itu rezeki yang dulu seret alhamdulillah sekarang lancar dan mengalir deras. Dulu setiap cuti pulang kampung majikan hanya membelikan ticket pesawat dari Hong Kong-Jakarta tetapi tidak sampai Lampung dimana daerah tujuanku. Dan dari Jakarta-Lampung aku beli ticket sendiri pun sebaliknya dan ini berlangsung selama 3 kali aku cuti pulang. Tetapi lagi-lagi Allah membukakan pintu rezeki dari arah yang tidak di sangka-sangka. Gajiku yang dulu $3920 sekarang majikanku rutin memberiku gaji $4500 cash setiap bulan, belum lagi bonus-bonus dadakan dari majikan. Dan tiket pesawat yang selama tiga kali cuti pulang yang biasanya aku beli sendiri diganti oleh majikan, majikanku ngasih uang sebesar $7000 cash.

Hal yang membuatku sangat terharu adalah majikanku ngasih uang long service sebesar $35,000. Memang aku sangat berharap majikanku ngasih uang long service tetapi jikalau pun majikanku tidak memberi pun aku akan menerima dengan lapang dada karena memang peraturan di Hong Kong yang berubah. Tetapi alhamdulillah Allah berkehendak lain.

Sungguh dalam  waktu dua tahun ini aku benar-benar merasakan nikmat dari yang tiada terkira.Alloh seperti mengganti hasil kerjaku yang selama enam tahun yang entah tidak tahu kemana hasilnya dengan gajiku selama dua tahun terakhir yang berlimpah.

Aku sungguh sangat malu sama Alloh, jangankan untuk berzakat kadang untuk sedekah $20 saja aku merasa keberatan. Janji Allah itu pasti karena rezeki yang kita sedekahkan tidak akan membuat kita jatuh miskin tetapi justru Allah akan menambah rezeki dari arah mana saja tanpa disangka-sangka.

Anakku di Indonesia diterima di pondok pesantren gontor dan sekarang bisa menimba ilmu di sana. Kakakku yang terkena kanker payudara alhamdulillah sembuh padahal sudah lama sekali mengidapnya bahkan mobil dan harta lain sudah ludes untuk biaya pengobatan, aku rutin kirim uang ke keluarga di kampung dan hutang-hutang ke teman serta bank pun lunas.

Sujud syukurku kepada Allah karena hanya kepada Allah sebaik-baik tempat meminta. Suamiku yang dulu meninggalkanku dan menikah dengan wanita lain tetapi hanya bertahan dua tahun tanpa kehadiran anak setelah bercerai dari istrinya kini kembali kepadaku dan meminta maaf. Umurku pun tidaklah lagi muda dan ada anak yang membutuhkan bimbingan. Aku pun menerimanya kembali dan kami akan membuka lembaran baru menatap masa depan yang lebih cerah. Sungguh keajaiban zakat dan sedekah merubah segalanya terutama dalam kehidupanku. Semoga aku tetap istiqamah untuk zakat dan sedekah dan semoga Allah meridhoi, aamiin.(Ruli)

Sumber DDHK

Malu Masuk Surga

Wengker.com, Hikmah - Dunia hanya panggung sandiwara, kata banyak orang. Ia permainan belaka, betapapun indahnya kenikmatan alam yang pasti bakal rusak ini. Dunia sekadar jembatan bagi kebahagiaan abadi di akhirat nanti. Bergiatlah ibadah dan berbuat baik, kelak kau mendapat surga. Dan teruslah durhaka dan berlaku jahat jika kau menghendaki neraka.
Berangkat dari pandangan biner ini, sebagian orang lantas membuat kesimpulan: tujuan akhir hidup di dunia ini adalah meraih kebahagiaan surgawi. Sedahsyat apapun sensasi kelezatan makanan di dunia, ia akan berhenti di lorong tenggorokan saja. Secantik dan setampan apapun wajah dan tubuh manusia, ia pasti fana dimakan usia. Sementara di surga, kondisi jauh lebih nikmat dan indah akan diperoleh selama-lamanya. Sebuah kebahagiaan yang belum pernah dilihat oleh mata, juga didengar oleh telinga (mâ lâ ‘ainun ra’at wa lâ udzunun sami‘at ).
Tapi benarkah tujuan hakiki hidup adalah mendapatkan surga—dan karenanya otomatis menghindari neraka?
Suatu kali Fudlail ibn 'Iyadl berkata, "Seandainya saya diminta memilih antara dua hal, yakni dibangkitkan lalu dimasukkan surga atau tidak dibangkitkan sama sekali, saya memilih yang kedua." Fudlail malu. Tokoh sufi ternama ini merasa tak pantas menerima ganjaran pahala seandainya ia memang mendapatkannya.
Fudlail ibn ‘Iyâdl bukan sedang ingkar terhadap surga dan kebahagiaan di dalamnya. Gejolak jiwanya lah yang mendorongnya bersikap semacam itu. ‘Abdul-Malik ‘Alî al-Kalib mencatat pernyataan ulama yang juga kerap disapa Abu Ali tersebut dalam kitab
Raudlatuz Zâhidîn ketika membahasan Cinta dan Malu kepada Allah.
Kecintaan Fudlail yang memuncak kepada Tuhannya menghilangkan angan-angan akan pamrih apapun. Kebaikan yang ia lakukan tak ada bandingnya dengan anugerah-Nya yang melimpah. Bahkan kesanggupannya berbuat baik sesungguhnya adalah secuil dari anugerah itu sendiri.
Suatu hari seorang laki-laki datang dan bertanya kepada Fudlail ibn ‘Iyâdl, “Wahai Abu Ali, kapan seseorang mencapai tingkat tertinggi cinta kepada Allah ta'ala?"
"Ketika bagimu sama saja: Allah memberi ataupun tidak. Saat itulah kau di puncak rasa cinta," jawab Fudlail.
Sebagaimana manusia, surga dan neraka adalah makluk. Fudlail berpandangan, Allah adalah hakikat tujuan hidup. Hal ini tercermin dalam tafsirnya terhadap kalimat “Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji‘ûn ". Kita semua hamba Allah, dan kepada-Nya pula kita kembali. Kehambaan yang total membuahkan kesadaran bahwa diri ini tergadai hanya untuk memenuhi permintaan Sang Tuan. Tulus murni tanpa berharap imbalan sedikit pun.
(Mahbib)
NU Online

Berlari Seperti Arif - Cerpen

Wengker.com, Cerpen Religi - “Pas jaman baheula jasa. Allah marentahan Malaikat Jibril supaya ngajemput Nabi Muhammad pang tepang sareng Allah. Jarak yang mereka lalui yaitu dari Masjidil Haram di Mekah. Sampai ke Masjidil Aqsa di Palestina. Lantas sampai ke Allah.” Pak Ujang bercerita. Itulah triknya agar pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam ini lebih menarik. Aku memperhatikan takdzim.
“Jarakna sabaraha asta?” Salah seorang teman bertanya.

“Teubih jasa! Tapi, Nabi Muhammad dan Malaikat Jibril hanya butuh waktu satu malam. Wush!! Lebih cepat dari kecepatan cahaya!” Pak Ujang menirukan gerakan pesawat lewat dengan tangan kanannya. Menambah ketakjuban kami.

“Naek apa, Pak? Kan jaman segitu belum ada pesawat terbang?”

“Pertanyaan yang cerdas! Mereka naik Buraq. Semacam binatang yang seperti kuda, tapi bukan kuda. Badannya panjang. Cepat sekali larinya...” Tiba-tiba Arif muncul dari pintu kelas sambil terengah-engah. Seragam putih merahnya berantakan. Sepertinya ia berlari dari rumahnya. “... secepat larinya si Arip!” Sontak seisi kelas tertawa lepas.

“Tos timana anjeun arip?”

“Punteun, Pak. Hosh...hosh... Rumah abdi jauh. Saya berangkat jam tujuh kurang dari rumah, Pak. Saya sudah berusaha lari. Tapi tetep telat. Maap, Pak!” Arif bercerita dengan nafas tersengal.

“Kalau tak mau telat, berlarilah seperti Buraq!” Seisi kelas kembali tertawa. Arif dipersilahkan duduk. Ia duduk di sampingku. Wajahnya mengguratkan raut wajah jengkel. Namun, selayaknya anak SD pada umumnya. Jengkel itu pudar selaras dengan berjalannya waktu. Dan benar-benar hilang saat bel istirahat berbunyi.

“Berlari seperti Buraq!”

***

Padang rumput hijau nan indah terpapar di hadapanku. Pemandangan yang sangat indah. Aku tak tahu tempat apa ini. Dan akupun tak tahu bagaimana aku bisa berada di tempat ini. Seingatku, aku masih di kelas bersama Arif. Entahlah. Kawanan binatang sejenis kuda –namun bukan kuda, berwarna putih dan berkaki empat berkumpul tak jauh dari tempatku berdiri. Entah binatang apa itu. Ada tulisan arab yang  tak asing tertulis di kening mereka. Sepayang sayap mengepak tertempel di paha mereka. Unicorn? Pegasus? Entahlah. Mereka tak terlihat seperti binatang mitos itu.

Seekor binatang memisahkan diri dari kawanannya. Ia seperti menangis tersedu. Tak lama kemudian, seseorang berjubah putih menghampirinya. Wajahnya tak terlihat jelas. Terbias cahaya dibelakangnya.

“Mengapa kau menangis wahai Buraq?” dengan halus orang itu bertanya. Seakan bertanya pada anak-anak yang menangis di pinggir jalan kelaparan. “Uh! Buraq?” Batinku. Apa aku tak salah dengar? Inikah Buraq yang diceritakan Pak Ujang?

“Aku sering sekali mendengar nama Muhammad bin Abdullah. Namun, tak sedetikpun aku melihat wajahnya. Rindu ini  tak terperi padanya wahai Jibril.” Buraq itu menjawab. “Uh! Jibril?” Batinku. Dunia apa ini? Di mana sebenarnya aku?

“Baiklah. Aku akan mempertemukanmu dengan Muhammad. Aku mendapat tugas bersama Mikail untuk menjemputnya. Kau akan mengantarnya dari Haram ke Aqsa. Kau bisa menjadi tunggangan yang cepat untuknya.” Mimik wajah Buraq berubah sumringah. Merasa cukup. orang berjubah (Jibril) pergi meninggalkan Buraq.

Namun, sesaat setelah Jibril pergi, Buraq kembali termenung. Ia teringat kata-kata “cepat” yang diucapkan Jibril. Aku mencoba melangkah mendekatinya. Namun, langkahku terhenti karena ada seorang lagi yang menghampiri Buraq tersebut. Aku mengernyitkan dahi saat tahu siapa orang itu. Arif?

“Apa yang salah denganmu Buraq?” Tanya Arif.

“Aku akan mengantar Muhammad. Namun, Jibril memintaku untuk menjadi tunggangan yang cepat untuknya. Namun, lariku tak secepat Buraq lainnya.” Arif tersenyum mendengar jawaban Buraq.

“Baiklah Buraq. Berlarilah bersamaku. Akan kuajari kau berlari sebanding, bahkan lebih cepat dari mereka. Aku biasa melakukannya dari rumah ke sekolah.” Arif mengambil ancang-ancang.

Awalnya, mereka hanya berlari-lari kecil. Namun, setelah beberapa saat kecepatan mereka bertambah. Sehingga aku tak dapat melihat gerakan mereka .

Wush!!

Suasana kembali gelap.

***

Perlahan, cahaya kembali muncul dan menghiasi penglihatanku. Nampaknya, aku kenal tempat ini. UKS. Bau obat segera memenuhi hidungku.

“Kumaha, Ji?” Arif dengan tenang menanyaiku dari samping tempat tidur.

“Sakit sekali kepala ini!” Aku memegangi kepalaku.

“Anjeun pingsan di kelas tadi. Pak Ujang memintaku untuk membawamu ke UKS.”

Sesaat, aku teringat sesuatu. “Aduh!”

“Aya naon Pauji?” Arif panik mendengarku mengaduh.

“Surat titipan si ambu kanggo bu guru katinggaleun di bumi. Padahal tadi ntos di duhureun meja.” Aku mengutuk diriku sendiri. Arif hanya tersenyum melihatku mengaduh.

“Tunggu sebentar!” Arif mengambil ancang-ancang. Dan Wush!! Larinya tak terlihat. Belum habis rasa takjubku, Arif sudah kembali membawa surat yang kumaksud.

“Nih suratnya!” Arif menyodorkan surat itu, “Ulah ditinggalkeun deui nya!”

Aku tercengang. Buraq? Lebih baik aku kembali pingsan. Buk!

Krapyak, 13 Mei 2015

----

Muhammad Alvin Fauzi, Siswa MA Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak, aktif di Program Unggulan Menulis di MA Ali Maksum

Kucing Yang malang Pendatang Rahmat Alloh

Wengker.com, Cerita Hikmah - Jasad Syekh Abu Bakr Asy-Syibli memang terkubur dalam tanah sejak tahun 946 silam. Tapi nasihat santri Imam Junaid al-Baghdadi ini seakan terus mengalir kepada generasi-generasi sesudahnya. Salah satunya lewat kisah dalam mimpi, sebagaimana terekam dalam kitab Nashaihul Ibad  karya Syekh Nawawi al-Bantani. Dalam sebuah mimpi seeseorang, Imam Asy-Syibli yang telah wafat itu ditanya Allah, “Kamu tahu, apa yang membuat-Ku mengampuni dosa-dosamu?”

“Amal shalihku.”

“Bukan.”

“Ketulusanku dalam beribadah.”

“Bukan.”

“Hajiku, puasaku, shalatku.”

“Juga bukan.”

“Perjalananku kepada orang-orang shalih dan untuk menimba ilmu.”

“Bukan.”

“Ya Ilahi, lantas apa?” tanya Imam Asy-Syibli.

Allah kemudian menjawabnya dengan mengacu pada kisah pertemuan Imam Asy-Syibli dengan seekor kucing di jalanan kota Baghdad. Kucing kecil itu loyo oleh ganasnya hawa dingin, menyudut ke suatu tempat, berharap kondisi bisa membaik. Imam Asy-Syibli yang tergerak hatinya lantas memungut binatang malang itu, kemudian menghangatkannya di dalam jubah yang ia kenakan. “Lantaran kasih sayangmu kepada kucing itulah, Aku memberikan rahmat kepadamu.”

Cerita hidup para sufi kerap menyibak hal-hal istimewa dari perkara-perkara yang tampak remeh. Sepele di mata manusia tak selalu rendah menurut Tuhan. Kisah di atas seolah mengajari kita tentang pentingnya sikap tawaduk atas segenap kesalehan ibadah betapapun hebatnya; juga keutamaan melembutkan hati dan mengulurkan bantuan, termasuk kepada binatang, apalagi manusia. (Mahbib)
Sumber Info

Belajar Bijaksana Dari Siluman, Bisakah?

Wengker.com, Pendidikan - Antara siluman (si jahat) dan manusia (si baik) kini tampaknya susah dibedakan. Dalam wujud manusia yang santun dan tampak religius, ternyata ada diantaranya yang merupakan penjelmaan siluman. Dan bahkan baru-baru ini pun pemerintah DKI Jakarta sempat heboh dengan anggaran siluman. Pertanyaan mendasarnya adalah, apakah mereka yang dianggap jahat bisa berubah baik dan apakah yang baik atau menganggap dirinya baik akan terus tetap baik? Inilah yang dicoba ditampilkan oleh teater Koma dalam pementasan Opera Ular Putih pada 3-19 April 2015 di Graha Bhakti Budaya Jakarta.

Kisah Ular Putih merupakan cerita klasik asal Tiongkok yang sarat dengan nilai moral. Teater Koma, mampu mementaskannya sesuai dengan situasi kekinian secara apik dan bernas. Kisahnya dimulai dari siluman ular putih (Tinio) yang bertapa selama 1700 tahun sampai akhirnya keinginannya untuk menjadi manusia terkabul. Ia tidak ingin terus menerus menjadi siluman, tetapi ingin merasakan manjadi manusia dengan seluruh suka dan dukanya. Tak sampai di situ, si ular putih pun berkeinginan menikah dengan manusia dan memiliki keturunan. Dengan dukungan siluman ular hijau (Siocing) yang setia menemaninya, ia akhirnya menikah dengan seorang manusia bernama Hanbun.

Setelah menikah, mereka berdua mencurahkan seluruh hidupnya untuk membantu manusia sebagai tabib yang dikenal baik oleh seluruh penduduk kota. Sayangnya, para pembasmi siluman, penerima mandat dari langit datang mengobrak abrik kebahagiaan Tinio dan Hanbun. Pendeta Bahai dan muridnya, Peramal Gowi yang memandang segala sesuatu secara legalistik dan tekstual dalam menafsirkan ajaran agama tetap menganggap Tinio dan Siocing sebagai siluman. Mereka tidak peduli pada segala kebaikan yang telah dilakukan oleh Tinio. Apakah cap siluman memang tidak bisa dibasuh dengan air jenis apapun? Apakah segala kebaikan yang dilakukan oleh mereka yang dianggap jahat, juga akan dikutuk sebagai kejahatan? Mampukan mata hati manusia membedakan mana manusia dan mana siluman? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang terus menggelayut.

N Riantiarno, sutradara Teater Koma mengatakan, tak dapat lagi membedakan antara watak manusia dan siluman. Dengan kata lain, sekarang ini kita hidup diantara mereka yang sifatnya mungkin saja siluman. Mungkin juga dia manusia tapi siluman. Lalu siapa manusia. “Mungkinkan kita bisa berharap ada manusia yang sifatnya betul-betul jujur dan mampu menangani hal-hal yang bersifat siluman? Maksudnya, apa ada manusia yang mampu mengusir siluman dan menjadikan kita semuanya manusia, yang jujur dan tidak korupsi? Atau tak adakah manusia semacam itu?”

Teater Koma sebenarnya sudah pernah mementaskan lakon Opera Ular Putih ini pada 21 tahun lalu, tepatnya pada 23 April hingga 8 Mei 1994. Anehnya lakon itu selalu menemukan cara yang bijak dan bagus sehingga bisa ditempatkan pada masa yang tepat. Dulu dan sekarang tentu saja berbeda. Jika dulu berbicara tentang kekuasaan, kini siapa lagi mampu membedakan antara watak manusia dan siluman. Siapa manusia, siapa siluman.

Kelompok teater ini selalu serius dalam menggarap segala sesuatunya. Dalam produksinya yang ke-139 ini, semuanya dirancang dengan cermat. Sesuai dengan konteks cerita yang berlatar belakang China, berbagai atribut budaya negeri tirai bambu ini sangat menonjol, tetapi N Riantiarno tetap memasukkan unsur lokal seperti motif batik dalam setiap pakaian yang dikenakan pemain. Ia juga menampilkan model ondel-ondel yang mencerminkan budaya Betawi. Musik, skenografi dan pencahayaan dalam Teater Koma selalu tampil secara memukau. Ditambah dengan dialog yang bernas, kadangkala sarkastik yang menyentil para penguasa kini menjadikan seluruh penampilan mereka menjadi suatu pesan moral yang disampaikan secara menghibur, yang membuat para penonton juga bisa tersenyum melakukan upaya reflektif atas perilakunya sendiri, apakah saya ini manusia, siluman, atau manusia sekaligus siluman.

Satu hal penting yang bisa dipelajari dari  Teater Koma bagi kelompok seni pesantren adalah kemampuan mereka dalam menjaga konsistensinya dalam berproduksi dan menghasilkan seniman-seniman berkualitas. Dakwah tak harus dilakukan secara vulgar dalam bentuk ceramah. Walisongo dengan wayangnya merupakan pendekatan yang sangat sukses dalam konteks zamannya. Keberhasilan seni pesantren, tergantung pada kemampuan berinovasi sehingga mampu menarik simpati masyarakat. (mukafi niam)
Sumber info

Kisah Rabi'ah Al Adawiyah

Gasud.com, Sufi - Sufi adalah istilah untuk mereka yang mendalami ilmu tasawwuf, sejenis aliran mistik dalam agama Islam. Sudah menjadi hal yang umum sejak zaman dulu bahwa yang menjadi tokoh sufi adalah berasal dari kalangan kaum laki-laki seperti Al-Hallaj, Jalaluddin Rumi, Syekh Shohibul Faroji Azmatkhan Ba’alawi Al-Husaini, Syekh Abdul Qadir Jaelani, Abu Nawas, Syekh Abul Hasan Asy Syadzili. Laki-laki memang sudah sepantasnya menjadi pemimpin dan tokoh utama dalam setiap bidang. Namun teori itu tak berlaku lagi ketika muncul   seorang tokoh sufi yang berasal dari kaum wanita  yang bernama Siti Rabiatul Adawiyah.

Rabiah adalah sufi pertama yang memperkenalkan ajaran Mahabbah (Cinta) Ilahi, sebuah jenjang (maqam) atau tingkatan yang dilalui oleh seorang salik (penempuh jalan Ilahi). Selain Rabi’ah al-Adawiyah, sufi lain yang memperkenalkan ajaran mahabbah adalah Maulana Jalaluddin Rumi, sufi penyair yang lahir di Persia tahun 604 H/1207 M dan wafat tahun 672 H/1273 M. Jalaluddin Rumi banyak mengenalkan konsep Mahabbah melalui syai’ir-sya’irnya, terutama dalam Matsnawi dan Diwan-i Syam-I Tabriz.

BIOGRAFI RABIAH ADAWIYAH DARI BERBAGAI SUDUT PANDANG
Siti Rabiah Adawiyah lahir di Basra pada tahun 105 H dan meninggal pada tahun 185 H. Siti Rabiah Al Adawiyah adalah salah seorang  perempuan Sufi yang  mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah. Soerang wanita yang alur kehidupannya tidak seperti wanita pada umumnya, ia terisolasi dalam dunia mistisme jauh dari hal-hal duniawi. Tidak ada sesuatu  yang lebih dicintainya di dunia yang melebihi cintanya kepada Allah. Kehidupannya seolah hanya untuk mendapatkan ridho Allah, tidak ada suatu tujuan apapun selain itu. Rabiah pernah mengeungkapkan bentuk penyerahan dirinya kepada Allah, ketulusan ibadahnya kepada Allah dalam syair berikut ini :

“Jika aku menyembah-Mu karena takut api neraka-Mu maka bakarlah aku di dalamnya. Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga-Mu maka haramkanlah aku daripadanya. Tetapi jika aku menyembah-Mu karena kecintaanku kepada-Mu maka berikanlah aku balasan yang besar, berilah aku melihat wajah-Mu yang Maha Besar dan Maha Mulia itu.”

الحب الذي لا تقيده رغبة سوى حب الله وحده

‘Cinta yang murni yang bukan hanya terbatas oleh keinginan adalah cinta kepada Allah semata’

Siti Rabiah Al-adawiyah dilahirkan ditengah keluarga miskin. Seisi rumahnya hanya  dapat ditemukan barang yang memang benar-benar diperlukan saja bahkan konon mereka tidak memiliki setetes minyak (sejenis minyak telon) saja untuk menghangatkan perut anaknya, mereka tidak memiliki lampu untuk menerangi rumahnya. Ayahnya  hanya bekerja mengangkut penumpang menyeberangi Sungai Dijlah dengan menggunakan sampan. Ayah Rabiah Adawiyah pantang untuk meminta-minta kepada orang lain walaupun kondisi ekonominya ditengah kehancuran dan mendekati kesengsaraan. Ayah Rabiah bernama Ismail, nama yang tidak begitu dikenal di wilayahnya, jauh dari keheidupan gemerlap kota Basra yang saat itu merupakan kota besar. Lebih baik mati daripada hidup meminta-minta kepada orang lain bagi Ayah Rabiah Adawiyah. Prinsip yang melekat dalam diri Ayah Rabiah selaku suami dari istri yang memiliki empat anak ini begitu kuat.  Sang suami selalu yakin bahwa pertolongan Allah akan segera datang,  Allah tidak pernah tertidur, Allah selalu akan menjaga dan melindungi istri dan anak-anaknya. Hingga suatu ketika  Isterinya yang malang menangis sedih atas keadaan keluarganya  yang serba memprihatinkan itu. Dalam keadaan yang demikian itu sang istri mengeluh kepada sang suami. Sang suami hanya dapat menekurkan kepala ke atas lutut  hingga akhirnya ia terlena dalam tidurnya. Di dalam tidurnya ia bermimpi melihat Nabi. Nabi membujuknya: “Janganlah engkau bersedih, karena bayi perempuan yang baru dilahirkan itu adalah ratu kaum wanita dan akan menjadi penengah bagi 70 ribu orang di antara kaumku”.  Kemudian Nabi meneruskan; “Besok, pergilah engkau menghadap ‘ Gubernur Bashrah, Isa az-Zadan dan  tuliskan kata-kata berikut ini diatas sehelai kertas putih : ‘Setiap malam engkau mengirimkan shalawat seratus kali kepadaku, dan setiap malam Jum’at empat ratus kali. Kemarin adalah malam Jum’at tetapi engkau lupa melakukannya. Sebagai penebus kelalaianmu itu berikanlah kepada orang ini empat ratus dinar yang telah engkau peroleh secara halal'”. Ketika terjaga dari tidurnya, ayah Rabiah mengucurkan air mata seraya bersyukur kepada Allah karena ia yakin bahwa mimpinya adalah benar dan merupakan petunjuk dari Allah bagi hambanya yang beriman. la pun segera menjalankan petunjuk sebagaimana yang diperintahkan Nabi dalam mimpinya, iamenulis  dan mengirimkannya  tulisannya kepada gubernur melalui pengurus rumah tangga istana. Tidak lama setelah sang Gubernur mambaca surat tersebut, sang gubernur langsung mengirim utusannya untuk membagikan uang  masing-masing dua ribu dinar kepada orang-orang miskin.

Seolah terhanyut dalam kebahagian dan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur karena sang gubernur merasa bahwa dia adalah orang yang istimewa di mata nabi maka ia memberikan hadiah uang empat ribu dinar kepada ayah Rabiah Adawiyah pada awalnya. Namun, setelah beberapa saat  sang gubernur  merasa tidak pantas hanya menghadiahkan uang dalam jumlah tersebut kepada kekasih Allah. Sang gubernur pun berjanji akan memberikan apapun yang  dibutuhkan ayah Rabiah Adawiyah. Kemudian sang gubernur pergi menemui Ayah dirumahnya dan membicarakan semua yang telah ia janjikan bagi ayah Rabiah Adawiyah. Sebagaimana yang penulis baca dan  kutip dari http://cerekaduniaakhirat.blogspot.com yang menceritakan  “Amir itu meminta supaya bapa Rabi’atul-adawiyyah selalu mengunjungi beliau apabila hendakkan sesuatu karena beliau sungguh berasa bertuah dengan kedatangan orang yang hampir dengan Allah. Selepas bapanya meninggal dunia, Basrah dilanda oleh kebuluran. Rabi’atul-adawiyyah berpisah dari adik-beradiknya. Suatu ketika kafilah yang beliau tumpangi itu telah diserang oleh penyamun. Ketua penyamun itu menangkap Rabi’atul-adawiyyah untuk dijadikan barang rampasan untuk dijual ke pasar sebagai abdi. Maka lepaslah ia ke tangan tuan yang baru.

Suatu hari, tatkala beliau pergi ke satu tempat atas suruhan tuannya, beliau telah dikejar oleh orang jahat. beliau lari. Tetapi malang, kakinya tergelincir dan jatuh. Tangannya patah. Beliau berdoa kepada Allah, “Ya Allah! Aku ini orang yatim dan abdi. Sekarang tanganku pula patah. tetapi aku tidak peduli segala itu asalkan Kau rida denganku. tetapi nyatakanlah keridaanMu itu padaku.” Tatkala itu terdengarlah suatu suara malaikat, “Tak mengapa semua penderitaanmu itu. Di hari akhirat kelak kamu akan ditempatkan di peringkat yang tinggi hinggakan Malaikat pun kehairanan melihatmu.” Kemudian pergilah ia semula kepada tuannya. Selepas peristiwa itu, tiap-tiap malam ia menghabiskan masa dengan beribadat kepada Allah, selepas melakukan kerja-kerjanya. Beliau berpuasa berhari-hari. Suatu hari, tuannya terdengar suara rayuan Rabi’atul-adawiyyah di tengah malam yang berdoa kepada Allah : “Tuhanku! Engkau lebih tahu bagaimana aku cenderung benar hendak melakukan perintah-perintahMu dan menghambakan diriku dengan sepenuh jiwa, wahai cahaya mataku. Jikalau aku bebas, aku habiskan seluruh masa malam dan siang dengan melakukan ibadat kepadaMu. Tetapi apa yang boleh aku buat kerana Kau jadikan aku hamba kepada manusia.”

Dilihat oleh tuannya itu suatu pelita yang bercahaya terang tergantung di awang-awangan, dalam bilik Rabi’atul-adawiyyah itu, dan cahaya itu meliputi seluruh biliknya. Sebentar itu juga tuannya berasa adalah berdosa jika tidak membebaskan orang yang begitu hampir dengan Tuhannya. sebaliknya tuan itu pula ingin menjadi khadam kepada Rabi’atul-adawiyyah. Esoknya, Rabi’atul-adawiyyah pun dipanggil oleh tuannya dan diberitahunya tentang keputusannya hendak menjadi khadam itu dan Rabi’atul-adawiyyah bolehlah menjadi tuan rumah atau pun jika ia tidak sudi bolehlah ia meninggalkan rumah itu. Rabi’atul-adawiyyah berkata bahawa ia ingin mengasingkan dirinya dan meninggalkan rumah itu. Tuannya bersetuju. Rabi’atul-adawiyyah pun pergi. Suatu masa Rabi’atul-adawiyyah pergi naik haji ke Mekkah. Dibawanya barang-barangnya atas seekor keldai yang telah tua. Keldai itu mati di tengah jalan. Rakan-rakannya bersetuju hendak membawa barang -barangnya itu tetapi beliau enggan kerana katanya dia naik haji bukan di bawah perlindungan sesiapa. Hanya perlindungan Allah S.W.T. Beliau pun tinggal seorang diri di situ. Rabi’atul-adawiyyah terus berdoa, “Oh Tuhan sekalian alam, aku ini keseorangan, lemah dan tidak berdaya. Engkau juga yang menyuruhku pergi mengunjungi Ka’abah dan sekarang Engkau matikan keldaikudan membiarkan aku keseorangan di tengah jalan.” Serta-merta dengan tidak disangka-sangka keldai itu pun hidup semula. Diletaknya barang-barangnya di atas keldai itu dan terus menuju Mekkah. Apabila hampir ke Ka’abah, beliau pun duduk dan berdoa, “Aku ini hanya sekepal tanah dan Ka’abah itu rumah yang kuat. Maksudku ialah Engkau temui aku sebarang perantaraan.” Terdengar suara berkata, “Rabi’atul-adawiyyah, patutkah Aku tunggangbalikkan dunia ini kerana mu agar darah semua makhluk ini direkodkan dalam namamu dalam suratan takdir? Tidakkah kamu tahu Nabi Musa pun ada hendak melihatKu? Aku sinarkan cahayaKu sedikit sahaja dan dia jatuh pengsan dan Gunung Sinai runtuh menjadi tanah hitam.” Suatu ketika yang lain, semasa Rabi’atul-adawiyyah menuju Ka’abah dan sedang melalui hutan, dilihatnya Ka’abah datang mempelawanya. Melihatkan itu, beliau berkata, “Apa hendakku buat dengan Ka’abah ini; aku hendak bertemu dengan tuan Ka’abah (Allah) itu sendiri. Bukankah Allah juga berfirman iaitu orang yang selangkah menuju Dia, maka Dia akan menuju orang itu dengan tujuh langkah? Aku tidak mahu hanya melihat Ka’abah, aku mahu Allah.” Pada masa itu juga, Ibrahim Adham sedang dalam perjalanan ke Ka’abah. Sudah menjadi amalan beliau mengerjakan sembahyang pada setiap langkah dalam perjalanan itu. Maka oleh itu, beliau mengambil masa empat belas tahun baru sampai ke Ka’bah. Apabila sampai didapatinya Ka’abah tidak ada. Beliau sangat merasa hampa. Terdengar olehnya satu suara yang berkata, “Ka’abah itu telah pergi melawat Rabi’atul -adawiyyah.” Apabila Ka’bah itu telah kembali ke tempatnya dan Rabi’atul-adawiyyah sedang menongkat badannya yang tua itu kepada kepada tongkatnya, maka Ibrahim Adham pun pergi bertemu dengan Rabi’atul-adawiyyah dan berkata “Rabi’atul-adawiyyah, kenapa kamu dengan perbuatanmu yang yang ganjil itu membuat haru-biru di dunia ini?” Rabi’atul-adawiyyah menjawab, “Saya tidak membuat satu apa pun sedemikian itu, tetapi kamu dengan sikap ria (untul mendapat publisiti) pergi ke Ka’abah mengambil masa empat belas tahun.” Ibrahim mengaku yang ia sembahyang setiap langkah dalam perjalanannya. Rabi’atul-adawiyyah berkata, “Kamu isi perjalananmu itu dengan sembahyang,tetapi aku mengisinya dengan perasaan tawaduk dan khusyuk.” Tahun kemudiannya, lagi sekali Rabi’atul-adawiyyah pergi ke Ka’abah. beliau berdoa, “Oh Tuhan! perlihatkanlah diriMu padaku.” Beliau pun berguling-guling di atas tanah dalam perjalanan itu. Terdengar suara, “Rabi’atul-adawiyyah, hati-hatilah, jika Aku perlihatkan diriKu kepadamu, kamu akan jadi abu.” Rabi’atul-adawiyyah menjawab, “Aku tidak berdaya memandang keagungan dan kebesaranMu, kurniakanlah kepadaku kefakiran (zahid) yang mulia di sisiMu.” Terdengar lagi suara berkata, “Kamu tidak sesuai dengan itu. Kemuliaan seperti itu dikhaskan untuk lelaki yang memfanakan diri mereka semasa hidup mereka kerana Aku dan antara mereka dan Aku tidak ada regang walau sebesar rambut pun, Aku bawa orang-orang demikian sangat hampir kepadaKu dan kemudian Aku jauhkan mereka, apabila mereka berusaha untuk mencapai Aku. Rabi’atul-adawiyyah, antara kamu dan Aku ada lagi tujuh puluh hijab atau tirai. Hijab ini mestilah dibuang dulu dan kemudian dengan hati yang suci berhadaplah kepadaKu. Sia-sia sahaja kamu meminta pangkat fakir dari Aku.” Kemudian suara itu menyuruh Rabi’atul-adawiyyah melihat ke hadapan. Dilihatnya semua pandangan telah berubah. Dilihatnya perkara yang luar biasa. Di awang-awangan ternampak lautan darah yang berombak kencang. Terdengar suara lagi, “Rabi’atul-adawiyyah, inilah darah yang mengalir dari mata mereka yang mencintai Kami (Tuhan) dan tidak mahu berpisah dengan Kami. Meskipun mereka dicuba dan diduga, namun mereka tidak berganjak seinci pun dari jalan Kami dan tidak pula meminta sesuatu dari Kami.

Dalam langkah permulaan dalam perjalanan itu, mereka mengatasi semua nafsu dan cita-cita yang berkaitan dengan dunia dan akhirat. Mereka beruzlah (memencilkan diri) dari dunia hingga tidak ada sesiapa yang mengetahui mereka. Begitulah mereka itu tidak mahu publisiti (disebarkan kepada umum) dalam dunia ini.” Mendengar itu, Rabi’atul-adawiyyah berkata, “Tuhanku! Biarkan aku tinggal di Ka’abah.” Ini pun tidak diberi kepada beliau. Beliau dibenarkan kembali ke Basrah dan menghabiskan umurnya di situ dengan sembahyang dan memencilkan diri dari orang ramai.

Suatu hari Rabi’atul-adawiyyah sedang duduk di rumahnya menunggu ketibaan seorang darwisy untuk makan bersamanya dengan maksud untuk melayan darwisy itu, Rabi’atul-adawiyyah meletakkan dua buku roti yang dibuatnya itu di hadapan darwisy itu. Darwisy itu terkejut kerana tidak ada lagi makanan untuk Rabi’atul-adawiyyah. Tidak lama kemudian, dilihatnya seorang perempuan membawa sehidang roti dan memberinya kepada Rabi’atul-adawiyyah menyatakan tuannya menyuruh dia membawa roti itu kepada Rabi’atul-adawiyyah, Rabi’atul-adawiyyah bertanya berapa ketul roti yang dibawanya itu. Perempuan itu menjawab, “Lapan belas.” Rabi’atul-adawiyyah tidak mahu menerima roti itu dan disuruhnya kembalikan kepada tuannya. Perempuan itu pergi. Kemudian datang semula. Rabi’atul-adawiyyah menerima roti itu selepas diberitahu bahawa ada dua puluh ketul roti dibawa perempuan itu. Darwisy itu bertanya kenapa Rabi’atul-adawiyyah enggan menerima dan kemudian menerima pula. Rabi’atul-adawiyyah menjawab, “Allah berfirman dalam Al-Quran iaitu : “Orang yang memberi dengan nama Allah maka Dia akan beri ganjaran sepuluh kali ganda. Oleh itu, saya terima hadiah apabila suruhan dalam Al-Quran itu dilaksanakan.” Suatu hari Rabi’atul-adawiyyah sedang menyediakan makanan. Beliau teringat yang beliau tidak ada sayur. Tiba-tiba jatuh bawang dari bumbung. Disepaknya bawang itu sambil berkata, “Syaitan! Pergi jahanam dengan tipu-helahmu. Adakah Allah mempunyai kedai bawang?” Rabi’atul-adawiyyah berkata, “Aku tidak pernah meminta dari sesiapa kecuali dari Allah dan aku tidak terima sesuatu melainkan dari Allah.”

Suatu hari, Hassan Al-Basri melihat Rabi’atul-adawiyyah dikelilingi oleh binatang liar yang memandangnya dengan kasih sayang. Bila Hassan Al-Basri pergi menujunya, binatang itu lari. Hassan bertanya, “Kenapa binatang itu lari?” Sebagai jawaban, Rabi’atul-adawiyyah bertanya, “Apa kamu makan hari ini?” Hassan menjawab, “Daging.” Rabi’atul- adawiyyah berkata, Oleh kerana kamu makan daging, mereka pun lari, aku hanya memakan roti kering.”

Suatu hari Rabi’atul-adawiyyah pergi berjumpa Hassan Al-Basri. Beliau sedang menangis terisak-isak kerana bercerai (lupa) kepada Allah. Oleh kerana hebatnya tangisan beliau itu, hingga air matanya mengalir dilongkang rumahnya. Melihatkan itu, Rabi’atul-adawiyyah berkata, “Janganlah tunjukkan perasaan sedemikian ini supaya batinmu penuh dengan cinta Allah dan hatimu tenggelam dalamnya dan kamu tidak akan mendapati di mana tempatnya.” Dengan penuh kehendak untuk mendapat publiksiti, suatu hari, Hassan yang sedang melihat Rabi’atul-adawiyyah dalam satu perhimpunan Aulia’ Allah, terus pergi bertemu dengan Rabi’atul-adawiyyah dan berkata, “Rabi’atul-adawiyyah, marilah kita meninggalkan perhimpunan ini dan marilah kita duduk di atas air tasik sana dan berbincang hal-hal keruhanian di sana.” Beliau berkata dengan niat hendak menunjukkan keramatnya kepada orang lain yang ia dapat menguasai air (seperti Nabi Isa a.s. boleh berjalan di atas air). Rabi’atul-adawiyyah berkata, “Hassan, buangkanlah perkara yang sia-sia itu. Jika kamu hendak benar memisahkan diri dari perhimpunan Aulia’ Allah, maka kenapa kita tidak terbang sahaja dan berbincang di udara?” Rabi’atul-adawiyyah berkata bergini kerana beliau ada kuasa berbuat demikian tetapi Hassan tidak ada berkuasa seperti itu. Hassan meminta maaf. Rabi’atul-adawiyyah berkata, “Ketahuilah bahawa apa yang kamu boleh buat, ikan pun boleh buat dan jika aku boleh terbang, lalat pun boleh terbang. Buatlah suatu yang lebih dari perkara yang luarbiasa itu. Carilah ianya dalam ketaatan dan sopan-santun terhadap Allah.” Seorang hamba Allah bertanya kepada Rabi’atul-adawiyyah tentang perkara kahwin. beliau menjawab, “Orang yang berkahwin itu ialah orang yang ada dirinya. Tetapi aku bukan menguasai badan dan nyawaku sendiri. Aku ini kepunyaan Tuhanku. Pintalah kepada Allah jika mahu mengahwini aku.”

Hassan Al-Basri bertanya kepada Rabi’atul-adawiyyah bagaiman beliau mencapai taraf keruhanian yang tinggi itu. Rabi’atul-adawiyyah menjawab, “Aku hilang (fana) dalam mengenang Allah.” Beliau ditanya, “Dari mana kamu datang?” Rabi’atul-adawiyyah menjawab, “Aku datang dari Allah dan kembali kepada Allah.” Rabi’atul-adawiyyah pernah bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad S.A.W. dan baginda bertanya kepadanya sama ada beliau pernah mengingatnya sebagai sahabat. Rabi’atul-adawiyyah menjawab, “Siapa yang tidak kenal kepada tuan? Tetapi apakan dayaku. Cinta kepada Allah telah memenuhi seluruhku, hinggakan tidak ada ruang untuk cinta kepadamu atau benci kepada syaitan.” Demikian petikan dari cerita Rabiah adwiyah versia melayu yang menggambarkan betapa besar kecintaan Rabiah Adawiyah kepada Allah saat ia masih kecil hingga ia dewasa.

Rabi’ah adalah puteri yang keempat dari empat bersaudara. Itulah sebabnya mengapa ia dinamakan Rabiah. Keberadaan cerita Rabiah sebagai cerita yang menarik dan populer pada zamannya banyak disadur dalam berbagai bahasa  yakni cerita rabiah Adawiyah versi Arab, cerita rabiah Adawiyah versi Melayu, termasuk bahasa-bahasa di Nusantara salah satunya adalah cerita Rabiah Adawiyah yang ditulis dalam bahasa Bugis.

Berikut akan disajikan cerita Rabiah Adawiyah dari ketiga versi tersebut yaitu versi Arab, Versi Melayu, dan Versi Bugis berdasar kepada Tesis tentang “Suntingan Teks Kisah Sitti Rabiatul Adawiyah dan Pengangkatan Muatan Lokal” oleh Sitti Gomo Attas mahasiswa pascasarjana, program studi Ilmu Susastra, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.

Ringkasan Cerita Versi Arab

Ketika usianya hampir remaja Rabiah dijadikan budak. Namun, hal ini tidak membuatnya putus harapan untuk tetap mendekatkan diri kepada Allah. Setelah Rabiah dibebaskan dari perbudakan, ia terus menjalankan ibadah kepada Allah.

Beberapa kali laki-laki datang melamar Rabiah, tetapi selalu ia tolak. Diantara laki-laki yang dating melamar Rabiah ada seorang yang berpengaruh di Basrah, namun ditolak Rabiah dengan alasan bahwa ia hanya ingin beribadah kepada Allah . Alasan lain Rabiah menolak lamaran laki-laki yang dating padanya karena mereka tidak ada yang mampu menjawab masalah kehidupan sesudah mati, yang dipertanyakan oleh Rabiah. Kehidupan sufi Rabiah yang mengabdikan dirinya kepada Tuhan ia jalankan sampai akhir hidupnya, tanpa pernah menikah.

Ringkasan Cerita Versi Melayu

Cerita ini dimulai tatkala Rabiah berguru kepada Syekh Junaidi bin Saman farj. Gurunya melamar Rabiah, namun ditolak ooleh Rabiah. Akhirnya Rabiah menerima lamaran gurunya karena takut durhaka. Lamaran itu diterimanya hanya dengan khutbah nikah, tetapi Rabiah meminta suaminya agar tidak menyentuhnya.

Setelah suaminya wafat, Rabiah didatangi oleh empat syekh, yaitu Syekh Syari`at, Syekh Tarikat, Syekh Hakikat, dan Syekh Makrifat. Keempat syekh dating melamar Rabiah. Namun, ia tolak karena tidak bisa menjawab masalah tasawuf yang diajukan oleh raja kepada keempat syekh itu. Hanya Rabiah yang mampu menjawab semua pertanyaan itu. Raja Sa`id yang mengajukan pertanyaan tersebut kagum kepada Rabiah dan melamarnya, tetapi sebelum Rabiah menerima lamaran Raja Sa`id. Rabiah telah berpulang ke rahmatullah yang diikuti oleh Raja Sa`id.

Ringkasan Cerita Versi Bugis

Kisah ini dimulai ketika Sitti Rabiatul Adawiyah berguru kepada seorang syekh yang bernama Zainul Arifin. Karena takut durhaka kepada gurunya, Rabiah pun menerima lamaran yang diajukan oleh Zainul Arifin. Setelah gurunya yang sekaligus menjadi suaminya meninggal dunia, Rabiah dilamar oleh empat bersaudara. Namun, karena alasan bahwa suaminya baru meninggal maka Rabiah menolak lamaran tersebut.

Setelah itu, Rabiah didatangi oleh empat saudagar kaya yang ingin melamarnya. Namun, karena empat saudagar itu tidak mampu menjawab pertanyaan Rabiah tentang isi dunia yaitu laki-laki dan wanita, maka lamaran empat saudagar pun ditolak.

Selanjutnya, datanglah seorang raja bernama Raja Akbar yang mempunyai pengetahuan agama yang cukup tinggi dan mampu menjawab pertanyaan Rabiah tentang makna shalat di hari kemudian. Raja Akbar dengan lancart menjawab semua pertanyaan Rabiah. Akhirnya, rabiah dinikahkan dengan Raja Akbar sesuai dengan hokum yang berlaku dalam perkawinan.

Setelah mereka menikah, tidak lama kemudian Raja akbar dan Rabiah dikaruniai seorang puteri yang diberi nama I Daramatasia. Raja Akbar pernah bernazar jika ia dapat berjodoh dengan Rabiah dan memiliki seorang anaka perempuan, maka ia akanmengawinkan dengan seorang ahli agama yang mengabdikan diri di jalana Allah. Nazar itu diolaksanakan suami-istri (Raja Akbar dan Rabiah) untuk menikahkan puterinya yang telah selesai belajar agama kepada ulama yang shaleh.

Selanjutnya cerita ini menceritakan rumah tangga puteri Rabiah, I Daramatasia dengan suaminya.

Dibawah ini penulis sertakan kutipan Cerita Rabiah dalam versi Bugis yang diambil dari iriantosyahkasim.multiply.com sebagai berikut : Cerita Rabiah dalam versi Bugis mengungkap alur yang sarat dengan nilai-nilai budaya yang dianggap sebagai penyemangat tokoh dalam menjalankan kehidupan. Nilai budaya itu, yakni Siri’ dalam sistem perkawinan yang digambarkan dalam cerita Rabiah. Selain itu, juga Siri dalam semangat merantau dan semangat belajar ilmu agama.

Kisah Rabiah Al Adawiyah dalam versi ini, memberikan penjelasan sistem adat dalam budaya Bugis yang dikenal dengan istilah ‘Pangaderreng’. Panggaderreng dapat diartikan sebagai keseluruhan norma yang meliputi bagaimana seseorang harus bertingkah laku terhadap sesama manusia dan terhadap pranata sosialnya secara timbal balik, dan yang menyebabkan adanya gerak (dinamis) masyarakat.

Unsur terakhir dalam ‘Panggaderreng’ adalah sistem adat yang berasal dari ajaran Islam dan masuk ke dalam “Panggaderreng’ setelah masuknya pengaruh Islam ke dalam masyarakat Bugis sekitar Abad ke-17. Sistem adat masyarakat Bugis terdiri dari lima unsur, yakni Ade’ (adat atau perlakuan budaya), Bicara (pertimbangan), Rapang (Undang-Undang), Wari’ (klasifikasi atas segala peristiwa), dan Sara’ (hukum syariah). Kelima unsur tersebut terjalin satu sama lain sebagai satu kesatuan organisasi dalam alam pikiran orang Bugis, yang memberi dasar sentimen kewargaan masyarakat dan rasa harga diri yang semuanya terkandung dalam konsep siri’. Selanjutnya, kata Sitti Gomo, konsep siri ini adalah nilai budaya yang mengintegrasikan secara organisasi semua unsur ‘Panggaderreng’. Artinya konsep Siri meliputi banyak aspek dalam kehidupan masyarakat dan kebudayaan orang Bugis seperti yang tercermin dalam naskah Rabiah Al-Adawiyah versi Bugis. “C.H. Salambasyah dan kawan-kawan memberikan batasan kata Siri dengan tiga golongan pengertian, yakni Siri itu sama artinya dengan malu, Siri sebagai daya pendorong untuk melenyapkan (membunuh), mengasingkan, dan mengusir terhadap barang siapa atau apa yang menyinggung perasaan mereka, dan Siri itu sebagai semangat (Summange) untuk membanting tulang, bekerja mati-matian untuk suatu usaha.

Persamaan dan Perbedaan

Berdasarkan ringkasan cerita diatas dapat disimpulkan bahwa ketiga cerita tersebut yaitu cerita rabiah versi Arab, cerita rabiah versi Melayu, dan cerita Rabiah versi Bugis mempunyai persamaan dan perbedaan. Untuk jelasnya hal tersebut dapat digambarkan melalui bagan sebagai berikut :


Episode     Cerita Versi   Arab     Cerita Versi Melayu     Cerita Versi Bugis
Sejak kecil Rabiah beribadah dengan baik     +     +     +
Rabiah berguru     -     +     +
Rabiah menjadi ahli agama yang terkenal     +     +     +
Dilamar oleh gurunya     -     +     +
Lamaran gurunya diterima     -     +     +
Rabiah dilamar oleh empat Syekh     -     +     +
Lamaran ditolak     -     +     +
Rabiah dilamar oleh saudagar     +     -     +
Lamaran ditolak Rabiah     +     -     +
Rabiah dilamar oleh raja/penguasa     +     +     +
Rabiah mengajukan pertanyaan     +     -     +
Pertanyaan dapat dijawab     -     -     +
Lamaran diterima     -     -     +
Rabiah menikah     -     -     +
Rabiah memiliki anak     -     -     +

Keterangan : (+) = ada/ya       (-) = tidak/tidak ada

Dari gambaran diatas terlihat adanya perbedaan dan persamaan peristiwa dalam cerita versi Arab, cerita versi Melayu, dan cerita versi Bugis. Persamaan yang dpat ditemukan dalam tiga ketiga cerita tersebut berdasarkan episode ialah peristiwa masa kecil Rabiah yang telah mampu beribadah dengan baik. Peristiwa penguasaan agama secara tuntas sehingga menjadi sufi yang terkenal di negerinya. Kecantikan dan ilmu tinggi dimiliki oleh Rabiah. Ketika itu, banyak yang dating melamar  Rabiah termasuk penguas dinegerinya. Ketiga peristiwa tersebut diungkapkan didalam ketiga cerita sebagai bentuk dasar cerita.

Sebaliknya berdasarkan bagan diatas terdapat perbedaan yang ditemukan oleh peneliti dalam ketiga cerita tersebut. Pada cerita versi Arab menunjukan tokoh Rabiah sampai akhir hidupnya tidak menikah, sedangkan pada cerita versi Melayu tokoh rabiah akhirnya menerima lamaran gurunya, dengan syarat gurunya tidak boleh menyentuh dirinya. Pada cerita versi Bugis tokoh rabiah justru menerima lamaran gurunya dan menikah dengan Raja Akbar serta memiliki anak.



KARYA RABIAH ADAWIYAH

Rabiah Adawaiyah dianugerahi kemampuan luar biasa dalam bidang sastra. Ia mampu membuat puisi/syair yang begitu indah melambangkan kecintaan beliau kepada Allah. Berikut salah satu puisi karya Rabiah Adawiyah

يا ســروري ومـنـيـتـي وعـمـادي ::::: وأنـيــســي وعــدتي ومرادي.

أنـت روح الـفـؤاد أنــت رجــائي ::::: أنت لي مؤنس وشوقك زادي.

أنـت لـولاك يـا حـيـاتـي وأنـسـي ::::: مـا تـشتـت فـي فـسيــح البلاد.

كـم بـدت مـنـةٌ، وكـم لـك عـنـدي ::::: مـن عـطــاء ونـعـمـة وأيـادي.

حـبـك الآن بـغـيـتـي ونـعـيـمــي ::::: وجــلاء لـعـيـن قـلبي الصادي.

إن تـكـن راضـيـاً عـنـي فـأنـني ::::: يا مـنـي الـقـلـب قد بدا إسعادي



Rabiah Adawiyah dikenal sebagai sufi yang mendalami tentang Mahabbah. Berikut adalah kumpulan syair Mahabbah karya Rabiah Adawiyah

Cinta tidak pernah meminta, ia senantiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam, tak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta di situ ada kehidupan; manakala kebencian membawa kepada kemusnahan.

Tuhan memberi kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah namanya Cinta.

Ada dua titis air mata mengalir di sebuah sungai. Satu titis air mata tu menyapa air mata yg satu lagi,” Saya air mata seorang gadis yang mencintai seorang lelaki tetapi telah kehilangannya. Siapa kamu pula?”. Jawab titis air mata kedua itu,” Saya air mata seorang lelaki yang menyesal membiarkan seorang gadis yang mencintai saya berlalu begitu sahaja.”

Cinta sejati adalah ketika dia mencintai orang lain, dan kamu masih mampu tersenyum, sambil berkata: aku turut bahagia untukmu.

Jika kita mencintai seseorang, kita akan sentiasa mendoakannya walaupun dia tidak berada disisi kita.

Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba. Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup. Jangan sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi jika kamu masih tidak dapat melupakannya.

Perasaan cinta itu dimulai dari mata, sedangkan rasa suka dimulai dari telinga. Jadi jika kamu mahu berhenti menyukai seseorang, cukup dengan menutup telinga. Tapi apabila kamu Coba menutup matamu dari orang yang kamu cintai, cinta itu berubah menjadi titisan air mata dan terus tinggal dihatimu dalam jarak waktu yang cukup lama.

Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan kembali kepercayaan.

Jangan simpan kata-kata cinta pada orang yang tersayang sehingga dia meninggal dunia , lantaran akhirnya kamu terpaksa catatkan kata-kata cinta itu pada pusaranya . Sebaliknya ucapkan kata-kata cinta yang tersimpan dibenakmu itu sekarang selagi ada hayatnya.

Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dan bercinta dengan orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterima kasih atas kurniaan itu.

Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat -Hamka

Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat.

Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya.

Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu. Hanya untuk menemukan bahawa pada akhirnya menjadi tidak bererti dan kamu harus membiarkannya pergi.

Kamu tahu bahwa kamu sangat merindukan seseorang, ketika kamu memikirkannya hatimu hancur berkeping.

Dan hanya dengan mendengar kata “Hai” darinya, dapat menyatukan kembali kepingan hati tersebut.

Tuhan ciptakan 100 bahagian kasih sayang. 99 disimpan disisinya dan hanya 1 bahagian diturunkan ke dunia. Dengan kasih sayang yang satu bahagian itulah, makhluk saling berkasih sayang sehingga kuda mengangkat kakinya kerana takut anaknya terpijak.

Kadangkala kamu tidak menghargai orang yang mencintai kamu sepenuh hati, sehinggalah kamu kehilangannya. Pada saat itu, tiada guna sesalan karena perginya tanpa berpatah lagi.

Jangan mencintai seseorang seperti bunga, kerana bunga mati kala musim berganti. Cintailah mereka seperti sungai, kerana sungai mengalir selamanya.

Cinta mampu melunakkan besi, menghancurkan batu, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dasyatnya cinta !

Permulaan cinta adalah membiarkan orang yang kamu cintai menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kamu temukan di dalam dirinya.

Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setitis embun yang turun dari langit,bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus,tumbuhlah oleh kerana embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur,di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji.~ Hamka

Kata-kata cinta yang lahir hanya sekadar di bibir dan bukannya di hati mampu melumatkan seluruh jiwa raga, manakala kata-kata cinta yang lahir dari hati yang ikhlas mampu untuk mengubati segala luka di hati orang yang mendengarnya.

Kamu tidak pernah tahu bila kamu akan jatuh cinta. namun apabila sampai saatnya itu, raihlah dengan kedua tanganmu,dan jangan biarkan dia pergi dengan sejuta rasa tanda tanya dihatinya

Cinta bukanlah kata murah dan lumrah dituturkan dari mulut ke mulut tetapi cinta adalah anugerah Tuhan yang indah dan suci jika manusia dapat menilai kesuciannya.

Bukan laut namanya jika airnya tidak berombak. Bukan cinta namanya jika perasaan tidak pernah terluka. Bukan kekasih namanya jika hatinya tidak pernah merindu dan cemburu.

Bercinta memang mudah. Untuk dicintai juga memang mudah. Tapi untuk dicintai oleh orang yang kita cintai itulah yang sukar diperoleh.

Satu-satunya cara agar kita memperolehi kasih sayang, ialah jangan menuntut agar kita dicintai, tetapi mulailah memberi kasih sayang kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan.

Bidadari Yang Dibawa Jibril

Sebelum jilbab populer seperti sekarang ini, Hindun sudah selalu memakai busana muslimah itu. Dia memang seorang muslimah taat dari keluarga taat. Meski mulai SD tidak belajar agama di madrasah, ketaatannya terhadap agama, seperti shalat pada waktunya, puasa Senin-Kamis, salat Dhuha, dsb, tidak kalah dengan mereka yang dari kecil belajar agama. Apalagi setelah di perguruan tinggi. Ketika di perguruan tinggi dia justru seperti mendapat kesempatan lebih aktif lagi dalam kegiatan-kegiatan keagamaan. Dalam soal syariat agama, seperti banyak kaum muslimin kota yang sedang semangat-semangatnya berislam ria, sikapnya tegas. Misalnya bila dia melihat sesuatu yang menurut pemahamannya mungkar, dia tidak segan-segan menegur terang-terangan. Bila dia melihat kawan perempuannya yang muslimah, dia biasa memanggilnya ukhti jilbabnya kurang rapat, misalnya, langsung dia akan menyemprotnya dengan lugas. Dia pernah menegur dosennya yang dilihatnya sedang minum dengan memegang gelas tangan kiri, "Bapak kan muslim, mestinya bapak tahu soal tayammun," katanya, "Nabi kita menganjurkan agar untuk melakukan sesuatu yang baik, menggunakan tangan kanan!" Dosen yang lain ditegur terang- terangan karena merokok. "Merokok itu salah satu senjata setan untuk menyengsarakan anak Adam di dunia dan akherat. Sebagai dosen, Bapak tidak pantas mencontohkan hal buruk seperti itu." Dia juga pernah menegur terang-terangan dosennya yang memelihara anjing. "Bapak tahu enggak? Bapak kan muslim?! Anjing itu najis dan malaikat tidak mau datang ke rumah orang yang ada anjingnya!" Di samping ketaatan dan kelugasannya, apabila bicara tentang Islam, Hindun selalu bersemangat. Apalagi bila sudah bicara soal kemungkaran dan kemaksiatan yang merajalela di Tanah Air yang menurutnya banyak dilakukan oleh orang-orang Islam, wah, dia akan berkobar-kobar bagaikan banteng luka. Apalagi bila melihat atau mendengar ada orang Islam melakukan perbuatan yang menurutnya tidak rasional, langsung dia mengecapnya sebagai klenik atau bahkan syirik yang harus diberantas. Dia pernah ikut mengoordinasi berbagai demonstrasi, seperti menuntut ditutupnya tempat-tempat yang disebutnya sebagai tempat-tempat maksiat, demonstrasi menentang sekolah yang melarang muridnya berjilbab, hingga demonstrasi menuntut diberlakukannya syariat Islam secara murni. Mungkin karena itulah, dia dijuluki kawan- kawannya si bidadari tangan besi. Dia tidak marah, tetapi juga tidak kelihatan senang dijuluki begitu. Yang penting menurutnya, orang Islam yang baik harus selalu menegakkan amar makruf nahi mungkar di mana pun berada. Harus membenci kaum yang ingkar dan menyeleweng dari rel agama. Bagi Hindun, amar makruf nahi mungkar bukan saja merupakan bagian dari keimanan dan ketakwaan, tetapi juga bagian dari jihad fi sabilillah. Karena itu dia biarkan saja kawan-kawannya menjulukinya bidadari tangan besi. Ketika beberapa lama kemudian dia menjadi istri kawanku, Mas Danu, ketaatannya kian bertambah, tetapi kelugasan dan kebiasaannya menegur terang- terangan agak berkurang. Mungkin ini disebabkan karena Mas Danu orangnya juga taat, namun sabar dan lemah lembut. Mungkin dia sering melihat bagaimana Mas Danu, dengan kesabaran dan kelembutannya, justru lebih sering berhasil dalam melakukan amar makruf nahi mungkar. Banyak kawan mereka yang tadinya mursal, justru menjadi insaf dan baik oleh suaminya yang lembut itu. Bukan oleh dia. Sudah lama aku tidak mendengar kabar mereka, kabar Mas Danu dan Hindun. Dulu sering aku menerima telepon mereka. Sekadar silaturahmi. Saling bertanya kabar. Tetapi, kemudian sudah lama mereka tidak menelepon. Aku sendiri pernah juga beberapa kali menelepon ke rumah mereka, tapi selalu kalau tidak terdengar nada sibuk, ya, tidak ada yang mengangkat. Karena itu, ketika Mas Danu tiba-tiba menelepon, aku seperti mendapat kejutan yang menggembirakan. Lama sekali kami berbincang-binc ang di telepon, melepas kerinduan. Setel ah saling tanya kabar masing-masing, Mas Danu bilang, "Mas, Sampeyan sudah dengar belum? Hindun sekarang punya syeikh baru lo? "Syeikh baru?" tanyaku. Mas Danu memang suka berkelakar. "Ya, syeikh baru. Tahu, siapa? Sampeyan pasti enggak percaya. "Siapa, mas?" tanyaku benar-benar ingin tahu. "Jibril, mas. Malaikat Jibril!" "Jibril ?" aku tak bisa menahan tertawaku. Kadang-kadang sahabatku ini memang sulit dibedakan apakah sedang bercanda atau tidak. "Jangan ketawa! Ini serius! "Wah. Katanya, bagaimana rupanya?" aku masih kurang percaya. "Dia tidak cerita rupanya, tetapi katanya, Jibril itu humoris seperti Sampeyan. "Saya ngakak. Tetapi, di seberang sana, Mas Danu kelihatannya benar- benar serius, jadi kutahan-tahan juga tawaku. "Bagaimana ceritanya, mas?" Ya, mula-mula dia ikut grup pengajian. Kan di tempat kami sekarang lagi musim grup-grup pengajian. Ada pengajian eksekutif, pengajian seniman, pengajian pensiunan, dan entah apa lagi. Nah, lama-lama gurunya itu didatangi malaikat Jibril dan sekarang malaikat Jibril itulah yang langsung mengajarkan ajaran-ajaran dari langit. Sedangkan gurunya itu hanya dipinjam mulutnya. "Bagaimana mereka tahu bahwa yang datang itu malaikat Jibril?" "Lo, malaikat Jibrilnya sendiri yang mengatakan. Kepada jemaahnya, gurunya itu, maksud saya malaikat Jibril itu, menunjukkan bukti berupa fenomena-fenomena alam yang ajaib yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh manusia. "Ya, tetapi jin dan setan kan bisa melakukan hal seperti itu, mas!" selaku, "Kan ada cerita, dahulu Syeikh Abdul Qadir Jailani, sufi yang termasyhur itu, pernah digoda iblis yang menyamar sebagai Tuhan berbentuk cahaya yang terang benderang. Konon, sebelumnya, Iblis sudah berhasil menjerumuskan 40 sufi dengan cara itu. Tetapi, karena keimanannya yang tebal, Syeikh Abdul Qadir bisa mengenalinya dan segera mengusirnya. "Tak tahulah, mas. Yang jelas jemaahnya banyak orang pintarnya lo." Wah. "Ketika percakapan akhirnya disudahi dengan janji dari Mas Danu dia akan terus menelepon bila sempat, aku masih tertegun. Aku membayangkan sang bidadari bertangan besi yang begitu tegar ingin memurnikan agama itu kini "hanya" menjadi pengikut sebuah aliran yang menurut banyak orang tidak rasional dan bahkan berbau klenik. Allah Maha kuasa! Dialah yang kuasa menggerakkan hati dan pikiran orang. Beberapa minggu kemudian aku mendapat telepon lagi dari sahabatku Mas Danu. Kali ini, dia bercerita tentang istrinya dengan nada seperti khawatir. "Wah, mas, Hindun baru saja membakar diri. "Apa, mas?" aku terkejut setengah mati, "membakar diri bagaimana?" Gurunya yang mengaku titisan Jibril itu mengajak jemaahnya untuk membersihkan diri dari kekotoran- kekotoran dosa. Mereka menyiram diri mereka dengan spritus kemudian membakarnya. "Hei," aku ternganga. Dalam hati aku khawatir juga, soalnya aku pernah mendengar di luar negeri pernah terjadi jemaah yang diajak guru mereka bunuh diri. "Yang lucu, mas," suara Mas Danu terdengar lagi melanjutkan, "gurunya itu yang paling banyak terbakar bagian-bagian tubuhnya. Berarti kan dia yang paling banyak dosanya ya, mas?! "Aku mengangguk, lupa bahwa kami sedang bicara via telepon. "Doakan sajalah mas!" kata sahabatku di seberang menutup pembicaraan. Beberapa hari kemudian Mas Danu menelepon lagi, menceritakan bahwa istrinya kini jarang pulang. Katanya ada tugas dari Syeikh Jibril yang mengharuskan jemaahnya berkumpul di suatu tempat. Tugas berat, tetapi suci. Memperbaiki dunia yang sudah rusak ini. "Pernah pulang sebentar, mas" kata Mas Danu di telepon, "dan Sampeyan tahu apa yang dibawanya? Dia pulang sambil memeluk anjing. Entah dapat dari mana? "Setelah itu, Mas Danu tidak pernah menelepon lagi. Aku mencoba menghubunginya juga tidak pernah berhasil. Baru hari ini. Tak ada hujan tak ada angin, aku menerima pesan di HP-ku, SMS, isinya singkat: "Mas, Hindun sekarang sudah keluar dari Islam. Dia sudah tak berjilbab, tak salat, tak puasa. (Danu). "Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Mas Danu saat menulis SMS itu. Aku sendiri yang menerima pesan itu, tidak bisa menggambarkan perasaanku sendiri. Hanya dari mulutku meluncur saja ucapan masya Allah. Oleh KH. A. Mustofa Bisri , Rembang, Akhir Ramadan 1423 Pernah dimuat di media Indonesia, 3 September 2003
Untuk dapat mendengarkan radio ini anda harus menginstall flash player klik disini untuk download
Winamp Windows Media Player iTunes basicBerry Real One Android iPhone