Home » , , , » Hikmah: Memang Belum Rejeki

Hikmah: Memang Belum Rejeki

MEMANG BELUM  REJEKI


Siang itu matahari menyengat kulit, panasnya
tak cukup terasa diruang kantin kampusku. Kantin yang luas dan megah, semegah kampusku. Aku duduk di salah satu kursi di sudut kantin dan kukeluarkan buku berukuran besar yang tak lain adalah buku khusus desain-desaing grafisku dan sebuah pena unik hasil desainku sendiri. Kemudian kucorat-coret lembaran putih buku itu dengan pena kesayanganku untuk menemukan ide unik untuk memenuhi tugas yang harus dikumpulkan minggu depan. Seorang pelayan menghampiriku untuk mengantarkan capucino yang sudah dari tadi aku pesan. “Terima kasih” ucapku pada pelayan itu setelah dia menaruh cappuccino itu diatas meja dihadapanku. Mataku sesekali menyelongok kea rah pintu kantin, menatap siapa tahu teman-temanku yang aku tunggu dari tadi sudah terlihat datang. Tapi hasil pengamatanku masih nihil, tak satupun batang hidung temanku terlihat. Kembali kupusatkan pikiranku pada buku desainku dan pena unik kesayanganku. Tak lama kemudian terdengar “Mas Ciko”, suara itu halus terdengar ditelingaku. Seseorang memanggil namaku “Ciko” lebih lengkapnya “Ciko Revando”, secuwil nama yang diberikan orang tuaku sejak aku lahir. Aku lahir di Jakarta tepatnya 20 tahun yang lalu, yang jelas 20 tahun adalah umurku saat ini, entah disengaja atau tidak aku mempunyai otak kreativitas yang sangat tinggi selalu unik, lebih tepatnya kata teman-temanku ide-ide yang aku tawarkan selalu aneh. Aku kuliah baru semester 3 mengambil jurusan desain grafis untuk menyalurkan ide-ide unik yang ada diotakku. Wajahku pun seketika terangkat memandang kearah suara yang memanggil namaku. Kulihat kearah pemuda berseragam batik dengan balutan celana kain yang halus dan bermahkotakan blangkon dikepalanya. Dia adalah sosok orang yang memanggilku tadi, yang tak lain adalah salah satu sahabat karibku yang sudah aku tunggu dari tadi. “Gondo” ucapku meyebut namanya, namanya adalah Gondo, lengkapnya Gondo Yetno Kusumo Bima Raharjo Ontoseno, begitu katanya saat dulu mengenalkan dirinya padaku. Aku sendiri butuh waktu sekitar sebulan untuk menhafalkan namanya yang sepanjang jembatan ampera itu. Dia merupakan penganut jawa tulen, orang jawa asli yang katanya anak juragan tembakau paling kaya didesanya. Tidak jarang juga dia mengatakan padaku kalau dia masih keturunan darah biru. Aku dan dua sahabat karibku yang lain yang tak tahu menahu tentang soal darah biru mencoba mencari tahu tentang darah biru. Setahu kami yang namanya darah itu warnanya merah bukan biru. Kami yang tak tahu tentang darah biru ini tidak menanyakannya pada Gondo tapi langsung membuktikannya sendiri. Waktu itu udara sore yang diingin karena hujan yyang mngguyur Jakarta seharian membuat Gondo tertidur pulas di sebuah kamar bagian dari rumah kontrakan yang kami kontrak bersama dua sahabat karibku yang lain juga, yakni Juku dan Togar. Ada cerita unik juga tentang dua sahabatku ini selain cerita unik dari GOndo. Aku, Juku, dan Togar pun perlahan memasuki kamar Gondo dengan membawa perlengkapan yang kami butuhkan yakni jarum pentul dan kapas. Kami mendekat kearah tubuh Gondo yang terlentang lemas diatas seprimbet warna putih, dan sesekali terdengar suara dengkuran dari bibirnya yang terlihat tipis. Perlahan Juku memegang tangan Gondo, dan kemudian kuberikan jarum pentul yang kubawa padanya. “Aaaa…”, suara teriakan kesakitan yang keras keluar dari mulut Gondo yang terbangun dari mimpinya setelah Juku menyuntikkan jarum pentul itu disalah satu jari Gondo. Juku pun segera menekan jari Gondo yang telah dilubanginya dengan jarum, sementara Gondo mencoba memberontak tapi tak kuasa karena aku dan Togar memegangi tubuhnya erat-erat. Darahpun mulai keluar dari lubang jari Gondo, kemudian Juku mengolesnya dengan kapas. Baru sebelah itu kami melepaskan Gondo dan mengamati darah Gondo yang menempel dikapas itu. “Bagaimana Juku?”, tanyaku penasaran. “Sama warnanya juga merah”, jawab Juku. Sedangkan TOgar hanya diam dan mengangguk-angguk dengan muka yang mencurigakan. Tiba-tiba saja terdengar suara Gondo tertawa ngakak, kami memandangnya. Dia tetap enjoy terduduk diatas sprimbet yang empuk itu, semabri tertawa. “Waduh mas-mas…”, ucap Gondo akrab menyebut “mas” itulah panggilan akrabnya pada kami maklumlah orang jawa. “Ngeten nggih mas, keturunan darah biru niku sanes darahnya yang biru tapi yang dimaksud darah biru niku injih puniko keturunan bangsawan yang masih keturunan raja keratin Yogyyakarta gitu”, jelasnya dengan campuran bahasa jawa yang fasih, seakan dia sedang mendalangkan wayang-wayang kesayangannya. Karena dia memang ingin sekali menjadi dalang terkenal, makanya dia mengambil jurusan sastra budaya kewayangan, dan masih sama dengan aku dia duduk disemester tiga begitu pula dengan dua sahabatku Juku dan Togar. Setelah penjelasan itulah aku, Juku, dan Togar menjadi tahu apa yang dimaksud dengan darah biru, meskipun terkadang kami tertawa sendiri jika teringat kejadian itu.
“Mas kulo duduk mriki nggih”’, ucap Gondo tetap dengan sopan santun adapt jawanya setelah tiba didekatku. Setelah aku mempersilahkan duduk Gondo, tak lama kemudian datanglah Togar. Nama lengkapnya hanya cukup Togar, nam yang singkat, padat, dan jelas. Nama khas batak, dialah Togar keturunan batak asli, seperti Gondo dia mempunyai gaya khas tersendiri yakni logat bicaranya yang batak banget dan sedikit kasar. Dia bercita-cita ingin menjadi seorang ustadz terkenal, tapi anehnya dia kuliah mengambil jurusan IPA astronomi (Ilmu yang mempelajari tentang bintang dan luar angkasa). Katanya meski menjadi ustadz terkenal dia ingin mempunyai pekerjaan sampingan lain yakni menjadi seorang astronot, setidaknya itulah jawabannya ketika aku, Juku, dan Gondo menanyakan soal cita-cita dan jurusan kuliah yang diambilnya kenapa berbeda. Tapi untuk mendalami ilmu agama yang diperolehnya selama enam tahun disalah satu ponpes di Jawa dan untuk menyalurkan hobinya yang suka ceramah disana-sini, dia ikut UKM keagamaan di kampus kami. Pernah waktu itu kami beremapat pergi jalan-jalan keliling Jakarta, ketika itu kami sedang beristirahat dipinggir jalan, tiba-tiba saja datang seorang anak kecil laki-laki berambut ikal, memakai kaos oblong dan mengamen pada kami. Satu lagu milik ST 12 selesai dilantunkannya, sebelum kami memberinya uuang kami menanyainya dengan beberapa pertanyaan. Dan tibalah pertanyaan dari Togar “dek kenapa kau ngamen?kau kan masih kecil?apa kau tak sekoalh?tak tahukah kau dek Allah itu tak suka pada orang yang suka meminta-minta, karena tang diatas itu lebih baik dari pada tangan dibawah”, ucap Togar. Sejenak anak itu memandang wajah Togar dan berkata “Kakak tahukan ini tadi hari minggu”, Togar mengangguk. “Hari minggu itu kan hari libur sekolah, dan kenapa aku ngamen karena aku ingin sekali jadi penyanyi, siapa tahu dengan nyanyi dijalanan aku bisa ketemu produser rekaman dan aku diajaknya untuk rekaman”, lanjut anak itu dengan muka polosnya, dan lagi-lagi Togar hanya mengangguk. Kemudian anak itu melanjutkan kata-katanya “untuk pertanyaan kaka yang ketiga, saya tunda dulu jawabnya, saya mau tanya dulu pada kakak, kakak mau ngasih uang aku atau tidak?”. Kemudian Togar merogohkan kantongnya dan mengambil uang selembar sepuluh ribu rupiah kemudian menyodorkannya pada anak itu. Anak itu pun mengambil uang itu dengan cara mengambilnya dari atas, sehingga tangan Togar berada dibawahnya. “Terima kasih kak”, ucap anak itu dan Togar mengangguk tanda iya. “Oya kak, tadi kan kakak bilang tangan diatas itu lebih baik dari pada tangan dibawah, berarti tangan saya lebih baik kan dari tangan kakak, karenakan tangan saya yang berada diatas”, lanjut anak itu dan kemudian berlari meninggalkan kami. Sementara Togar hanya bengong menatap kepergian anak itu. Aku, Juku, dan Gondo pun tersenyum menahan ketawa karena tidak tega pada Togar, dan dalam hatiku terselib kata seorang Togar diceramahi anak kecil sungguh pengalaman yang langka pikirku.
Kembali pada pertemuan kami disudut kantin, dibelakang Togar kupandang Juku berjalan mengikutinya dengan style harajukunya dengan rambut gaya british disemir agak pirang. Nama lengkapnya cih Joko purnomo, tapi dia minta semua orang dikampus ini atau bahkan diluar kampus sekalipun untuk memanggilnya dengan nama Juku diambil dari persamaan namanya dengan style kesukaannnya harajuku. Terkecuali kalau pulang kerumahnya di Jepara temapat tinggal Juku dan keluarganya, kalau dia berani menyebut namanya dengan sebutan Juku maka eyangnya pasti akan menjewer kupingnya. Kenapa dia ingin sekali dipanggil Juku dan suka pada style harajuku karena dia lahir di Jepang tapi sayangnya dia besar di Jepara. Dia lahir di Jepang karena pada saat itu nyokap dan bokapnya sedang menjadi TKI di Jepang, itulah berita ynag aku peroleh dari eyangnya ketika aku, GOndo, dan Togar berkunjung ke Jepara temapat tinggal Juku dan keluarganya untuk liburan bulan lalu. Diantara kami berempat dialah yang plaing kece dan ganteng bahakan menjadi incaran cewek-cewek dikampus. Kulitnya yang putih dan wajahnya yang lonjong mirip penyanyi korea Rain, dan matanya yang sipit mirip artis kenamaan Andylau itu membuatnya punya modal untuk jadi plaboy kelas kakap di kampus kami. Tapi kami belum menerima gelarnya sebagai plaboy, kalau dia belum bisa menaklukkan hati Vepey, primadona kampus kami. Juku kuliah mengambil jurusan biologi, karena dia sangat menyukai hal-hal yang mempelajari tentang makhluk hidup, apalagi reproduksi pada manusia. Karena itulah kami seringkali menyebutnya dengan sebutan otak mesum, anehnya dia tidak marah dengan sebutan itu tapi malah bangga, katanya cih itu gelar yang luar biasa yang didapatnya dari teman-teman sekampus setelah gelar plaboynya. Soal gelar plaboynya, dia punya pengalaman yang patut diukir dalam sertifikat keplayboyannya. Sekitar 3 bula yang lalu di ruang aula kampus, dia asyik merayu seorang mahasiswi baru yang cantik. Mahasiswi baru yang hendak pergi ke ruang rector, dan Juku berusaha merayunya agar mau diantar ke ruang rektor. Gadis cantik yang memakai pakaian serba mini itu, akhirnya mau diantar Juku ke ruang Rektor. Tepat di ruang di depan pintu ruang rektor, Juku menahan gadis itu sejenak dan berkata “Tunggu dulu, sebelum kamu masuk aku bilangin yach, hati-hati dengan rektor disini dia itu galak, botak, tua, terus ketinggalan jaman banget, dia paling tidak suka kalau ada mahasiswi yang pakai rok mini”.”Krek..”, tiba-tiba saja ruang pintu rektor itu terbuka dan ternyata pak rektor yang keluar. “Tara”, ucap rektor itu yang ternyat menyebut nama gadis itu. “ Ya, pa, maaf Tara telat”, ucap gadis itu manja. Juku pun terdiam kaku dan tampang bloonnya terpampang. Dan yang lebih mengejutkan lagi ternyat pak rektor mendengar ucapannya, dan mau tidak mau akhirnya Juku kena hukuman untuk mengepel seluruh wc yanga ada di kampus. Lebih parahnya lagi kami juga kena imbasnya, mau tidak mau karena kami berteman sudah layaknya saudara akhirnya aku, Gondo, dan Togar membantu Juku untk menyelasaikan hukumannya itu.
Kami berempat memang berasal dari daerah yang berbeda, sifat yang beda dan prinsip yang berbeda pula. Tapi kami punya kesamaan yakni sama-sama menyukai Vepey, primadona di kampus kami. Dan akmi menyebut diri kami berempat sebagai de_boys dream alias laki-laki pemimpi. Meski rumahku di Jakarta tapi rumahku cukup jauh dari kmapusku, sehingga aku mengintrak sebuah rumah petak lumayan dekat dengan kampu. Aku mengontrak rumah itu bersama Gondo, Juku, dan Togar. Kami sangat dekat bahkan kelewat dekat sehingga beberapa bulan yang lalu sempat muncul gossip kalau kami ini adalah homo dan selalu kumpul kebo dirumah itu, dan layaknya Riyan dan Noval selalu melakukan adegan-adegan kemesraan. Tapi gossip itu tak bertahan lama, kami berhasil memulihkan nama baik kami kemabli meski harus mengikuti jejak Juku menjadi plaboy. Tapi aku, Togar, dan GOndo tak kuat menjadi Plaboy, kami takut karena cewek-cewek sekarang sangat agresif, akhirnya kami pun menjadi playboy hanya sekitar 3 mingggu. Siang itu debu berhambur di sekitar kampus, aku dan 3 anggota de_boys dream berjalan menelusuri lorong kampus, berniat makan siang di kantin. Langkah kami terhenti seketika ketika kami malihat sosok wanita cantik berjalan bersama seorang teman sebayanya. Gadis mana lagi yang bisa membuat kami melotot selain “Vepey”, begitu keseharian kami memanggil namanya. Menurut data yang kami curi dari kampus, nama lengakpnya adalah Vepey Kimberly, lahir di Jerman 20 tahun yang lalu. Dia blasteran indo jerman, ibunya Indonesia dan ayahnya Jerman. Wajahnya sangat cantik, secamtik ratu Elizabeth atau bahkan lebih, kulitnya putih mulus, matanya biru merona, dan bodynya aduhai, lekuk tubuhnya selalu terlihat indah dengan balutan baju press body yang selalu dipakainya. Tapi sudah sekitar 3 bulan ini dia merubah penampilannya, baju press body tak lagi dipakainya, rambutnya yang pirang ikal gantung ditutupinya dengan jilbab ala umairoh dalam ayat-ayat cinta, tapi bedanya Vepey tidak memakai cadar. Tapi buat kami atau bahkan cowok-cowok seisi kampus tetap memandang Vepey sebagai wanita yang anggun dan selalu cantik dengan apa yang dipakainya. Dia baru semester 3 sama seperti kami, tapi dia mengambil kuliah jurusan seni teater, jurusan yang banyak diambil artis senetron karena menurutq dia memang pantas menjadi artis. Aku, Juku, Gondo, dan TOgar punya pengalam seru bersama Vepey. Sore itu kuncup bunga bermekaran di taman kampus, kami mengutarakan isi hati kami pada Vepey. “Aku ingin menjadi teman bagi kalian semua”, jawab Vepey lembut setelah kami berlutut mengutarakan isi hati kami padanya. Saat itu kami sangat kecewa, “Memang belum rejeki”, ucap kami bersamaan sesaat setelah Vepey pergi meninggalkan kami dibawah pohon cemara yang menaburkan daunnya kearah tubuh kami.
Sebulan kemudian,, tepatnya hari menjelang senja, aku, Juku, Gondo, dan Togar berjalan hampir melewati gerbang kampus, dan ingin cepat-cepat tiba dikontrakkan untuk melemaskan otot-otot yang sudah seharian belajar. Tiba-tiba saja terdengar suara minta tolong, serentak kepala kami pun menoleh ke belakang. Mata kami berkeliling dan berhenti tepat menatap kearah sebuah pohon mangga yang dibawahnya ada seorang gadis terbujur pingsan dan yang satunya memeganginya sembari minta tolong. Mereka adalah Vepey dan Rana, Rana adalah sahabat dekat Vepey. Kaki kami pun seperti terseret magnet berlari kearah mereka. Kamipun mengantar Vepey kerumah sakit bersama Rana. Beberapa saat kemudian Vepey tersadar dan dokter menemui kami untuk berbicara, “diantara kalian mana yang suaminya pasien?”, lontar dokter itu menunjuk kearah kami tentunya tidak kearah Rana. Entah apa yang kupikirkan saat itu, tapi aku mencoba tegas menjawab pertanyaan dokter itu “Tidak ada dok, suaminya sedang berada dirumah nanti kami akan segera menghubunginya, tapi keadaan teman kami baik-baik saja kan dok?”, mulutku melepas kata-kata itu tanpa bisa kukendalikan. “Teman kalian baik-baik saja tapi kondisi kehamilannya yang mulaii menginjak 5 bulan sedikit lemah karena kecapekan”, jawab dokter itu tegas dan kemudian permisi meninggalkan kami. Kami pun tersentak kaget entah sperti ketiban durian runtuh atau tersambar petir. “hamil 5 bulan?”tanyaku dalam hati, setahuku Vepey belum menikah, lalu siapa yang mengahamilinya?, aku juga sama sekali belum menyentuhnya, “Juku”, tiba-tiba saja pikiran dan tatapanku langsung tertuju padanya karena dia seorang plaboy dan otak mesum. Saat ku tanyai dia, Juku tak mengelak bahwa dia pernah bermimpi bersetubuh dengan Vepey tapi dalam kenyataan dia belum pernah menyentuh apalagi apalagi untuk mesum dengan Vepey begitu penjelasannya padaku. Sasaranku berikutnya adalah TOgar, setahuku dia sanagt keras dan aku takut dia telah memaksa Vepey untuk melakukan hubungan terlarang itu. “Sumpah demi Tuhan, aku tak pernahlah aku melakukan itu”, elak Togar lantang. Kali ini giliran Gondo yang ku introgasi “sak estu mas, demi Gusti Allah kulo mboten”, jawab Gondo. Pikiranku semakin kacau, lalu siapa yang melakukan itu?, Rana memegang pundakku mencoba menenangkan kegalauanku dan berkata “sabar Ciko, kenapa tidak kita langsung tanykan saja pada Vepey”. “Iya betul Cik, Sebaiknya kita tanya langsung pada Vepey”, pekik Juku. Kamipun serentak berbondong-bondong masuk kekamar diman Vepey dibaringkan dan diperiksa oleh dokter tadi. Setelah beberapa saat berbasa-basi kuberanikan diri menanyakan hal yang menjadi perdebatan dilorong rumah sakit. “Maafkan aku teman-teman aku tidak jujur pada kalian, selama ini kami telah membohongi kalian. Tapi tolong kalian jangan berpikir buruk tentang aku, aku tidak melakukan perbuatan Zina kok. Sebenarnya sudah hampir satu tahun aku menikah dengan seorang pemuda, namanya Rio dia seorang TNI. Kami menikah dengan wali hakim karena kedua orang tua kami tidak setuju, kalau kami berpacaran apalgi menikah. Tak satu orangpun yang tahu soal pernikahanku, aku juga tidak memberitahu kalian karena aku takut kalian akan menceritakan pada orang tuaku. Selama ini aku memang tinggal bersama orang tuaku tapi ketika suamiku pulang dari tugas aku tinggal bersamanya dengan alasan aku menginap di rumah teman atau karena ada latihan teater yang mengharuskan aku menginap. Maafkan aku teman-teman”, ucap Vepey memberi penjelasan pada kami dengan diiringi derail air mata yang membasahi pipinya. Tiba-tiba saja “krek”, suara pintu kkamar itu ada yang membuka dan kamipun menoleh kearahnya terlihat seorang pemuda tampan mirip leornado decaprio keluar dari balik pintu mengenakan seragam militer. “Rio”, ucap Vepey, ternyata pemuda itu adalah Rio suami Vepey yang diceritakannya pada kami. “Sayang kamu tidak apa-apa kan?”, ucap Rio sembari memeluk tubuh Vepey. Aku, Juku, Gondo, dan Togar sempat iri melihat pemuda itu memeluk Vepey denagn erat, sedangkan kami saja yang sudah naksir ddia sejak dulu belum pernah memeluknya. Tapi pikiranku sedikit terganggu kok Rio bisa tahu kalau Vepey dirumah sakit, katanya ketika dia menjemput Vepey di kampus salah sorang memberi tahunya kalau Vepey pingsan dan dibawa kerumah sakit terdekat. Kami pun lega Vepey tidak apa-apa dan sekarang dia bahagia karena ada suaminya bahkan kami pun membantu Vepey berbicara pada orang tuanya, sehingg pada akhirnya pernikahan Vepey disetujui orang tuanya maupun orang tua Rio. Kami sebenarnya kecewa karena ternyata gadis yang kami suka sudah menikah, tapi meskipun begitu kami sanagt bahagiia dapat membantunya keluar dari masalahnya dan kini kami hanya bisa berkata dengan serentak, “MEMANG BELUM REJEKI”… 
Comments
0 Comments

0 k o m e n t a r:

Post a Comment

>>> Please do not use anonymous ....
>>> Berikan data anda dengan benar.....
>>> Berikan komentar anda sebagai bukti bahwa anda adalah pengunjung dan bukan robot......
>>> Komentar ANONIM tidak akan ditanggapai oleh admin......
>>> Sorry, Admin will not respond to anonymous comments are not clear. so thank you

Untuk dapat mendengarkan radio ini anda harus menginstall flash player klik disini untuk download
Winamp Windows Media Player iTunes basicBerry Real One Android iPhone