Pendekar Pagar Nusa Asal Joresan Ponorogo Kenalkan Pencak Silat Di Negara Fiji

Wengker.com, PSNU Pagar Nusa - Iman Widodo, seorang pendekar asal Desa Joresan, Ponorogo yang juga pengurus Pencak Silat NU Pagar Nusa Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, mendapatkan kesempatan untuk mengenalkan pencak silat kepada Angkatan Bersenjata Republik Fiji (RFMF) dan Kepolisian Fiji, pertengahan Mei ini. Dalam kesempatan tersebut, Iman yang memakai pakaian khas Pagar Nusa dengan sabuk hijau, memeragakan sejumlah jurus pencak silat, untuk kemudian para tentara dan polisi tersebut juga mengikuti jurus-jurus yang diperagakan Iman. “Semoga sedulur yang lain bisa melanjutkan ke negeri yang lain. Mengabarkan bahwa Pencak Silat Indonesia adalah The Heritage of Nusantara, The art of peace and wisdom,” kata tokoh Padepokan Gebang Tinatar Ponorogo saat dihubungi Media Online melalui akun facebook-nya, Kamis (21/5).

Salah satu pendiri Pagar Nusa Bedi Polorejo ini menjelaskan, perjalanan mereka merupakan bagian dari nota kesepahaman yang ditandatangani antara Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Indonesia dan Fiji Pemuda dan Olahraga di Jakarta Kota tahun lalu. Sementara itu, dikutip dari portal berita fijisun.com, Wakil Menteri Kementerian pemuda Indonesia untuk Harmonisasi dan Kemitraan, Mirhan Tabrani memaparkan beberapa poin pada kunjungan tersebut, "Kami sangat senang. Dari pihak Indonesia, kita bisa menerapkan tiga poin; yang melampirkan staf dari Fiji ke pelayanan kami di Jakarta untuk belajar tentang program kewirausahaan pemuda dan menerapkannya di Fiji, pengembangan rugby di Indonesia yang merupakan salah satu yang sangat baik dan Pemuda Jambore Pramuka di Jakarta yang akan dihadiri oleh pemuda dari Fiji , "kata Tabrani. (Ajie Najmuddin/Mahbib/Ardi)
Sumber Info

Selamat Atas Warga Baru Pagar Nusa Polorejo

Gasud.com, Pagar Nusa - Sudah menjadi agenda rutin bagi Pencak Silat Nahdlatul Ulama' Pagar Nusa Ranting Polorejo Kec. Babadan, Ponorogo, setiap awal tahun Hijriyah untuk melaksanakan ziarah makam Gus Maksum selaku pendiri GASMI (Gerakan Aksi Silat Muslimin Indonesia) dan juga sebagai Ketua Umum Pagar Nusa pertama kali, beserta para kyai sepuh Pondok Lirboyo Kediri Jawa Timur. Kegiatan ini dilaksanakan 09 November 2014 yang diikuti olah ratusan pesilat Pagar Nusa dari berbagai ranting yang ada di Ponorogo termasuk Pagar Nusa Ranting Polorejo yang selama ini rutin berlatih Pencak Silat di halaman Masjid Ibrahim Al Ghozali, Bedi, Polorejo, Babadan, Ponorogo.
Kegiatan ini diawali dengan Ijazahan yang bertempat di aula lantai 2 Ponpes Lirboyo, Ziarah makam, setelah itu Sholat Dzuhur berjamaah, dan setelah itu langsung sowan kerumah keluarga ndalem (Rumah Gus Bidin) selaku Guru Besar GASMI (Gerakan Aksi Silat Muslimin Indonesia) saat ini untuk makan siang. Syukur Alhamdulillah pada tahun ini Ranting Polorejo mengirimkan 23 anggota untuk mengikuti kegiatan ini. Semoga adanya olah raga Bela Diri yang juga termasuk salah satu Badan Otonom Nahdlatul Ulama' ini, mampu mencetak kader kader, generasi NU yang mumpuni, berguna bagi lingkungan, masyarakat, NU, Nusa dan bangsa.

Kisah Rabi'ah Al Adawiyah

Gasud.com, Sufi - Sufi adalah istilah untuk mereka yang mendalami ilmu tasawwuf, sejenis aliran mistik dalam agama Islam. Sudah menjadi hal yang umum sejak zaman dulu bahwa yang menjadi tokoh sufi adalah berasal dari kalangan kaum laki-laki seperti Al-Hallaj, Jalaluddin Rumi, Syekh Shohibul Faroji Azmatkhan Ba’alawi Al-Husaini, Syekh Abdul Qadir Jaelani, Abu Nawas, Syekh Abul Hasan Asy Syadzili. Laki-laki memang sudah sepantasnya menjadi pemimpin dan tokoh utama dalam setiap bidang. Namun teori itu tak berlaku lagi ketika muncul   seorang tokoh sufi yang berasal dari kaum wanita  yang bernama Siti Rabiatul Adawiyah.

Rabiah adalah sufi pertama yang memperkenalkan ajaran Mahabbah (Cinta) Ilahi, sebuah jenjang (maqam) atau tingkatan yang dilalui oleh seorang salik (penempuh jalan Ilahi). Selain Rabi’ah al-Adawiyah, sufi lain yang memperkenalkan ajaran mahabbah adalah Maulana Jalaluddin Rumi, sufi penyair yang lahir di Persia tahun 604 H/1207 M dan wafat tahun 672 H/1273 M. Jalaluddin Rumi banyak mengenalkan konsep Mahabbah melalui syai’ir-sya’irnya, terutama dalam Matsnawi dan Diwan-i Syam-I Tabriz.

BIOGRAFI RABIAH ADAWIYAH DARI BERBAGAI SUDUT PANDANG
Siti Rabiah Adawiyah lahir di Basra pada tahun 105 H dan meninggal pada tahun 185 H. Siti Rabiah Al Adawiyah adalah salah seorang  perempuan Sufi yang  mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah. Soerang wanita yang alur kehidupannya tidak seperti wanita pada umumnya, ia terisolasi dalam dunia mistisme jauh dari hal-hal duniawi. Tidak ada sesuatu  yang lebih dicintainya di dunia yang melebihi cintanya kepada Allah. Kehidupannya seolah hanya untuk mendapatkan ridho Allah, tidak ada suatu tujuan apapun selain itu. Rabiah pernah mengeungkapkan bentuk penyerahan dirinya kepada Allah, ketulusan ibadahnya kepada Allah dalam syair berikut ini :

“Jika aku menyembah-Mu karena takut api neraka-Mu maka bakarlah aku di dalamnya. Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga-Mu maka haramkanlah aku daripadanya. Tetapi jika aku menyembah-Mu karena kecintaanku kepada-Mu maka berikanlah aku balasan yang besar, berilah aku melihat wajah-Mu yang Maha Besar dan Maha Mulia itu.”

الحب الذي لا تقيده رغبة سوى حب الله وحده

‘Cinta yang murni yang bukan hanya terbatas oleh keinginan adalah cinta kepada Allah semata’

Siti Rabiah Al-adawiyah dilahirkan ditengah keluarga miskin. Seisi rumahnya hanya  dapat ditemukan barang yang memang benar-benar diperlukan saja bahkan konon mereka tidak memiliki setetes minyak (sejenis minyak telon) saja untuk menghangatkan perut anaknya, mereka tidak memiliki lampu untuk menerangi rumahnya. Ayahnya  hanya bekerja mengangkut penumpang menyeberangi Sungai Dijlah dengan menggunakan sampan. Ayah Rabiah Adawiyah pantang untuk meminta-minta kepada orang lain walaupun kondisi ekonominya ditengah kehancuran dan mendekati kesengsaraan. Ayah Rabiah bernama Ismail, nama yang tidak begitu dikenal di wilayahnya, jauh dari keheidupan gemerlap kota Basra yang saat itu merupakan kota besar. Lebih baik mati daripada hidup meminta-minta kepada orang lain bagi Ayah Rabiah Adawiyah. Prinsip yang melekat dalam diri Ayah Rabiah selaku suami dari istri yang memiliki empat anak ini begitu kuat.  Sang suami selalu yakin bahwa pertolongan Allah akan segera datang,  Allah tidak pernah tertidur, Allah selalu akan menjaga dan melindungi istri dan anak-anaknya. Hingga suatu ketika  Isterinya yang malang menangis sedih atas keadaan keluarganya  yang serba memprihatinkan itu. Dalam keadaan yang demikian itu sang istri mengeluh kepada sang suami. Sang suami hanya dapat menekurkan kepala ke atas lutut  hingga akhirnya ia terlena dalam tidurnya. Di dalam tidurnya ia bermimpi melihat Nabi. Nabi membujuknya: “Janganlah engkau bersedih, karena bayi perempuan yang baru dilahirkan itu adalah ratu kaum wanita dan akan menjadi penengah bagi 70 ribu orang di antara kaumku”.  Kemudian Nabi meneruskan; “Besok, pergilah engkau menghadap ‘ Gubernur Bashrah, Isa az-Zadan dan  tuliskan kata-kata berikut ini diatas sehelai kertas putih : ‘Setiap malam engkau mengirimkan shalawat seratus kali kepadaku, dan setiap malam Jum’at empat ratus kali. Kemarin adalah malam Jum’at tetapi engkau lupa melakukannya. Sebagai penebus kelalaianmu itu berikanlah kepada orang ini empat ratus dinar yang telah engkau peroleh secara halal'”. Ketika terjaga dari tidurnya, ayah Rabiah mengucurkan air mata seraya bersyukur kepada Allah karena ia yakin bahwa mimpinya adalah benar dan merupakan petunjuk dari Allah bagi hambanya yang beriman. la pun segera menjalankan petunjuk sebagaimana yang diperintahkan Nabi dalam mimpinya, iamenulis  dan mengirimkannya  tulisannya kepada gubernur melalui pengurus rumah tangga istana. Tidak lama setelah sang Gubernur mambaca surat tersebut, sang gubernur langsung mengirim utusannya untuk membagikan uang  masing-masing dua ribu dinar kepada orang-orang miskin.

Seolah terhanyut dalam kebahagian dan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur karena sang gubernur merasa bahwa dia adalah orang yang istimewa di mata nabi maka ia memberikan hadiah uang empat ribu dinar kepada ayah Rabiah Adawiyah pada awalnya. Namun, setelah beberapa saat  sang gubernur  merasa tidak pantas hanya menghadiahkan uang dalam jumlah tersebut kepada kekasih Allah. Sang gubernur pun berjanji akan memberikan apapun yang  dibutuhkan ayah Rabiah Adawiyah. Kemudian sang gubernur pergi menemui Ayah dirumahnya dan membicarakan semua yang telah ia janjikan bagi ayah Rabiah Adawiyah. Sebagaimana yang penulis baca dan  kutip dari http://cerekaduniaakhirat.blogspot.com yang menceritakan  “Amir itu meminta supaya bapa Rabi’atul-adawiyyah selalu mengunjungi beliau apabila hendakkan sesuatu karena beliau sungguh berasa bertuah dengan kedatangan orang yang hampir dengan Allah. Selepas bapanya meninggal dunia, Basrah dilanda oleh kebuluran. Rabi’atul-adawiyyah berpisah dari adik-beradiknya. Suatu ketika kafilah yang beliau tumpangi itu telah diserang oleh penyamun. Ketua penyamun itu menangkap Rabi’atul-adawiyyah untuk dijadikan barang rampasan untuk dijual ke pasar sebagai abdi. Maka lepaslah ia ke tangan tuan yang baru.

Suatu hari, tatkala beliau pergi ke satu tempat atas suruhan tuannya, beliau telah dikejar oleh orang jahat. beliau lari. Tetapi malang, kakinya tergelincir dan jatuh. Tangannya patah. Beliau berdoa kepada Allah, “Ya Allah! Aku ini orang yatim dan abdi. Sekarang tanganku pula patah. tetapi aku tidak peduli segala itu asalkan Kau rida denganku. tetapi nyatakanlah keridaanMu itu padaku.” Tatkala itu terdengarlah suatu suara malaikat, “Tak mengapa semua penderitaanmu itu. Di hari akhirat kelak kamu akan ditempatkan di peringkat yang tinggi hinggakan Malaikat pun kehairanan melihatmu.” Kemudian pergilah ia semula kepada tuannya. Selepas peristiwa itu, tiap-tiap malam ia menghabiskan masa dengan beribadat kepada Allah, selepas melakukan kerja-kerjanya. Beliau berpuasa berhari-hari. Suatu hari, tuannya terdengar suara rayuan Rabi’atul-adawiyyah di tengah malam yang berdoa kepada Allah : “Tuhanku! Engkau lebih tahu bagaimana aku cenderung benar hendak melakukan perintah-perintahMu dan menghambakan diriku dengan sepenuh jiwa, wahai cahaya mataku. Jikalau aku bebas, aku habiskan seluruh masa malam dan siang dengan melakukan ibadat kepadaMu. Tetapi apa yang boleh aku buat kerana Kau jadikan aku hamba kepada manusia.”

Dilihat oleh tuannya itu suatu pelita yang bercahaya terang tergantung di awang-awangan, dalam bilik Rabi’atul-adawiyyah itu, dan cahaya itu meliputi seluruh biliknya. Sebentar itu juga tuannya berasa adalah berdosa jika tidak membebaskan orang yang begitu hampir dengan Tuhannya. sebaliknya tuan itu pula ingin menjadi khadam kepada Rabi’atul-adawiyyah. Esoknya, Rabi’atul-adawiyyah pun dipanggil oleh tuannya dan diberitahunya tentang keputusannya hendak menjadi khadam itu dan Rabi’atul-adawiyyah bolehlah menjadi tuan rumah atau pun jika ia tidak sudi bolehlah ia meninggalkan rumah itu. Rabi’atul-adawiyyah berkata bahawa ia ingin mengasingkan dirinya dan meninggalkan rumah itu. Tuannya bersetuju. Rabi’atul-adawiyyah pun pergi. Suatu masa Rabi’atul-adawiyyah pergi naik haji ke Mekkah. Dibawanya barang-barangnya atas seekor keldai yang telah tua. Keldai itu mati di tengah jalan. Rakan-rakannya bersetuju hendak membawa barang -barangnya itu tetapi beliau enggan kerana katanya dia naik haji bukan di bawah perlindungan sesiapa. Hanya perlindungan Allah S.W.T. Beliau pun tinggal seorang diri di situ. Rabi’atul-adawiyyah terus berdoa, “Oh Tuhan sekalian alam, aku ini keseorangan, lemah dan tidak berdaya. Engkau juga yang menyuruhku pergi mengunjungi Ka’abah dan sekarang Engkau matikan keldaikudan membiarkan aku keseorangan di tengah jalan.” Serta-merta dengan tidak disangka-sangka keldai itu pun hidup semula. Diletaknya barang-barangnya di atas keldai itu dan terus menuju Mekkah. Apabila hampir ke Ka’abah, beliau pun duduk dan berdoa, “Aku ini hanya sekepal tanah dan Ka’abah itu rumah yang kuat. Maksudku ialah Engkau temui aku sebarang perantaraan.” Terdengar suara berkata, “Rabi’atul-adawiyyah, patutkah Aku tunggangbalikkan dunia ini kerana mu agar darah semua makhluk ini direkodkan dalam namamu dalam suratan takdir? Tidakkah kamu tahu Nabi Musa pun ada hendak melihatKu? Aku sinarkan cahayaKu sedikit sahaja dan dia jatuh pengsan dan Gunung Sinai runtuh menjadi tanah hitam.” Suatu ketika yang lain, semasa Rabi’atul-adawiyyah menuju Ka’abah dan sedang melalui hutan, dilihatnya Ka’abah datang mempelawanya. Melihatkan itu, beliau berkata, “Apa hendakku buat dengan Ka’abah ini; aku hendak bertemu dengan tuan Ka’abah (Allah) itu sendiri. Bukankah Allah juga berfirman iaitu orang yang selangkah menuju Dia, maka Dia akan menuju orang itu dengan tujuh langkah? Aku tidak mahu hanya melihat Ka’abah, aku mahu Allah.” Pada masa itu juga, Ibrahim Adham sedang dalam perjalanan ke Ka’abah. Sudah menjadi amalan beliau mengerjakan sembahyang pada setiap langkah dalam perjalanan itu. Maka oleh itu, beliau mengambil masa empat belas tahun baru sampai ke Ka’bah. Apabila sampai didapatinya Ka’abah tidak ada. Beliau sangat merasa hampa. Terdengar olehnya satu suara yang berkata, “Ka’abah itu telah pergi melawat Rabi’atul -adawiyyah.” Apabila Ka’bah itu telah kembali ke tempatnya dan Rabi’atul-adawiyyah sedang menongkat badannya yang tua itu kepada kepada tongkatnya, maka Ibrahim Adham pun pergi bertemu dengan Rabi’atul-adawiyyah dan berkata “Rabi’atul-adawiyyah, kenapa kamu dengan perbuatanmu yang yang ganjil itu membuat haru-biru di dunia ini?” Rabi’atul-adawiyyah menjawab, “Saya tidak membuat satu apa pun sedemikian itu, tetapi kamu dengan sikap ria (untul mendapat publisiti) pergi ke Ka’abah mengambil masa empat belas tahun.” Ibrahim mengaku yang ia sembahyang setiap langkah dalam perjalanannya. Rabi’atul-adawiyyah berkata, “Kamu isi perjalananmu itu dengan sembahyang,tetapi aku mengisinya dengan perasaan tawaduk dan khusyuk.” Tahun kemudiannya, lagi sekali Rabi’atul-adawiyyah pergi ke Ka’abah. beliau berdoa, “Oh Tuhan! perlihatkanlah diriMu padaku.” Beliau pun berguling-guling di atas tanah dalam perjalanan itu. Terdengar suara, “Rabi’atul-adawiyyah, hati-hatilah, jika Aku perlihatkan diriKu kepadamu, kamu akan jadi abu.” Rabi’atul-adawiyyah menjawab, “Aku tidak berdaya memandang keagungan dan kebesaranMu, kurniakanlah kepadaku kefakiran (zahid) yang mulia di sisiMu.” Terdengar lagi suara berkata, “Kamu tidak sesuai dengan itu. Kemuliaan seperti itu dikhaskan untuk lelaki yang memfanakan diri mereka semasa hidup mereka kerana Aku dan antara mereka dan Aku tidak ada regang walau sebesar rambut pun, Aku bawa orang-orang demikian sangat hampir kepadaKu dan kemudian Aku jauhkan mereka, apabila mereka berusaha untuk mencapai Aku. Rabi’atul-adawiyyah, antara kamu dan Aku ada lagi tujuh puluh hijab atau tirai. Hijab ini mestilah dibuang dulu dan kemudian dengan hati yang suci berhadaplah kepadaKu. Sia-sia sahaja kamu meminta pangkat fakir dari Aku.” Kemudian suara itu menyuruh Rabi’atul-adawiyyah melihat ke hadapan. Dilihatnya semua pandangan telah berubah. Dilihatnya perkara yang luar biasa. Di awang-awangan ternampak lautan darah yang berombak kencang. Terdengar suara lagi, “Rabi’atul-adawiyyah, inilah darah yang mengalir dari mata mereka yang mencintai Kami (Tuhan) dan tidak mahu berpisah dengan Kami. Meskipun mereka dicuba dan diduga, namun mereka tidak berganjak seinci pun dari jalan Kami dan tidak pula meminta sesuatu dari Kami.

Dalam langkah permulaan dalam perjalanan itu, mereka mengatasi semua nafsu dan cita-cita yang berkaitan dengan dunia dan akhirat. Mereka beruzlah (memencilkan diri) dari dunia hingga tidak ada sesiapa yang mengetahui mereka. Begitulah mereka itu tidak mahu publisiti (disebarkan kepada umum) dalam dunia ini.” Mendengar itu, Rabi’atul-adawiyyah berkata, “Tuhanku! Biarkan aku tinggal di Ka’abah.” Ini pun tidak diberi kepada beliau. Beliau dibenarkan kembali ke Basrah dan menghabiskan umurnya di situ dengan sembahyang dan memencilkan diri dari orang ramai.

Suatu hari Rabi’atul-adawiyyah sedang duduk di rumahnya menunggu ketibaan seorang darwisy untuk makan bersamanya dengan maksud untuk melayan darwisy itu, Rabi’atul-adawiyyah meletakkan dua buku roti yang dibuatnya itu di hadapan darwisy itu. Darwisy itu terkejut kerana tidak ada lagi makanan untuk Rabi’atul-adawiyyah. Tidak lama kemudian, dilihatnya seorang perempuan membawa sehidang roti dan memberinya kepada Rabi’atul-adawiyyah menyatakan tuannya menyuruh dia membawa roti itu kepada Rabi’atul-adawiyyah, Rabi’atul-adawiyyah bertanya berapa ketul roti yang dibawanya itu. Perempuan itu menjawab, “Lapan belas.” Rabi’atul-adawiyyah tidak mahu menerima roti itu dan disuruhnya kembalikan kepada tuannya. Perempuan itu pergi. Kemudian datang semula. Rabi’atul-adawiyyah menerima roti itu selepas diberitahu bahawa ada dua puluh ketul roti dibawa perempuan itu. Darwisy itu bertanya kenapa Rabi’atul-adawiyyah enggan menerima dan kemudian menerima pula. Rabi’atul-adawiyyah menjawab, “Allah berfirman dalam Al-Quran iaitu : “Orang yang memberi dengan nama Allah maka Dia akan beri ganjaran sepuluh kali ganda. Oleh itu, saya terima hadiah apabila suruhan dalam Al-Quran itu dilaksanakan.” Suatu hari Rabi’atul-adawiyyah sedang menyediakan makanan. Beliau teringat yang beliau tidak ada sayur. Tiba-tiba jatuh bawang dari bumbung. Disepaknya bawang itu sambil berkata, “Syaitan! Pergi jahanam dengan tipu-helahmu. Adakah Allah mempunyai kedai bawang?” Rabi’atul-adawiyyah berkata, “Aku tidak pernah meminta dari sesiapa kecuali dari Allah dan aku tidak terima sesuatu melainkan dari Allah.”

Suatu hari, Hassan Al-Basri melihat Rabi’atul-adawiyyah dikelilingi oleh binatang liar yang memandangnya dengan kasih sayang. Bila Hassan Al-Basri pergi menujunya, binatang itu lari. Hassan bertanya, “Kenapa binatang itu lari?” Sebagai jawaban, Rabi’atul-adawiyyah bertanya, “Apa kamu makan hari ini?” Hassan menjawab, “Daging.” Rabi’atul- adawiyyah berkata, Oleh kerana kamu makan daging, mereka pun lari, aku hanya memakan roti kering.”

Suatu hari Rabi’atul-adawiyyah pergi berjumpa Hassan Al-Basri. Beliau sedang menangis terisak-isak kerana bercerai (lupa) kepada Allah. Oleh kerana hebatnya tangisan beliau itu, hingga air matanya mengalir dilongkang rumahnya. Melihatkan itu, Rabi’atul-adawiyyah berkata, “Janganlah tunjukkan perasaan sedemikian ini supaya batinmu penuh dengan cinta Allah dan hatimu tenggelam dalamnya dan kamu tidak akan mendapati di mana tempatnya.” Dengan penuh kehendak untuk mendapat publiksiti, suatu hari, Hassan yang sedang melihat Rabi’atul-adawiyyah dalam satu perhimpunan Aulia’ Allah, terus pergi bertemu dengan Rabi’atul-adawiyyah dan berkata, “Rabi’atul-adawiyyah, marilah kita meninggalkan perhimpunan ini dan marilah kita duduk di atas air tasik sana dan berbincang hal-hal keruhanian di sana.” Beliau berkata dengan niat hendak menunjukkan keramatnya kepada orang lain yang ia dapat menguasai air (seperti Nabi Isa a.s. boleh berjalan di atas air). Rabi’atul-adawiyyah berkata, “Hassan, buangkanlah perkara yang sia-sia itu. Jika kamu hendak benar memisahkan diri dari perhimpunan Aulia’ Allah, maka kenapa kita tidak terbang sahaja dan berbincang di udara?” Rabi’atul-adawiyyah berkata bergini kerana beliau ada kuasa berbuat demikian tetapi Hassan tidak ada berkuasa seperti itu. Hassan meminta maaf. Rabi’atul-adawiyyah berkata, “Ketahuilah bahawa apa yang kamu boleh buat, ikan pun boleh buat dan jika aku boleh terbang, lalat pun boleh terbang. Buatlah suatu yang lebih dari perkara yang luarbiasa itu. Carilah ianya dalam ketaatan dan sopan-santun terhadap Allah.” Seorang hamba Allah bertanya kepada Rabi’atul-adawiyyah tentang perkara kahwin. beliau menjawab, “Orang yang berkahwin itu ialah orang yang ada dirinya. Tetapi aku bukan menguasai badan dan nyawaku sendiri. Aku ini kepunyaan Tuhanku. Pintalah kepada Allah jika mahu mengahwini aku.”

Hassan Al-Basri bertanya kepada Rabi’atul-adawiyyah bagaiman beliau mencapai taraf keruhanian yang tinggi itu. Rabi’atul-adawiyyah menjawab, “Aku hilang (fana) dalam mengenang Allah.” Beliau ditanya, “Dari mana kamu datang?” Rabi’atul-adawiyyah menjawab, “Aku datang dari Allah dan kembali kepada Allah.” Rabi’atul-adawiyyah pernah bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad S.A.W. dan baginda bertanya kepadanya sama ada beliau pernah mengingatnya sebagai sahabat. Rabi’atul-adawiyyah menjawab, “Siapa yang tidak kenal kepada tuan? Tetapi apakan dayaku. Cinta kepada Allah telah memenuhi seluruhku, hinggakan tidak ada ruang untuk cinta kepadamu atau benci kepada syaitan.” Demikian petikan dari cerita Rabiah adwiyah versia melayu yang menggambarkan betapa besar kecintaan Rabiah Adawiyah kepada Allah saat ia masih kecil hingga ia dewasa.

Rabi’ah adalah puteri yang keempat dari empat bersaudara. Itulah sebabnya mengapa ia dinamakan Rabiah. Keberadaan cerita Rabiah sebagai cerita yang menarik dan populer pada zamannya banyak disadur dalam berbagai bahasa  yakni cerita rabiah Adawiyah versi Arab, cerita rabiah Adawiyah versi Melayu, termasuk bahasa-bahasa di Nusantara salah satunya adalah cerita Rabiah Adawiyah yang ditulis dalam bahasa Bugis.

Berikut akan disajikan cerita Rabiah Adawiyah dari ketiga versi tersebut yaitu versi Arab, Versi Melayu, dan Versi Bugis berdasar kepada Tesis tentang “Suntingan Teks Kisah Sitti Rabiatul Adawiyah dan Pengangkatan Muatan Lokal” oleh Sitti Gomo Attas mahasiswa pascasarjana, program studi Ilmu Susastra, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.

Ringkasan Cerita Versi Arab

Ketika usianya hampir remaja Rabiah dijadikan budak. Namun, hal ini tidak membuatnya putus harapan untuk tetap mendekatkan diri kepada Allah. Setelah Rabiah dibebaskan dari perbudakan, ia terus menjalankan ibadah kepada Allah.

Beberapa kali laki-laki datang melamar Rabiah, tetapi selalu ia tolak. Diantara laki-laki yang dating melamar Rabiah ada seorang yang berpengaruh di Basrah, namun ditolak Rabiah dengan alasan bahwa ia hanya ingin beribadah kepada Allah . Alasan lain Rabiah menolak lamaran laki-laki yang dating padanya karena mereka tidak ada yang mampu menjawab masalah kehidupan sesudah mati, yang dipertanyakan oleh Rabiah. Kehidupan sufi Rabiah yang mengabdikan dirinya kepada Tuhan ia jalankan sampai akhir hidupnya, tanpa pernah menikah.

Ringkasan Cerita Versi Melayu

Cerita ini dimulai tatkala Rabiah berguru kepada Syekh Junaidi bin Saman farj. Gurunya melamar Rabiah, namun ditolak ooleh Rabiah. Akhirnya Rabiah menerima lamaran gurunya karena takut durhaka. Lamaran itu diterimanya hanya dengan khutbah nikah, tetapi Rabiah meminta suaminya agar tidak menyentuhnya.

Setelah suaminya wafat, Rabiah didatangi oleh empat syekh, yaitu Syekh Syari`at, Syekh Tarikat, Syekh Hakikat, dan Syekh Makrifat. Keempat syekh dating melamar Rabiah. Namun, ia tolak karena tidak bisa menjawab masalah tasawuf yang diajukan oleh raja kepada keempat syekh itu. Hanya Rabiah yang mampu menjawab semua pertanyaan itu. Raja Sa`id yang mengajukan pertanyaan tersebut kagum kepada Rabiah dan melamarnya, tetapi sebelum Rabiah menerima lamaran Raja Sa`id. Rabiah telah berpulang ke rahmatullah yang diikuti oleh Raja Sa`id.

Ringkasan Cerita Versi Bugis

Kisah ini dimulai ketika Sitti Rabiatul Adawiyah berguru kepada seorang syekh yang bernama Zainul Arifin. Karena takut durhaka kepada gurunya, Rabiah pun menerima lamaran yang diajukan oleh Zainul Arifin. Setelah gurunya yang sekaligus menjadi suaminya meninggal dunia, Rabiah dilamar oleh empat bersaudara. Namun, karena alasan bahwa suaminya baru meninggal maka Rabiah menolak lamaran tersebut.

Setelah itu, Rabiah didatangi oleh empat saudagar kaya yang ingin melamarnya. Namun, karena empat saudagar itu tidak mampu menjawab pertanyaan Rabiah tentang isi dunia yaitu laki-laki dan wanita, maka lamaran empat saudagar pun ditolak.

Selanjutnya, datanglah seorang raja bernama Raja Akbar yang mempunyai pengetahuan agama yang cukup tinggi dan mampu menjawab pertanyaan Rabiah tentang makna shalat di hari kemudian. Raja Akbar dengan lancart menjawab semua pertanyaan Rabiah. Akhirnya, rabiah dinikahkan dengan Raja Akbar sesuai dengan hokum yang berlaku dalam perkawinan.

Setelah mereka menikah, tidak lama kemudian Raja akbar dan Rabiah dikaruniai seorang puteri yang diberi nama I Daramatasia. Raja Akbar pernah bernazar jika ia dapat berjodoh dengan Rabiah dan memiliki seorang anaka perempuan, maka ia akanmengawinkan dengan seorang ahli agama yang mengabdikan diri di jalana Allah. Nazar itu diolaksanakan suami-istri (Raja Akbar dan Rabiah) untuk menikahkan puterinya yang telah selesai belajar agama kepada ulama yang shaleh.

Selanjutnya cerita ini menceritakan rumah tangga puteri Rabiah, I Daramatasia dengan suaminya.

Dibawah ini penulis sertakan kutipan Cerita Rabiah dalam versi Bugis yang diambil dari iriantosyahkasim.multiply.com sebagai berikut : Cerita Rabiah dalam versi Bugis mengungkap alur yang sarat dengan nilai-nilai budaya yang dianggap sebagai penyemangat tokoh dalam menjalankan kehidupan. Nilai budaya itu, yakni Siri’ dalam sistem perkawinan yang digambarkan dalam cerita Rabiah. Selain itu, juga Siri dalam semangat merantau dan semangat belajar ilmu agama.

Kisah Rabiah Al Adawiyah dalam versi ini, memberikan penjelasan sistem adat dalam budaya Bugis yang dikenal dengan istilah ‘Pangaderreng’. Panggaderreng dapat diartikan sebagai keseluruhan norma yang meliputi bagaimana seseorang harus bertingkah laku terhadap sesama manusia dan terhadap pranata sosialnya secara timbal balik, dan yang menyebabkan adanya gerak (dinamis) masyarakat.

Unsur terakhir dalam ‘Panggaderreng’ adalah sistem adat yang berasal dari ajaran Islam dan masuk ke dalam “Panggaderreng’ setelah masuknya pengaruh Islam ke dalam masyarakat Bugis sekitar Abad ke-17. Sistem adat masyarakat Bugis terdiri dari lima unsur, yakni Ade’ (adat atau perlakuan budaya), Bicara (pertimbangan), Rapang (Undang-Undang), Wari’ (klasifikasi atas segala peristiwa), dan Sara’ (hukum syariah). Kelima unsur tersebut terjalin satu sama lain sebagai satu kesatuan organisasi dalam alam pikiran orang Bugis, yang memberi dasar sentimen kewargaan masyarakat dan rasa harga diri yang semuanya terkandung dalam konsep siri’. Selanjutnya, kata Sitti Gomo, konsep siri ini adalah nilai budaya yang mengintegrasikan secara organisasi semua unsur ‘Panggaderreng’. Artinya konsep Siri meliputi banyak aspek dalam kehidupan masyarakat dan kebudayaan orang Bugis seperti yang tercermin dalam naskah Rabiah Al-Adawiyah versi Bugis. “C.H. Salambasyah dan kawan-kawan memberikan batasan kata Siri dengan tiga golongan pengertian, yakni Siri itu sama artinya dengan malu, Siri sebagai daya pendorong untuk melenyapkan (membunuh), mengasingkan, dan mengusir terhadap barang siapa atau apa yang menyinggung perasaan mereka, dan Siri itu sebagai semangat (Summange) untuk membanting tulang, bekerja mati-matian untuk suatu usaha.

Persamaan dan Perbedaan

Berdasarkan ringkasan cerita diatas dapat disimpulkan bahwa ketiga cerita tersebut yaitu cerita rabiah versi Arab, cerita rabiah versi Melayu, dan cerita Rabiah versi Bugis mempunyai persamaan dan perbedaan. Untuk jelasnya hal tersebut dapat digambarkan melalui bagan sebagai berikut :


Episode     Cerita Versi   Arab     Cerita Versi Melayu     Cerita Versi Bugis
Sejak kecil Rabiah beribadah dengan baik     +     +     +
Rabiah berguru     -     +     +
Rabiah menjadi ahli agama yang terkenal     +     +     +
Dilamar oleh gurunya     -     +     +
Lamaran gurunya diterima     -     +     +
Rabiah dilamar oleh empat Syekh     -     +     +
Lamaran ditolak     -     +     +
Rabiah dilamar oleh saudagar     +     -     +
Lamaran ditolak Rabiah     +     -     +
Rabiah dilamar oleh raja/penguasa     +     +     +
Rabiah mengajukan pertanyaan     +     -     +
Pertanyaan dapat dijawab     -     -     +
Lamaran diterima     -     -     +
Rabiah menikah     -     -     +
Rabiah memiliki anak     -     -     +

Keterangan : (+) = ada/ya       (-) = tidak/tidak ada

Dari gambaran diatas terlihat adanya perbedaan dan persamaan peristiwa dalam cerita versi Arab, cerita versi Melayu, dan cerita versi Bugis. Persamaan yang dpat ditemukan dalam tiga ketiga cerita tersebut berdasarkan episode ialah peristiwa masa kecil Rabiah yang telah mampu beribadah dengan baik. Peristiwa penguasaan agama secara tuntas sehingga menjadi sufi yang terkenal di negerinya. Kecantikan dan ilmu tinggi dimiliki oleh Rabiah. Ketika itu, banyak yang dating melamar  Rabiah termasuk penguas dinegerinya. Ketiga peristiwa tersebut diungkapkan didalam ketiga cerita sebagai bentuk dasar cerita.

Sebaliknya berdasarkan bagan diatas terdapat perbedaan yang ditemukan oleh peneliti dalam ketiga cerita tersebut. Pada cerita versi Arab menunjukan tokoh Rabiah sampai akhir hidupnya tidak menikah, sedangkan pada cerita versi Melayu tokoh rabiah akhirnya menerima lamaran gurunya, dengan syarat gurunya tidak boleh menyentuh dirinya. Pada cerita versi Bugis tokoh rabiah justru menerima lamaran gurunya dan menikah dengan Raja Akbar serta memiliki anak.



KARYA RABIAH ADAWIYAH

Rabiah Adawaiyah dianugerahi kemampuan luar biasa dalam bidang sastra. Ia mampu membuat puisi/syair yang begitu indah melambangkan kecintaan beliau kepada Allah. Berikut salah satu puisi karya Rabiah Adawiyah

يا ســروري ومـنـيـتـي وعـمـادي ::::: وأنـيــســي وعــدتي ومرادي.

أنـت روح الـفـؤاد أنــت رجــائي ::::: أنت لي مؤنس وشوقك زادي.

أنـت لـولاك يـا حـيـاتـي وأنـسـي ::::: مـا تـشتـت فـي فـسيــح البلاد.

كـم بـدت مـنـةٌ، وكـم لـك عـنـدي ::::: مـن عـطــاء ونـعـمـة وأيـادي.

حـبـك الآن بـغـيـتـي ونـعـيـمــي ::::: وجــلاء لـعـيـن قـلبي الصادي.

إن تـكـن راضـيـاً عـنـي فـأنـني ::::: يا مـنـي الـقـلـب قد بدا إسعادي



Rabiah Adawiyah dikenal sebagai sufi yang mendalami tentang Mahabbah. Berikut adalah kumpulan syair Mahabbah karya Rabiah Adawiyah

Cinta tidak pernah meminta, ia senantiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam, tak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta di situ ada kehidupan; manakala kebencian membawa kepada kemusnahan.

Tuhan memberi kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah namanya Cinta.

Ada dua titis air mata mengalir di sebuah sungai. Satu titis air mata tu menyapa air mata yg satu lagi,” Saya air mata seorang gadis yang mencintai seorang lelaki tetapi telah kehilangannya. Siapa kamu pula?”. Jawab titis air mata kedua itu,” Saya air mata seorang lelaki yang menyesal membiarkan seorang gadis yang mencintai saya berlalu begitu sahaja.”

Cinta sejati adalah ketika dia mencintai orang lain, dan kamu masih mampu tersenyum, sambil berkata: aku turut bahagia untukmu.

Jika kita mencintai seseorang, kita akan sentiasa mendoakannya walaupun dia tidak berada disisi kita.

Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba. Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup. Jangan sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi jika kamu masih tidak dapat melupakannya.

Perasaan cinta itu dimulai dari mata, sedangkan rasa suka dimulai dari telinga. Jadi jika kamu mahu berhenti menyukai seseorang, cukup dengan menutup telinga. Tapi apabila kamu Coba menutup matamu dari orang yang kamu cintai, cinta itu berubah menjadi titisan air mata dan terus tinggal dihatimu dalam jarak waktu yang cukup lama.

Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan kembali kepercayaan.

Jangan simpan kata-kata cinta pada orang yang tersayang sehingga dia meninggal dunia , lantaran akhirnya kamu terpaksa catatkan kata-kata cinta itu pada pusaranya . Sebaliknya ucapkan kata-kata cinta yang tersimpan dibenakmu itu sekarang selagi ada hayatnya.

Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dan bercinta dengan orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterima kasih atas kurniaan itu.

Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat -Hamka

Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat.

Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya.

Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu. Hanya untuk menemukan bahawa pada akhirnya menjadi tidak bererti dan kamu harus membiarkannya pergi.

Kamu tahu bahwa kamu sangat merindukan seseorang, ketika kamu memikirkannya hatimu hancur berkeping.

Dan hanya dengan mendengar kata “Hai” darinya, dapat menyatukan kembali kepingan hati tersebut.

Tuhan ciptakan 100 bahagian kasih sayang. 99 disimpan disisinya dan hanya 1 bahagian diturunkan ke dunia. Dengan kasih sayang yang satu bahagian itulah, makhluk saling berkasih sayang sehingga kuda mengangkat kakinya kerana takut anaknya terpijak.

Kadangkala kamu tidak menghargai orang yang mencintai kamu sepenuh hati, sehinggalah kamu kehilangannya. Pada saat itu, tiada guna sesalan karena perginya tanpa berpatah lagi.

Jangan mencintai seseorang seperti bunga, kerana bunga mati kala musim berganti. Cintailah mereka seperti sungai, kerana sungai mengalir selamanya.

Cinta mampu melunakkan besi, menghancurkan batu, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dasyatnya cinta !

Permulaan cinta adalah membiarkan orang yang kamu cintai menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kamu temukan di dalam dirinya.

Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setitis embun yang turun dari langit,bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus,tumbuhlah oleh kerana embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur,di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji.~ Hamka

Kata-kata cinta yang lahir hanya sekadar di bibir dan bukannya di hati mampu melumatkan seluruh jiwa raga, manakala kata-kata cinta yang lahir dari hati yang ikhlas mampu untuk mengubati segala luka di hati orang yang mendengarnya.

Kamu tidak pernah tahu bila kamu akan jatuh cinta. namun apabila sampai saatnya itu, raihlah dengan kedua tanganmu,dan jangan biarkan dia pergi dengan sejuta rasa tanda tanya dihatinya

Cinta bukanlah kata murah dan lumrah dituturkan dari mulut ke mulut tetapi cinta adalah anugerah Tuhan yang indah dan suci jika manusia dapat menilai kesuciannya.

Bukan laut namanya jika airnya tidak berombak. Bukan cinta namanya jika perasaan tidak pernah terluka. Bukan kekasih namanya jika hatinya tidak pernah merindu dan cemburu.

Bercinta memang mudah. Untuk dicintai juga memang mudah. Tapi untuk dicintai oleh orang yang kita cintai itulah yang sukar diperoleh.

Satu-satunya cara agar kita memperolehi kasih sayang, ialah jangan menuntut agar kita dicintai, tetapi mulailah memberi kasih sayang kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan.

Gasmi Ponorogo Peringati haul Gus Maksum Dan Menggelar Gelanggang bebas

Gasud.com, Polorejo - Ponorogo. Dalam rangka mempererat tali silaturahmi antar anggota organisasi Gerakan Aksi Silat Muslimin Indonesia (GASMI) Lirboyo Cabang Ponorogo menggelar serangkaian acara Haul Almaghfirulloh KH. Agus Maksum Jauhari Serangkaian acara tersebut terbagi atas tiga kegiatan yakni latihan bersama, Haul untuk mengenang jasa Almaghfirulloh KH. Agus Maksum Jauhari sebagai guru besar GASMI dan ditutup dengan gelanggang bebas (Pencak Dor), pada tanggal 22 Desember 2013 kemarin, bertempat dihalaman Masjid "Ibrahim Al Ghozali" dukuh Bedi desa Polorejo kec. Babadan Ponorogo. “ Acara ini digelar bertepatan dengan tanggal wafatnya Gus Maksum.“ jelas Muh. Furqon Fardiansyah selaku Ketua Panitia yang jga menjabat sebagai Ketua GASMI Lirboyo Ranting Polorejo Babadan Ponorogo. Kegiatan ini juga telah mengundang Ketua GASMI pusat (Gus Bidin), ketua dan pengurus NU Cabang Ponorogo, jajaran Polsek Babadan dan para tokoh masyarakat yang bernaung didalam NU, Perangkat Desa Polorejo, MWC NU Babadan, dan Pengurus NU ranting Polorejo serta seluruh anggota GASMI Lirboyo Ponorogo.

Menurut Ikhwan Hadi selaku Ketua DPC. GASMI Lirboyo Ponorogo. Pencak silat GASMI Lirboyo merupakan sebuah organisasi yang bernaung dibawah naungan Nahdlatul Ulama (NU). Ke depan diharapkan mampu mencetak karakter para warga NU untuk menjadi manusia yang bertakwa, sehat, kuat berprilku luhur dan berjiwa kasatria sesuai dengan pedoman Ahlulsunah Wal Jama’ah. “GASMI Lirboyo juga siap mencetak sebuah perestasi dalam olah raga beladiri.” ungkapnya.

Sebuah prestasi yang cemerlang telah diraih oleh siswa/siswi GASMI Lirboyo Ponorogo. Terbukti bahwa dalam kejuaraan pencak silat Kapolres Cup yang digelar di GOR Singodimejo Ponorogo kemarin, GASMI Lirboyo Ponorogo sebagai perwakilan dari PSNU Pagar Nusa telah dinaubatkan sebagai juara umum III. Hal tersebut menunjukan bahwa GASMI Lirboyo telah mampu membawa generasi muda NU dalam sebuah prestasi melalui pencak silat, terang Purwito, Zaenal, Iman Widodo  dan Muhajir selaku Dewan Pelatih GASMI Lirboyo Ponorogo. GASMI Lirboyo siap membentuk siwa siswi yang duduk dalam lembaga pendidikan termasuk Pondok Pesantren yang bernaung dibawah yayasan NU untuk menciptakan generasi NU yang tangguh dan  berprestasi. “Kami berharap agar generasi NU yang ada di lembaga pendidikan dan Pondok Pesantren dibawah naungan NU, juga bisa meraih sebuah prestasi melalui GASMI Lirboyo Ponorogo.” harap Purwito, Zaenal, Iman Widodo dan Muhajir.

Surutnya Pondok Pesantren Bedi

Sebagaimana sudah Poetra Bedi jelaskan bahwa pada dahulu kala di Bedi Polorejo ada sebuah Pondok Pesantren yang diasuh oleh KH. Ibrahim yang akhirnya mengalami kesurutan. Pada tahun 1900 pemerintah Belanda mendirikan sekolah desa swasta, atas perintah Asisten Wedana sekarang camat. Kemudian tahun 1903 pemerintah Belanda mulai membuka Sekolah Desa tiga tahun di Desa Banyudono dan di Desa Brotonegaran, lalu tahun 1904 di desa Bangun sari, dan guru-gurunya dari Madiun yang dinamakan Premi Opleideng, dan pada tahun 1911 Ponorogo sudah dapat meluluskan guru sekolah Desa dua tahun.
Kemudian pada tahun 1904 Sekolah ongko I dirubah menjadi sekolah HIS ( Holand Indische School ) dimana pada sekolah ini yang dapat diterima menjadi murid hanya lah anak-anaknya kaum priyayi, dan bahasa dasarnya adalah bahasa Belanda. Tahun 1905 sekolah ongko II Bangun sari menerima murid-murid dari anak-anaknya kaum peta ni dan swasta. Dan selanjutnya pemerintah Belanda membuka sekolah-sekolah Desa diluar Kota, termasuk di Desa Polorejo oleh Belanda didirikan Sekolah Desa tiga tahun.
Pada masa penjajahan Belanda ini anak-anak sekolah dipisah-pisahkan, anak kaum priyayi tidak boleh satu sekolah dengan anak kaum petani dan swasta, anak kaum priyayi sekolahnya di HIS (sekolah Belanda), sedangkan anak kaum petani dan kaum swasta harus sekolah di Sekolah Desa tiga tahun kemudian ditambah 2 (dua) tahun Sekolah ongko II, anak kaum petani dan swasta boleh sekolah di se kolahan HIS jika ia mempunyai gelar Raden.
Karena tekanan Belanda, bahwa anak kaum petani juga kaum swasta harus di sekolahkan di sekolah desa tiga tahun, dan dengan fasilitas gedung sekolah yang permanen begitu pula para pamong desa yang diperintahkan agar setiap hari menggiring anak-anak kaum petani masuk sekolah desa tiga tahun maka hal inilah yang menyebabkan Pondok Pesantren di Bedi ini mengalami surut.

NASAB KH. IBRAHIM dari R. RAHMAT (SUNAN ‘AMPEL)

Poetra Bedi gasud.com sang gagal maksud baru saja memberikan silsilah nasab KH. Ibrahim dari Sayyid Maulana Ishak, dan berikut ini adalah nasab KH. Ibrahim dari Raden Rahmat (Sunan Ampel)
  1. Syaikh Jamaludin Jumadil Kubra Troloyo Trowu lan Mojokerto
  2. Maulana Malik Ibrahim Asmara Qondi Tuban
  3. R. Rahmad Sunan Ampel Surabaya
  4. Sayid Qosim Sunan Drajat Lamongan
  5. Prabu Trenggono Adipati Surabaya ke 3
  6. R. Panji Wiryakrama Adipati Surabaya
  7. R. Panji Jayalengkara Adipati Surabaya
  8. Pangeran Pekik Jenggala Adipati Surabaya
  9. R. Satmata Al-‘Alim ( Kyai ‘Arobiy ) Surabaya
  10. Ny. Anom Besari Kuncen Caruban Madiun
  11. Kyai Khotib Anom Srigading Kalangbret T Agung
  12. K. Imam Nawawi Majasem Madusari Siman Po.
  13. Kyai Imam Ghozali Cokromenggalan Ponorogo
  14. KH. Ibrahim Bedi Polorejo Babadan Ponorogo


NASAB KH. IBRAHIM dari SAYID MAULANA ISHAQ (MALAYSIA)

Poetra Bedi telah memberikan info tentang nasab KH. Ibrahim dari Prabu Brawijaya V, dan berikut iini gasud.com gagal maksud memberikan info juga tetang nasab KH. Ibrahim ari Sayyid Maulana Ishaq (Malaysia).
  1. Syaikh Jamaludin Jumadil Kubra Troloyo Trowu lan Mojokerto
  2. Maulana Malik Ibrahim Asmara Qondi Tuban
  3. Sayid Maulana Ishaq Malaysia
  4. Sayid Abdul Qodir Pandanarang I Adipati Semarang
  5. Sunan Tembayat Pandanarang II Tembayat Klaten
  6. Ki Ageng Sumendhe Setono Jetis Ponorogo
  7. Pangeran Kabu Setono Jetis Ponorogo
  8. Pb. Ratmaja Setono Jetis Ponorogo
  9. Kyai Noyopuro Setono Jetis Ponorogo
  10. Ny. Nor Syahid (Nor Yadain) Majasem
  11. Ny. Surat Majasem Madusari Siman Ponorogo
  12. Ny. Imam Nawawi Majasem Madusari Siman Ponorogo
  13. Kyai Imam Ghozali Cokromenggalan Ponorogo
  14. KH. Ibrahim Bedi Polorejo Babadan Ponorogo

NASAB KH. IBRAHIM dari Pb. BRAWIJAYA V (BHRE KERTABUMI - MAJAPAHIT)

Baru saja Poetra Bedi memberikan informasi tentang nasab KH. Ibrahim  dari Raden Katong, dan berikut ini adalah Nasab KH. Ibrahim dari Prabu Brawijaya V (Bhre Kertabumi - Majapahit
  1. P. Brawijaya V Bhre Kertabumi Majapahit
  2. R. Abdullah Fatah Sultan Demak
  3. Sultan Trenggana Demak
  4. Pnb. Prawata Demak
  5. Pnb. Wirasmara Setono Gedong Kediri
  6. P. Demang ( R. Jalu ) Adipati Kediri th. 1586
  7. Ki. Demang Irawan Badal Ngadiluwih Kediri
  8. Sayid ‘Abdul Mursyad Tukum Grogol Kediri
  9. Kyai Anom Besari Kuncen Caruban Madiun
  10. Kyai Khotib Anom Srigading Kalangbret Tulung Agung
  11. K. Imam Nawawi Majasem Madusari Siman Ponorogo
  12. Kyai Imam Ghozali Cokromenggalan Ponorogo
  13. KH. Ibrahim Bedi Polorejo Babadan Ponorogo

NASAB KH. IBRAHIM dari R. KATONG (Bethoro Katong)

Sebagai Poetra Bedi, kembali lagi gasud.com gagal maksud memberikan suatu informasi tentang sejarah KH. Ibrahim Bedi Polorejo Babadan Ponorogo yaitu tentang silsilah nasab KH. Lbrahim dari R. Katong (Bethoro Katong) atau yang juga disebut engan Raden Katong.
  1. P. Brawijaya V Bhre Kertabumi Majapahit
  2. R. Bethoro Katong Adipati Ponorogo
  3. Ny, Sumendhe Setono Jetis Ponorogo
  4. Pangeran Kabu Setono Jetis Ponorogo
  5. Pb. Ratmaja Setono Jetis Ponorogo
  6. Kyai Noyopuro Setono Jetis Ponorogo
  7. Ny. Nor Syahid (Nor Yadain) Majasem
  8. Ny. Surat Majasem Madusari Siman Ponorogo
  9. Ny. Imam Nawawi Majasem Madusari Siman Ponorogo
  10. Kyai Imam Ghozali Cokromenggalan Ponorogo
  11. KH. Ibrahim Bedi Polorejo Babadan Ponorogo

Santri-Santri Mbeling Polorejo


Pada tahun 1854 Raden Adipati Mertohadinegoro meninggal dunia dan dimakamkan di pemakaman Tajug, + 4 km, arah timur kota Ponorogo menuju Kec. Pulung. Di tahun itu juga jabatan bupati di percayakan kepada Raden Mas Tumenggung Cokronegoro I yang memerintah Kabupaten Ponorogo selama tahun 1854 sampai dengan 1856. Ketika masa pemerintahan Cokronegoro ini di dukuh Bedi Desa Polorejo sudah berdiri sebuah Pondok Pesantren Bedi sesuai dengan nama letak pesantren itu. Konon santri nya banyak mencapai ratusan santri jumlahnya, dan menurut ukuran penduduk diwaktu itu jumlah ratusan santri itu sudah cukup terkenal. Para santri itu berdatangan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, kebanyakan para santri yang datang ke pesantren ini untuk menghafal “Al-Qur’an”  ka rena memang Mbah Ibrahim adalah Kyai yang hafal Qur’ an dan menguasai betul tentang penulisan, bacaan dan kandungan tafsir ayat-ayat Al-Qur’an.
Santri-santri Pondok Pesantren Bedi sangat terkenal dengan sifat brawokan dan pemberani, pada suatu hari K. Ibrahim menyuruh mereka mengikuti kerja bakti (ro’an.jw) memotong bambu di dukuh Bakalan, arah barat utara Bedi + 1,5 km. dimana pohon bambu itu akan di gunakan untuk pembangunan pondok. Setelah selesai memotong pohon-pohon bambu itu mereka mengusungnya dengan jalan kaki dari Bakalan menuju Bedi melewati jalan arah Ponorogo Magetan. Di sepanjang jalan ratusan santri yang memikul pohon-pohon bambu itu sama berteriak-teriak sesuka hatinya, dan tidak jarang mereka itu ada yang cara memikul batang bambu dengan di palangkan (dipikul malang-jw) di jalanan, sehingga sangat mengganggu orang yang sama le wat di jalan itu(2).


 
(2) – Sumber informasi dari  K. Agus Damanhuri  cucu Mbah Ibrahim
Kebetulan saat itu pula Adipati Ponorogo R.M.T Cokrone goro lewat jalan yang di lalui para santri pemikul batang-batang bambu itu, ketika itu pula perjalanannya untuk me lakukan inspeksi ke daerah Ponorogo Utara bersama keluarga merasa sangat terganggu. Lalu Adipati menghentikan kereta bendinya, kemudian bertanya kepada para pemuda yang ugal-ugalan dan mbeling itu, namun para santri tidak menjawab sesuai dengan pertanyaan Adipati bahkan mere ka malah mengolok-olok dan menggojloknya. Tetapi perbuatan para santri ini memang tidak di sadari kalau yang di hadapi itu adalah Adipati Cokronegoro, sama sekali para santri itu tidak kenal dan tidak mengerti bahwa yang di olok-olok dan di gojlok adalah orang yang paling berkuasa di tlatah Ponorogo.
Setelah peristiwa itu berlalu, sepekan kemudian K. Ibrahim  di timbali untuk menghadap kanjeng Raden Mas Tumenggung Cokronegoro, untuk di mintai keterangan perihal sikap para santrinya terhadap dirinya yang di olok- olok dalam perjalanannya ke wilayah Ponorogo Utara.
K. Ibrahim adalah sosok kyai yang sabar, arif dan wira’i, dengan serta merta memintakan permohonan maaf atas perilaku para santrinya yang terkesan mbeling dan kurang ajar itu. Setelah agak lama berbincang-bincang  antara keduanya, dan saling mengerti siapa sebenarnya K. Ibra him dan siapa pula R.M.T Cokronegoro, maka tidak ada sangsi yang di jatuhkan kepada para santrinya K. Ibrahim. Cokronegoro adalah putra dari Kanjeng Kyai Hasan Besa ri Tegalsari, beliau adalah Adipati Tumenggung yang muslim ayah dari Cokroamiseno kakaknya HOS Cokroaminoto(3).  K. Ibrahim keluar dari dalem kabupaten dan pulang dengan hati yang lega, karena ternyata kanjeng adipati berhati murah dan mudah mengampuni.

 

(3) – Majalah Pustaka ITB No. 6 Juli 1978.

Peperangan Brotonegoro Melawan Belanda

Pada tahun 1825 ketika terjadi perang Diponegoro melawan Belanda, Pangeran Diponegoro beserta bala tentaranya memasuki wilayah kabupaten Ponorogo, dari wilayah kabupaten Pacitan, dan istirahat di kabupaten Polore jo yang ketika itu bupatinya tumenggung Brotonegoro. Setelah bala tentara Pangeran Diponegoro istirahat beberapa waktu lamanya di Polorejo, mereka lalu berangkat lagi ke arah barat menuju Jawa Tengah melalui Somoroto dan Badegan kemudian Purwantoro kembali ke Yogjakarta.
Setelah Polorejo di tinggalkan bala tentara Pangeran Diponegoro, Belanda memasuki wilayah kabupaten Polorejo dengan persenjataan lengkap dan menyerbu, tetapi ketika itu Brotonegoro sudah ada antisipasi sebelumnya, mesti nanti sepeninggalnya tentara Diponegoro dari Polorejo Be landa pasti menyerbu kabupaten Polorejo. Dan betullah antisipasi Brotonegoro itu, sebelum di serbu Brotonegoro sudah menyiapkan para prajurit dengan persenjataan lengkap dan persiapan mental dan phisik yang mantap menghadapi serangan Belanda.
Sebelum belanda datang di wilayah wewengkon kabupaten Polorejo, tumenggung Brotonegoro sudah mendapatkan informasi tentang dari arah mana bala tentara belanda akan menyerang Polorejo. Informasi dari teliksandi tumenggung itu menerangkan bahwa belanda akan memasuki  dan menyerang dari arah utara barat yaitu daerah Magetan, oleh karena itu tumenggung membuat calon ( bakal ), pesanggrahan di sebelah barat daya kabupaten Polorejo + 
2,5 Km, pesanggrahan itu terbuat dari bambu yang di bentuk menara yang tinggi di gunakan untuk mengintai keda tangan musuh. Dan kemudian tempat untuk membuat calon / bakal pesanggrahan itu di abadikan sebagai sebuah Dukuh  yaitu  Bakalan  masuk  wewengkon  Polorejo. Ada pun pesanggrahan yang dibuat oleh para prajurit Brotonegoro itu letaknya lurus di utara masjid Bakalan sekarang + 500 m. Tidaklah sia-sia persiapan Brotonegoro untuk membuat pesanggrahan itu, dan betul-betul bermanfa’at untuk mengintai kedatangan belanda, karena ketinggian menara pesanggrahan itu 2 x setinggi pohon bambu (rong uder.jw) dan sekaligus sebagai pusat komando perang.
Perang Brotonegoro melawan belanda sudah tidak bisa dihindari lagi dan betul-betul terjadi pada tahun 1825, medan pertempuran berada di sebelah barad daya pesanggrahan, ketika tumenggung Brotonegoro menjemput keda tangan belanda diikuti oleh banyak prajurit, dan sebagai tanda belanda sudah datang seorang prajurit di perintahkan memukul gong yang disebut demung, sekaligus itu sebagai aba-aba perang. Disaat belanda datang prajurit pemukul gong demung, memukul gong itu terus menerus hingga kuda yang ditunggangi Brotonegoro lari melesat secepat kilat ndigar-ndigar menjemput musuh, dan tumenggung tam pak gagah berani sebagai komandan perang.
Peperangan terjadi hingga waktu sore menjelang malam, hingga sangat sulit untuk melihat lawan dan belanda pun mundur, prajurit Brotonegoro banyak yang menyebar kocar-kacir di berbagai penjuru arah. Namun tumenggung sudah kembali lagi ke pesanggrahan diikuti oleh sebagian prajurit, waktu sudah betul-betul malam banyak prajurit yang kebingungan untuk kembali ke pesanggrahan, karena memang daerah medan peperangan itu saat itu masih berupa hutan belantara. Saat prajurit itu kebingungan mencari pesanggrahan  tiba-tiba  saat  itu ada seorang prajurit yang melihan lampu yang  kerlip-kerlip (kelip-kelip.jw) tidak jauh dari tempat prajurit itu berdiri yaitu di arah sebelah ba rat lurus, kemudian mereka sama mengatakan yang kelip- kelip di atas itu pasti lampu pesanggrahannya ndoro Broto negoro, ternyata betul, setelah mereka berjalan menuju ke arah lampu itu ketemu dengan prajurit-prajurit lainnya dan mereka dapat berkumpul kembali. Kemudian tempat prajurit memukul gong demung tadi dinamakan Demung masuk desa Sukosari, tempat ndigar-ndigar kudanya Brotonegoro di namakan Tegari, sekarang berupa sawah masuk wilayah Polorejo, dan tempat prajurit mengatakan “kelip-kelip”nya lampu pesanggrahan itu dinamakan “Sekelip” masuk wilayah Polorejo, bekas (petilasan) pesanggrahan Brotonegoro dinamakan “Tilasan” dulu ada gerumbulnya dinamakan ge rumbul tilasan sekarang berupa persawahan.
Pada tanggal 15 Nopember 1825 pertahanan kabupaten Madiun yang setia kepada Pangeran Diponegoro di pu satkan di selatan kota Ngawi, namun para pasukan yang berada dalam pertahanan ini mendapat gempuran yang hebat dari pasukan Belanda. Dari sebelah utara di gempur oleh pasukan belanda yang di pimpin oleh Theunissen, dari barat di serang pasukan belanda yang di pimpin oleh Letnan Vlikken  Sohild dengan ratusan prajurit Jogorogo Surakarta pro belanda. Akhirnya pasukan Madiun yang setia kepa da Diponegoro menjadi kocar kacir dan Ngawi jatuh ketangan Belanda. Pada waktu itu pertahanan Diponegoro di  Madiun  sektor Selatan di tempatkan di daerah Kabupaten Pacitan dengan panglima daerah di bawah pimpinan Bupati Mas Tumenggung Djojokaridjo, Mas Tumenggung Djimat dan Ahmad Taris, namun karena kuatnya pasukan Belanda pada akhir Agustus 1825 Pacitan dapat di kuasai pasukan Belanda.
Dengan berhasilnya Belanda melumpuhkan pasukan Diponegoro di Madiun pertahanan sektor Selatan dan sek tor Utara  (Ngawi),  maka wilayah Madiun secara keseluru
han sudah jatuh ke tangan Belanda dan Brotonegoro Bupa ti Polorejo yang menjadi benteng pertahanan kota Ponoro go Utara pun di obrak-abrik oleh Belanda. Brotonegoro se orang Bupati yang gagah berani itu tetap menghadang pasukan Belanda dari arah kota Madiun dan Gorang-gareng Magetan. Karena pasukan dan persenjataan yang tidak seimbang, maka pasukan Brotonegoro banyak yang tewas, dan pertempuran menjadi tidak seimbang, karena semakin sedikitnya pasukan Brotonegoro, maka Pekatiknya dengan sigap meloncat naik kepunggung kudanya Brotonegoro lalu menarik kendali kuda itu dan mencambuk-cambuknya hingga kuda lari melesat cepat menuju arah Barat Laut.
Melihat Brotonegoro keluar dari medan pertempuran dan memacu kudanya sangat cepat, maka Belandapun me ngejarnya hingga Brotonegoro naik puncak gunung Gombak (Nglarangan) Kauman Somoroto. Gunung kecil itu di atasnya tidak berpenduduk hingga Belanda sangat mudah untuk mengepung bukit itu dari bawah. Ketika Belanda da pat mengepung perbukitan itu, tidak boleh seorangpun pen duduk pribumi yang naik ke atas bukit itu hingga waktu yang sangat lama, sehingga karena tidak ada makanan dan minuman setelah bertahan sekian bulan lamanya akhirnya sang Bupati Brotonegoro menemui ajalnya. Yang kemudian bukit itu dinamakan Bukit Larangan, karena adanya larangan dari Belanda selama Brotonegoro diatas bukit itu ti dak boleh ada orang yang naik keatasnya. Dan akhirnya oleh Belanda jenazah Brotonegoro dimakamkan diatas bukit itu dengan pemakaman secara Islam, bersama kuda dan pekathiknya di makamkan disitu juga. Kemudian bekas medan pertempuran Brotonegoro melawan Belanda di Po norogo Utara itu dinamakan Petilasan dari kata Tilas (jw).
Kata Tilas mendapat ater-ater Pe dan penambang  an  hingga menjadi “Petilasan”, kemudian membuang ater-ater Pe menetapkan penambang maka menjadi “Tilasan”. Dimana  lokasi  ini  terletak  + 7,5 km arah utara  dari kota.
Setelah Brotonegoro wafat dalam medan pertempu ran dengan cara yang sangat tidak manusiawi  oleh perla kuan Belanda, maka yang menggantikan kedudukan  Bupa ti Polorejo adalah Brotowiryo sekitar tahun 1825 s/d 1829 ia adalah adik kandung Brotonegoro, dan menjadi bupati Polorejo tidak lama hanya dalam kurun tiga tahunan sudah meninggal dunia. Kemudian digantikan oleh putra menan tunya yang bernama Mertomenggolo tahun 1829 sampai dengan tahun 1834.
Pada waktu pemerintahan Mertomenggolo inilah lumbung padi Brotonegoro bupati Polorejo pertama di pin dahkan ke Cokromenggalan ke Pondok Pesantrennya KH. Ghozali untuk di jadikan Masjid sekitar th. 1830. Merto menggolo tidak lama menjadi Bupati Polorejo sekitar lima tahunan, dan di gantikan oleh Raden Tumenggung Wiryo negoro putra Raden Tumenggung Brotowiryo tahun 1834 sampai dengan tahun 1837, dan di tahun inilah R.T Wiryo negoro meninggal dunia dan di makamkan di makam kelu arga Raden Betoro Katong di Setono. Dan dengan demiki an Kabupaten Polorejo sudah runtuh dan di hanguskan  oleh pemerintahan Belanda bersamaan dengan Kabupaten Ponorogo Timur (Setono/Kota Lama)-(1). Kemudian seki tar tahun 1849 Ibrahim bin KH. Ghozali memulai babad di Polorejo di tanah hadiah dari Brotonegoro, yaitu di Bedi sekaligus babad dakwah Islam dengan mendirikan pondok pesantren. Ketika itu Ponorogo di bawah pemerintahan  bupati Raden Adipati Mertohadinegoro yang menjadi Bu pati Ponorogo selama tahun 1837 sampai dengan 1854. Pa da tgl. 5-2-1843 beliau mendirikan masjid Kauman Kota Ponorogo barat alun-alun bertepatan dengan tgl. 5 - Muha ram – 1259 H hari Sabtu Pahing.
(1)Sumber data di peroleh dari cerita Mbah Selan, sesepuh lingkungan Dukuh Ndalem Polorejo.  Beliau pernah menjadi Dan Co Jepang  th. 1943 – 1945.

Hadiyah dari seorang Tumenggung Polorejo


Ketika Tumenggung Brotonegoro memenuhi pang gilan rajanya berangkat dari Polorejo bersama-sama para prajurit dan utusan menuju Solo, dalam perjalan tidak mendapati gangguan apapun dan selamat sampai di keraton.
Kemudian Tumenggung bersama utusan memasuki keraton menghadap Raja, sesampainya di hadapan raja ti dak ada tutur kata yang mengancam keselamatannya dari rajanya, bahkan hanya membicarakan tentang keadaan keamanan ka temenggungan, dan kesejahteraan penduduk Ka bupaten Polorejo dan tidak ada yang lain. Menjadi legalah hati sang tumenggung setelah sekian waktu di hadapan ra ja di terima dengan baik dan tidak ada tanda-tanda untuk di rangket (di tangkap) untuk di penjarakan.
Setelah selesai pisowanan (menghadap) raja, Brotonegoro pulang kembali ke Kabupaten Polorejo dengan sela mat, dan sesampainya di dalem Kabupaten terus istirahat untuk melepas lelah dan bersyukur kepada Tuhan bahwa dirinya terlepas dari fitnah yang mengancamnya dengan hukuman penjara. Kemudian karena itu lalu beberapa hari kemudian tumenggung Brotonegoro mengumpulkan istri dan anak putrinya yang menjanda itu untuk di nikahkan de ngan K. Ghozali sebagai hadiah atas bantuannya dalam pe nyelematan beliau dari ancaman raja Solo. Lalu terjadilah pernikahan itu atas persetujuan kedua belah pihak yaitu anak putri Brotonegoro yang janda dengan K. Ghozali.
Disamping K. Ghozali diberi hadiyah anak putri se orang tumenggung, juga di hadiyahi sebuah lumbung tem pat penyimpanan padi, yang mana bangunan lumbung itu bahan-bahannya dibuat dari kayu-kayu jati. Dan selanjut nya lumbung itu diboyong ke Cokromenggalan, oleh K. Ghozali di jadikan Masjid, peristiwa itu terjadi pada tahun 1830, sampai sekarang bangunan Masjid dari lumbungnya  tumenggung Brotonegoro itu masih baik, ketika diadakan pemugaran tahun 2007, terjadi keajaiban yang luar biasa, banyak tukang kayu yang tidak mampu mencopot (mele pas) empat tiyang (cagak-jw.) masjid itu. Karena tidak bi sa dilepas, maka para tukang dan warga jama’ah bersepa kat tiyang itu lebih baik dipindahkan saja dari tempatnya, sebab program pemugaran itu nanti cagak masjid akan diganti dengan cagak cor beton, layaknya bangunan model zaman sekarang. Ketika sudah di sepakati, maka tukang de ngan warga yang jumlahnya ketika itu lebih dari delapan puluh  orang  ramai-ramai  membedol  cagak  empat itu dengan cara di pikul bersama-sama, namun usaha itu sia-sia belaka dan tidak berhasil, cagak tetap berdiri kokoh di tempatnya. Kemudian warga jama’ah dan para tukang berem bug lagi, bagaimana caranya agar empat tiyang masjid itu bisa di copot ( diotha’i-jw) atau di pindahkan dari tempat nya. Lalu mereka utusan seseorang untuk menemui K. Adnan yang masih cucu buyutnya K. Ghozali, yang ketika itu sedang ada suatu keperluan, yang sebagaimana biasa beli au sering di undang pada suatu hajatan warga masyarakat untuk memberikan do’a atau mau’idlah hasanah (ceramah) di suatu tempat di luar desanya, sekalipun sebenarnya Kya inya masjid K. Ghozali Cokromenggalan itu adalah juga K. Adnan. Setelah utusan itu ketemu dan menyampaikan keja dian yang terjadi mengenai cagak masjid yang tidak dapat di copot dan tidak pula bisa di pindahkan, maka K. Adnan serampungnya pada acara hajatan itu langsung pulang menuju Masjid. Dan sesampainya di masjid banyak orang me nyampaikan kejadian itu kepadanya, lalu beliau mengajak para tukang kayu itu dan warga jama’ah duduk melingkari empat tiyang masjid itu dengan menghadiyahkan do’a ke pada K. Ghozali, setelah selesai berdo’a bersama-sama K. Adnan berdiri dan menepuk-nepuk empat tiyang masjid itu dengan telapak tangan kanannya, kemudian menyuruh para tukang dan warga jama’ah untuk memindahkan cagak empat itu bersama-sama ke calon tempat Imaman masjid baru tanpa melepas dari bentuk aslinya.
Akhirnya cagak empat beserta atap tengah masjid be kas lumbung sang tumenggung itu sampai sekarang masih di abadikan dan tetap utuh keadaannya sebagai imaman di masjid K. Ghozali yang sudah di renovasi tahun 2007 itu.
Hadiyah yang ketiga dari tumenggung Brotonegoro kepada K. Ghozali adalah sebidang tanah yang masih  berwujud hutan angker yang terletak di timur utaranya dalem katemenggungan +  1 km. Yang mana tanah itu setelah K. Ibrahim menamatkan belajarnya di Makah, oleh K. Ghozali kelak akan diberikan kepada Ibrahim putra pertama satu- satunya yang ilmunya sudah mumpuni. Karena tampaknya K. Ibrahim lebih bersikap tawadlu’ kepada ayahnya, dia enggan menggantikan ayahnya selama ayahnya masih hidup, begitulah jawaban K. Ibrahim ketika disuruh menggantikan ayahnya untuk mengasuh pesantren Cokromeng galan. Oleh karena itu, agar Ibrahim juga ikut berperan aktif dalam pengembangan dakwah agama Islam, K. Ghozali memberinya tanah hadiyah tumenggung Brotonegoro yang masih berupa hutan dan belum berpenduduk yang terletak di timur laut dalem katemenggungan itu kepada Ibrahim.
Setelah cukup perbekalan Ibrahim bersama istrinya berpamit kepada ayahnya untuk babat hutan dan menempa ti tanah yang baru, dan memang betul sebagaimana yang diceritakan banyak punggawa katemenggungan bahwa ta nah itu terkenal angker, ketika Ibrahim mulai menebangi semak-semak dan pepohonan banyak gangguan dari makh luq halus. Namun pekerjaan itu tetap di lakukan tanpa menyerah sedikitpun, dan ketika malam hari tiba gubuk yang di diami Ibrahim ketika babad hutan itu sering di ganggu oleh makhluq halus berbentuk manusia yang gimbal ram butnya, besar badannya dan hitam kelam kulit tubuhnya yang biasa disebut orang dengan nama Memedi. Akan te tapi Ibrahim tetap tegar menghadapi gangguan-gangguan itu, yang akhirnya dengan do’a-do’a yang di wiridkan, maka para makhluq halus yang berbentuk genderuwo, wewe dan memedi itu tunduk dan menyerah kalah, dan selanjut nya para makhluq halus itu oleh Ibrahim di tempatkan pa da sebuah pohon kayu di sekitar lokasi tanah babadannya. Sampai sekarang pohon dan tempat para makhluq halus itu tetap utuh tidak ada orang yang berani mengusiknya, dan pohon itu letaknya di timur lurung masuk masjid Bedi se belah tenggaranya masjid. Yang kemudian lingkungan ta nah babadan K. Ibrahim itu di namakan dengan nama Bedi  dari kata  Memedi dengan menghilangkan awalan me menjadi Medi yang akhirnya menjadi Mbedi, karena kata mbe di itu agak berat dalam pengucapan, maka menjadi Bedi. Sampai sekarang wilayah lingkungan yang di babad oleh K. Ibrahim ini di namakan Bedi.

Tumenggung Polorejo Raden Brotonegoro


Pada tahun 1765 Polorejo resmi menjadi kota Kabupaten, dengan bupatinya yang pertama ialah putra Surodiningrat I bupati Ponorogo yaitu Raden Tumenggung Broto negoro. Pusat pemerintahan kabupaten terletak  di Dukuh Dalem Ds. Polorejo, sekarang Jl. Srigading.
Sekitar tahun 1824 ada utusan seorang senopati keraton Solo mengadakan kunjungan ke Katemenggungan  Polorejo, karena memang saat itu kabupaten Polorejo di ba wah kekuasaan keraton Solo.  Ketika selama kunjungan di Polorejo senopati itu tertarik akan kecantikan putrinya tu menggung Brotonegoro yang sedang menjada kembang.  Akan tetapi sang tumenggung sangat keberatan jika anak nya dijadikan selir oleh sang senopati, yang menurut cerita sudah banyak selir itu, kata H.Muhyidin Isnyoto (P.Nyoto)
Karena usahanya tidak berhasil, senopati itu mende kati Tumenggung Sumoroto yang kebetulan ada ketidak cocokan dengan tumenggung Brotonegoro.  Maka di atur lah siasat memfitnah sang tumenggung ke Raja Solo, di la porkan bahwa, tumenggung Brotonegoro mbalelo. Menda pat laporan ini, raja Solo nimbali (memanggil) Brotonego ro untuk menghadap sang raja, karena khawatir akan terja di sesuatu pada dirinya, maka dia minta bantuan KH. Gho zali untuk menghadap ke Solo. Jangan-jangan jika tumeng gung sendiri yang menghadap,  sesampainya  di keraton te
rus di penjarakan. Karena ini merupakan persoalan yang ti dak ringan, maka K. Ghozali memberi waktu satu bulan, setelah berjalan waktu yang telah di tentukan, diam-diam raja Solo mengirimkan telik sandi (intel) pribadi agar me nyelidiki ke temenggungan Polorejo. Hasil investigasi dari pada telik sandi itu adalah bahwa, tidak di peroleh bukti – bukti yang kuat yang menunjukkan adanya tumenggung Polorejo Brotonegoro akan mbalelo (memberontak) ke So lo. Telik sandi itu tidak mendapati adanya pelatihan-pelati han perang yang dilakukan oleh para prajurit ka temenggu ngan, yang di dapati hanyalah latihan pencak silat biasa sa ja, dan ketika di tanyakan kepada penduduk desa, mereka rata-rata menjawab tidak ada apa-apa, lagi pula situasi ling kungan ka temenggungan tampak aman tidak ada tanda-tanda yang membahayakan keamanan, dan persiapan pem berontakan.
Kemudian raja Solo mengirim lagi utusan untuk me manggil Brotonegoro agar menghadap Raja, seraya utusan itu mengatakan bahwa Raja tidak akan menghukumnya de ngan jaminan dirinya sendiri. Artinya jika sampai di Solo Brotonegoro jadi di hukum, maka hidup dan matinya utu san itu diserahkan kepada Brotonegoro.

KH. Ibrahim Bin Al Ghozali 7 tahun Haji dan Nyantri di Makkah


Ketika masih usia kanak-kanak KH. Ibrahim, selalu belajar dengan tekun kepada ayahandanya sendiri, tentang membaca dan menulis huruf Arab, karena pada saat itu be lum ada pendidikan formal seperti zaman sekarang. Dan yang terutama adalah belajar Al-Qur’an karena KH. Gho zali ayah Ibrahim adalah seorang yang ‘alim dan hafidl Al –Qur’an dan memiliki pesantren sendiri di Ds. Cokromeng galan. Setelah menginjak usia remaja Ibrahim di pondok kan di Pesantren Tegalsari, Jetis, Ponorogo arah selatan da ri desanya +  8 Km, yang mana kala itu di asuh oleh K. A geng Raden Hasan Besari. Diantara santrinya yang saat itu adalah Raden Ngabai Ronggowarsito, seorang pujangga keraton Solo yang sangat terkenal sampai zaman sekarang ini. Konon sepulang dari Tegalsari Ibrahim agak memadai ilmunya, sehingga oleh bapaknya di tugaskan membantu mengajar  di  pesantrennya sendiri di Cokromenggalan. Se
telah usianya semakain dewasa, oleh ayahnya  di jodohkan dengan santri putri di pesantrennya yang bernama Ny. Sud jinah. Santri putri ini sangat rajin, tawadlu’ dan manut da lam berkhidmah kepada kyainya. Oleh karenanya, K. Gho zali langsung mengambilnya sebagai menantu, dan sekitar tahun 1840 M. Ibrahim menunaikan rukun Islam ke 5 yai tu ibadah haji berangkat ke tanah suci Makah al-Mukara mah tanpa di ikuti istrinya.
Saat perjalanan ke tanah suci ibadah haji ke Makah beliau menggunakan kapal layar melalui pelabuhan Tan jung Perak Ujung Surabaya dan memang hanya itulah satu –satunya alat transportasi yang ada saat itu yang di tongka ngi orang-orang Madura. Pemberangkatannya di waktu itu tepat setahun sebelum masuk bulan Dzulhijjah.
Setelah tiba di Makah beliau di samping melaksana kan ibadah haji juga memperdalam Tafsir Al-Qur’an dan Hadits juga Ilmu-ilmu Fiqih bermadzhab Syafi’i. Bahkan juga memperdalam hafalan Al-Qur’an yang merupakan ci ta-cita langka di tanah Jawa ketika itu. Karena memang di Jawa saat itu belum ada guru yang membimbing hafalan Al-Qur’an.
Orang-orang yang  sezaman dengan Ibrahim, orang Indonesia yang belajar di Makah ketika itu adalah Syaikh Ahmad Khotib (Minangkabau), Ustadz Basuni Imran (Bru nai Darussalam), Syaikh Muhammad Nawawi Bantani (Banten), Syaikh Mahfudl (Termas-Pacitan Jawa Timur), KH. Syamsul Arifin (Situbondo) ayah K. As’ad. Mereka itu sama menjadi tokoh dan Ulama’ tersohor di Indonesia.
Ibrahim belajar di Makah selama 8 tahun, beliau se lama belajar disana disamping mendalami ilmu-ilmu aga ma juga belajar ilmu tulis menulis huruf Arab yang indah, khoth dan kaligrafi. Karena Ibrahim ketika nyantri di  Pon dok Tegalsari termasuk santri yang rajin tulis menulis. Ba nyak sekali kitab-kitab peninggalannya yang sampai seka rang  ini  masih ada. Walaupun  tulisannya belum bisa dibi
lang bagus, tetapi rapi dan mudah dibaca. Dan setelah bela jar Khoth dan kaligrafi di Makah tulisan Ibrahim sangat ba gus kalau tidak bisa di katakan luar biasa. Semua itu bisa di lihat di dalam rak musium kitab peninggalan al-marhum KH. Ibrahim di lingkungan masjid Bedi,Polorejo, Babadan Ponorogo.

Renovasi Makam KH. IBRAHIM AL GHOZALI


Sekilas Tentang Sejarah KH. IBRAHIM GOZALI

KH. Ibrahim Ghozali
Dengan mengucap syukur Alhamdulillahi

HADIAH DARI SEORANG TUMENGGUNG

Hadiyah dari seorangTumenggung Polorejo Ketika

NASAB KH. IBRAHIM BEDI POLOREJO

NASAB ( SILSILAH ) KH. IBRAHIM GHOZALI
Untuk dapat mendengarkan radio ini anda harus menginstall flash player klik disini untuk download
Winamp Windows Media Player iTunes basicBerry Real One Android iPhone